Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Susah Payah Bidan Desa: Warga Lebih Percaya Dukun Bayi, Kasih Edukasi Malah Dianggap Menentang Tradisi

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
6 January 2026
A A
Susah jadi bidan desa, niat edukasi malah dianggap menentang tradisi MOJOK.CO

Ilustrasi - Susah jadi bidan desa, niat edukasi malah dianggap menentang tradisi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menjadi seorang bidan desa amat tak mudah. Apalagi jika bertugas di sebuah desa yang warganya masih sangat kuat menganut metode tradisional dan menutup diri untuk metode-metode modern. Alhasil, niat mengedukasi justru disalahpahami sebagai sikap menentang tradisi.

***

Baru beberapa bulan Ratih*(35), nama samaran, diminta bertugas di sebuah desa pelosok di Rembang, Jawa Tengah. Menggantikan bidan lama yang sudah selesai masa tugasnya.

Tentu saja awalnya ia kaget dan ragu-ragu. Ia lama tinggal di Solo, Jawa Tengah. Sudah terbiasa dengan kehidupan perkotaan. Lalu tiba-tiba harus tinggal di sebuah desa pelosok. Tapi tugas adalah tugas, ia tidak bisa mengelak.

Satu hal yang membuat Ratih yakin akan betah di desa saat pertama kali tiba adalah: Warganya amat ramah. Sejak pertama kali datang dan dikenalkan di balai desa, banyak warga desa yang menyambut hangat. Terutama dari kalangan ibu-ibu muda, mereka langsung mencoba akrab dengan Ratih.

Tak pelak Ratih merasa sosok bidan desa sepertinya memang sangat dibutuhkan di desa tersebut.

Operasi caesar jadi simbol perempuan manja, di sini kekagetan bidan desa bermula

Untuk hubungan sosial, sebenarnya tidak butuh waktu lama bagi Ratih untuk berbaur dengan warga setempat. Namun, setelahnya ia tahu bahwa pekerjaannya amat tidak mudah.

Pada suatu kesempatan, saat Ratih sedang mengontrol ibu-ibu muda yang baru melahirkan, bertepatan dengan sanak-saudara si ibu itu berkumpul. Perbincangan berkutat soal proses melahirkan si ibu tersebut.

Si ibu tersebut melahirkan melalui proses operasi caesar setelah tiga kali induksi berakhir nol pembukaan. Ternyata prosedur bedah itu menjadi aib bagi warga setempat.

“Ada yang bilang, orang tua-tua kan, kalau operasi (caesar) itu simbol manja. Perempuan-perempuan zaman sekarang itu nggak mau merasakan sakit kalau lahiran normal. Jadinya operasi,” cerita Ratih.

Ada pula yang melebih-lebihkan soal operasi. Sebab, bagi warga setempat, kata “operasi” itu memuat konotasi mengerikan. “Misalnya, ada yang bilang, operasi itu bahaya karena yang pegang anak-anak PKL,” ujar Ratih.

Ratih tentu kaget. Ia lalu mencoba menjelaskan pelan-pelan perihal kondisi-kondisi darurat yang mengharuskan operasi caesar. Karena kalau dipaksa normal, bisa-bisa membahayakan si ibu dan janin.

“Halah, Bu. Nyatanya orang tua zaman dulu itu nggak pakai operasi juga bisa melahirkan,” jawab warga. Ratih hanya tertegun sembari melempar senyum tipis. Walaupun ia punya sekian jawaban untuk memberi pemahaman.

Banyak larangan soal makanan, padahal bernutrisi dan berprotein tinggi

Masih dalam kasus operasi caesar, si ibu yang jahitan perutnya dikontrol Ratih mengaku, ada banyak pantangan makanan untuk ibu yang habis melahirkan. Itu Ratih ketahui saat mencoba memastikan apakah asupan nutrisi dan protein si ibu tercukupi dengan baik.

Iklan

Misalnya, makan udang. Konon, makan udang bisa bikin luka jahitan terasa amat nyeri dan tak sembuh-sembuh. Padahal kandungan proteinnya menjadi komponen penting untuk membangun dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak akibat operasi.

Dan masih banyak lagi jenis-jenis makanan yang harus dihindari dikonusmsi. Padahal makanan-makanan yang dilarang tersebut—seperti sayur, daging, ikan laut—justru sangat baik untuk pemulihan.

