Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Nganjuk Berjuluk Kota Angin Bak Negeri Avatar Aang, Padahal Panas dan Sumuknya Edan, Saingi Kota Terpanas di Indonesia

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
4 Maret 2024
A A
Nganjuk Kota Angin Tapi Panas MOJOK.CO

Ilustrasi - Nganjuk Kota Angin, tapi kok panasnya edan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Berjuluk “Kota Angin” nyatanya tak membuat Nganjuk, Jawa Timur memiliki udara yang sejuk. Justru sebaliknya, panas di Nganjuk malah sangat-sangat menyengat, tak kalah dari Surabaya sebagai kota terpanas di Jawa Timur sekaligus salah satu yang terpanas di Indonesia.

***

Mengiringi ramainya series Avatar: The Last Airbender di Netflix, di media sosial banyak yang mengandaikan beberapa daerah di Indonesia kalau masuk di universe Avatar maka akan menjadi negara apa.

“Baru sadar kalau Aang lahir di Nganjuk, Kota Angin,” tulis seorang teman di WA story-nya yang membuat saya langsung membatin, “Njiiir, iya, ya, julukan Nganjuk kan Kota Angin.”

Saya kemudian mencoba menghubungi teman saya itu, Ubaid (24), yang asli Nganjuk. Meski memang sejak SMP hingga kuliah ia jarang sekali ada di Nganjuk lantaran sekolah dan mondok di luar daerah. (SMP-SMA di Jombang, kuliah di Surabaya).

“Waduh aku sendiri nggak paham kenapa julukannya (Nganjuk) Kota Angin,” jawabnya saat saya tanya perihal asal mula julukan Kota Angin tersemat pada Nganjuk.

“Perasaan ya nggak ada angin-anginnya. Sumuk dan panas,” imbuhnya.

Siklus angin besar di musim kemarau

Untungnya saya masih punya teman asal Nganjuk yang nyaris selalu bisa menjawab pertanyaan saya seputar sejarah yang berbau lokalitas, Ilham Wahyudi (25).

Saat menerima WA saya, ia lagi-lagi tak habis pikir kenapa saya sering bertanya hal-hal tak umum.

“Penting ini untuk mengonfirmasi apakah Avatar Aang itu benar-benar berasal dari Nganjuk atau tidak,” ucap saya berkelakar. Dengan senang hati Ilham lantas meladeni.

Ilham mengaku tak tahu persis kapan Nganjuk berjuluk Kota Angin.

Namun, seturut pengetahuannya, julukan Kota Angin tak lepas dari kondisi geografis Nganjuk yang berada di antara dua gunung besar di Jawa Timur, yakni Gunung Wilis dan Gunung Arjuno.

“Nah, hal itu membuat angin di Nganjuk kenceng,” jelas Ilham.

“Terutama di musim kemarau. Aku pernah merasakan sendiri, anginnya kenceng banget,” lanjutnya.

Angin di Nganjuk lebih kenceng dari daerah lain

Saya tentu sangsi dengan penjelasan Ilham. Sebab, fenomena semacam itu sebenarnya kan merupakan fenomena umum di banyak daerah di Indonesia, terkhusus yang terletak di pegunungan.

Namun, Ilham mengatakan bahwa apa yang terjadi di Nganjuk berbeda dengan di daerah-daerah lain.

“Aku ini suka melipir ke beberapa daerah di Jatim. Ke daerah di lereng Lawu, di lereng Gunung Kelud Blitar juga pernah. Anginnya kenceng, tapi nggak sekenceng di Nganjuk pas musim kemarau,” ungkapnya.

Demikian pula yang tertulis di beberapa media massa, yang menyebut bahwa frekuensi angin di Nganjuk setiap musim kemarau cenderung lebih tinggi ketimbang daerah lain, khususnya daerah-daerah di Jawa Timur.

Iklan

Nganjuk Kota Angin tapi sumuk dan panas

Saya pertama kali mendengar julukan Nganjuk Kota Angin di semester 2 kuliah, juga dari Ilham.

Saat itu, saya lupa mata kuliah apa, dosen bertanya perihal julukan dan ciri khas dari masing-masing daerah mahasiswa.

Ketika sampai pada Ilham, saat itulah saya untuk pertama kali mendengar julukan Kota Angin.

Agak aneh di telinga saya. Sebab, julukan Kota Angin menurut saya agak abstrak.

Gampangnya begini, kalau Kota Udang kan jelas berarti produksi udangnya yang besar. Misalnya lagi Kota Garam, berarti produksi garamnya melimpah. Atau misalnya lagi Kota Batik, ya karena jadi sentra batik.

Nah, kalau Kota Angin, apa? Memangnya kotanya seberangin apa, sih?

Namun, saat itu, saya mencoba berasumsi bahwa Kota Angin merujuk pada suhu udara di Nganjuk yang sejuk dan silir.

Asumsi yang kemudian terbantahkan saat saya beberapa kali main dan melintas di Nganjuk. Panasnya tetap bikin tenggorokan kering. Nggak ada silir-silirnya juga.

Nganjuk Kota Angin MOJOK.CO
Gambaran panasnya Nganjuk. (Wikimedia Commons)

“Panasnya kadang bisa kayak Surabaya malah, di angka 34 sampai 35 derajat celcius,” papar Ilham.

“Angin kenceng itu sebenarnya cuma siklus musiman. Kota Angin nggak berarti sejuk terus,” lanjutnya.

Menurutnya, beberapa daerah di Nganjuk yang agak pelosok dan perbukitan memang cenderung lebih sejuk. Dan itu wajar saja, sesuatu yang juga terjadi di daerah perbukitan atau lereng gunung lain. Sementara untuk di daerah yang agak ke kota, tetap panas dan sumuk.

Baca halaman selanjutnya…

Julukan selain Kota Angin

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 4 Maret 2024 oleh

Tags: avatarJawa Timurkota anginnganjuknganjuk kota anginpilihan redaksi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Lansia menjual aksesori kemerdekaan di Malioboro, Yogyakarta. MOJOK.CO

Kisah Istri Pensiunan BPN Turun ke Jalanan untuk Jual Aksesori Kemerdekaan di Masa Tua demi Hadiahkan Cucu

18 Agustus 2026
Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Fenomena sarjana jadi pengangguran karena ijazah kuliah memang bulan modal ekonomi dan persoalan ketimpangan kapital MOJOK.CO

Bedah Penyebab Sarjana Pengangguran: Ijazah Kuliah Tak Bisa Jadi Modal Ekonomi, Dapat Kerja Ditentukan Privilege Keluarga

15 Agustus 2026
Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran .MOJOK.CO

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata.MOJOK.CO

InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata

18 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.