Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Penyesalan Orang Jawa Tengah Merantau ke Jogja: Biaya Hidup Makin Tinggi, Boncos karena Kebiasaan Ngopi di Kafe, dan Gaji yang “Seuprit”

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
11 Desember 2025
A A
UMK Jogja bikin perantau Jawa Tengah menderita. MOJOK.CO

ilustrasi - standar hidup di Jogja naik tapi UMK rendah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Banyak orang yang tergiur datang ke Jogja, karena katanya biaya hidup di sini lebih murah. Padahal bagi pendatang asal Jawa Tengah yakni Fita (24) dan Naufal (29), kehidupan di Jogja tak romantis seperti yang selalu digaungkan. Standar hidup makin tinggi, sementara UMK Jogja tetap rendah.

Harga kebutuhan pokok yang kian mahal

Sebelum tiba di Jogja pada tahun 2020, Fita (24) sudah memperkirakan berapa biaya yang dibutuhkan untuk bertahan hidup selama merantau. Mulai dari bayar kos, laundry, makan, hingga kebutuhan pokok sehari-hari.

“Aku pribadi mengeluarkan biaya kurang lebih sebesar Rp2 juta saat itu,” kata Fita saat dihubungi Mojok, Rabu (10/12/2025). 

Di tahun itu, uang sebesar Rp2 juta bagi Fita masih lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Namun, seiring berjalannya waktu, perempuan asal Pemalang, Jawa Tengah itu merasa harga-harga pokok di Jogja semakin mahal.

Misalnya di tahun 2025 ini, kos yang tadinya Rp450 ribu per bulan naik menjadi Rp550 ribu per bulan. Itu pun belum termasuk WiFi. Hingga harga makanan yang ikut naik setelah pandemi.

“Makanan sekelas angkringan saja (di daerah MCD Sudirman), yang awalnya aku dulu beli nasi kucing Rp2 ribu, sekarang sudah Rp5 ribu. Agak kaget juga karena perubahannya secepat itu,” ucap Fita.

Selain Fita, kenaikkan harga pokok juga dirasakan oleh Naufal. Pemuda kelahiran Magelang, Jawa Tengah ini mengaku sudah tinggal di Jogja selama 6 tahun untuk kuliah hingga lanjut bekerja. 

Saat pertama kali datang ke Jogja tahun 2014, Naufal masih menemukan angkringan yang menjual nasi kucing seharga Rp1.500, teh hangat tawar Rp1000, dan dua gorengan seharga Rp500. Kini, jangan harap harganya masih segitu.

“Kecuali di angkringan-angkringan yang ada di desa. Itu pun jauh dari kos-kosanku di Seturan,” kata Naufal.

Standar hidup yang berubah karena kemunculan coffee shop

Apalagi sekarang, jumlah coffee shop di Jogja ada 3.500–terbanyak di Indonesia. Keberadaan coffee shop ini, kata Fita maupun Naufal, ikut memengaruhi standar hidup mahasiswa di Jogja. Sebab sebetulnya, harga menunya tak jauh berbeda dengan coffee shop di kota-kota besar yang UMR-nya lebih besar.

Sebagai mahasiswa, menggarap tugas di kafe terutama saat kerja kelompok, hal itu seolah menjadi kegiatan wajib. Apalagi kalau Fita bosan di kosan dan perlu suasana baru untuk menunjang produktivitasnya.

“Kebetulan aku stay di Condongcatur, salah satu tempat pusatnya coffee shop. Karena dekat kosanku dan aku juga pecinta kopi, jadi aku lumayan sering ke sana,” kata Fita.

Otomatis, uang Rp100 ribu yang dulunya cukup untuk membeli bahan makanan atau makanan siap saji dalam sehari, kini tak lagi cukup. Minuman di coffee shop sekitaran kosannya saja sudah mematok harga berkisar dari Rp35 ribu sampai Rp50 ribu.

Begitu pula Naufal yang kembali ke Jogja pada tahun 2024 untuk berlibur, lalu melihat banyak perubahan dari kota tersebut. Termasuk tiket wisata yang tak murah lagi.

Iklan

“Jogja udah macet di mana-mana, banyak bangunan-bangunan yang baru dan pertokoan baru,” ucap Naufal.