Makan dibatasi, jatah keluar juga dibatasi (Karena tidak boleh aktivitas selain di rumah. Sekadar keluar ke Indomaret saja tak boleh), Ratih malah khawatir si ibu bakal kena baby blues.

“Ada juga kan aturan seperti ini: Kalau habis melahirkan (normal atau operasi) itu jangan banyak gerak. Padahal itu bisa mempercepat pemulihan, asal bukan aktivitas berat. Alhasil, proses pulih dari luka operasi itu juga lama. Lukanya nggak kering-kering karena nggak boleh ngapa-ngapain,” kata Ratih.

Perkara gurita hingga bedak bayi, bidan desa dianggap menentang tradisi

Setelah dua bulan melalui masa pengenalan dengan kultur desa tersebut, Ratih lalu mencoba berani mengedukasi secara lebih eksplisit. Sebab, bidan desa itu melihat, ada beberapa praktik yang sudah tidak begitu relevan.

“Bedong bayi, itu kan nggak dianjurkan lama-lama. Apalagi gurita (kain yang biasanya digunakan untuk mengikat perut bayi). Karena itu nanti akan menghambat gerak bayi. Kalau gurita malah bisa bikin napas bayi sesek,” beber Ratih.

Ratih mencoba memberi pemahaman itu. Termasuk soal bedak. Kebanyakan warga masih suka memberi bayi bedak tabur. Sementara bedak model itu sudah tidak dianjurkan lantaran partikelnya yang sangat halus dan mudah terhirup.

“Itu kan bisa menyebabkan iritasi atau gangguan pernapasan. Jadi kalau bisa ya pakai bedak padat,” jelas bidan desa tersebut.

Sebenarnya banyak ibu-ibu muda (umur 20-25 tahun) yang ingin mengikuti edukasi dari Ratih. Akan tetapi, kalangan orang tua tidak sependapat. Mereka justru beranggapan kalau ajaran-ajaran modern dari bidan desa bertentangan dengan tradisi nenek moyang yang sudah mengakar lama.

Pijat bayi dan ibu hamil jadi kewajaran, USG dihindari

Ratih mengaku agak ngeri ketika ia mendapati banyak warga desa memercayakan bayi atau ibu hamil untuk dipijat ke dukun bayi. Masalahnya, saat Ratih mencoba memastikan, ternyata si dukun bayi tersebut tidak pernah mengikuti bimbingan oleh tenaga kesehatan profesional.

“Ada yang katanya janinnya terdeteksi sungsang, lalu dipijatkan ke dukun bayi, kan bahaya sekali. Alih-laih konsultasi ke bidan atau dokter obgyn,” keluh Ratih.

Belum lagi bayi-bayi usia 0-sekian bulan yang kerap dibawa ke dukun bayi untuk diurut. Ratih malah agak ngeri.

“Orang sini juga nggak mau USG. Alasannya macam-macam. Ada yang, ah cuma ngecek begitu aja bayar Rp200 ribu. Ada yang takut, nggak tahu takut kenapa,” jelas Ratih.

Lanjut bidan desa, warga desa setempat juga memahami USG hanya sebatas untuk mengecek jenis kelamin bayi. Sementara pekerjaan itu, konon, bisa dilakukan oleh dukun bayi: Tinggal pegang perut si ibu hamil sambil baca-baca doa, lalu ketahuan jenis kelaminnya apa dan perkiraan lahirnya.

Sementara fungsi USG tidak sebatas itu. Tapi juga sebagai monitoring untuk mengetahui kondisi terkini janin dalam kandungan. Sehingga kalau ada situasi serius bisa segera diambil tindakan medis lebih cepat.

Edukasi-edukasi penting yang belum terealisasi

Itu adalah rentetan PR yang bertahap harus bidan desa itu selesaikan. Ia pun membayangkan, betapa tak mudah bidan pendahulunya, karena sampai sekarang pun ternyata pemahaman warga setempat tak bergeser dari tradisi lama.

Sementara bagi Ratih ini bukan sekadar persoalan tradisi. Tapi keselamatan ibu dan bayi.

Sebenarnya masih banyak edukasi-edukasi seputar kehamilan, pasca-melahirkan, dan treatment pada bayi. Seperti metode menggendong yang dianjurkan, tummy time, dan lain-lain. Itu juga edukasi penting, loh.

