Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
14 Januari 2026
A A
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Ilustrasi - nongkrong di kafe (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pukul empat sore di Jakarta Selatan, biasanya menjadi puncak dari hiruk-pikuk kota. Namun, di dalam sebuah kafe yang hampir penuh di kawasan tersebut, suasana justru terasa kontras. 

Tidak terdengar riuh percakapan atau tawa yang biasanya memenuhi ruang publik. Dari belasan meja yang terisi, sebagian besar hanya ditempati oleh satu orang saja. Di balik kepulan uap kopi, terdapat deretan anak muda yang tenggelam dalam dunianya masing-masing. 

Dari yang saya saksikan sendiri, ada yang menatap layar laptop dengan serius, menggulir ponsel tanpa ekspresi, dan ada pula yang sekadar memandangi jendela, seolah membiarkan waktu berjalan pelan di atas meja yang hanya berisi satu gelas kopi dan sebuah tas kecil.

Yang perlu diketahui, fenomena ini bukan sekadar tren estetika atau gaya hidup semata. Bagi banyak anak muda di Jakarta Selatan, nongkrong sendiri adalah sebuah strategi bertahan hidup secara ekonomi maupun mental di tengah kota yang semakin mahal dan melelahkan.

Nongkrong sendirian, budaya baru anak muda Jakarta Selatan 

Di sudut ruangan, ada Dimas (26), seorang pekerja kreatif lepas, telah duduk sejak selepas makan siang. Beberapa hari sebelumnya, kami memang sudah janjian untuk bertemu di tengah kesibukannya menyelesaikan deadline pekerjaan pada akhir tahun.

Dengan segelas kopi susu seharga Rp35 ribu yang sudah hampir habis, ia belum menunjukkan tanda-tanda akan beranjak. Masih betah, katanya. Sebab, bagi Dimas, kafe adalah sebuah “ruang ternyaman” untuk menunda kepulangan ke realitas yang membosankan: di kos, bengong, kemudian malah overthinking.

Dimas sendiri tinggal di sebuah kamar kos berukuran tiga kali tiga meter di kawasan Tebet. Kamar itu tidak menawarkan banyak hal; hanya ada tempat tidur dan lemari, tanpa ruang tamu maupun pendingin udara. 

“Kalau pulang jam segini, rasanya cepat sekali malam,” ujarnya, Sabtu (27/12/2025) lalu. “Itu mah jam-jam rawan, ujung-ujungnya malah overthinking mikirin yang nggak-nggak.”

Baginya, menghindari kesunyian yang terlalu panjang di kamar kos yang sempit adalah prioritas. Kafe memberikan apa yang tidak dimiliki tempat tinggalnya: akses Wi-Fi, pendingin ruangan (AC), kursi yang nyaman, dan toilet bersih yang dapat ia gunakan selama berjam-jam hanya dengan modal satu gelas kopi.

“Bayar psikolog mahal, healing pakai kopi modal 35 ribu”

Di tengah upah minimum (UMR) DKI Jakarta yang berada di angka Rp5,2 juta  per bulan, setiap pengeluaran kecil harus dihitung dengan cermat. Gaji tersebut harus dibagi-bagi untuk biaya sewa, makan, transportasi, dan kebutuhan dasar lainnya yang terus merangkak naik. 

Dalam konteks ini, bagi Dimas, duduk berjam-jam di kafe sering kali menjadi keputusan yang paling rasional. Alih-alih dianggap sebagai foya-foya, membayar Rp35 ribu untuk sebuah meja di kafe adalah cara untuk mengelola tenaga dan waktu. 

Pekerja Jaksel ini bahkan tertawa kecil saat mengatakan bahwa pilihan ini lebih masuk akal daripada pulang cepat lalu hanya “bengong” di dalam kamar. Atau, masih dengan nada bercanda, pilihan ini juga lebih masuk akal daripada bayar psikolog.

Baginya, dengan satu gelas kopi, ia mendapatkan fasilitas yang mendukung produktivitasnya sekaligus kenyamanan yang membantu menjaga kewarasannya sebelum harus menghadapi hari esok yang sama melelahkannya.

“Bayar psikolog mahal. Healing sendiri modal segelas kopi 35 ribu udah bisa waras lagi,” ujarnya, dengan nada bercanda.

Iklan

Baca halaman selanjutnya…

Pelarian dari rutinitas yang melelahkan. Ada kalanya butuh “berdialog dengan diri sendiri”.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 15 Januari 2026 oleh

Tags: anak jakselanak mudagaya hidup anak mudahealingjakarta selatanJakselkafe di jakarta selatankafe di jakselnongkrong di kafepilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Perbandingan pengguna iPhone vs Android (Infinix dan Samsung)
Catatan

8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman

25 Februari 2026
Makan bersama sia-sia: niat kumpul keluarga, tapi bikin ortu kesepian karena anak-anak sibuk main hp sampai tak nyahut saat diajak bicara MOJOK.CO
Sehari-hari

Kumpul Keluarga Justru bikin Ortu Makin Kesepian dan Terabaikan, Anak Sibuk sama HP dan Tak Saling Bicara

25 Februari 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO
Edumojok

Mahasiswa KIP Kuliah Ikut Dihujat Imbas “Oknum” yang Foya-Foya Pakai Duit Beasiswa, Padahal Beneran Hidup Susah hingga Rela Makan Sampah di Kos

25 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lagu religi "Tuhan Itu Ada" jadi ajang promosi Klaten lewat musik MOJOK.CO

Adhit & Carlo Jikustik Gandeng Klaten Project Rilis Lagu Religi “Tuhan itu Ada”

25 Februari 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Toxic sibling relationship antar saudara kandung karena rebutan sertifikat tanah. Saudara kandung bisa jadi mafia tanah soal warisan MOJOK.CO

Saudara Kandung di Desa Itu Bak Mafia, Justru Jadi Orang Paling Busuk dan Licik demi Sikat Sertifikat Tanah Saudara Sendiri

20 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
Takjil bingka dari Kalimantan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.