Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Ojol Jogja Iri dengan Ojol Surabaya, Meski Dimusuhi Ojek Pengkolan tapi Aturan Lebih Menguntungkan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
15 Februari 2024
A A
3 Alasan Mengapa Notoprajan Jogja Jadi Kawasan Paling Menyebalkan Bagi Driver Ojol.MOJOK.CO

Ilustrasi 3 Alasan Mengapa Notoprajan Jogja Jadi Kawasan Paling Menyebalkan Bagi Driver Ojol (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saat mendengar cerita-cerita saya sekilas tentang driver ojek online di Surabaya, seorang driver ojol Jogja mengaku iri. Sebab, ada aturan-aturan yang menurut driver ojol Jogja, ternyata sangat menguntungkan di tengah perseteruan dengan ojek pengkolan.

***

Iklan

Akhir pekan lalu adalah momen untuk pertama kalinya saya pergi-pulang ke luar kota dari Terminal Giwangan, Yogyakarta, dengan segala ketidaktahuan saya soal terminal ini dan aturan-aturan yang mengikatnya.

Minggu, (11/2/2024), sekitar jam sepuluh malam saya tiba di Terminal Giwangan setelah melakukan perjalanan enam jam dari Jombang, Jawa Timur. Saya memilih turun di pintu masuk terminal, seperti yang penumpang lain lakukan.

Baru duduk-duduk sebentar sambil membuka aplikasi ojek online, seorang pria umur 40an berperawakan gempal-kekar menghampiri.

“Kalau di sini nggak bisa ojol, bisanya ojek biasa. Harga sama kayak harga aplikasi kok,” ujar pria tersebut yang ternyata adalah tukang ojek pengkolan di sekitar Terminal Giwangan.

Saya mencoba menolak bujuk rayu tukang ojek itu sehalus mungkin. Saya lalu mencoba berjalan agak menjauh dari area pintu Terminal Giwangan setelah membaca plang dengan keterangan bahwa ojol tidak boleh ambil penumpangan di area Terminal Giwangan.

Oke. saya pun berjalan sampai di depan SLB Negeri Pembina Yogyakarta, memesan ojol, lalu datanglah Niam (32) yang mengajak saya bercengkerama dari Terminal Giwangan hingga ke kos teman saya di Nologaten, tempat yang saya tuju.

Ojol Jogja iri dengan ojol Surabaya

“Kita nggak boleh bawa penumpang dari terminal persis, Mas. Harus agak jauh baru bisa,” ujar Niam setelah saya ceritakan kebingungan saya sebelumnya; bingung harus pesan ojol di mana.

Kebingungan tersebut sebelumnya tak pernah saya alami di Surabaya. Sebab, meski di area terminal, driver ojol di Surabaya tetap mendapat pos tersendiri.

Aturan pembagian wilayah (sebut saja begitu) antara ojek pengkolan dengan ojol di Surabaya kira-kira begini:

Ojol boleh mengantar penumpang hingga ke dalam area Terminal Bungurasih. Akan tetapi, dari dalam terminal, ojol tidak boleh mengangkut penumpang yang baru saja turun dari bus. Itu menjadi jatah bagi ojek pengkolan yang mangkal di dalam.

Hanya saja, ojol masih tetap bisa mengangkut penumpang di sekitar pintu masuk Terminal Bungurasih. Para ojol mendapat jatah ngepos di Halte Gudang Garam, tidak jauh-jauh banget dari pintu masuk terminal.

Alhasil, orang-orang yang sudah terbiasa keluar-masuk Surabaya akan paham; seturun dari bus, maka jalan sedikit keluar, lalu memesan ojol di halte tersebut. Aman. Tak ada protes. Tak ada keributan.

Iklan

“Loh, malah nggak adil to, Mas? Malah nggak bikin ribut?,” tanya Niam penasaran.

Ojol Jogja Iri dengan Ojol Surabaya, Meski Dimusuhi Ojek Pengkolan tapi Aturan Lebih Menguntungkan MOJOK.CO
Ilustrasi ojol Jogja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Nyatanya memang begitulah yang selama ini terjadi. Toh selain di dalam terminal, ojek pengkolan juga tetap bisa mengangkut penumpang di area luar Terminal Bungurasih. Tapi ya nggak di Halte Gudang Garam juga. Ojek pengkolan punya pos sendiri.

Hanya saja, soal minat, memang kembali ke masing-masing penumpang. Yang sayangnya, kebanyakan penumpang lebih nyaman jika memakai jasa ojek online ketimbang ojek pengkolan.

“Wah ya enak kalau gitu,” ujar Niam sayup-sayup.

Ojol Surabaya berjaya di Stasiun Wonokromo

Saya kurang begitu tahu bagaimana sistem pembagian wilayah antara ojek pengkolan dengan ojol Jogja di stasiun, misalnya di Stasiun Lempuyangan.

Niam pun tak begitu tahu karena ia mengaku belum pernah antar-angkut penumpang dari sana.

“Tapi kayaknya kurang lebih ya sama kayak yang di (Terminal) Giwangan kok, Mas,” tuturnya.

Sementara kalau di Stasiun Wonokromo, Surabaya, malah sepertinya tidak ada batasan atau aturan yang mengikat antara ojol dengan ojek pengkolan.

Gambarannya begini: dari pintu keluar Stasiun Wonokromo, penumpang bisa milih, mau ambil kanan atau melipir ke kiri. Jika ambil kiri, maka biasanya sudah dicegat oleh ojek pengkolan, angkutan lyn, bentor, hingga becak biasa.

Kalau ambil kanan, masih di area stasiun persis, penumpang bisa menggunakan jasa ojol. Karena sisi kanan stasiun ada juga pos khusus untuk ojol. Dan tentu sudah ketebak, penumpang akan lebih banyak pilih yang mana; jelas ke kanan.

Kecuali orang-orang tua (generasi lama), mereka cenderung memilih yang konvensional saja, entah ojek pengkolan, angkutan lyn, becak biasa, atau bentor. Tapi jumlahnya ya tidak banyak.

“Apa nggak ada protes, Mas?” tanya Niam merespon cerita saya—setidaknya yang saya ketahui—soal ojol di Surabaya.

Baca halamannya sendiri…

Padahal ojol Surabaya jadi musuh banyak orang

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 15 Februari 2024 oleh

Tags: ojol jogjaojol surabayapilihan redaksiTerminal Bungurasihterminal giwangan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Sehari-hari

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO
Catatan

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.