Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Suara Bawah Tanah

Mangga-mangga di Patiayam, Bukti Penghijauan Bisa Hidupi dan Lindungi Manusia

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
4 November 2025
A A
Mangga di bukit Patiayam Desa Gondoharum, Kudus, jadi bukti bahwa penghijauan bisa hidupi dan lindungi manusia MOJOK.CO

Ilustrasi - Mangga di bukit Patiayam Desa Gondoharum, Kudus, jadi bukti bahwa penghijauan bisa hidupi dan lindungi manusia. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ribuan pohon mangga yang tumbuh di kawasan perbukitan Patiayam, Kudus, menjadi bukti betapa penghijauan (konservasi alam) bisa menghidupi masyarakat. Tidak hanya dari aspek ekonomi, tapi juga keamanan desa dari ancaman bencana.

***

Buah mangga dari beragam varietas tampak pating grandul saat saya mengunjungi bukit Patiayam di Desa Gondoharum, Kudus, pada Selasa (7/10/2025) pagi. Beberapa telah siap dipanen.

Tak pelak, pemandangan itu membuat senyum mengembang dari wajah Mashuri (47), Ketua Kelompok Tani (POKTAN) Wonorejo. Ia lah yang menginisiasi penanaman mangga di bukit yang sudah bertahun-tahun tandus itu.

Mangga-mangga di bukit Patiayam Desa Gondoharum, Kudus, yang siap panen MOJOK.CO
Mangga-mangga di bukit Patiayam Desa Gondoharum, Kudus, yang siap panen. (Eko Susanto/Mojok.co)

Hutan lebat yang dibabat

Jika melintas di jalan raya pantura menuju Desa Gondoharum (dari arah barat), di sisi kiri akan terlihat gundukan perbukitan yang tampak belang. Sebagian tampak tandus, sebagian lagi kehijauan.

Namun, perlu diketahui, kondisi saat ini sejatinya jauh lebih baik ketimbang beberapa tahun sebelumnya: Benar-benar gundul. Tandus.

Bukit Patiayam, Kudus mulai menghijau beberapa tahun mangga usai penanaman mangga dan lain-lain MOJOK.CO
Bukit Patiayam, Kudus mulai menghijau beberapa tahun mangga usai penanaman mangga dan lain-lain. (Eko Susanto/Mojok.co)

Kala saya dan Mashuri berbincang di sebuah saung di antara pohon-pohon mangga, Mashuri sempat meminta saya diam sejenak. Rupanya ia ingin menunjukkan cericit burung yang tak henti-henti memenuhi udara. Beberapa ekor juga tampak hinggap di ranting-ranting pohon.

Sebelum 1998, kira-kira begitu juga lah gambaran bukit Patiayam, lantaran masih berupa hutan lebat. Banyak fauna hidup di bukit Patiayam.

“Dulu saat saya masih kecil, masih ada macan, kijang, ular besar juga banyak,” kata Mashuri.

Burung-burung di ranting pohon MOJOK.CO
Burung-burung di ranting pohon. (Eko Susanto/Mojok.co)

Semua berubah ketika terjadi pembalakan dan penjarahan hutan pada 1998. Bukit Patiayam dibabat habis oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Kata Mashuri, saat itu hanya tersisa 20% saja pohon tegalan yang tumbuh. Bukit Patiayam lantas mengalami fase tandus selama bertahun-tahun setelahnya.

Awal tak mudah penghijauan bukit Patiayam Kudus

Dari awal 2000-an, masyarakat Desa Gondoharum, Kudus, menggunakan lahan perbukitan Patiayam untuk ditanami tanaman pangan seperti palawija dan jagung.

Memang, tanaman tersebut bisa jagani ekonomi masyarakat setempat. Namun, ada yang mengusik hati Mashuri.

“Kalau dibiarkan terus-menerus (hanya tanam jagung), takutnya longsor karena nggak ada pohon besar yang menopang. Nah, awalnya saya menggalakkan konservasi bukit itu sebenarnya sebagai pagar desa,” jelas Mashuri.

