Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Sisi Getir di Balik Harga Murah Roti Aoka, Bertahan Hidup dalam Kelaparan hingga Saksi Haru Seorang Ibu

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
4 Agustus 2024
A A
Roti Aoka Selamatkan Perantau Kelaparan di Surabaya MOJOK.CO

Ilustrasi - Roti Aoka selamatkan perantau Surabaya yang kelaparan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi beberapa orang, roti Aoka adalah “roti baik”. Meski murah, rasanya masih sangat bisa dinikmati. Bahkan, bagi beberapa perantau—termasuk di kota sebesar Surabaya—roti tersebut jadi alternatif saat kelaparan. Sementara kondisi uang tengah pas-pasan di tengah harga makanan yang kian mahal.

***

“Cuk, roti Aoka ternyata mengandung pengawet kosmetik (natrium dehidrosetat),” ujar seorang kawan pada Faid (23) saat keduanya tengah sebat bareng di kosan meraka di sebuah gang sempit Surabaya.

Alih-alih kaget, Faid mengaku biasa saja. Perantau asal Madura tersebut justru sangsi dengan pemberitaan yang beredar mencatut roti Aoka. Entah kenapa Faid merasa sepertinya memang ada yang sengaja mencoba menjatuhkan roti Aoka.

Sebab, di Surabaya sendiri, roti Aoka menjadi salah satu roti yang cukup laris di warung-warung Madura.

“Pikiranku saat itu, misalnya toh roti Aoka bermasalah, sepertinya akan kumaafkan. Karena roti itu sudah amat baik bagiku,” tutur pemuda semester akhir salah satu kampus Surabaya tersebut membagi cerita, Senin (29/7/2024) lalu.

Roti Aoka jajan andalan mahasiswa pas-pasan Surabaya

Pada Juli 2024 lau, kabar miring mencatut nama roti Aoka. Roti produksi PT Indonesia Bakery Family (IBF) tersebut sempat diduga mengandung natrium dehidrosetat (pengawet kosmetik). Dugaan mencuat di antaranya lantaran roti itu punya masa kadaluarsa yang cukup panjang. Bisa sampai tiga bulan.

Namun, tak lama setelah ramai dugaan tersebut, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memastikan kalau Aoka aman dikonsumsi. Hasil uji tak menemukan adanya kandungan natrium dehidrosetat dalam Aoka.

“Bahan tambahan pangannya persis seperti yang didaftarkan. Ada kalsium propionat, asam sorbat, natrium diasetat,” ucap Plt Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan BPOM, Ema Setyawati menjelaskan alasan kenapa Aoka bisa awet hingga tiga bulan dalam konferensi pers Kamis (25/7/2024).

Kepastian dari BPOM itu sontak membuat Faid lega. Prasangka baiknya pada Aoka terbukti benar. Roti Aoka adalah roti baik bagi Faid. Sehingga agak sukar dipercaya jika membahayakan pelanggan.

“Bagaimana nggak baik. Harga sudah murah (sekarang Rp2.500), rasanya enak pula,” ujar Faid.

“Aku husnuzan, pasti yang bikin roti itu mempertimbangkan memberi jajanan enak tapi terjangkau untuk orang menengah bawah,” sambungnya.

Sering sekali saat hendak kuliah, Faid mampir dulu di warung Madura untuk membeli satu buah roti Aoka. Ia akan menyantapnya sambil jalan menuju kampus. Hal itu sangat membantunya mengganjal perut. Karena ia harus masuk kuliah pagi lalu baru bisa istirahat untuk makan selepas zuhur. Ketimbang jajan roti di Indomaret (misalnya). Tentu harganya cenderung lebih mahal.

Pengganjal perut saat kelaparan di Surabaya

Cerita dari Faid tentu tak sesentimentil Dhoi (21), mahasiswa penerima KIP Kuliah UNAIR Surabaya. Perantau asal Nganjuk, Jawa Timur, tersebut bahkan menjadikan Aoka sebagai pengganti nasi (makanan berat).

Iklan

Sejak kuliah di Surabaya pada 2021, Dhoi memang tak mengandalkan biaya dari orang tua. Ia murni bertahan hidup dari uang KIP Kuliah. Sehingga, tak ayal jika ia kerap berada dalam situasi terhimpit: uang hampir habis karena memang pas-pasan.

“Sebagai gambaran, untuk berhemat, aku sering makan sehari sekali, Mas,” ujarnya kepada Mojok pada Jumat (26/7/2024), sehari setelah BPOM memastikan roti tersebut aman dikonsumsi.

Maka, sering uang hampir habis sementara waktu pencairan KIP Kuliah masih agak jauh. Jika begitu, ia mensiasati makan dengan nyetok Aoka.

Harga di beberapa warung Madura di sekitar kosannya di Gubeng rata-rata Rp2.500. Ia biasanya akan beli dua bungkus (Rp5.000). Dua bungkus itu akan ia gunakan untuk mengganjal perut seharian. Saat pagi dan sore hari.

