Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kebobrokan Bojonegoro yang Bikin Saya Tak Betah dan Ingin Pindah ke Surabaya meski Sama-sama di Jawa Timur

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
8 April 2025
A A
Mudik dari Surabaya ke Bojonegoro. MOJOK.CO

Sisi Gelap Bojonegoro yang Bikin Saya Tak Betah dan Ingin Pindah ke Surabaya meski Sama-sama Ada di Jawa Timur

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Halal bihalal tahun 2025 ini adalah lebaran paling berat seumur hidup Jeya (22). Setidaknya, begitu kata dia. Perempuan asal Bojonegoro, Jawa Timur itu merasa unjung-unjung ke rumah saudara atau tetangga membuat hatinya miris, lantaran melihat fenomena sosial yang tak jauh dari sekitarnya. Tinggal di Surabaya selama tiga tahun untuk kuliah membuat perspektifnya berubah.

Pernikahan dini di Bojonegoro

Perbincangan bersama keluarga besar membuat hati Jeya semakin gelo karena budaya patriarki yang masih melekat di Bojonegoro. Kadang-kadang mereka bahkan menormalisasi pernikahan di bawah umur. 

Iklan

“Mereka menganggap kalau menikahkan anak perempuannya bisa memperbaiki ekonomi keluarga,” kata Jeya kepada Mojok, Sabtu (5/4/2025).

Saat mudik dari Surabaya ke Bojonegoro dan berkunjung ke tetangga-tetangga, Jeya melihat langsung anak tetangganya yang sudah menikah ketika usianya masih 17 tahun. Anak tersebut terlihat bermain bersama satu anaknya yang sudah berusia tiga tahun, dengan kondisi hamil anak kedua.

Sebagai informasi, berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019, batas usia minimal untuk menikah adalah 19 tahun, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Sementara itu, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat terdapat 15.212 kasus dispensasi nikah di Jawa Timur, di antaranya adalah Bojonegoro sebagai kabupaten dengan tingkat pernikahan dini yang tinggi di urutan ke tujuh.

Masyarakatnya nggak melek politik

Kebetulan, skripsi Jeya membahas soal masalah perkawinan anak sehingga ia pun tertarik dengan fenomena tersebut. Menurut dia, masih banyak masyarakat di Bojonegoro yang menganggap anak perempuan sebagai ‘komoditas’ untuk memperbaiki ekonomi keluarga. 

Padahal, kondisi ekonomi yang kurang stabil akarnya berasal dari kebijakan pemerintah akhir-akhir ini. Sebagai mahasiswa Jurusan Politik, ia paham dampak dari penerapan efisiensi anggaran dari pemerintah, program Makan Bergizi Gratis, minimnya lapangan kerja, dan sebagainya.

“Keluargaku mengeluhkan kalau bisnis mereka sempet mandek, hampir terancam gulung tikar yang kalau aku tangkap itu ya karena pengaruh kebijakan pemerintah,” kata Jeya.

Menurut Jeya, beberapa anggota keluarganya di Bojonegoro kurang paham dengan dampak kebijakan pemerintah atau isu yang diangkat oleh mahasiswa ataupun masyarakat sipil. Terlebih, sebagai anak bontot yang lulus kuliah saja belum, pendapat Jeya seringkali diremehkan. 

Daripada saling menyalahkan karena pilihan 58,6 saat Pemilu kemarin, Jeya lebih memilih diam dan mendengarkan nasihat dari orang-orang tua yang merupakan pendukung 02 garis keras.

“Jadi selama lebaran di Bojonegoro itu capeknya karena aku harus mendengar hal-hal kayak gitu dan yang bikin aku miris juga karena aku nggak bisa berbuat apa-apa,” kata perempuan asal Bojonegoro tersebut.

“Kayak mau ngomong tuh nggak enak, karena kebanyakan orang-orang yang sudah berumur,” lanjutnya.

