Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Upaya “Mengadopsi” Sarang-Sarang Sang Garuda di Hutan Pulau Jawa

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
22 Desember 2025
A A
elang jawa.MOJOK.CO

Upaya “Mengadopsi” Sarang-Sarang Sang Garuda di Hutan Pulau Jawa (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Aroma tanah lembap menyeruak, beradu dengan semilir angin, menciptakan suasana tenang yang merayap di sela-sela pepohonan hutan Kabupaten Bogor. Siang itu, sekitar tahun 1996, Mang Dili–atau yang kini lebih akrab disapa Abah Dili–baru saja menuntaskan peluhnya setelah mengumpulkan seikat kayu bakar.

Ia pun duduk bersandar, membiarkan punggungnya melepas lelah pada batang pohon yang kokoh sembari menyesap dalam-dalam udara hutan yang sejuk. Namun, ketenangannya terusik. Dari tajuk pohon di atas kepalanya, terdengar suara burung yang khas. Bukan kicau berisik, melainkan pekikan berat yang seolah menandai wilayah.

Abah Dili langsung paham. Itu bukan sembarang burung. Warga di kampungnya, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, menyebutnya Elang Ruyuk (kini lebih umum disebut Elang-ular Bido). Disebut “ruyuk” karena terbang tanpa mengepakkan sayap. 

Sejak lama, Abah Dili percaya burung itu bukan sekadar satwa. Kehadirannya adalah penanda keseimbangan alam. 

“Kalau ada elang itu, hutan masih hidup,” ujarnya, menegaskan keyakinan yang ia pegang itu kepada Mojok, Jumat (12/12/2025). Karena itulah, ia memilih diam. Sarang itu tidak ia ceritakan ke siapa pun. Sebab, kalau salah ucap sedikit saja, elang itu bisa diburu.

Hari-hari berlalu seperti biasa. Abah Dili kembali ke rutinitasnya berjualan jagung bakar di pinggir jalan kawasan Puncak, sebuah pekerjaan yang mempertemukannya dengan banyak orang dari luar kampung. 

Pada suatu Sabtu, tanpa sengaja ia bertemu dan berbincang lama dengan seorang lelaki dari Jakarta yang mengaku sebagai peneliti. Obrolan mereka berputar soal burung elang yang semakin jarang terlihat, hingga tentang Elang Jawa yang katanya langka dan dilindungi. Dari percakapan itu, ingatan Abah Dili melompat pada suara elang di hutan beberapa waktu lalu. 

Ia ragu, tapi penasaran. Jangan-jangan sarang yang ia temui tempo hari adalah milik Elang Jawa. Akhirnya, ia mengajak peneliti itu masuk ke dalam hutan.

Ternyata, dugaan Abah Dili benar. Sarang di atas pohon besar itu bukan milik Elang Ruyuk biasa, melainkan Elang Jawa–ikon satwa nasional, manifestasi Burung Garuda, yang populasinya kian terjepit. 

Salah satu peneliti yang meminta bantuannya hari itu adalah Usep Suparman. Tiga dekade kemudian, nama Usep dikenal sebagai salah satu peneliti Elang Jawa paling konsisten di Indonesia, sementara Abah Dili bertransformasi dari tokoh masyarakat yang dikenal sebagai pelindung elang.

elang jawa.MOJOK.CO
Potret Abah Dili, Jumat (13/12/2025). Ia menerima penghargaan dari Kementerian Kehutanan dan Djarum Foundation atas dedikasinya membantu konservasi Elang Jawa. (Mojok.co/Eko Susanto)

Pada Jumat (12/12/2025), Abah Dili menerima penghargaan dari Kementerian Kehutanan dan Djarum Foundation atas dedikasinya membantu konservasi Elang Jawa. Sebuah perjalanan panjang yang berawal dari ketidaksengajaan dan keputusan untuk “tak membuka mulut”.

Elang Jawa sangat “pemilih” cari tempat bersarang

Bagi Usep Suparman, kisah Abah Dili bukan anomali, melainkan contoh ideal bagaimana konservasi seharusnya bekerja. Elang Jawa, katanya, adalah burung yang sangat pemilih, terutama soal sarang. 

Betina bisa menghabiskan waktu lama hanya untuk memastikan satu lokasi aman. Ia bertengger, bersuara aktif, mengamati sekeliling, sebelum akhirnya memutuskan tempat yang akan menjadi ruang paling krusial dalam hidupnya: tempat bertelur dan membesarkan satu-satunya anak.

Menurut Usep, lokasi sarang Elang Jawa hampir tak pernah acak. Mereka cenderung memilih pohon tua yang dominan, biasanya berada di lereng, dan tidak jauh dari aliran sungai. Menariknya, sarang sering kali berada relatif dekat dengan pemukiman atau lahan pertanian. Bukan karena elang menyukai manusia, melainkan karena lanskap semacam itu memudahkan berburu dan melatih anak terbang. 