UMK Jogja yang masih rendah

Seiring berjalannya waktu, Fita dan Naufal pun akhirnya menyadari bahwa Jogja tak seromantis itu. Keduanya mengaku harus ngap-ngapan dengan standar hidup di Jogja yang semakin meningkat tapi UMK masih rendah.

“Dulu aku pernah kerja part time di salah satu mall di Jogja dengan gaji Rp1,8 juta. Ya dulu UMK-nya masih segitu sih emang,” kata Naufal.

Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, standar hidup di Kota Jogja mencapai Rp20,6 juta per tahun. Artinya, rata-rata penduduk Kota Jogja mengeluarkan sekitar Rp1,7 juta per bulan.

Jika dibandingkan antarkota dan kabupaten, Jogja menempati posisi ke empat. Yang teratas ada Jakarta Selatan dengan pengeluaran per kapita sebesar Rp25,57 per tahun. Lalu disusul dengan Jakarta Barat sebesar Rp22,12 juta dan Denpasar sebesar Rp20,76 juta.

Bagi penduduk Jogja, angka itu bukan pencapaian. Justru mereka menilai, standar hidup yang tinggi tak sebanding dengan besaran Upah Minimum Kabupaten/Kota Joga (UMK). Pada tahun 2025 UMK Jogja hanya sebesar Rp2,7 juta.

“Intinya sih nggak enak kalau kalian mau cari kerja di sini karena UMK-nya kecil, biaya hidup juga mahal, cuman cocok buat pelajar dan pensiunan,” kata Fita.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Perantau Aceh di Jogja Hidup Penuh Ketidakpastian, tapi Merasa Tertolong Berkat “Warga Bantu Warga” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 11 Desember 2025 oleh

Tags: biaya hidup di jogjacoffee shopcoffee shop di jogjajawa tengahJogjakerja di jogjaKuliah di jogjaMerantau di JogjaUMK Jogja
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO
Catatan

Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

19 Februari 2026
Mila Sejahtera Bus Sialan, 15 Jam Disiksa Berakhir Demam MOJOK.CO
Otomojok

Rangkaian Penderitaan Naik Bus Mila Sejahtera dari Jogja Menuju Jember: Disiksa Selama 15 Jam, Berakhir Demam Tinggi dan Diare. Sialan!

19 Februari 2026
pendatang di jogja.MOJOK.CO
Urban

Nasib Menjadi “Pendatang” di Jogja: Selalu Disalahkan Atas Masalah yang Terjadi, padahal Menjadi Sumber Penghasilan Para Akamsi

18 Februari 2026
Jumanah pedagang jamu parem kendil di pasar jangkang Yogyakarta. MOJOK.CO
Sehari-hari

“Ngopag” ala Lansia: Menikmati Jamu Parem Kendil yang Sudah Berdiri Sejak Tiga Generasi di Pasar Jangkang Yogyakarta

17 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cerita perintis bukan bocil pewaris yang lulus SMK langsung bayar utang keluarga, pecel lele di jogja, omzet pecel lele. MOJOK.CO

Dihina Tetangga dan Teman karena Cuma Kerja Kasar dan Menempati “Kosan Bedeng” di Jogja, padahal Penghasilan Rp30 Juta Sebulan hingga Mampu Kuliahkan Adik

15 Februari 2026
Tarawih di masjid Jogja

Berburu Lokasi Tarawih sesuai Ajaran Nahdlatul Ulama di Jogja, Jadi Obat Kerinduan Kampung Halaman di Pasuruan

18 Februari 2026
Imlek 2026 di Candi Prambanan dan Candi Borobudur. MOJOK.CO

Tahun Kuda Api Imlek 2026: Mencari Hoki Lewat Kartu Tarot di Antara Kemegahan Prambanan dan Borobudur

15 Februari 2026
Geliat open bo di MiChat saat malam Valentine: pelampiasan lewat layanan "rasa pacar" MOJOK.CO

Geliat Layanan Open BO “Rasa Pacar” di MiChat, Pelampiasan dan Upaya “Laki-laki Gagal” Mencari Validasi

14 Februari 2026
papua.MOJOK.CO

Tolak Tawaran Kerja di Amerika Demi Mengajar di Pelosok Papua, Berambisi Memajukan Tanah Kelahiran

18 Februari 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.