Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Mbah Istianah: Nenek Asal Demak yang Suka Ngasih Uang ke Anak Muda di Jalan, Obat Kangen pada Sang Cucu

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
27 Februari 2024
A A
Cerita Nenek Asal Demak yang Murah Hati MOJOK.CO

Ilustrasi nenek asal Demak yang suka ngasih uang ke anak muda (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seorang nenek asal Demak, Jawa Tengah memiliki kebiasaan yang cukup unik. Ia kerap memberi uang pada anak-anak muda yang ia temui di jalan, sebagai obat kangen pada cucu-cucunya yang jauh.

***

Saat tiba di Terminal Jombor, Jogja, sembari membeli rokok saya sempat bertanya pada pemilik warung, kalau mau ke Semarang bus apa yang harus saya naiki?

Pilihannya ada dua. Satu, bus Patas Ramayana. Bus ini akan mengantarkan saya langsung ke Semarang.

Lalu yang kedua adalah bus ekonomi Maju Lancar. Bus ini hanya akan mengantarkan saya sampai Magelang untuk kemudian dioper ke bus lain yang menuju arah Semarang.

Saya memilih bus yang kedua. Bukan semata soal harga. Tapi karena selama ini saya selalu menemukan cerita-cerita menarik tiap kali naik bus ekonomi.

Toh hari itu, Kamis (22/2/2024) saya tak terlalu buru-buru untuk sampai rumah (Rembang, Jawa Tengah). Jadi, momen pertama kali pulang dari Jogja ke rumah itu saya gunakan untuk “bersenang-senang di jalanan”.

Nenek asal Demak yang ramah dengan anak muda

Bus Maju Lancar memang mengoper saya di Magelang. Dari Magelang, saya lupa naik bus apa. Yang jelas, harusnya bus tersebut mengantarkan penumpang sampai Terminal Terboyo, Semarang.

Namun, bus tersebut justru menurunkan penumpang di Banyumanik, Semarang. Persisnya di seberang UMKM Center Jateng. Jaraknya masih 20 menitan lebih sedikit untuk sampai Terminal Terboyo.

Cerita Nenek Asal Demak yang Murah Hati MOJOK.CO
Wajah-wajah kesal orang-orang yang dioper bus Maju Lancar. (Aly Reza/Mojok.co)

“Jame gak nyandak,” ujar si kenek bus yang disambut dengan gumaman penumpang yang merasa dongkol. Wajah-wajah penumpang itu tampak panik dan kesal.

“Mau ke Terboyo, Le?,” tanya seorang nenek yang di sebelahnya sudah ada seorang anak muda seumuran saya menggendong tas gunung.

“Sudah, bareng mbah saja,” lanjut nenek itu menawari.

Barulah saya ketahui kemudian bahwa nenek tersebut bernama Mbah Istianah (67), asal Demak. Sementara anak muda di sampingnya bernama Ilham, santri Sarang, Rembang, yang baru saja turun dari Gunung Sindoro.

Ilham juga hendak balik ke Rembang. Muncul perasaan lega, karena saya punya barengan.

Iklan

“Musim libur pondok, jadi main-main,” ucapnya waktu itu.

“Aku nggak kenal mbah ini, tapi sejak dioper tadi, karena aku bingung, terus diajak barengan. Dikasih jajan juga,” bisiknya saat Mbah Istianah tengah ngobrol dengan beberapa orang yang sama-sama dioper sore itu.

Ilham mengaku tak bisa menaruh curiga pada kebaikan Mbah Istianah. Sebab, ia merasakan aura ketulusan pada apa yang Mbah Istianah lakukan.

Kangen dengan cucu

Mbah Istianah ternyata sudah berpengalaman soal oper-operan tersebut.

Kepada saya dan Ilham, ia memberi tahu saya bahwa setelah ini untuk sampai ke Terboyo bisa naik bus Safari jurusan Semarang-Solo.

“Bayarnya cuma Rp5 ribu kalau nggak Rp10 ribu, Le,” jelas Mbah Istianah.

Kami naik bus Safari ke Terminal Terboyo jam empat sore, lebih sedikit lah. Karena tertarik denga sosok Mbah Istianah, saya memilih duduk di sebelahnya.

“Ini, Le, buat bayar berdua,” ucap nenek asal Demak itu sembari menyodorkan uang Rp20 ribu untuk bayar saya dan Ilham.

Saya tentu menolaknya. Saya malah berniat membayari Mbah Istianah yang sudah ramah pada kami. Tapi ia memaksa agar kami membayar pakai uang yang ia beri.

“Saya itu suka melas kalau lihat anak-anak muda sedang perjalanan kayak kamu. Ingat cucu saya yang sering ngebus dari Demak ke Jombang (Jawa Timur). Cucu saya mondok di Tebuireng,” ungkap Mbah Istianah.

Dari ungkapan Mbah Istianah itu pula saya tahu, kalau ternyata saya dan Ilham hanya dua dari sekian banyak anak-anak muda yang mendapat uang saku dari Mbah Istianah.

Hari itu Mbah Istianah dari Magelang. Entah keperluan apa, saya luput menanyainya. Yang jelas, ia memang suka tak tega dengan anak-anak muda yang sedang merantau.

Lebih dari itu, Mbah Istianah berharap, dengan menolong atau mengasihi anak-anak muda yang ia temui di jalan, maka balasan baiknya akan kembali ke cucunya sendiri.

Konon, satu cucu Mbah Istianah yang nyantri di Tebuireng kerap kali mendapat belas kasih dari orang-orang tak dikenal setiap kali ia melakukan perjalanan dari Demak-Jombang (juga sebaliknya).

Itulah kenapa Mbah Istianah memiliki kebiasaan ngasih uang ke anak-anak muda yang ia temui di jalan.

“Cucu saya ada banyak, tapi jauh-jauh semua. Kangen, ketemunya jarang. Jadi ya kamu saya anggap cucu sendiri,” ucapnya.

Baca halaman selanjutnya…

Perpisahan yang penuh pesan mendalam

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 28 Februari 2024 oleh

Tags: demakJogjapilihan redaksiterminal terboyo
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Bangun rumah bertingkat 2 di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron MOJOK.CO
Sehari-hari

Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan

10 April 2026
Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan” MOJOK.CO
Urban

Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan”

10 April 2026
Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif MOJOK.CO
Urban

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)
Pojokan

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
Hasutan dan jebakan orang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja, ternyata berkedok penipuan MOJOK.CO

Turun Stasiun Tugu Jogja Muak sama Orang Minta Donasi: Tidak Jujur Sejak Awal, Jual Kesedihan Endingnya Jebakan

5 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Mahasiswa KKN di desa

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”

8 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.