Endiah Puji Hastuti berhasil membuktikan bahwa pendidikan merupakan perjalanan hidup sepanjang hayat, sekaligus ruang untuk terus berkembang tanpa terbatas usia. Di usia 62 tahun itu, Endiah mendapat gelar doktor dari Program Studi Rekayasa Nuklir, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Wisuda April 2026.
***
Endah merupakan peneliti utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Ia merupakan lulusan S1 Teknik Kimia, Universitas Diponegoro dan S2 Rekayasa Energi Nuklir di ITB.
Ia pernah terlibat langsung dalam proses commissioning Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy pada akhir 1980-an, yaitu tahap pengujian dan pembuktian bahwa reaktor dapat beroperasi sesuai rancangan desainnya dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).
Kesempatan melanjutkan studi doktoral hadir setelah BATAN bergabung dengan BRIN. Di usianya yang tak lagi muda, Endiah memutuskan mengambil peluang tersebut dan kembali menjadi mahasiswa ITB. Ia menegaskan bahwa keinginannya melanjutkan studi doktoral berangkat dari cita-cita yang belum sempat dituntaskan sejak lama.
“Kesempatan itu seperti awan. Kalau lewat di depan kita, ya harus diraih,” ucapnya dikutip dari laman resmi ITB, Senin (25/5/2026).
Tak ada beda saat seleksi ITB
Tak berbeda dengan calon mahasiswa lain, Endiah juga harus melalui proses seleksi doktor. Ia mengikuti seluruh persyaratan akademik, mulai dari Tes Potensi Akademik (TPA) hingga tes kemampuan bahasa Inggris. Menurutnya, tidak ada kemudahan khusus meskipun dirinya sudah tidak lagi muda.
“Usia 62 tahun tetap diminta lulus TPA dan TOEFL. Itu menjadi pembuktian bagi diri saya sendiri, apakah saya masih mampu secara kognitif untuk belajar,” kata dia.
Ia mengaku tantangan terbesar selama menjalani studi bukan berasal dari perbedaan usia dengan mahasiswa lain, melainkan bagaimana menjaga ritme belajar dan mengelola stres. Karena itu, ia menerapkan disiplin dalam membagi waktu dan menghindari kebiasaan belajar mendadak.
“Kalau waktu muda mungkin masih bisa sistem kebut semalam. Tapi kalau usia saya sekarang, itu bisa membuat stres dan sakit. Semuanya harus dipersiapkan dari jauh-jauh hari,” ujar lulusan S3 Jurusan Rekayasa Nuklir ITB.
Antara peneliti, mahasiswa ITB, dan kehidupan pribadi

Guna menyeimbangkan kesibukannya sebagai peneliti, mahasiswa, dan kehidupan pribadinya, Endiah tetap berusaha melakukan hobi. Salah satunya dengan jalan-jalan bersama teman-temannya, lalu aktif dalam kegiatan sosial di lingkungan rumah, serta rutin melakukan olahraga ringan.
“Hidup itu harus seimbang. Jangan sampai sekolah terus, tapi kita malah tidak menikmati hidup,” katanya.
Dalam menjalani kehidupan akademik, Endiah juga banyak belajar dari budaya diskusi di ITB. Ia sering mengikuti seminar atau sidang mahasiswa lain untuk memperluas wawasan dan memahami cara dosen membedah suatu persoalan ilmiah secara mendalam.
“Hal yang terlihat sederhana bisa menjadi sangat ilmiah karena masukan dari dosen-dosen yang sangat mendalam,” ujarnya.
Lulus S3 ITB dengan topik “penuaan reaktor”
Dengan menyeimbangkan hidup, Endiah berhasil meraih gelar S3 Jurusan Rekayasa Nuklir di ITB lewat disertasi yang berfokus pada pengembangan program manajemen penuaan, melalui sistem informasi perawatan Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy.
Penelitian tersebut membahas bagaimana sistem perawatan dan dokumentasi reaktor dapat membantu memperpanjang usia operasional reaktor riset secara aman dan optimal. Menurutnya, Indonesia memiliki reaktor riset berdaya besar yang memerlukan pengelolaan jangka panjang agar tetap dapat beroperasi dengan baik.
“Harapan saya, generasi berikutnya bisa mengetahui sejarah perawatan reaktor, kondisi komponennya, dan langkah perbaikannya sehingga operasional reaktor tetap aman,” katanya.
Selain menyelesaikan studi doktoral, Endiah saat ini juga terlibat sebagai principal investigator dalam proyek penelitian internasional terkait aging management reactor bersama Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).
Selama masih berpikir artinya kita berkembang
Bagi Endiah, gelar S3 ITB di usia senja memiliki makna yang berbeda dibanding ketika diraih di usia muda. Jika pada usia muda gelar akademik sering dikaitkan dengan karier, maka pada fase hidupnya saat ini doktor menjadi simbol pencapaian pribadi dan perjalanan hidup yang tuntas.
“S3 ini membuktikan bahwa saya masih mampu berkembang dan belajar. Ini memberikan rasa percaya diri yang kuat dan rasa pencapaian yang lebih mendalam,” tuturnya.
Ia juga percaya bahwa belajar merupakan proses sepanjang hayat. Menurutnya, pembelajaran tidak selalu hadir dalam bentuk pendidikan formal, tetapi juga melalui aktivitas sehari-hari dan pengalaman hidup.
“Selama kita masih bisa berpikir, membaca, dan menulis, berarti kita masih bisa berkembang,” katanya.
Kepada generasi muda, khususnya perempuan, Endiah berpesan agar terus mengejar pendidikan setinggi mungkin selagi masih memiliki kesempatan. Ia sendiri terinspirasi oleh ibunya yang selalu menanamkan pendidikan sejak kecil. Nilai itu pula yang terus ia pegang hingga sekarang.
“Raihlah pendidikan setinggi mungkin selagi masih muda, supaya kesempatan yang bisa diraih juga semakin banyak,” pesannya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Usia 68 Tahun Merasa Gaptek dan Tertinggal dari Anak Muda demi Gelar S2, Akhirnya Lulus dengan IPK 3,98 di UGM atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan