Lima tahun tinggal di sebuah kos horor Jogja, Robi menyadari bahwa yang lebih horor bukanlah gangguan demit, tetapi susahnya hidup dengan gaji UMR kota ini. Kata dia, “gajiku lebih satanis dari tempat tinggalku.”
***
Jogja selalu punya cara sendiri untuk merawat kenangan. Setidaknya, itulah yang sering diglorifikasi di media sosial.
Kota ini lekat dengan label “murah” dan “romantis”. Mulai dari nasi kucing di angkringan, slow living, hingga biaya sewa hunian, semuanya sering kali dianggap ramah kantong.
Narasi ini terus diulang, sehingga menciptakan ilusi bahwa Jogja adalah surga bagi mereka yang ingin hidup hemat dan tenang. Namun, bagi mereka yang benar-benar menjalani hidup di sini dalam beberapa tahun terakhir, realitasnya jauh dari sekadar romansa syahdu.
Nyatanya, Jogja semakin mahal. Kenaikan biaya hidup ini paling terasa pada sektor hunian, khususnya sewa indekos. Bagi mahasiswa atau pekerja muda yang ingin mendapatkan kamar kos yang layak, setidaknya dibutuhkan biaya rata-rata Rp1 juta per bulan.
Apakah ada yang di bawah harga itu? Tentu ada, tetapi sulit didapatkan dengan kondisi yang manusiawi. Kondisi inilah yang memaksa sebagian orang mengambil keputusan ekstrem: rela tinggal di kos yang dikenal “berhantu” hanya demi bisa berteduh dengan harga murah.
Harga kos tak masuk akal setelah pandemi
Salah satu cerita datang Robi, seorang pemuda asal Banyumas yang kini telah menetap di Jogja. Robi adalah satu dari sekian banyak perantau yang merasakan tamparan keras realitas biaya hidup di kota pelajar ini.
Ia mulai merantau untuk berkuliah di sebuah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jogja pada tahun 2020. Namun, pandemi Covid-19 mengubah rencananya. Selama kurang lebih satu tahun, antara 2020 hingga 2021, ia tidak merasakan kehidupan anak kos karena perkuliahan dialihkan menjadi WFH.
Barulah pada akhir tahun 2021, Robi memutuskan berangkat ke Jogja. Sayangnya, ia datang di saat yang kurang tepat. Menurut cerita kakak tingkatnya, pascapandemi adalah masa di mana harga sewa kos melambung gila-gilaan.
“Banyak kakak tingkat yang harga kos pada naik 100 sampai 200 ribu,” ujar Robi, Minggu (11/1/2025).
Robi membuktikannya sendiri saat melakukan survei. Rata-rata kos yang ia temukan di dekat kampusnya mematok harga Rp500 ribu untuk kamar kosongan dengan kamar mandi luar.
Sementara jika menginginkan kamar dengan isian kasur dan lemari, harganya melonjak ke rentang Rp700 ribu hingga Rp800 ribu. Dan, untuk mendapatkan kamar yang benar-benar layak serta nyaman, ia harus menyiapkan uang minimal Rp1 juta.
Angka-angka tersebut tentu memberatkan bagi mahasiswa perantauan seperti Robi. Di tengah kebingungan mencari tempat tinggal yang ramah di kantong, sebuah tawaran datang dari salah satu kakak tingkatnya. Tawaran itu terdengar seperti angin segar, tapi sekaligus membawa misteri tersendiri.
Kos murah dengan masa lalu kelam
Kakak tingkat Robi mengajaknya tinggal di tempat kosnya yang terletak di daerah Sleman. Lokasinya cukup strategis, hanya berjarak kira-kira 10 menit perjalanan motor dari kampus.
Yang membuat Robi sulit untuk menolak, adalah harganya: Rp300 ribu per bulan. Bahkan, jika membayar langsung untuk empat bulan, totalnya hanya Rp1 juta. Sebuah anomali harga di tengah pasar sewa properti Jogja yang sedang meroket.
Robi bilang, konsep hunian tersebut adalah semi-kontrakan. Bangunan itu sejatinya adalah sebuah rumah biasa yang memiliki empat kamar tidur. Namun, demi memaksimalkan pendapatan, gudang rumah pun disulap menjadi kamar tidur, sehingga total ada lima kamar yang disewakan sebagai kos.
“Bagiku saat itu, fasilitasnya terbilang lengkap dan mewah untuk harga semurah itu. Soalnya udah ada dapur bersama, kamar mandi di dalam bangunan utama, ruang tengah untuk kumpul, dan halaman juga luas,” ungkapnya.
Sistem penghuniannya pun unik, dilakukan secara turun-temurun di antara circle kakak tingkat Robi. Pemilik rumah jarang sekali datang, biasanya hanya muncul sebulan sekali untuk memberikan “kode” penagihan uang sewa. Hal ini memberikan kebebasan luar biasa bagi penghuninya.
“Pokoknya free 24 jam. Yang nakal pun, kalau mau bawa pacar ke kos juga bebas-bebas aja.”
Namun, hukum ekonomi berlaku: kalau sesuatu terdengar terlalu bagus untuk untuk harga yang amat miring, biasanya ada yang salah. Dan, benar saja. Masalah dari rumah tersebut adalah reputasinya.
Kata Robi, sudah menjadi rahasia umum bahwa tempat itu konon berhantu. Warga sekitar sudah sangat paham sejarah kelam bangunan tersebut. Sekitar tahun 2010, rumah ini menjadi lokasi bunuh diri seorang mahasiswa. Alih-alih menjual properti dengan sejarah buruk tersebut, pemilik memutuskan untuk menyewakannya sebagai kos-kosan.
Hidup berdampingan dengan yang tak kasat mata
Mendengar latar belakang tersebut, Robi tidak lantas mundur. Ia bukannya tidak takut atau tidak percaya pada hal gaib, tapi cuma berusaha berpikir logis saja–meski terdengar aneh.
“Aku mikirnya, toh, kalau di kos ramai-ramai, nggak bakal ada juga hantu yang bakal ganggu,” pikirnya saat itu.
Dan benar saja, selama tahun-tahun pertama tinggal di sana, Robi cuma menjadi saksi berbagai cerita horor yang dialami teman-teman kosnya. Hampir semua penghuni pernah mengaku dihantui.
Detail ceritanya beragam dan cukup membuat bulu kuduk berdiri. Ada teman yang diganggu saat sedang mandi, ada pula yang diganggu saat sedang fokus mengerjakan tugas di kamar.
Gangguan tersebut, kata Robi, cukup bervariasi. Dari bentuk “keusilan” seperti pintu yang dibanting tiba-tiba, barang-barang yang dijatuhkan, hingga suara ketukan di jendela kamar saat malam hari.
Tingkatan gangguan itu bahkan ada yang lebih ekstrem. Beberapa teman Robi mengaku sampai “diperlihatkan” wujud makhluk halus tersebut.
Anehnya, di tengah badai gangguan supranatural yang menimpa teman-temannya, Robi justru tidak pernah diganggu secara langsung. Pengalaman paling menyeramkan yang ia rasakan “hanya” sebatas merinding saat sendirian di kos, atau mengurungkan niat ke kamar mandi karena merasa seperti sedang diawasi oleh sesuatu yang tak terlihat.
“Tapi kalau gangguan fisik atau penampakan katakanlah, nggak pernah aku alami.”
Kondisi ini membuat Robi bertahan. Hingga hari ini, terhitung ia telah tinggal di sana selama lima tahun, sejak masih berstatus mahasiswa baru hingga kini sudah bekerja. Rasa takut akan hantu berhasil ia kompromikan demi kenyamanan finansial. Baginya, gangguan makhluk halus masih bisa ditoleransi dibandingkan gangguan arus kas bulanan.
Wajah asli horor di Jogja
Seiring berjalannya waktu, Robi justru menemukan bentuk “horor” lain yang jauh lebih nyata dan mencekam daripada hantu bunuh diri di tahun 2010. Horor ini muncul dari interaksi sehari-hari dan cerita personal teman-teman satu atapnya. Karena tinggal dalam satu rumah kontrakan yang erat, mereka saling mengenal masalah masing-masing.
Robi melihat bagaimana teman-temannya berjuang setelah lulus kuliah. Ada yang sangat susah mendapatkan pekerjaan hingga akhirnya terpaksa menjadikan pengemudi ojek online (ojol) sebagai mata pencaharian utama demi bertahan hidup.
“Ada juga yang sudah kerja. Kantoran pula. Tapi ya gajinya tak seberapa, dan habis cuma buat kebutuhan dasar,” tegas Robi.
Ketakutan akan masa depan ini akhirnya dirasakan sendiri oleh Robi. Setelah lulus kuliah pada tahun 2024, ia memasuki dunia kerja yang sebenarnya. Ia diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jogja.
Namun, realitas upah di kota ini menghantamnya keras. Gaji yang ia terima berada di bawah Upah Minimum Regional (UMR) Jogja yang sebenarnya sudah tergolong kecil. Robi hanya mengantongi Rp2,1 juta per bulan.
Angka tersebut memaksanya untuk terus berhitung. Memang, ia sangat terbantu karena biaya sewa kos horor ini tidak pernah naik selama lima tahun–tetap murah karena “kutukan” hantunya.
Namun, statusnya sebagai pekerja membawa tanggung jawab baru yang lebih besar. Ia kini harus menyisihkan uang untuk transfer ke orang tua di kampung, sekaligus bertahan hidup di tengah kerasnya ekonomi Jogja.
Biaya makan, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari terus merangkak naik, berbanding terbalik dengan kenaikan upahnya.
Menurut keyakinan Robi, setan ekonomi lebih menakutkan
Kisah Robi adalah potret ironis dari wajah ganda Jogja. Di satu sisi, ia menemukan tempat berlindung di sebuah rumah yang ditakuti warga karena alasan mistis. Di sisi lain, ia merasa terancam oleh sistem ekonomi kota yang memiskinkan pekerjanya.
Setelah lima tahun–dan mungkin akan terus bertambah–tinggal di kos horor itu, Robi menyadari sebuah fakta pahit. Horor yang sebenarnya bukanlah tempat tinggalnya. Selama setengah dekade, ia tidak pernah menjumpai kehororan ekstrem dari makhluk halus.
Justru, “horor” itu ia dapatkan dari perjalanan hidupnya sendiri dan teman-temannya: susahnya mencari kerja, dan kalaupun sudah kerja, gajinya sering kali tidak memadai untuk hidup layak.
Situasi absurd ini memunculkan sebuah kutipan menarik dari mulut Robi. Ia meminjam penggalan lirik lagu dari salah satu band kesukaannya, Vlaar, untuk mendeskripsikan kehidupannya saat ini.
“Gajiku lebih ‘satanis’ daripada kos horor ini,” ujarnya.
Kalimat itu bukan sekadar kelakar. Itu adalah jeritan sunyi para pekerja muda di Jogja. Bagi Robi, hantu di kosnya mungkin hanya mengetuk jendela atau membanting pintu sesekali, tapi upah rendah dan biaya hidup tinggi mencekik leher setiap hari, tanpa henti.
“Hantu itu paling cuma bikin kamu ke kamar mandi, tapi kemiskinan struktural membuatmu takut menatap masa depan. Anjay!”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Sewa Kos Rp350 Ribu Berdinding Triplek di Tamsis Kota Jogja, Bonus Suara “Ceplak-ceplok” Tengah Malam hingga Terusir Gara-gara Sengketa Warisan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan















