Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
12 Januari 2026
A A
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi - Kos Horor (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Lima tahun tinggal di sebuah kos horor Jogja, Robi menyadari bahwa yang lebih horor bukanlah gangguan demit, tetapi susahnya hidup dengan gaji UMR kota ini. Kata dia, “gajiku lebih satanis dari tempat tinggalku.”

***

Iklan

Jogja selalu punya cara sendiri untuk merawat kenangan. Setidaknya, itulah yang sering diglorifikasi di media sosial. 

Kota ini lekat dengan label “murah” dan “romantis”. Mulai dari nasi kucing di angkringan, slow living, hingga biaya sewa hunian, semuanya sering kali dianggap ramah kantong. 

Narasi ini terus diulang, sehingga menciptakan ilusi bahwa Jogja adalah surga bagi mereka yang ingin hidup hemat dan tenang. Namun, bagi mereka yang benar-benar menjalani hidup di sini dalam beberapa tahun terakhir, realitasnya jauh dari sekadar romansa syahdu.

Nyatanya, Jogja semakin mahal. Kenaikan biaya hidup ini paling terasa pada sektor hunian, khususnya sewa indekos. Bagi mahasiswa atau pekerja muda yang ingin mendapatkan kamar kos yang layak, setidaknya dibutuhkan biaya rata-rata Rp1 juta per bulan. 

Apakah ada yang di bawah harga itu? Tentu ada, tetapi sulit didapatkan dengan kondisi yang manusiawi. Kondisi inilah yang memaksa sebagian orang mengambil keputusan ekstrem: rela tinggal di kos yang dikenal “berhantu” hanya demi bisa berteduh dengan harga murah.

Harga kos tak masuk akal setelah pandemi

Salah satu cerita datang Robi, seorang pemuda asal Banyumas yang kini telah menetap di Jogja. Robi adalah satu dari sekian banyak perantau yang merasakan tamparan keras realitas biaya hidup di kota pelajar ini. 

Ia mulai merantau untuk berkuliah di sebuah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jogja pada tahun 2020. Namun, pandemi Covid-19 mengubah rencananya. Selama kurang lebih satu tahun, antara 2020 hingga 2021, ia tidak merasakan kehidupan anak kos karena perkuliahan dialihkan menjadi WFH.

Barulah pada akhir tahun 2021, Robi memutuskan berangkat ke Jogja. Sayangnya, ia datang di saat yang kurang tepat. Menurut cerita kakak tingkatnya, pascapandemi adalah masa di mana harga sewa kos melambung gila-gilaan. 

“Banyak kakak tingkat yang harga kos pada naik 100 sampai 200 ribu,” ujar Robi, Minggu (11/1/2025).

Robi membuktikannya sendiri saat melakukan survei. Rata-rata kos yang ia temukan di dekat kampusnya mematok harga Rp500 ribu untuk kamar kosongan dengan kamar mandi luar. 

Sementara jika menginginkan kamar dengan isian kasur dan lemari, harganya melonjak ke rentang Rp700 ribu hingga Rp800 ribu. Dan, untuk mendapatkan kamar yang benar-benar layak serta nyaman, ia harus menyiapkan uang minimal Rp1 juta.

Angka-angka tersebut tentu memberatkan bagi mahasiswa perantauan seperti Robi. Di tengah kebingungan mencari tempat tinggal yang ramah di kantong, sebuah tawaran datang dari salah satu kakak tingkatnya. Tawaran itu terdengar seperti angin segar, tapi sekaligus membawa misteri tersendiri.

Iklan

Kos murah dengan masa lalu kelam

Kakak tingkat Robi mengajaknya tinggal di tempat kosnya yang terletak di daerah Sleman. Lokasinya cukup strategis, hanya berjarak kira-kira 10 menit perjalanan motor dari kampus. 

Yang membuat Robi sulit untuk menolak, adalah harganya: Rp300 ribu per bulan. Bahkan, jika membayar langsung untuk empat bulan, totalnya hanya Rp1 juta. Sebuah anomali harga di tengah pasar sewa properti Jogja yang sedang meroket.

Robi bilang, konsep hunian tersebut adalah semi-kontrakan. Bangunan itu sejatinya adalah sebuah rumah biasa yang memiliki empat kamar tidur. Namun, demi memaksimalkan pendapatan, gudang rumah pun disulap menjadi kamar tidur, sehingga total ada lima kamar yang disewakan sebagai kos. 

“Bagiku saat itu, fasilitasnya terbilang lengkap dan mewah untuk harga semurah itu. Soalnya udah ada dapur bersama, kamar mandi di dalam bangunan utama, ruang tengah untuk kumpul, dan halaman juga luas,” ungkapnya.

Sistem penghuniannya pun unik, dilakukan secara turun-temurun di antara circle kakak tingkat Robi. Pemilik rumah jarang sekali datang, biasanya hanya muncul sebulan sekali untuk memberikan “kode” penagihan uang sewa. Hal ini memberikan kebebasan luar biasa bagi penghuninya.

“Pokoknya free 24 jam. Yang nakal pun, kalau mau bawa pacar ke kos juga bebas-bebas aja.”

Namun, hukum ekonomi berlaku: kalau sesuatu terdengar terlalu bagus untuk untuk harga yang amat miring, biasanya ada yang salah. Dan, benar saja. Masalah dari rumah tersebut adalah reputasinya. 

Kata Robi, sudah menjadi rahasia umum bahwa tempat itu konon berhantu. Warga sekitar sudah sangat paham sejarah kelam bangunan tersebut. Sekitar tahun 2010, rumah ini menjadi lokasi bunuh diri seorang mahasiswa. Alih-alih menjual properti dengan sejarah buruk tersebut, pemilik memutuskan untuk menyewakannya sebagai kos-kosan.

Hidup berdampingan dengan yang tak kasat mata

Mendengar latar belakang tersebut, Robi tidak lantas mundur. Ia bukannya tidak takut atau tidak percaya pada hal gaib, tapi cuma berusaha berpikir logis saja–meski terdengar aneh.

“Aku mikirnya, toh, kalau di kos ramai-ramai, nggak bakal ada juga hantu yang bakal ganggu,” pikirnya saat itu.

Dan benar saja, selama tahun-tahun pertama tinggal di sana, Robi cuma menjadi saksi berbagai cerita horor yang dialami teman-teman kosnya. Hampir semua penghuni pernah mengaku dihantui. 

Detail ceritanya beragam dan cukup membuat bulu kuduk berdiri. Ada teman yang diganggu saat sedang mandi, ada pula yang diganggu saat sedang fokus mengerjakan tugas di kamar. 

Gangguan tersebut, kata Robi, cukup bervariasi. Dari bentuk “keusilan” seperti pintu yang dibanting tiba-tiba, barang-barang yang dijatuhkan, hingga suara ketukan di jendela kamar saat malam hari.

Tingkatan gangguan itu bahkan ada yang lebih ekstrem. Beberapa teman Robi mengaku sampai “diperlihatkan” wujud makhluk halus tersebut. 

Anehnya, di tengah badai gangguan supranatural yang menimpa teman-temannya, Robi justru tidak pernah diganggu secara langsung. Pengalaman paling menyeramkan yang ia rasakan “hanya” sebatas merinding saat sendirian di kos, atau mengurungkan niat ke kamar mandi karena merasa seperti sedang diawasi oleh sesuatu yang tak terlihat. 

“Tapi kalau gangguan fisik atau penampakan katakanlah, nggak pernah aku alami.”

Kondisi ini membuat Robi bertahan. Hingga hari ini, terhitung ia telah tinggal di sana selama lima tahun, sejak masih berstatus mahasiswa baru hingga kini sudah bekerja. Rasa takut akan hantu berhasil ia kompromikan demi kenyamanan finansial. Baginya, gangguan makhluk halus masih bisa ditoleransi dibandingkan gangguan arus kas bulanan.