“Tapi sepertinya proses edukasi ke sana masih panjang. Harus pelan-pelan. Aku harus mulai dari memberi pemahaman-pemahaman tadi. Nggak mudah, karena dianggap menentang tradisi. Kita lihat nanti, apakah saya bakal menyerah atau bertambah gigih hehe,” tutup Ratih.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Katanya Bagian Terberat bagi Bapak Baru saat Hadapi New Born adalah Jam Tidur Tak Teratur. Ternyata Sepele, Yang Berat Itu Rasa Tak Tega atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 January 2026 oleh

Tags: bidanbidan desadukun bayioperasi caesarpantangan ibu melahirkanpijat bayitugas bidan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Ngerinya malpraktik pengobatan tradisional dukun bayi/dukun beranak MOJOK.CO
Ragam

Sesal Berobat ke Dukun Bayi ketimbang ke Dokter, Bukannya Sembuh tapi Salah Kaprah hingga Penyakit Jadi Makin Serius dan Ancam Nyawa

4 November 2025
Ibu Hebat Tinggal Kerja untuk Antar Anak UTBK di UGM, Mikir keras Soal UKT Tinggi tapi Pura-pura Punya Uang demi Wujudkan Tekad Anak Jadi Sarjana MOJOK.CO
Kampus

Ibu Hebat Tinggal Kerja untuk Antar Anak UTBK di UGM, Mikir keras Soal UKT Tinggi tapi Pura-pura Punya Uang demi Wujudkan Tekad Anak Susul Saudara-Saudara Jadi Sarjana

3 May 2024
Nalika Tayangan TV Melu Nyuntik Mati Profesi Dukun Bayi MOJOK.CO
Rerasan

Nalika Tayangan TV Melu Nyuntik Mati Profesi Dukun Bayi

17 October 2020
pam swakarsa, militer.MOJOK.CO
Pojokan

Menebak Alasan Bidan dan Perawat Seringnya Nikah sama Tentara atau Polisi

27 October 2019
Muat Lebih Banyak
Tinggalkan Komentar

Terpopuler Sepekan

Gema bahagia di Film "Tinggal Meninggal".MOJOK.CO

Film “Tinggal Meninggal” Bukan Fiksi Biasa, tapi Realitas Sosial Orang Dewasa yang Caper agar Diakui di Lingkaran Pertemanan

3 January 2026
Liburan ke Bromo Berkedok Rapat Akhir Tahun!

Liburan ke Bromo Berkedok Rapat Akhir Tahun!

1 January 2026
Risiko ketimpangan sosial di balik gegap gempita wisata Jogja di mata guru besar Sosiologi UGM MOJOK.CO

2 Sisi Koin Wisata Jogja: Ekonomi Berputar, Tapi Ada Risiko Ketimpangan Sosial bagi Warga Lokal dan Masalah yang Terus Berulang

1 January 2026
Menjadi Guru SD di Era ‘Skibidi Toilet’: Pertarungan Sengit Melawan Algoritma yang Tak Mungkin Saya Menangkan MOJOK.CO

Menjadi Guru SD di Era ‘Skibidi Toilet’: Pertarungan Sengit Melawan Algoritma yang Tak Mungkin Saya Menangkan

7 January 2026
Dosen UNIMA diduga lakukan kekerasan seksual ke mahasiswi FIPP hingga trauma dan bunuh diri MOJOK.CO

Trauma Serius Mahasiswi UNIMA akibat Ulah Menjijikkan Oknum Dosen, Tertekan hingga Gantung Diri

2 January 2026
Liburan di Candi. MOJOK.CO

Kejutan di Awal Tahun 2026 untuk 5 Wisatawan Pertama Taman Wisata Candi

1 January 2026

Video Terbaru

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 January 2026
5 Video Mojok Terpopuler 2025: Manuskrip Jawa hingga yang Membuat Tawa  MOJOK.CO

5 Video Mojok Terpopuler 2025: Manuskrip Jawa hingga yang Membuat Tawa 

1 January 2026
Liburan ke Bromo Berkedok Rapat Akhir Tahun!

Liburan ke Bromo Berkedok Rapat Akhir Tahun!

1 January 2026

Konten Promosi



Summer Sale Banner
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.