Menjadi seorang bidan desa amat tak mudah. Apalagi jika bertugas di sebuah desa yang warganya masih sangat kuat menganut metode tradisional dan menutup diri untuk metode-metode modern. Alhasil, niat mengedukasi justru disalahpahami sebagai sikap menentang tradisi.
***
Baru beberapa bulan Ratih*(35), nama samaran, diminta bertugas di sebuah desa pelosok di Rembang, Jawa Tengah. Menggantikan bidan lama yang sudah selesai masa tugasnya.
Tentu saja awalnya ia kaget dan ragu-ragu. Ia lama tinggal di Solo, Jawa Tengah. Sudah terbiasa dengan kehidupan perkotaan. Lalu tiba-tiba harus tinggal di sebuah desa pelosok. Tapi tugas adalah tugas, ia tidak bisa mengelak.
Satu hal yang membuat Ratih yakin akan betah di desa saat pertama kali tiba adalah: Warganya amat ramah. Sejak pertama kali datang dan dikenalkan di balai desa, banyak warga desa yang menyambut hangat. Terutama dari kalangan ibu-ibu muda, mereka langsung mencoba akrab dengan Ratih.
Tak pelak Ratih merasa sosok bidan desa sepertinya memang sangat dibutuhkan di desa tersebut.
Operasi caesar jadi simbol perempuan manja, di sini kekagetan bidan desa bermula
Untuk hubungan sosial, sebenarnya tidak butuh waktu lama bagi Ratih untuk berbaur dengan warga setempat. Namun, setelahnya ia tahu bahwa pekerjaannya amat tidak mudah.
Pada suatu kesempatan, saat Ratih sedang mengontrol ibu-ibu muda yang baru melahirkan, bertepatan dengan sanak-saudara si ibu itu berkumpul. Perbincangan berkutat soal proses melahirkan si ibu tersebut.
Si ibu tersebut melahirkan melalui proses operasi caesar setelah tiga kali induksi berakhir nol pembukaan. Ternyata prosedur bedah itu menjadi aib bagi warga setempat.
“Ada yang bilang, orang tua-tua kan, kalau operasi (caesar) itu simbol manja. Perempuan-perempuan zaman sekarang itu nggak mau merasakan sakit kalau lahiran normal. Jadinya operasi,” cerita Ratih.
Ada pula yang melebih-lebihkan soal operasi. Sebab, bagi warga setempat, kata “operasi” itu memuat konotasi mengerikan. “Misalnya, ada yang bilang, operasi itu bahaya karena yang pegang anak-anak PKL,” ujar Ratih.
Ratih tentu kaget. Ia lalu mencoba menjelaskan pelan-pelan perihal kondisi-kondisi darurat yang mengharuskan operasi caesar. Karena kalau dipaksa normal, bisa-bisa membahayakan si ibu dan janin.
“Halah, Bu. Nyatanya orang tua zaman dulu itu nggak pakai operasi juga bisa melahirkan,” jawab warga. Ratih hanya tertegun sembari melempar senyum tipis. Walaupun ia punya sekian jawaban untuk memberi pemahaman.
Banyak larangan soal makanan, padahal bernutrisi dan berprotein tinggi
Masih dalam kasus operasi caesar, si ibu yang jahitan perutnya dikontrol Ratih mengaku, ada banyak pantangan makanan untuk ibu yang habis melahirkan. Itu Ratih ketahui saat mencoba memastikan apakah asupan nutrisi dan protein si ibu tercukupi dengan baik.
Misalnya, makan udang. Konon, makan udang bisa bikin luka jahitan terasa amat nyeri dan tak sembuh-sembuh. Padahal kandungan proteinnya menjadi komponen penting untuk membangun dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak akibat operasi.
Dan masih banyak lagi jenis-jenis makanan yang harus dihindari dikonusmsi. Padahal makanan-makanan yang dilarang tersebut—seperti sayur, daging, ikan laut—justru sangat baik untuk pemulihan.
Makan dibatasi, jatah keluar juga dibatasi (Karena tidak boleh aktivitas selain di rumah. Sekadar keluar ke Indomaret saja tak boleh), Ratih malah khawatir si ibu bakal kena baby blues.
“Ada juga kan aturan seperti ini: Kalau habis melahirkan (normal atau operasi) itu jangan banyak gerak. Padahal itu bisa mempercepat pemulihan, asal bukan aktivitas berat. Alhasil, proses pulih dari luka operasi itu juga lama. Lukanya nggak kering-kering karena nggak boleh ngapa-ngapain,” kata Ratih.
