Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Perawat, “Pahlawan Kemanusiaan” yang Tak Dimanusiakan: Beban Kerja Selangit, Gaji Sulit

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
6 Oktober 2025
A A
perawat.mojok.co

Ilustrasi - Perawat, “Pahlawan Kemanusiaan” yang Tak Dimanusiakan: Beban Kerja Selangit, Gaji Sulit (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jam dinding menunjuk pukul 10 malam ketika Rina* (28), seorang perawat kontrak di sebuah rumah sakit swasta di Jogja, akhirnya bisa duduk setelah hampir delapan jam berdiri tanpa jeda. 

Dari siang, ia sudah berpindah dari satu pasien ke pasien lain. Menyiapkan obat, mencatat perkembangan, memantau cairan infus, hingga membantu dokter saat visit. 

Begitu ia ingin menarik napas sebentar, bunyi alarm dari ruang sebelah memanggil lagi. 

“Kalau sudah jaga malam, kadang benar-benar lupa kalau diri sendiri juga manusia,” ujarnya, Jumat (3/10/2025) lalu.

Dinihari, begitu seluruh tugasnya selesai, baju yang ia kenakan sudah lembap; peluhnya bercampur dengan  lelah. Dalam semalam, ia menangani lebih dari 20 pasien dengan kondisi beragam, dari kecelakaan lalu lintas hingga ibu melahirkan.

Namun, jungkir balik itu tak sebanding dengan hasil yang ia dapatkan. Begitu gajinya masuk rekening, hanya Rp2,5 juta yang ia dapatkan. Gaji yang bahkan lebih rendah dari Upah Minimum Regional (UMR) kota tempatnya bekerja. 

Besar di slogan, kecil di penghasilan

Kisah Rina bukan hal baru. Sudah lama perawat dipuja dengan gelar “pahlawan kemanusiaan”. Narasi yang kerap diulang dalam pidato pejabat, spanduk Hari Perawat Nasional, atau baliho politik lainnya.

Namun, di balik glorifikasi heroik itu, kehidupan mereka jauh dari kata mulia: gaji yang minim, jam kerja panjang, serta tekanan psikologis yang jarang diperhitungkan.

Narasi heroik melekat pada profesi perawat. Mereka sering disebut “garda terdepan” dan “pahlawan tanpa pamrih”. Bahkan pejabat Kementerian Kesehatan tak henti menekankan bahwa perawat adalah “ujung tombak layanan kesehatan”.

Namun, glorifikasi ini seringkali berfungsi sebagai tameng. Pujian diberikan, tapi kesejahteraan tetap tertinggal. Kata “muliakan profesi” bergema di podium, sementara di lapangan, banyak perawat seperti Rina harus berjibaku dengan gaji rendah, status kontrak tak pasti, dan beban kerja selangit.

“Kalau dibilang pahlawan, ya mungkin benar, tapi hidup kami jauh dari mulia,” katanya lirih.

Beban selangit, gaji seuprit

Per Maret 2025, Indonesia memiliki sekitar 784 ribu perawat. Sebagian besar justru masih berstatus honorer atau kontrak, dengan penghasilan rata-rata Rp2,5–4 juta per bulan, tergantung rumah sakit dan daerah. Bahkan, masih banyak yang di upahnya di bawah UMR.

Bandingkan dengan dokter spesialis di kota besar, yang bisa meraih belasan hingga puluhan juta rupiah sebulan. Jurang kesejahteraan ini sering membuat perawat merasa hanya dijadikan “mesin” pelayanan, bukan manusia yang perlu dihargai.

“Kalau bicara tanggung jawab, kami dituntut sama besarnya. Tapi kalau bicara gaji, jauh sekali bedanya,” kata Rina.

Iklan

Menurut Rina, tugas perawat bukan sekadar menyuntik atau mengukur tekanan darah. Mereka mengawasi pasien 24 jam, mendengar keluhan keluarga, hingga meredam amarah orang yang panik. 

Jam kerja pun kerap melampaui batas: 12–18 jam per shift, dengan risiko kelelahan, paparan penyakit, bahkan kekerasan verbal.

Penelitian di Malang menunjukkan perawat yang bekerja lebih dari 100 jam per minggu berisiko 3,8 kali lebih tinggi mengalami burnout. Bahkan, kalau merujuk data Fakultas Kedokteran UI, secara nasional, 83 persen tenaga kesehatan mengalami burnout sedang–berat selama pandemi.

Burnout itu bukan sekadar lelah. Ia bisa berujung depresi, kualitas layanan menurun, hingga meningkatnya risiko kesalahan medis.

“Kalau bicara burnout, ya tiap hari. Bahkan sudah di tahap mati rasa, nggak kami rasain.”

Waktu pandemi, perawat dipaksa memilih hidup atau mati

Pandemi COVID-19 lalu memperlihatkan sisi paling ekstrem dari beban perawat. Rina bercerita bagaimana mereka diminta tetap tegak meski perlengkapan pelindung seadanya. Banyak yang terinfeksi, bahkan meninggal saat merawat pasien.

