Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Serba Sulit Orang Timur di Jogja, Susah Bergaul karena Stigma dan Tertinggal hingga Disisihkan

Rizky Fajar Nur Azis oleh Rizky Fajar Nur Azis
10 Maret 2025
A A
Suara orang Timur yang tersisihkan di Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi - Suara orang Timur yang tersisihkan di Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Stigma banyak orang di Jogja mengenai orang dari Indonesia Timur didominasi oleh keburukan. Cap tukang bikin onar, premanisme, tukang minum, dan serentetan tindakan amoral lainnya disematkan tanpa pandang bulu.

***

Iklan

Setelah berbuka puasa pada Kamis (6/3/2025) malam WIB, saya singgah ngopi di TEKO.SU, Kledokan, Caturtunggal, Sleman. Street coffee yang mengusung slogan “Rumah untuk tumbuh dan pulang” yang dirintis oleh Freddy Bataona untuk menyambut para perantau yang ingin menemukan jati diri.

Malam itu terlebih dulu saya berbincang dengan Jack Bataona (21) mengenai suka-duka orang Indonesia Timur yang merantau ke Jogja, sambil menunggu Bang Freddy–begitu saya memanggil Freddy Bataona–datang.

“Baru satu tahun aku di Jogja, dan ketika awal aku menginjakkan kaki di sini, aku mencoba bergaul dengan berbagai orang selain dari Timur. Sayangnya, aku kerap kali dijauhi di kemudian harinya karena mereka tahu aku orang NTT (Nusa Tenggara Timur),” ujar Jack.

“Dan bukan hanya dijauhi. ketika aku bilang  pekerjaanku di Jogja adalah barista, mereka menanggapinya dengan aneh: ‘Orang Timur kok jadi barista, seharusnya jadi debt collector’. Seolah orang Timur hanya bisa kerja kasar,” sambungnya.

Ah, padahal bagi Jack dan orang-orang Timur lainnya, mereka merantau ke Jogja satu di antaranya adalah karena suasana guyub rukun yang ditawarkan Kota Pelajar ini. Namun, mereka malah hidup dalam bayang-bayang stigma dan diskriminasi.

Orang Timur yang enggan membaur di Jogja

“Aku memaknai Timur itu lebih dari sekadar geografis apalagi soal kulit. Bagiku Timur sama dengan solid. Karena memang solidaritas lah yang kami pegang teguh, dan kami bangga dengan ke-Timuran ini,” beber Jack.

Akan tetapi, di sisi lain, Jack tidak memungkiri bahwa ada saja orang Timur yang terkesan enggan beradaptasi dengan lingkungan baru. Mereka hanya berkumpul dengan sesama orang Timur, berperilaku seperti di tempat sendiri. Siingkatnya: budaya Timur dibawa ke daerah lain. Alhasil, perbedaan budaya itulah yang kerap kali menimbulkan konflik.

“Sebelum sampai ke Jogja, aku sudah tahu ada sentimen negatif di kota ini kepada orang Timur. Itulah sebabnya aku langsung beradaptasi. Misalnya, aku tidak tidak membawa logatku yang keras ketika berbincang di sini. Tapi siialnya aku tetap dijauhi,” tutur Jack. Karena orang Timur sudah kadung dapat cap buruk.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Di tengah obrolan hangat bersama Jack, Bang Freddy (31) pun tiba dan langsung mengikuti obrolan kami. Bang Freddy membeberkan alasan kenapa orang Timur seolah “enggan” bergaul dengan yang lain.

Asing di negeri sendiri

Bang Freddy juga asal NTT. Dia merantau ke Jogja sejak 2010 untuk melanjutkan SMK, mengikuti jejak saudaranya yang sudah merantau terlebih dahulu untuk kuliah di Jogja.

“Di kelas pertanyaan yang sering teman-teman Jogja lontarkan itu, ‘Kamu pasti minumnya (alkohol) kuat ya?’, ‘Kamu pasti jago berantem ya?’. Entah dengan nada sinis maupun bercanda,” ungkap Bang Freddy.

Sialnya lagi, pertanyaan serupa tidak hanya dilontarkan oleh para siswa, tapi juga guru. Pernah ada guru yang ngeyel bahwa di tempat Bang Freddy, orang-orang masih menggunakan kuda sebagai moda transportasi.

Iklan

Si guru keukeuh merasa pernyatannya itu benar. Padahal Bang Freddy sudah menjelaskan bahwa memang sebagian daerah di NTT masih ada yang menggunakan kuda, tetapi tidak dengan tempat tinggal Bang Freddy. Tetapi guru tersebut tidak menghiraukan jawaban Bang Freddy.