Perkara gurita hingga bedak bayi, bidan desa dianggap menentang tradisi
Setelah dua bulan melalui masa pengenalan dengan kultur desa tersebut, Ratih lalu mencoba berani mengedukasi secara lebih eksplisit. Sebab, bidan desa itu melihat, ada beberapa praktik yang sudah tidak begitu relevan.
“Bedong bayi, itu kan nggak dianjurkan lama-lama. Apalagi gurita (kain yang biasanya digunakan untuk mengikat perut bayi). Karena itu nanti akan menghambat gerak bayi. Kalau gurita malah bisa bikin napas bayi sesek,” beber Ratih.
Ratih mencoba memberi pemahaman itu. Termasuk soal bedak. Kebanyakan warga masih suka memberi bayi bedak tabur. Sementara bedak model itu sudah tidak dianjurkan lantaran partikelnya yang sangat halus dan mudah terhirup.
“Itu kan bisa menyebabkan iritasi atau gangguan pernapasan. Jadi kalau bisa ya pakai bedak padat,” jelas bidan desa tersebut.
Sebenarnya banyak ibu-ibu muda (umur 20-25 tahun) yang ingin mengikuti edukasi dari Ratih. Akan tetapi, kalangan orang tua tidak sependapat. Mereka justru beranggapan kalau ajaran-ajaran modern dari bidan desa bertentangan dengan tradisi nenek moyang yang sudah mengakar lama.
Pijat bayi dan ibu hamil jadi kewajaran, USG dihindari
Ratih mengaku agak ngeri ketika ia mendapati banyak warga desa memercayakan bayi atau ibu hamil untuk dipijat ke dukun bayi. Masalahnya, saat Ratih mencoba memastikan, ternyata si dukun bayi tersebut tidak pernah mengikuti bimbingan oleh tenaga kesehatan profesional.
“Ada yang katanya janinnya terdeteksi sungsang, lalu dipijatkan ke dukun bayi, kan bahaya sekali. Alih-laih konsultasi ke bidan atau dokter obgyn,” keluh Ratih.
Belum lagi bayi-bayi usia 0-sekian bulan yang kerap dibawa ke dukun bayi untuk diurut. Ratih malah agak ngeri.
“Orang sini juga nggak mau USG. Alasannya macam-macam. Ada yang, ah cuma ngecek begitu aja bayar Rp200 ribu. Ada yang takut, nggak tahu takut kenapa,” jelas Ratih.
Lanjut bidan desa, warga desa setempat juga memahami USG hanya sebatas untuk mengecek jenis kelamin bayi. Sementara pekerjaan itu, konon, bisa dilakukan oleh dukun bayi: Tinggal pegang perut si ibu hamil sambil baca-baca doa, lalu ketahuan jenis kelaminnya apa dan perkiraan lahirnya.
Sementara fungsi USG tidak sebatas itu. Tapi juga sebagai monitoring untuk mengetahui kondisi terkini janin dalam kandungan. Sehingga kalau ada situasi serius bisa segera diambil tindakan medis lebih cepat.
Edukasi-edukasi penting yang belum terealisasi
Itu adalah rentetan PR yang bertahap harus bidan desa itu selesaikan. Ia pun membayangkan, betapa tak mudah bidan pendahulunya, karena sampai sekarang pun ternyata pemahaman warga setempat tak bergeser dari tradisi lama.
Sementara bagi Ratih ini bukan sekadar persoalan tradisi. Tapi keselamatan ibu dan bayi.
Sebenarnya masih banyak edukasi-edukasi seputar kehamilan, pasca-melahirkan, dan treatment pada bayi. Seperti metode menggendong yang dianjurkan, tummy time, dan lain-lain. Itu juga edukasi penting, loh.
“Tapi sepertinya proses edukasi ke sana masih panjang. Harus pelan-pelan. Aku harus mulai dari memberi pemahaman-pemahaman tadi. Nggak mudah, karena dianggap menentang tradisi. Kita lihat nanti, apakah saya bakal menyerah atau bertambah gigih hehe,” tutup Ratih.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Katanya Bagian Terberat bagi Bapak Baru saat Hadapi New Born adalah Jam Tidur Tak Teratur. Ternyata Sepele, Yang Berat Itu Rasa Tak Tega atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