Iklan

“Soal sarang Elang Jawa ini, ia lebih memilih lokasi-lokasi yang memang agak sulit, posisinya ada di slope [lereng] dan tidak jauh dengan aliran sungai,” kata peneliti Raptor Conservation Society (RCS) itu kepada Mojok, Jumat (12/12/2025).

“Karena memang pertama adalah untuk memudahkan membawa makanan, mencari makan, kemudian melatih anak ketika nanti anaknya sudah dewasa dan bisa terbang sendiri,” imbuhnya.

elang jawa.MOJOK.CO
Raja Dirgantara, Elang Jawa yang akan dilepasliarkan di Situ Gunung kawasan Taman nasional Gunung Gede Pangrango, Sabtu (13/12/2025). (Mojok.co/Eko Susanto)

Sialnya, lanskap ideal itu kian jarang. Gangguan manusia seperti deforestasi, pariwisata yang masif, hingga perburuan, memaksa Elang Jawa bergeser. Dari hutan sekunder yang dulu relatif aman, mereka kini terdorong masuk ke hutan primer yang lebih tertutup. 

“Di banyak lokasi, sarang bahkan dibangun di atas tanaman epifit di cabang pohon. Pilihan itu sangat rapu dan berisiko, karena angin kencang dan hujan ekstrem bisa dengan mudah merusak struktur sarang,” jelasnya.

Padahal, bagi Usep, sarang Elang Jawa bukan sekadar tempat berkembang biak. Ia adalah indikator ekosistem. Di sekitar sarang, misalnya, sering ditemukan Owa Jawa dan Macan Tutul Jawa. Owa memakan daun di sekitar pohon sarang, sementara macan tutul kerap memanfaatkan sisa mangsa elang, seperti bangkai monyet ekor panjang, yang jatuh ke tanah. 

“Tiga spesies ini membentuk relasi ekologis yang saling terhubung. Hilangnya satu saja, pertanda ekosistem mulai pincang,” tegas Usep.

Kerentanan sarang Elang Jawa diperparah oleh siklus reproduksinya yang lambat. Dalam satu periode berkembang biak, hanya satu telur yang dihasilkan. Masa paling kritis adalah inkubasi. Sedikit saja gangguan, misalnya ada suara, bayangan, atau kehadiran manusia, bisa membuat induk meninggalkan sarang. 

“Jika itu terjadi, telur hampir pasti gagal menetas.”

Sistem adopsi sarang

Ironisnya, ancaman sering datang dari niat yang dianggap baik. Fotografer satwa, misalnya. Lensa kamera berukuran besar dipersepsikan elang sebagai mata predator. Kontak mata dengan lensa, kata Usep, bisa bikin induk stres. 

“Kalau itu terjadi saat mengerami, elang bisa pergi dan tidak kembali. Sarang yang ditemukan pun berubah nggak akan ada lagi hasilnya.”

Karena itulah, perlindungan sarang (nest protection) menjadi fondasi utama konservasi Elang Jawa. Bagi Usep dan Raptor Conservation Society (RCS), perlindungan ini bukan sekadar soal patroli, melainkan disiplin ketat. 

Misalnya, pengamatan wajib dilakukan dari jarak minimal 100 hingga 200 meter. Pengamat pun wajib menggunakan hide, tempat persembunyian alami yang menyatu dengan lingkungan. Mereka harus masuk ke hide dilakukan sebelum fajar, keluar setelah gelap, dengan keheningan total.

“Benar-benar harus bikin kamuflase yang benar-benar bisa kamuflase dan tidak terlihat, karena mata si elang dengan lensa itu ada kontak. Kalau dia merasa terganggu apalagi di masa mengerami telur, ya telur akan gagal menetas,” ujar Usep.

elang jawa.MOJOK.CO
Potret peneliti RCS, Usep Suparman. (Mojok.co/Eko Susanto)

Selama masa inkubasi, pemantauan bahkan dikurangi seminimal mungkin. Cukup sekali untuk memastikan keberadaan telur. Setelah menetas, barulah pemantauan rutin dilakukan satu hingga dua minggu sekali. 

“Prinsipnya sederhana, semakin sedikit elang merasa diawasi, semakin besar peluang hidup anaknya.”

Namun, Usep menyadari sains tak cukup jika berdiri sendiri. Sarang Elang Jawa sering berada di wilayah yang bersinggungan langsung dengan kehidupan manusia. Tanpa dukungan warga, sarang hanya akan menjadi “target”. Di sinilah paradigma harus diubah. Dari target menjadi harta karun.

