Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Meninggalkan Surabaya yang Sumpek, Pilih Hidup Jadi Petani Stroberi di Kabupaten Malang

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
11 Januari 2025
A A
Orang Surabaya pilih slow living dan men jadi petani stroberi di Kabupaten Malang. MOJOK.CO

Ilustrasi - petani stroberi di Kabupaten Malang. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Temannya tidak sengaja membeli bibit stroberi dan menitipkannya. Dari sana, Ines jadi tertarik dan melanjutkan rutinitasnya sebagai petani stroberi. Dia mengecek tanaman sekaligus menyiram bibit stroberi di halaman rumahnya Kabupaten Malang.

“Tapi waktu berbuah awal itu nggak sesuai ekspektasi. Rasa buahnya kecut dan ukurannya kecil, terus juga sempat mati semua karena ditinggal di Surabaya beberapa minggu,” ujarnya.

Kegagalan itu tidak membuat Ines urung untuk mencoba lagi. Dia memutuskan magang di salah satu perkebunan stroberi daerah Pandanrejo Bumiaji, Kota Batu. Dari sana dia mendapat banyak pelajaran hingga perlahan tanaman stroberi di halaman rumahnya berbuah.

“Ya namanya juga belajar sampai ada yang mau beli bibit maupun buahnya dari aku, lumayan bisa nambah uang jajan,” ujarnya.

Menolak gengsi usai meninggalkan Surabaya

Ines merasa bersyukur tinggal di Kabupaten Malang, sehingga bisa menikmati waktu dengan berkebun atau menjadi petani stroberi. Namun, dia tak begitu yakin bisa mendapat ketenangan batin jika tinggal di pusat Kota Malang.

Sebab menurutnya, suasana pusat Kota Malang tidak jauh berbeda dengan hiruk pikuk Kota Surabaya. Khususnya saat dia melintasi seluruh kampusnya Kota Malang, Universitas Brawijaya menuju. Sama-sama padat .

“Di Malang kota terdapat lebih banyak lokasi pendidikannya, seperti universitas dan sekolah. Jadi pukul 06.00 WIB – 07.00 WIB macet ke arah kampus, karena rutinitas di pagi hari,” ucapnya.

Selain itu, dari segi harga makanan pun tidak jauh berbeda. Ines sendiri harus pintar mencari tempat makanan yang cocok dengan selera orang Surabaya, begitu juga dengan harga dan porsinya.

“Makanan di Surabaya itu enak dan bumbunya kuat, kalau di Malang rasanya kurang medok nggak semedok di Surabaya. Harganya 11-12 lah, tapi mungin relatif murah di Malang,” ujarnya.

Sama seperti di Surabaya, pusat Kota Malang juga banyak menghadirkan kedai kopi atau kafe. Harganya pun tidak jauh berbeda.

Kalau menuruti gengsi, kata Ines, dia tak mungkin bisa hidup slow living karena menuruti keinginannya untuk foya-foya. Terlebih dengan banyak pilihan hiburan di Kota Malang.

“Jadi kembali lagi, bagaimana cara kita mengelola keuangan dan gaya hidup,” ucapnya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

Iklan

BACA JUGA: Mirip Sukolilo Pati, Kampung Muharto Malang Dicap Sebagai “Sarang Preman”: Warganya Di-blacklist Leasing Saking Banyak Kredit Macet atau liputan Mojok lainnya di rubrik  Liputan .

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 16 Januari 2025 oleh

Tags: kabupaten malangperkebunan stroberiPetani stroberislow livingSurabaya
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Kedai Kopi Dinasty di Surabaya milik alumnus Unesa. MOJOK.CO
Sosok

Bukan Sekadar Cari Cuan, Alumnus Unesa Ini Sukses Bikin Kedai Kopi Murah Sekaligus Berdayakan Ibu-ibu untuk Jual Kopi Keliling

30 Juni 2026
Kudus, Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan.MOJOK.CO
Eksplor

Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan 

27 Juni 2026
Persaingan bisnis atau usaha di desa kabupaten kejam: cara kotor saling menjatuhkan hingga jebakan pelanggan loyal MOJOK.CO
Sehari-hari

Kejamnya Persaingan Bisnis di Desa Kabupaten: Cara Kotor Saling Menjatuhkan hingga Jebakan Pelanggan Loyal

20 Juni 2026
Orang desa tidak mengenal konsep pensiun dan menua dengan tenang (slow living). Itu hanya konsep orang kota MOJOK.CO
Catatan

Pensiun Ala Orang Desa Tak Seperti Bayangan Orang Kota: Bukan karena Rencana Slow Living tapi Dipaksa Keadaan Getir

19 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bagi Najwa Shihab, gagasan liar anak muda seperti dalam esai para penerima Djarum Beasiswa Plus dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 harus diberi ruang MOJOK.CO

“Gagasan Liar” Anak Muda Harus Diberi Ruang, Terdengar Tak Lazim tapi Penting Dibicarakan

6 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Cerita Lola Nadiya Putri, peserta Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 yang mengangkat persoalan crab mentality yang menghambat perempuan desa di Nganjuk untuk tumbuh dan maju MOJOK.CO

Ironi Perempuan di Desa: Dihambat Tumbuh dan Maju karena Crab Mentality

4 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah MOJOK.CO

Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah

8 Juli 2026
manfaat program WiFi gratis bagi pedagang sekaligus warga Klaten. MOJOK.CO

Memanfaatkan WiFi Gratis di Sejumlah Titik Klaten: Meski Harus Berebut, Tetap Jadi Solusi Alternatif saat Paket Data Habis

10 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.