Sebuah penelitian mencatat 26,8 persen tenaga kesehatan yang menangani pasien COVID-19 mengalami burnout sedang hingga berat. Di banyak rumah sakit, perawat harus memilih antara keselamatan pasien atau keselamatan dirinya sendiri.

Ironisnya, setelah pandemi mereda, tak sedikit perawat kontrak justru diberhentikan. Sebagian lainnya kembali pada rutinitas gaji rendah. Banyak teman Rina yang mengalaminya.

“Seolah-olah narasi ‘pahlawan’ hanya berlaku saat krisis, tapi sirna ketika situasi normal lagi,” ujarnya.

Kondisi perawat Indonesia makin kontras jika dibandingkan dengan negara lain. Data World Health Organization (WHO) menunjukkan, rata-rata gaji perawat di negara maju mencapai 2-3 kali upah minimum setempat. 

Di Jepang, misalnya, seorang perawat pemula bisa mendapatkan upah 250.000 yen per bulan (sekitar Rp28 juta), dengan beban kerja lebih manusiawi.

Sementara di Indonesia? Perawat masih harus puas dengan label “profesi mulia”, tetapi tanpa kehidupan yang mulia. Maka, tak heran banyak perawat Indonesia memilih bekerja di luar negeri. 

Kementerian Ketenagakerjaan mencatat, ribuan perawat setiap tahun ditempatkan di Jepang, Jerman, atau Timur Tengah. Fenomena ini mencerminkan bahwa secara global, profesi perawat bisa sejahtera asal negara memberi perhatian serius.

“Yang masih bertahan banyak. Tapi yang memilih tumbang, terjun bebas ke profesi lain juga banyak, karena kurangnya apresiasi sama profesi ini,” tegas Rina.

Mengapa nasib perawat tak kunjung berubah?

Kementerian Kesehatan mengakui distribusi perawat masih timpang, terutama di daerah 3T. Namun, akar masalahnya lebih dalam.

Rekrutmen PNS terbatas, sehingga ribuan lulusan perawat tiap tahun hanya bisa bekerja dengan status kontrak hingga honorer. Rumah sakit pun mengandalkan outsourcing agar biaya operasional lebih ringan. 

Meski UU Keperawatan sudah ada sejak 2014, pelaksanaannya belum menjamin standar gaji yang layak. Hingga kini, usulan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) tentang standar gaji Rp7 juta masih sebatas wacana.

Padahal, berbagai studi kesehatan publik menekankan bahwa kualitas pelayanan medis sangat tergantung pada tenaga perawat. Ketika perawat tertekan dan tidak sejahtera, keselamatan pasien ikut terancam.

Menurut Rina, pemerintah seharusnya belajar dari negara-negara yang memberi standar jelas. Mulai dari jumlah pasien maksimal per perawat, jam kerja wajar, serta gaji sesuai risiko. Tanpa itu, narasi “pahlawan kemanusiaan” akan tetap kosong. Yang tersisa hanyalah tenaga perawat yang terus mengorbankan diri, tapi jarang dimanusiakan.

“Kalau benar pahlawan, mestinya dihargai dengan layak. Jangan hanya dipuji, tapi hidupnya tetap susah,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mari Kembali ke Tujuan Mulia MBG Alih-alih Memberikan Solusi yang Tak Substansi seperti Penambahan CCTV atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 Oktober 2025 oleh

Tags: kedokteranperawatpilihan redaksiprofesi perawatrumah sakit
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO
Catatan

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Ilustrasi tinggal di desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang

20 April 2026
Deep talk dengan bapak setelah 25 tahun merasa fatherless, akhirnya tahu kalau selama ini bapak juga sangat kesepian MOJOK.CO
Catatan

Baru Deep Talk dengan Bapak di Usia 25, Bikin Sadar kalau Selama Ini Dia Sangat Kesepian dan Pikul Beban Sendirian

20 April 2026
Purwokerto .MOJOK.CO
Urban

Purwokerto Tempat Pensiun Terbaik, tapi Bukan untuk Semua Orang: Kamu Butuh 4 Skill Ini Buat “Survive”

18 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa S2 PAUD UNJ, WNA Malaysia

WNA Malaysia Pilih Lanjut S2 di UNJ, Penasaran Ingin Kuliah di PTN karena Dosen Indonesia yang “Unik”

21 April 2026
Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

17 April 2026
kos eksklusif, jakarta, desa, kos.MOJOK.CO

Kabur dari Desa dan Memilih Tinggal di Kos Eksklusif Jakarta demi Ketenangan Batin, Malah Makin Kena Mental karena “Bahagia” di Kota Cuma Ilusi

15 April 2026
PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta

20 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
Tidak bisa jadi PNS/ASN kalau tidak mau terima gaji buta sebagai CPNS

PNS Dianggap Pekerjaan Mapan karena Bisa Makan Gaji “Buta”, tapi Aslinya Mengoyak Hati Nurani

16 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.