Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Mendengar Kepiluan Pak Tua Tanpa Rumah yang Terkatung-Katung di Sepanjang Sumbu Filosofi

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
11 Januari 2024
A A
Mendengar Kepiluan Pak Tua Tanpa Rumah yang Terkatung-Katung di Sepanjang Sumbu Filosofi MOJOK.CO

Ilustrasi Mendengar Kepiluan Pak Tua Tanpa Rumah yang Terkatung-Katung di Sepanjang Sumbu Filosofi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sudah sering diminta pergi dari Sumbu Filosofi Jogja

Saya pun sempat membahas perihal ini kepada Wardi, apa ia tak takut kalau sewaktu-waktu ada operasi dari Satpol PP untuk mengusirnya dari tempat ini.

Dengan nada seolah tanpa rasa takut, Wardi hanya menjelaskan kalau tempat kami mengobrol itu bukan satu-satunya “tempat tidurnya”. Ia berpindah-pindah, meski memang seringnya di kawasan Malioboro, Tugu, dan sekitarnya.

Perkara patroli dari Satpol PP, tentu itu bukan hal baru baginya. Namun, ia tak pernah sampai benar-benar dibawa mobil patroli. Malahan sebelum ia memutuskan untuk tidur di tempat ini saja, ia sempat kena tegur oleh seseorang berseragam.

“Bapak-bapak itu bilang, ‘Pak, enggak boleh di sini ya’,” ujarnya.

“Tapi sepertinya bapak itu enggak tega liat saya. Makanya dia mengizinkan saja, tapi cuma untuk malam ini. Besok kudu harus pergi. Kata dia, ‘kalau sampai atasan tahu, saya pasti kena marah’,” sambung Wardi.

Sempat tinggal di shelter bagi homeless

Selain punya pengalaman selalu diusir saat berada di Sumbu Filosofi, Wardi punya satu pengalaman yang hingga kini masih ia ingat. Beberapa tahun lalu, ia lupa tepatnya tahun berapa, ia punya tempat buat tinggal.

Kata Wardi, saat itu beberapa pemuda membuat semacam shelter di sekitaran Jalan Sudirman. Secara teknis, itu merupakan lahan kosong berpagar seng dengan bangunan rumah kecil di dalamnya. Tempat itu awalnya terbengkalai. 

Lantas pemuda-pemuda itu menyulap tempat tadi menjadi semacam shelter bagi para homeless. Wardi jadi salah satu orang yang tinggal di sana.

“Saya sangat lega karena kita juga diemong. Tiap hari mereka juga masak buat kita, kadang kita juga bantu. Paling tidak tempat tinggal sudah ada, kita tinggal mikir mulungnya [kerja jadi pemulung] saja, Mas,” katanya.

Saudi pada Senin (18/09/2023).
Kawasan Sumbu Filosofi Jogja secara resmi ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisa Budaya Indonesia di Arab Saudi pada Senin (18/09/2023). Foto diambil Selasa (09/01/2024

Terusir dari shelter karena dianggap kriminal

Cukup lama Wardi dan kawan-kawan sepernasib tinggal di sana. Kalau tak salah ingat, sekitar dua bulanan. Ia juga mengaku sangat senang sebab merasakan kembali hangatnya sebuah keluarga. Ada tempat singgah dan orang-orang yang bisa ia ajak bercengkerama.

Sayangnya, pada satu malam, tiba-tiba ada sekelompok orang datang. Entah, Wardi tak paham mereka siapa dan dari mana. Hanya saja yang ia ingat, mereka menyampaikan kalau para gelandangan tidak boleh tinggal di situ.

“Katanya tempat itu mau dipakai lagi sama yang punya. Kita enggak tahu siapa yang punya, tahunya kami harus pergi saja,” ujarnya.

Selain itu, orang-orang itu juga bilang, kalau banyak warga sekitar mengeluhkan berbagai pencurian sejak ada shelter.

“Memang mereka tidak nuduh kami. Tapi dari nada-nadanya seolah pemulung seperti kami itu suka nyuri barang-barang sekitar. Dianggap kriminal,” sambungnya.

Iklan

Menurut Wardi, pemuda-pemuda yang membuat shelter tadi sebenarnya sempat bernegosiasi. Mereka tetap berusaha mempertahankan tempat tinggal Wardi dan kawan-kawannya.

Akan tetapi, tak ada hasil. Akhirnya, mereka hanya punya waktu dua hari untuk pergi. Kalau tidak segera pergi, kata Wardi, orang-orang itu akan mengusir secara paksa. Sejak itu ia luntang lantung di sekitaran kawasan Sumbu Filosofi Jogja untuk mencari tempat tidur.

