Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Ketulusan Guru BK di SMP Pelosok Ponorogo, 27 Tahun Mengabdi Dampingi Siswa Korban KDRT hingga Siswa Depresi

Dwi Akbar Setiawan oleh Dwi Akbar Setiawan
5 November 2024
A A
Ketulusan Guru BK di SMP Pelosok Ponorogo MOJOK.CO

Ilustrasi - Guru BK (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pengabdian penuh ketulusan seorang guru BK di SMP pelosok Ponorogo. Selama 27 tahun nyaris tak pernah marah meski hadapi siswa-siswa dengan beragam masalah.

***

Seorang guru BK selama ini memang lekat dengan stigma menakutkan dan galak. Wajar saja, umumnya beberapa sekolah membebani tugas pada guru BK untuk menertibkan siswa-siswa bermasalah.

Ada dua kemungkinan. Satu, bisa jadi dia sengaja macak galak biar ditakuti siswa-siswa bermasalah, sehingga mereka tidak lagi berulah. Dua, bisa jadi dia terlihat galak dan suka uring-uringan lantaran terbawa stres karena hari-hari harus berhadapan dengan siswa bermasalah di sekolah, yang jumlahnya bisa cukup banyak.

Namun, seorang guru BK di sebuah SMP pelosok Ponorogo, Jawa Timur, justru cukup menikmati perannya menjadi guru BK. Perannya itu memungkinkannya membantu siswa-siswanya tersebut mencari solusi atas situasi yang mereka hadapi.

27 tahun menjadi guru BK di SMP pelosok Ponorogo

Namanya Retno (57). Dia sudah 27 tahun menjadi guru BK di sebuah SMP di pelosok Ponorogo.

Retno dulunya kuliah di Universitas Widya Mandala Madiun jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan.

Setelah lulus, dia langsung ditempatkan di sebuah SMP di pelosok Ponorogo tersebut. Dia lantas mengabdikan dirinya selama 27 tahun (hingga sekarang) di sana. Dari hanya tenaga honorer hingga akhirnya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Tentu tidak mudah bagi Retno menjadi guru BK di SMP di pelosok Ponorogo itu. Sebab, hari-hari dia harus berhadapan dengan beberapa siswa yang terkesan urakan. Namun, di sini lah memang letak peran Retno.

Mayoritas siswa di sekolahnya itu berasal dari keluarga yang orang tuanya hanya lulusan SD dan bekerja sebagai buruh tani. Maka, dalam menjalankan tugasnya mengurus siswa-siswa yang dianggap bermasalah, Retno tak mau sekadar menonjolkan amarah dan penghakiman. Empatinya kepada siswa selalu lebih besar.

Tidak melulu membentak untuk mengingatkan

Ada banyak guru–di mana pun–yang langsung termakan geram saat mendapati siswa-siswanya berulah. Alhasil, yang muncul adalah teguran dalam bentuk bentakan.

Namun, Retno mencoba berbeda. Dia mencoba menciptakan komunikasi yang baik antara guru dan siswa.

“Mungkin memang siswanya salah. Tapi saya coba pahami dulu dia seperti apa, maunya apa. Kemudian baru saya kasih pemahaman tentang apa yang seharusnya boleh dan tidak boleh dia lakukan,” tutur Retno lembut saat berbincang dengan Mojok, Senin (4/11/2024).

Tulus dampingi siswa korban KDRT

Saat Mojok hubungi, Retno bercerita bahwa saat-saat ini dia sedang mendampingi seorang siswanya korban KDRT. Karena jengah kerap menyaksikan KDRT di rumahnya, siswa tersebut bahkan sampai harus tinggal di rumah sang nenek.

Iklan

Bagaimana pun, intensitas menyaksikan KDRT di rumahnya sendiri agak mengganggu mental si siswa. Kata Retno, dia cenderung emosional (temperamen) dan terkesan tak punya asa dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

“Sering kesabaran terkuras saat mendampingi siswa ini. Karena emosinya labil, terus tidak bisa dinasihati,” ungkap Retno.

Namun, perasaan itu hanya lah titik kecil saja di tengah ruang lapang hati Retno. Dia selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan keluhan si siswa. Lalu sesekali mengajaknya mencari solusi bersama-sama atas situasi-situasi tidak menyenangkan yang si siswa hadapi.

Ketika siswa SMP pelosok Ponorogo depresi berat

Itu tentu bukan yang pertama kali Retno hadapi. Pada 2015 silam, dia sempat juga mendampingi seorang siswi yang depresif lantaran orang tuanya bercerai.

Masa itu, siswi tersebut perlahan dijauhi teman-temannya di sekolah. Alasannya, selama berhari-hari, kondisi si siswi dirasa agak mengganggu teman-temannya: bajunya kotor, badannya kusam, wajahnya pucat, dan agak bau.

Tapi Retno mencoba melihatnya dari sisi lain. Selain pucat, perawakan si siswi itu memang makin kurus dan lemas. Bahkan, si siswi terlihat gemetaran saat berjalan. Si siswi itu juga tampak bermalas-malasan saat jam pulang sekolah: seolah dia hanya ingin ada di sekolah, tak mau pulang ke rumah.

