Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
2 April 2026
A A
Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja MOJOK.CO

Ilustrasi Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Belakangan, linimasa media sosial kembali dipenuhi oleh hiruk-pikuk seputar Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Maklum, ini memang masa-masanya pendaftaran dan seleksi masuk kuliah di perguruan tinggi negeri. 

Di berbagai platform, berseliweran ratusan cuitan dan video tentang strategi memilih jurusan. Tak cuma membahas materi ujian. Banyak calon mahasiswa juga sibuk membagikan data-data soal daya tampung dan keketatan peminat jurusan kuliah, demi mencari peluang lolos paling aman.

Iklan

Keriuhan ini mengingatkan saya kepada Rizal (28). Salah seorang kawan yang memiliki cerita unik, sekaligus ironis, soal UTBK. Pada 2017 lalu, lelaki asal Jawa Timur ini mengaku rela “menggadaikan” passion-nya dengan nekat di kuliah di jurusan sepi peminat.

Sialnya, keputusan “yang penting kuliah” tanpa pertimbangan matang itu berbuah “siksaan” bagi masa depannya. Meski berhasil lulus cumlaude, ia kesulitan mendapatkan pekerjaan karena ijazahnya dianggap seperti “sampah”. 

Mengubur mimpi kuliah di Ilmu Komunikasi karena “takut bersaing”

Waktu duduk di kelas 12 SMA, Rizal mengaku punya mimpi yang sangat jelas. Cita-citanya saat itu adalah bekerja di industri kreatif. Syukur-syukur bisa terjun ke industri broadcasting. 

Oleh karena itu, pada 2017 lalu, jurusan kuliah yang paling masuk akal untuk mengejar impian itu adalah Ilmu Komunikasi atau Manajemen. Ia merencanakan memilih dua jurusan itu di UTBK (dulu bernama SBMPTN).

“Targetnya, ya kalau nggak di Unair, UGM lah,” katanya, Kamis (2/4/2026).

Sialnya, nyali Rizal mendadak ciut saat melihat data pendaftar tahun sebelumnya. Daya tampung Ilmu Komunikasi di kampus tersebut hanya sekitar 60 kursi, sementara pendaftarnya mencapai lebih dari 5.000-an orang. Artinya, tingkat persaingannya nyaris 1:80.

Di titik krusial itulah, ego dan rasa takut mengalahkan logika Rizal. Rasa gengsi untuk memamerkan status sebagai “mahasiswa PTN top” jauh lebih besar daripada keinginannya untuk memperjuangkan jurusan yang ia cita-citakan. Ia tidak mau menanggung malu kalau sampai gagal masuk kampus negeri.

“Aku sadar diri aja sih. Dengan kapasitasku, kalau nekad ngejar Ilkom di UGM atau Unair, kayaknya wassalam.”

Menemukan jurusan yang sepi peminat, dan gasss!

Rizal pun mulai menelusuri daftar jurusan yang paling sepi peminat. Ia akhirnya menemukan sebuah jurusan di salah satu PTN top Jogja yang pada 2016, daya tampungnya 30. Sementara pendaftarnya tak sampai 100 orang. 

Persaingannya cuma 1:3. Tanpa pikir panjang soal apa yang akan ia pelajari nanti, Rizal mendaftar ke jurusan itu. Ia menggadaikan passion-nya demi sekadar bisa masuk PTN ternama.

“Di kepalaku waktu itu, yang penting kuliah,” ungkapnya.

Setelah menjalani serangkaian tes, Rizal ternyata berhasil. Ia diterima sebagai mahasiswa baru di kampus negeri top tersebut.

Iklan

“Tapi kalau boleh jujur, waktu diterima rada insecure juga. Mbatin aja, ‘Mati aku. Empat tahun ke depan aku harus belajar apa di jurusan ini’. Tapi ya tak jalani dulu aja.”

Banyak teman sekelasnya juga tipe mahasiswa “yang penting kuliah”

Kengerian itu pun terbukti. Kehidupan kuliah yang Rizal rasakan sama sekali tak nikmat. Setiap kali mendapat tugas kuliah, ia merasa ingin menyerah karena otaknya menolak memproses informasi yang tidak ia sukai.

“Aku bahkan berkali-kali mikir buat ikut SBMPTN tahun selanjutnya. Tapi aku urungkan karena banyak hal yang kudu aku pertimbangkan,” jelasnya.

Lucunya, saat mulai mengenal teman-teman sekelasnya, Rizal menemukan fakta bahwa kebanyakan teman seangkatannya juga masuk ke jurusan itu dengan alasan yang sama. 

Mereka adalah kumpulan…

Baca halaman selanjutnya…

Berhasil lulus cumlaude tapi percuma. Ijazah dianggap tak berguna di hadapan HRD.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 10 April 2026 oleh

Tags: jurusan favoritjurusan sepi peminatkuliahkuliah di jurusan sepi peminatKuliah di PTNMahasiswa Jogjapilihan redaksiPTN Jogjaptn topSBMPTNUTBK
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Gen Z, membaca, buku.MOJOK.CO
Urban

Gen Z di Indonesia, Generasi Paling Aktif Membaca tetapi Paling Tak “Terliterasi”

24 Juni 2026
Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan MOJOK.CO
Sehari-hari

Jasa Desain Logo di Desa Kabupaten Dianggap Sepele hingga Jadi Gratisan, Pindah Jakarta Kaget 1 Logo Cuannya Menjanjikan

23 Juni 2026
dosen.MOJOK.CO
Sekolahan

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026
PNS di desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS di Desa Memang Hidup Makmur, tapi Bikin Tak Berkembang karena Budayanya Toksik dan Membosankan

22 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Punya rumah dengan gazebo di halaman: tempat terbaik untuk me time hingga deep talk MOJOK.CO

Punya Gazebo di Halaman: Meski Rumah Tak Megah tapi Bikin Betah karena Jadi Spot Terbaik Relaksasi dan Macam-macam Fungsi

18 Juni 2026
Jika kantin sekolah dilibatkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), maka bisa meningkatkan efektivitas dan memberi dampak ekonomi nyata. MOJOK.CO

Jika Kantin Sekolah Dilibatkan MBG: Bisakah Tekan Anggaran dan Apa Dampaknya bagi Ekonomi Warga?

17 Juni 2026
Dakwah Kok Masuk Roblox! Memangnya Anak Muda Hari Ini Masih Ngumpul di Masjid? MOJOK.CO

Dakwah Kok Masuk Roblox! Memangnya Anak Muda Hari Ini Masih Ngumpul di Masjid?

22 Juni 2026
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) meraih penghargaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Program E-Learning Aparatur Negara (ASN) Berintegritas MOJOK.CO

ASN Jateng Dididik agar Tidak Berperilaku Menyimpang untuk Jaga Marwah Instansi, KPK Beri Penghargaan

18 Juni 2026
Orang desa tidak mengenal konsep pensiun dan menua dengan tenang (slow living). Itu hanya konsep orang kota MOJOK.CO

Pensiun Ala Orang Desa Tak Seperti Bayangan Orang Kota: Bukan karena Rencana Slow Living tapi Dipaksa Keadaan Getir

19 Juni 2026
Tips Memulai Usaha Coffee Shop yang Tahan Disiksa Negara MOJOK.CO

Tips Memulai Usaha dari Mantan Lulusan CPNS yang Memilih Menyiksa Diri Menjadi Pengusaha Coffee Shop

21 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.