Sampai akhirnya Bang Freddy berseloroh kepada gurunya, “Ini yang orang Timur aku atau Bapak,sih?!”

Bang Freddy mencoba merefleksikan diri, kenapa pertanyaan-pertanyaan remeh sering dilontarkan mengenai Indonesia Timur? Kenapa kita saling asing di negeri sendiri? Salah satu hipotesis Bang Freddy adalah kurikulum pendidikan Indonesia terlalu terfokus kepada Jawa.

“Di sekolah, aku belajar sejarah kerajaan-kerajaan Jawa, tapi hanya sedikit kutemukan yang membahas tentang Indonesia Timur. Bahkan sejak kurikulum, pendidikan kita tidak merata,” ucap Bang Freddy dengan nyala di matanya.

Ketimpangan pendidikan yang gila

Ketika orang Indonesia Timur melanjutkan pendidikan ke tanah Jawa–termasuk ke Jogja–mereka tidak mulai dari nol, tapi minus. Begitu kira-kira Bang Freddy menggambarkan.

Sekalian untuk menggambarkan betapa aksesibilitas dan infrastruktur di Timur tidak sebegitu diperhatikan pemerintah sebagaimana di Jawa.

Dari pengalaman Bang Freddy di NTT, untuk belajar komputer saja, satu komputer bisa dikerubungi lebih dari tiga orang.

Contoh lain, meskipun NTT dan Papua sama-sama Indonesia Timur, tetapi ketimpangan pendidikan di sana terlihat parah sekali. Apalagi yang daerah pegunungan Papua.

“Kau bayangkan, di daerah pegunungan Papua, ada loh orang yang tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk sepeda. Itu kan gila. Setimpang itu pendidikan di Indonesia Timur,” kata Freddy.

Ayah Bang Freddy merupakan seorang guru di NTT. Gambaran betapa tidak mudahnya menjadi guru di sana: masih ada guru yang harus jalan belasan kilometer untuk mengajar dengan gaji yang tidak seberapa. Paling ratusan ribu perbulan.

Maka dari itu, selama pemerintah tidak fokus memperbaiki pendidikan di Timur, selama itu pula permasalahan orang Timur akan terus ada.

Solusi alternatif atas persoalan masalah orang Timur di Jogja

Bang Freddy pernah menanyakan ke orang-orang Timur yang merantau di Jogja, tentang mengapa mereka seolah “enggan” bergaul selain dengan orang Timur di Jogja. Begini kira-kira jawabannya:

“Kami insecure, kami seolah dipandang berbeda, padahal satu negara. Bukan kami malu dengan kulit hitam atau rambut ikal kami, tapi kami malu karena kami tertinggal (pendidikan).”

“Kami sulit untuk mengejar, pada akhirnya kami merasa asing. Untuk mengobati itu, kami akhirnya hanya berkumpul sesama Timur untuk saling menguatkan.”

Berbekal jawaban itu, Bang Freddy bertekad untuk mengubah stigma orang Timur menjadi baik. Langkah awal yang dia lakukan adalah orang Timur harus berani bergaul, tidak hanya dengan sesama orang Timur.

Itulah sebabnya Bang Freddy mendirikan TEKO.SU dalam rangka membuka ruang kolektif, ruang pertemuan bagi orang-orang yang merasakan hal serupa, yakni tersisihkan.

“Di TEKO.SU aku menerapkan aturan, kita tidak boleh membawa budaya Timur yang tidak sejalan dengan norma di sini, misalnya mabuk. Karena  TEKO.SU adalah ruang belajar, kolaborasi, dari mulai FnB, seni, dan literasi. Berkembang menjadi lebih baik adalah cara untuk orang Timur tidak lagi insecure dan perlahan memudarkan stigma buruk,” pungkas Bang Freddy.

Penulis: Rizky Benang
Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Suara Hati Orang Madura yang Didiskriminasi di Surabaya, Tapi Lebih Dihargai Orang Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

:

 

Terakhir diperbarui pada 24 Agustus 2025 oleh

Tags: Jogjaorang papua di jogjaorang timur di jogjapilihan redaksitekosu
Rizky Fajar Nur Azis

Rizky Fajar Nur Azis

Turun ke bumi untuk bersenda gurau.

Artikel Terkait

SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO
Urban

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO
Kabar

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

8 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

8 Juli 2026
Derita anak magang atau PKL SMK: diperlakukan sebagai pekerja penuh waktu hingga ikut lembur dan dibentak-bentak MOJOK.CO

Magang SMK Tak Dibayar tapi Jadi Tenaga Kerja Serabutan, Ikut Lembur hingga Dibentak-bentak kalau Ada Kesalahan

9 Juli 2026
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

7 Juli 2026
Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan MOJOK.CO

Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila

7 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.