Setelah dia dekati dan diajak ngobrol, ternyata si siswi mengalami depresi berat. Orang tuanya bercerai. Si siswi itu melayangkan protes pada orang tuanya bahwa dia tidak suka perceraian itu terjadi. Caranya, siswi itu mogok makan berhari-hari dan tidak mengurus dirinya lagi.

“Setelah diajak ke klinik, ketahuan kan kalau ternyata dia sakit tipes,” tutur Retno.

Retno tak luput meminta siswa-siswa lain agar juga berempati kepada si siswi itu: tetap berteman dengannya, jangan malah dijauhi. Karena jika dia dijauhi, maka justru kondisinya makin memburuk.

“Dia itu sebenarnya siswi yang baik, mudah diberi nasihat. Kan tidak seharusnya kalau murid baik-baik sepertinya malah di-bully,” sambung Retno.

Hidup tetap harus terus berjalan

Retno kemudian memberikan konseling khusus pada si siswi. Beberapa kali konseling bahkan berlangsung di rumah si siswi. Di sana, Retno pun mengajak berbicara anggota keluarga si siswi seperti nenek dan bibinya.

“Kamu ini jalannya masih panjang. Kalau kamu terus seperti ini, mengurung diri di kamar, tidak mengurus diri, nanti yang ada kamu dan masa depanmu malah hancur.” Begitu kira-kira kalimat yang Retno sampaikan ke si siswi waktu itu.

Memang berat dan tidak mudah. Anak usia SMP harus menghadapi kenyataan orang tuanya berpisah.

Namun, meskipun membutuhkan waktu, perlahan-lahan si siswi mulai menyadari bahwa apa yang sudah terjadi ya terjadi lah. Kenyataannya, perpisahan kedua orang tuanya memang perkara yang tidak bisa dihindari.

“Setelah menerima kenyataan, keadaannya berangsur-angsur pulih, dia jadi punya asa menjalani aktivitas lagi, semangatnya kembali,” tambah Retno.

Si siswi akhirnya kembali semangat belajar di sekolah hingga akhirnya lulus dan melanjutkan studi di salah satu SMK di Ponorogo.

Guru BK dan kesediannya mendengarkan curhatan siswa

Atas rekam jejaknya sebagai guru BK yang humanis dan peduli dengan psikis siswa, alhasil banyak siswa di SMP Ponorogo tempatnya bertugas nyaman curhat dengannya.

Tak mesti masalah besar di keluarga. Hal-hal kecil pun para siswa curhatkan. Seperti ketika mereka habis dimarahi guru lain, di-bully siswa lain, dan lain-lain. Retno dengan tulus mendengarnya, lalu mengajak siswanya menemukan akar masalah hingga kemudian ketemu solusinya.

“Guru BK harus bisa bersahabat dengan siswa. Karena dengan begitu, siswa berani terbuka bila menemui kesulitan,” ucap Retno.

Lebih dari itu, bagi Retno, tugas guru BK sedianya tidak cuma mendampingi siswa-siswa bermasalah. Tapi juga mendorong potensi siswa.

Saya sepakat dengan apa kata “Bu Retno” (begitu saya memanggil guru BK bersahaja itu).

Bagi saya, setiap siswa memiliki potensi masing-masing. Oleh karena itu, guru harus mendorongnya untuk mengeluarkan potensi terbaiknya. Jangan seperti yang banyak terjadi: guru terkesan pilih kasih karena hanya peduli pada siswa-siswa yang pintar mata pelajaran saja. Padahal potensi siswa itu beragam wujudnya.

Penulis: Dwi Akbar Setiawan
Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Beratnya Seorang Guru SMP di Sidoarjo, Hari-hari Digempur Orang Tua Siswa Tantrum hingga Jadi Incaran Preman

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 5 November 2024 oleh

Tags: guru BKjurusan bkkenapa guru bk galakpilihan redaksismp ponorogotugas guru bk
Dwi Akbar Setiawan

Dwi Akbar Setiawan

Artikel Terkait

kos dekat kampus, kos murah.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri

29 April 2026
kurir dan driver ShopeeFood. MOJOK.CO
Catatan

Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

28 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Kerja di Jakarta.MOJOK.CO
Urban

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ibu terpaksa menitipkan anak di daycare karena orang tua harus bekerja

Ibu Menitipkan Anak di Daycare Bukan Tak Tanggung Jawab, Mengusahakan “Aman” Malah Diganjar Trauma Kekerasan

26 April 2026
Kerja di Jakarta naik transum kereta KRL

KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa

29 April 2026
undangan pernikahan versi cetak atau digital jadi perdebatan di desa. MOJOK.CO

Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi

30 April 2026
Gaji magang di Jakarta bisa beli iPhone gak kayak kerja di Jogja

Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita

28 April 2026
Tidak install game online seperti Mobile Legend (ML) buat mbar di tongkrongan dianggap tidak asyik dan tidak punya hiburan MOJOK.CO

Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda

25 April 2026
Tahlilan ibu-ibu di desa: acaranya positif tapi ternodai kebiasaan gibah dan maido MOJOK.CO

Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido

28 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.