Wajah asli horor di Jogja

Seiring berjalannya waktu, Robi justru menemukan bentuk “horor” lain yang jauh lebih nyata dan mencekam daripada hantu bunuh diri di tahun 2010. Horor ini muncul dari interaksi sehari-hari dan cerita personal teman-teman satu atapnya. Karena tinggal dalam satu rumah kontrakan yang erat, mereka saling mengenal masalah masing-masing.

Robi melihat bagaimana teman-temannya berjuang setelah lulus kuliah. Ada yang sangat susah mendapatkan pekerjaan hingga akhirnya terpaksa menjadikan pengemudi ojek online (ojol) sebagai mata pencaharian utama demi bertahan hidup. 

“Ada juga yang sudah kerja. Kantoran pula. Tapi ya gajinya tak seberapa, dan habis cuma buat kebutuhan dasar,” tegas Robi.

Ketakutan akan masa depan ini akhirnya dirasakan sendiri oleh Robi. Setelah lulus kuliah pada tahun 2024, ia memasuki dunia kerja yang sebenarnya. Ia diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jogja. 

Namun, realitas upah di kota ini menghantamnya keras. Gaji yang ia terima berada di bawah Upah Minimum Regional (UMR) Jogja yang sebenarnya sudah tergolong kecil. Robi hanya mengantongi Rp2,1 juta per bulan.

Angka tersebut memaksanya untuk terus berhitung. Memang, ia sangat terbantu karena biaya sewa kos horor ini tidak pernah naik selama lima tahun–tetap murah karena “kutukan” hantunya. 

Namun, statusnya sebagai pekerja membawa tanggung jawab baru yang lebih besar. Ia kini harus menyisihkan uang untuk transfer ke orang tua di kampung, sekaligus bertahan hidup di tengah kerasnya ekonomi Jogja. 

Biaya makan, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari terus merangkak naik, berbanding terbalik dengan kenaikan upahnya.

Menurut keyakinan Robi, setan ekonomi lebih menakutkan

Kisah Robi adalah potret ironis dari wajah ganda Jogja. Di satu sisi, ia menemukan tempat berlindung di sebuah rumah yang ditakuti warga karena alasan mistis. Di sisi lain, ia merasa terancam oleh sistem ekonomi kota yang memiskinkan pekerjanya.

Setelah lima tahun–dan mungkin akan terus bertambah–tinggal di kos horor itu, Robi menyadari sebuah fakta pahit. Horor yang sebenarnya bukanlah tempat tinggalnya. Selama setengah dekade, ia tidak pernah menjumpai kehororan ekstrem dari makhluk halus. 

Justru, “horor” itu ia dapatkan dari perjalanan hidupnya sendiri dan teman-temannya: susahnya mencari kerja, dan kalaupun sudah kerja, gajinya sering kali tidak memadai untuk hidup layak.

Situasi absurd ini memunculkan sebuah kutipan menarik dari mulut Robi. Ia meminjam penggalan lirik lagu dari salah satu band kesukaannya, Vlaar, untuk mendeskripsikan kehidupannya saat ini.

“Gajiku lebih ‘satanis’ daripada kos horor ini,” ujarnya.

Kalimat itu bukan sekadar kelakar. Itu adalah jeritan sunyi para pekerja muda di Jogja. Bagi Robi, hantu di kosnya mungkin hanya mengetuk jendela atau membanting pintu sesekali, tapi upah rendah dan biaya hidup tinggi mencekik leher setiap hari, tanpa henti. 

“Hantu itu paling cuma bikin kamu ke kamar mandi, tapi kemiskinan struktural membuatmu takut menatap masa depan. Anjay!”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Sewa Kos Rp350 Ribu Berdinding Triplek di Tamsis Kota Jogja, Bonus Suara “Ceplak-ceplok” Tengah Malam hingga Terusir Gara-gara Sengketa Warisan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 12 Januari 2026 oleh

Tags: horor jogjainfo kos jogjaJogjakos horor di jogjakos jogjakos murah jogjapilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO
Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO
Kabar

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.