RCS kini telah melatih warga lokal, seperti Abah Dili bahkan termasuk para mantan pemburu, untuk menjadi penjaga sarang. Mereka diajak memahami nilai ekologis Elang Jawa, sekaligus diperkenalkan pada manfaat ekonomi yang berkelanjutan. 

Ekowisata minat khusus, pengamatan burung, hingga fotografi dengan etika ketat menjadi alternatif. Abah Dili adalah contoh paling nyata. Dari orang yang dulu memilih diam agar elang tak diburu, kini ia aktif menjaga dan menceritakan pentingnya sarang kepada generasi muda.

“Hasil riset kita beberapa puluh tahun itu ending-nya adalah si elang itu menjadi harta karun, menjadi kegiatan eco-tourism. Masyarakat merasa ada manfaat dengan keberadaan sarang. Makanya, elang itulah yang dinamakan kita sebagai harta karun bagi masa depan.”

Skema “adopsi sarang” kemudian lahir sebagai inovasi pendanaan. Dalam program ini, individu atau pihak swasta dapat “mengadopsi” sarang Elang Jawa. Bukan untuk dimiliki, melainkan untuk dijaga. 

Dana adopsi digunakan membiayai masyarakat lokal yang memantau dan melindungi sarang sejak fase telur hingga anak elang mampu terbang mandiri. Bagi Usep, ini bukan transaksi, melainkan komitmen jangka panjang.

“Satu sarang, satu komunitas,” katanya. Prinsip itu menempatkan masyarakat sebagai garda terdepan konservasi, bukan sekadar penonton.

Ancaman tetap mengintai

Namun, di balik kisah sukses itu, ancaman tetap mengintai. Pulau Jawa terus menyempit bagi satwa liar. Hutan berubah menjadi perkebunan, perumahan, dan infrastruktur. Habitat Elang Jawa kian terfragmentasi. 

“Masalah lain kan sekarang habitatnya makin rendah, pendek, dan sempit,” ujar Usep. Ruang berburu, bertengger, melatih anak, hingga bersarang, perlahan menghilang.

Lanjutnya, perburuan ilegal pun belum sepenuhnya berhenti. Masih ada yang mengincar Elang Jawa untuk dipelihara atau diperjualbelikan, meski statusnya dilindungi. Situasi ini membuat upaya konservasi tak bisa setengah hati. Pemulihan ekosistem hutan menjadi kunci, bukan sekadar menanam pohon, tetapi menanam jenis yang disukai Elang Jawa untuk bersarang dan bertengger.

“Salah satu tantangan terbesar adalah alih fungsi lahan,” kata Usep. Habitat yang dulu aman, kini berubah jadi ancaman.

Di tengah tantangan itu, kisah Abah Dili berdiri sebagai pengingat. Bahwa konservasi tak selalu dimulai dari laboratorium atau ruang rapat, melainkan dari hutan, dari kepekaan seorang warga, dari keberanian menjaga rahasia demi kehidupan makhluk lain. Sarang Elang Jawa, pada akhirnya, bukan hanya soal burung. Ia adalah cermin hubungan manusia dengan alam.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Balada Berburu Si Elang Jawa, Predator Udara Terganas dan Terlangka atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 Desember 2025 oleh

Tags: adopsi sarangburung langkaelangelang jawakabupaten bogorpilihan redaksisatwa dilindungisatwa langka
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Jombang itu kota serba nanggung MOJOK.CO
Catatan

Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup

12 Januari 2026
Andai Ibu tidak menikah dengan ayah.co
Seni

“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 

11 Januari 2026
Ketulusan Guru BK di SMP Pelosok Ponorogo MOJOK.CO
Ragam

Curhatan Guru BK Hari Ini: Profesi Dipandang “Sepele”, Padahal Harus Hadapi Gen Z yang Masalahnya Makin Kompleks

8 Januari 2026
Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO
Catatan

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

8 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026
kecanduan gadget pada anak. MOJOK.CO

Petaka yang Terjadi Saat Orang Tua Sibuk Mengejar Dunia dan Anak yang Terlalu Sering Menggunakan Gawai hingga Candu

7 Januari 2026
Derita anak bungsu. MOJOK.CO

Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah

9 Januari 2026
Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

8 Januari 2026
Dracin bukan sekadar kisah cinta lebay. MOJOK.CO

Kisah Cinta “Menye-menye” ala Dracin bikin Hidup Perempuan Dewasa Lebih Berbunga dari Luka Masa Lalu yang Menyakitkan

6 Januari 2026
19 Tahun Gempa Jogja dan Teror di Bangsal Rumah Sakit MOJOK.CO

19 Tahun Setelah Gempa Besar Mengguncang, Ingatan akan Teror di Sebuah Rumah Sakit Besar di Jogja Datang Kembali

8 Januari 2026

Video Terbaru

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.