Awalnya adalah kuli proyek yang enggan pulang ke kampung

Setengah jam lebih kami berbincang di kawasan Sumbu Filosofi Jogja. Tiga batang kretek sudah saya habiskan. Begitu pula Wardi yang beberapa kali izin nyicip rokok yang saya bawa. Namun, saya belum benar-benar tahu bagaimana ia sampai harus hidup di jalanan. Saya beberapa kali mengurungkan niat bertanya, ada ketakutan itu bakal menyakiti hatinya.

Wardi hanya sempat menyinggung kalau dirinya berasal dari “wilayah jauh di Jawa Timur”.  Ia tak ingat kapan pertama datang ke Jogja, perkiraannya mungkin sepuluh tahun lalu. Yang jelas, kala itu ia merantau ke kota ini karena ada tawaran jadi buruh proyek.

“Jadi kuli ikut mandor dari kampung,” kisahnya.

Dari kampung, ia datang bersama belasan orang kawan. Di Jogja, ketika satu proyek selesai, akan lanjut ke proyek yang lain. Namun, ada beberapa kawannya yang pulang, ada beberapa juga yang lanjut. Wardi salah satu yang masih ingin terus berada di Jogja, hingga tinggal dia sendiri kuli proyek dari kampungnya.

Karena satu dan lain hal, Wardi mengaku memang sengaja berlama-lama di perantauan. Namun, ia tak menceritakan apa yang ia maksud “satu dan lain hal” itu. Barangkali itu hal yang sensitif.

Sempat ikut juragan rosok hingga akhirnya terkatung-katung

Lambat laun saat tenaganya sebagai kuli proyek tidak lagi dibutuhkan, Wardi masih tetap berjuang mencari beberapa sumber pemasukan. Ia bercerita sempat ikut kerja di salah satu juragan rosok. Tapi karena sering bergesekkan dengan pemulung lain, ia memutuskan berhenti.

Sambil tetap memulung, Wardi terus mencari juragan-juragan lain yang bisa menampungnya buat tinggal. Sayangnya, mereka hanya mau menerima rosoknya saja, tapi tidak untuk tinggal. Begitulah hingga akhirnya ia memutuskan hidup di jalan, menjalani nasib hampa dengan kesepian dan perut yang jarang terisi.

Saya pun teringat dengan liputan kawan saya Hammam Izzudin berjudul “Nestapa Tukang Becak di Sumbu Filosofi Jogja, Bertahan Hidup Tanpa Penumpang Berhari-hari”. Ia memotret kepedihan tukang becak yang mempertaruhkan nasibnya di Sumbu Filosofi. Bahkan, ada yang meninggal di jalanan karena sakit dan lapar.

Saya sempat membahasnya juga dengan Wardi. Katanya, ia tidak takut mati. Baginya kematian tak lebih buruk dari kehidupan hampanya. Untuk orang yang baru mengenalnya sejam yang lalu, kata-kata itu menggetarkan jiwa saya. Air mata rasanya ingin jatuh, kata-kata pun hanya berakhir di ujung lidah tanpa bisa tersampaikan.

Saya pun berpamitan kepadanya sambil terus berharap ada orang-orang baik yang membuatnya bisa tersenyum esok hari.

“Terima kasih sekali lagi ya, Mas, makanannya,” katanya dengan hangat saat saya berpamitan untuk meninggalkannya. Waktu telah menunjukkan pukul 2 dini hari saat itu.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Di Balik Status Warisan Dunia: Mereka yang Tergusur karena Sumbu Filosofi

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 11 Januari 2024 oleh

Tags: gelandanganJogjapilihan redaksisumbu filosofi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO
Edumojok

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) kerap disalahpahami mahasiswa PTN atau PTS umum lain MOJOK.CO

4 Hal yang Sudah Dianggap Keren dan Kalcer di Kalangan Mahasiswa UIN, Tapi Agak “Aneh” bagi Mahasiswa PTN Lain

28 Februari 2026
Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala 'Big Tech' MOJOK.CO

Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala ‘Big Tech’

25 Februari 2026
Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar MOJOK.CO

Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang

24 Februari 2026
Pekerja gila Surabaya yang melamun di Danau UNESA. MOJOK.CO

Danau UNESA, Tempat Pelarian Pekerja Surabaya Gaji Pas-pasan dan Gila Kerja. Kuat Bertahan Hanya dengan Melamun

24 Februari 2026
Honda Scoopy, Motor Busuk yang Bikin Konsumen Setia Kecewa (Wikimedia Commons)

Karena Cinta dan Setia, Rela Membeli 11 Motor Honda tapi Berakhir Kecewa karena Honda Scoopy Hanya Jual Tampang tapi Mesinnya Menyedihkan

25 Februari 2026
Lagu religi "Tuhan Itu Ada" jadi ajang promosi Klaten lewat musik MOJOK.CO

Adhit & Carlo Jikustik Gandeng Klaten Project Rilis Lagu Religi “Tuhan itu Ada”

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.