Mashuri, Ketua POKTAN Wonorejo inisiator penanaman mangga di bukit Patiayam, Kudus MOJOK.CO
Mashuri, Ketua POKTAN Wonorejo inisiator penanaman mangga di bukit Patiayam, Kudus. (Eko Susanto/Mojok.co)

Ajakan Mashuri untuk melakukan konservasi bukit Patiayam tidak serta merta mudah. Resistensi dari masyarakat harus ia terima. Sebab, masyarakat lebih berpikir pragmatis: Kalau jagung kan jelas ada hasilnya dan cepat. Kalau mangga? Butuh waktu tahunan untuk menunggu alias belum jelas hasilnya.

Iklan

Mangga-mangga di Patiayam Kudus: untuk jaga desa dan tabungan

Mashuri mulai menggalakkan penghijauan sedari tahun 2019. Kala itu ia mengusulkan mangga sebagai komoditas yang bakal ditanam di bukit Patiayam.

Ia mencoba memberi pengertian, bahwa menanam mangga ini nanti punya fungsi berlapis. Pohon besar seperti mangga akan menjaga desa dari bencana longsor. Selain itu, mangga juga bernilai ekonomi sebagai tabungan.

“Jadi masyarakat tetap bisa tanam jagung dan palawija sebagai tumpangsari. Mangga buat tabungannya. Namanya agroforestri,” jelas Mashuri mencoba mengucapkan ulang kalimat yang ia sampaikan ke masyarakat Desa Gondoharum pada 2019 silam.

“Kalau jagung habis panen kan selesai. Nanti tanam lagi. Dan biayanya mahal. Kalau ada mangga, nanti habis jagung masih ada mangga, perawatannya juga lebih murah dan mudah,” sambung bapak-bapak grapyak itu.

Saat itu, hanya puluhan orang saja yang mengikuti Mashuri. Tapi setidaknya Mashuri tidak sendiri.

Mashuri makin bertambah bersyukur saat Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) melirikkan mata pada kepedulian Mashuri terhadap konservasi alam. Alhasil, BLDF memberi bantuan berupa bibit mangga dan pupuk (hingga sekarang). Lalu pada 2020, mulai lah bibit-bibit mangga itu ditanam di lahan tandus bukit Patiayam, Kudus.

Bibit-bibit dari BLDF 

BLDF mendukung Mashuri karena pada dasarnya memiliki visi sejalan. BLDF memiliki program konservasi alam demi menjaga keseimbangan ekosistem sebagai upaya menghadapi ancaman krisis iklim.

Tak hanya penghijauan Patiayam, BLDF juga berkontribusi dalam penghijauan di lereng-lereng Muria, di sepanjang jalan pantura dengan trembesi, hingga penghijauan di kawasan candi di Jawa Tengah-DIY.

Dalam memberi dukungan, BLDF menyediakan bibit-bibit pohon yang dibudidaya di Pusat Pembibitan Tanaman (PPT) di Djarum Oasis Kretek Factory. Bibit-bibit itu diberikan secara cuma-cuma alias gratis, sepanjang untuk kepentingan konservasi. BLDF juga menyediakan pupuk organik secara gratis, yang diolah di Pusat Pengolahan Organik (PPO).

Ribuan bibit mangga, jutaan rupiah masuk kantong

Di masa awal penanaman bibit mangga di bukit Patiayam, Kudus itu, pandangan “pesimis” masih menguar dari sebagian masyarakat Desa Gondoharum.

“Kok mau-maunya ngoyo tanam barang tak pasti.”

“Kok mau-maunya berharap pada sesuatu yang belum jelas kelihatan hasilnya.”

Pohon-pohon mangga menghijaukan bukit yang semula tandus MOJOK.CO
Pohon-pohon mangga menghijaukan bukit yang semula tandus. (Eko Susanto/Mojok.co)

Kira-kira itu suara-suara sumbang yang harus Mashuri dan kelompoknya hadapi. Namun, ketika pohon-pohon mangga itu sudah berbuah dan menunjukkan nilai ekonominya, orang-orang akhirnya berbalik mendukung dan mengikuti langkah Mashuri.

Dari luasan 250 hakatere bukit Patiayam, hingga kini sudah 28.000 bibit pohon mangga yang ditanam. Dari puluhan orang, kini sudah bergabung sekitar 337 orang di kelompok tani Mashuri.

Tak hanya di Desa Gondoharum, Mashuri ternyata juga menjadi inspirasi bagi petani-petani di desa lain di kawasan bukit Patiayam. Misalnya di Desa Terban, Desa Klaling, Desa Tanjungrejo, dan Desa Kandangmas.