Tentu tak semengenyangkan nasi. Tapi setidaknya roti Aoka membuat perutnya tersisi. Karena semakin ke sini, harga makanan di beberapa warung Surabaya juga terus naik. Amat sulit menemukan makanan di bawah Rp10.000. Paling banyak jelas di atasnya.

“Ada juga kan yang mempermasalahkan kalu bungkus Aoka kadang nggak sesuai sama rasanya. Misalnya warna hijau, padahal rasanya anggur. Bagiku itu nggak penting. Setiap gigitan rotinya yang lembut, terus selainya yang kerasa banget, aku merasa sudah sangat nikmat,” beber Dhoi.

Itulah kenapa ketika kabar miring soal Aoka sampai di telinganya, ia cenderung biasa saja. Tidak merasa tertipu oleh Aoka. Malah seandaianya saat itu Aoka harus stop produksi, ia justru ingin mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya. Sebab, baik-buruknya Aoka, selama ini roti murah tersebut sudah membantunya bertahan hidup dari kelaparan di Surabaya.

Roti Aoka: teman saat sakit dan bekal pilihan ibu

Saya pun sebenarnya demikian. Menjadikan roti Aoka sebagai andalan saat saya di perantauan.

Saya punya siklus sakit yang aneh. Misalnya saat badan sedang greges (agak demam) biasanya akan dibarengi sekaligus dengan gigi sakit, busi bengkak, bahkan sering juga tenggorokan ikut membengkak.

Kalau sudah begitu, saya tentu akan kesulitan makan berat. Karena kalau membuka mulut lebar-lebar, terasa sakit luar biasa. Oleh karena itu, dulu saat masih ngekos di Surabaya, roti Aoka jadi teman saat saya sakit.

Saya bisa berhari-hari hanya makan Aoka. Karena lembut dan tak perlu ngoyo buka mulut. Menelannya pun tak sakit-skit amat karena biasanya akan saya cuil kecil-kecil.

Tentu ada pilihan roti yang lebih enak di Indomaret (misalnya). Tapi untuk ukuran keuangan saya waktu itu, yang makan saja mencoba mencari yang semurah mungkin, maka membeli Aoka adalah pilihan paling masuk akal.

Dalam kondisi sakit itu saya bisa makan dua sampai tiga bungkus Aoka saja dalam sehari. Artinya saya cukup mengeluarkan uang Rp5.000 sampai Rp7.500 saja untuk beberapa hari. Sementara untuk minum (teh anget, susu jahe, atau Energen), beruntung di kos ada kawan yang menyetok banyak dan mempersilakan para penghuni kos lain mengambilnya secara cuma-cuma: ia letakkan di dapur umum.

Roti Aoka juga menjadi bekal yang sering ibu belikan untuk menemani perjalanan saya. Setiap pulang ke Rembang lalu hendak balik ke perantauan (dulu Surabaya, sekarang Jogja), ibu biasanya membeli dua sampai tiga bungkus Aoka. Ia lalu menyerahkannya untuk bekal saya di jalan.

Bahkan sering kali, saat saya sedang pulang, pagi saat ibu belanja bahan dapur di warung, ia tak luput membeli satu bungkus Aoka untuk saya cemil: sembari menunggu masakannya matang. Ibu membuat Aoka menjadi sentimentil dan menimbulkan haru bagi saya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA: Club: Air Minum Underrated Andalan Perantau di Surabaya, Merek Ternama Kalah Pamor

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

 

 

Terakhir diperbarui pada 4 Agustus 2024 oleh

Tags: aokakampus surabayarotiroti aokaSurabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Mie ayam surabaya untuk quality time. MOJOK.CO
Urban

Makan Mie Ayam, “Quality Time” Orang Surabaya dan Balas Dendam Terbaik untuk Melampiaskan Getirnya Hidup

25 Februari 2026
Honda Scoopy membawa maut saat dipakai mudik Surabaya ke Lumajang. MOJOK.CO
Sehari-hari

Alasan Saya Bertahan Pakai Honda Scoopy untuk Mudik Surabaya-Lumajang, meski Tertipu dengan Tampang dan “Fitur” Biasa Saja yang Menyiksa

25 Februari 2026
Pekerja gila Surabaya yang melamun di Danau UNESA. MOJOK.CO
Urban

Danau UNESA, Tempat Pelarian Pekerja Surabaya Gaji Pas-pasan dan Gila Kerja. Kuat Bertahan Hanya dengan Melamun

24 Februari 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO
Catatan

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

MBG untuk sahur dan berbuka di bulan Ramadan

Sahur dengan MBG, Nilai Gizinya Lebih Cocok untuk Mahasiswa ketimbang Anak Sekolah

24 Februari 2026
Yamaha Grand Filano lebih cocok untuk jarak jauh daripada BeAT. MOJOK.CO

Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT

26 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Meme yang Viral Itu Mojok.co

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Banyak Meme yang Viral Itu

23 Februari 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya

27 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.