Kemang menjadi saksi bisu kepura-puraan perantau asal Jawa. Mereka rela “memakai topeng”, menyembunyikan identitas; dari harus terbiasa ngomong “lu-gue” hingga memaksakan selera musik demi bisa bergaul di Jakarta Selatan (Jaksel).
***
Jakarta Selatan bukan sekadar wilayah administratif. Bagi sebagian orang, ia adalah sebuah simbol. Ya, simbol dari segala sesuatu yang dianggap “keren” dan “mapan” di ibu kota.
Di antara deretan distrik yang menawarkan mimpi-mimpi metropolitan, Kemang berdiri sebagai salah satu episentrumnya. Sebab, kawasan ini tak pernah benar-benar tidur.
Deretan lokasi hiburan, kafe estetik, hingga bar yang memutar musik indie, menjadi magnet bagi mereka yang ingin menasbihkan diri sebagai bagian dari kaum urban Jakarta.
Di sanalah “anak skena”, sebutan populer bagi anak muda dengan gaya hidup dan selera musik tertentu, membanjiri trotoar dan ruang-ruang publik. Namun, di balik riuhnya Kemang, terselip sebuah ironi yang sunyi.
Ada kepura-puraan yang dipelihara dengan rapi. Sandiwara identitas dimainkan oleh para perantau yang takut dianggap berbeda.
Ironi yang dialami “anak ngapak” di Kemang
Isa (26), bukan nama sebenarnya, adalah satu dari sekian banyak wajah yang mencoba lebur dalam hingar-bingar Kemang. Sekilas, tidak ada yang berbeda dari penampilannya. Kemeja flanel kebesaran, t-shirt band indie, sepatu boots kulit, dan rokok yang terselip di jari, membuatnya tampak seperti prototipe pemuda Jakarta Selatan pada umumnya.
Isa sendiri bekerja di sebuah agensi kreatif, sebuah sektor yang memang tumbuh subur di kawasan ini. Ia merantau ke Jakarta pada tahun 2022, setelah lulus dari salah satu kampus swasta di Jogja.
Namun, Isa menyimpan sebuah “rahasia” yang sempat ia jaga ketat, seolah itu adalah aib yang bisa meruntuhkan reputasinya. Isa berasal dari Kebumen, sebuah wilayah di Jawa Tengah yang kental dengan logat “ngapak”.
Bagi telinga Jakarta yang terbiasa dengan dialek Betawi atau gaya bicara “lu-gue” yang santai, logat ngapak sering kali terdengar asing, bahkan jenaka. Di sinilah letak ketakutan terbesar Isa.
Menurut pengalaman yang sudah-sudah, baik dari obrolan yang riuh di media sosial maupun kejadian yang ia saksikan dengan mata kepala sendiri, stigma terhadap orang Jawa masih begitu melekat.
“Jujur saja, ada anggapan kuat kalau Jawa itu ‘ndeso‘. Kalau sampai ketahuan ngomong medok, siap-siap saja bakal ditertawakan,” ujar Isa saat ditemui di Kemang, Jumat (26/12/2025) lalu.
“Apalagi anak-anak tongkrongan di sini itu kritis, tapi kadang juga jahat. Mereka sering menertawakan logat ngapak yang dianggap kampungan. Aku nggak mau jadi badut di tongkrongan sendiri”.
Ubah cara bicara dari “nyong-rika” ke “lu-gue”
Ketakutan akan pelabelan “ndeso” itulah yang memaksa Isa melakukan “metamorfosis”. Isa menolak menjadi Jawa. Ia menanggalkan identitas aslinya di Kemang demi bisa berbaur.
Strateginya pun sederhana, tapi melelahkan: “hidup dalam kepura-puraan”.
Salah satunya, setiap hari, Isa harus “mengolah ulang cara bicaranya”. Ia memaksa lidahnya yang terbiasa dengan pelafalan tebal khas Kebumen untuk meliuk mengikuti irama Jakarta.
Kosakata “nyong” dan “rika” ia kubur dalam-dalam, digantikan dengan fasihnya “lu” dan “gue”. Ia belajar intonasi, meniru cara tertawa, hingga mengadopsi topik pembicaraan yang sedang tren di kalangan anak muda Jakarta Selatan.
“Awalnya lidah rasanya kaku, kayak wagu. Tapi mau gimana lagi, kalau nggak begitu bakal kelihatan medoknya,” ungkapnya.
“Teman-teman yang lain, yang sesama perantau Jawa, juga melakukan cara yang sama. Ada yang terpaksa banget ikut gaya ngomong ‘lo-gue’ cuma biar bisa diakui di tongkrongan, biar dianggap setara,” imbuhnya.
Hidup di Kemang terpaksa mendengarkan musik yang bukan seleranya
Sandiwara Isa rupanya tak berhenti pada urusan cara bicara, tetapi merambat hingga ke selera telinga. Demi validasi sosial, daftar putar (playlist) di ponselnya mengalami pemaksaan.
Ia yang sejatinya tumbuh dengan alunan pop Jawa yang mendayu, atau hentakan koplo yang akrab di telinga perantau, kini harus berpura-pura manggut-manggut menikmati musik indie beraliran dream pop atau post-punk yang asing baginya.
Namun, bagi Isa, tersiksa mendengarkan lagu yang tidak ia pahami maknanya jauh lebih baik daripada harus menanggung tatapan sinis karena ketahuan mendengarkan lagu yang dianggap “kampungan”.
“Jujur, aku mengaku aja, sampai sekarang masih nggak masuk sama selera lagu anak Jaksel,” tawanya.
Isa tidak sendirian dalam sandiwara ini. Berdasarkan ceritanya, banyak kawannya yang memilih jalan serupa.
Mereka percaya bahwa untuk bertahan di kota ini, kompetensi saja tidak cukup. Seseorang harus memiliki “cover” yang tepat. Dan, dalam kamus pergaulan Kemang, menjadi “medok” atau “ndeso” adalah cover yang salah.
Mulai membuka diri meski banyak temannya sudah nyaman “memakai topeng”
Namun, seiring berjalannya waktu, Isa mulai sadar. Setelah setahun bekerja dan berinteraksi lebih intens di tempat kerjanya, ia menyadari bahwa ketakutannya mungkin terlalu berlebihan. Atau, setidaknya, tidak berlaku di semua tempat.
“Ternyata, tempat kerjaku tidak ‘serasis’ itu,” akunya sambil tersenyum. “Orang-orang di kantor lebih peduli sama hasil kerja daripada dari mana aku berasal atau gimana logatku pas lagi emosi.”
Kesadaran ini membuatnya mulai berani membuka diri. Sedikit demi sedikit, ia mulai membiarkan logat aslinya keluar, terutama saat sedang tidak berada dalam situasi formal atau saat bertemu sesama perantau.
Beban untuk terus berpura-pura itu perlahan hilang. Meski demikian, Isa mengakui bahwa ia adalah satu dari sedikit yang beruntung bisa berdamai dengan identitasnya.
“Masih banyak temanku yang asal Jawa memilih hidup dalam kepura-puraan. Mereka belum siap mental buat diledek, atau mungkin mereka sudah terlalu nyaman dengan topeng ‘anak Jaksel’ mereka,” pungkas Isa.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Mahasiswa Jatim di PTN Jogja: Jadi Goblok Perkara Beda Selera Musik, Dicap “Rendahan”; Hanya karena Tak Tahu Perunggu-FSTVLST atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