“Kira-kira yang berbuah itu 15.000 pohon. Satu pohon bisa menghasilkan 30 kilogram dalam masa panen,” terang Mashuri dengan senyum semringah. “Dalam masa panen mangga, pendapatan petani bisa sampai Rp12,5 juta.”

Kepontal-pontal penuhi permintaan pasar

Ada lima varietas mangga yang ditanam di bukit Patiayam, Kudus: Harumanis, manalagi, kiojay, golek, dan gadung.

Mangga-mangga yang dipanen itu, kata Mashuri, akan didistribusikan untuk memenuhi pasar lokal dan luar daerah. Hanya saja, kata Mashuri, sekian banyak mangga yang dipanen ternyata masih kepontal-pontal untuk memenuhi permintaan pasar lokal, saking besarnya permintaan.

Bukit Patiayam kini memang menjelma sebagai kantong tabungan bagi para petani di Desa Gondoharum. Sebab, selain jagung dan mangga, ada tanaman lain yang juga dibudidaya. Antara lain, pete, papaya, nangka, alpukat, hingga durian.

“Tapi memang untuk yang populasi tumbuhnya di atas 80% itu mangga. Nomor duanya pete,” ujar Mashuri.

***

Menjelang siang, Mashuri mengajak saya memetik beberapa buah mangga, papaya, dan pete. Di bawah pohon mangga, Mashuri meminta para petani muda yang tengah ngaso untuk mengupas dan memotong mangga dan pepaya menjadi potongan-potongan kecil. Mereka lalu meracik bumbu rujak, dengan cabai-cabai oranye yang bikin lidah ngeces.

Di bawah teduh pepohonan, saya, Mashuri, dan para petani sama-sama melahap potongan buah tersebut. Mencoleknya ke sambal yang sudah diracik di dalam cobek, lalu ditambah pete sebagai lalapan. Tawa-tawa riang mengiringi momen tersebut.

Termasuk tawa lepas dari Mashuri. Dalam batinnya ia merasa lega, upaya penghijauan yang ia lakukan, yang didukung oleh BLDF itu, pada akhirnya membuahkan tawa bagi masyarakat setempat. Desa terlindungi, urusan kantong petani juga terpenuhi.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kopi Rahtawu: Ketika Sampah Tak Bernilai Menjadi Emas bagi Petani Kopi di Lereng Muria atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 Juni 2026 oleh

Tags: desa gondoharumkudusmanggamangga gondoharummangga patiayampatiayampilihan redaksivarietas mangga
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO
Sehari-hari

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
pekerja kantoran.MOJOK.CO
Urban

Akal-akalan “Kantor adalah Keluarga”, Menguras Mental dan Menggerogoti Karier

4 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO
Sekolahan

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Adegan horor tiap awal bulan di kehidupan dewasa. Gajian ludes seketika karena kebutuhan MOJOK.CO
Urban

Awal Bulan di Kehidupan Dewasa Itu Horor: Setelah Gajian Gaji Langsung Ludes di Kalkulator

2 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Campus League Basketball 2026 Regional Jakarta Season 1 tidak hanya jadi panggung prestasi basket, tapi juga warna baru solusi mobilitas masa depan anak muda dengan motor listrik Polytron MOJOK.CO

Puncak Campus League Basketball 2026 Jakarta S1: Tak Hanya Jadi Panggung Basket tapi Juga Hadirkan Solusi Mobilitas Masa Depan Anak Muda

2 Juni 2026
Dhia Hana Putri Saraswati mahasiswa Umsura dan Unair. MOJOK.CO

Kena Mental Kuliah di Umsura dan Unair Sekaligus, Puluhan Kali Ingin Menyerah tapi Kuat karena Ajaran Muhammadiyah

5 Juni 2026
Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Godaan modifikasi motor Honda Vario 125 demi sinematik kebodohan soal harga jual di Facebook, berakhir jadi motor sampah dan jamet MOJOK.CO

Modifikasi Motor Honda Vario 125 Hasil Tabungan Ibu-Kakak demi Sinematik dan Kebodohan Harga Jual di FB, Berakhir Jadi Motor Jamet dan Sampah

7 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.