Bojonegoro yang ditinggalkan…

Layaknya lebaran seperti biasa, Jeya pun tak terhindar dari pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi saat pulang kampung ke Bojonegoro. Misalnya, soal kapan wisuda? Mau kerja di mana? Bahkan soal perkara pasangan hingga rencana menikah.

“Sebetulnya aku tinggal nunggu wisuda, tapi tetap aja merasa gagal karena dibanding-bandingkan oleh sepupuku yang seumuran,” ucap Jeya.

Lagi-lagi, reuni keluarga atau halal bihalal justru jadi ajang saudara pamer pencapaian. Mojok pernah menulis kisah Dipta (27) yang mengaku jengkel saat lebaran 2025. Ketimbang saudara-saudaranya yang seumuran, ia tak terlihat mencolok.

Lulus kuliah molor, IPK kurang bagus, dan belum bekerja di sektor yang mentereng seperti yang didamkan oleh keluarganya. Meskipun bukan berasal dari Bojonegoro, hal itu juga yang dirasakan Jeya. Saudara Dipta bahkan ada yang sudah kerja di bank, sektor pertambangan, dan polisi.

“Sorotan jelas ke keluarga yang anaknya sukses. Kalau ke aku, hanya basabasi formalitas. Tapi serius, memilih biasa saja ternyata menyenangkan. Tidak ambil pusing. Tidak usah dimasukkan ke batin,” tutur Dipta.

Beruntung, orangtuanya tidak pernah menuntut yang muluk-muluk. Baca liputan selengkapnya di sini.

Iklan

Momen itu juga yang dirasakan Jeya. Melihat kondisi Bojonogero dan perspektif yang masih melekat di keluarganya, membuat Jeya ingin ‘pergi jauh’ dari sana.

Pengalamannya selama tiga tahun di Surabaya menjadi pertimbangan kuat untuk lebih baik bekerja di Kota Pahlawan, ketimbang tempat kelahirannya di Bojonegoro.

“Jelas aku akan memilih Surabaya karena dari segi fasilitas dan semuanya udah jauh berbeda,” kata Jeya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Pacitan: Daerah yang Tak Terjamah Pemerintah, padahal Punya Banyak Cerita Sejarah  atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 9 April 2025 oleh

Tags: alasan merantauJawa TimurKabupaten Bojonegorokasus pernikahan diniSurabaya
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Mending Beli Rumah di Menganti, Surabaya Pinggiran daripada Sidoarjo. MOJOK.CO

Alasan Pasangan Muda Beli Rumah di Surabaya Pinggiran daripada Sidoarjo: Kena Imbas Pembangunan Perkotaan

12 Agustus 2026
Wisata Perahu Kalimas di Taman Prestasi Surabaya jadi liburan mewah. MOJOK.CO

Kemewahan Wisata Perahu Kalimas Menyelamatkan Orang Haven’t Surabaya sebelum Dilanda Stres

11 Agustus 2026
Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026
Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder MOJOK.CO

Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder

31 Juli 2026
Kedai Kopi Dinasty di Surabaya milik alumnus Unesa. MOJOK.CO

Bukan Sekadar Cari Cuan, Alumnus Unesa Ini Sukses Bikin Kedai Kopi Murah Sekaligus Berdayakan Ibu-ibu untuk Jual Kopi Keliling

30 Juni 2026
Kudus, Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan.MOJOK.CO

Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan 

27 Juni 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Saat Kemerdekaan RI Belum Bisa Dirasakan Buruh. MOJOK.CO

Saat Kemerdekaan Belum Bisa Dirasakan Kelompok Buruh dan Pekerja

17 Agustus 2026
Pesan veteran Indonesia di momen kemerdekaan. MOJOK.CO

Dari Veteran Indonesia ke Generasi Muda yang Pesimis Rayakan Kemerdekaan: Bacalah Buku Sejarah!

19 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair MOJOK.CO

Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair

19 Agustus 2026
Kelebihan Daikin sebagai AC terbaik untuk hunian modern dengan listrik terbatas MOJOK.CO

Daikin Multi-S, Pilihan AC Terbaik untuk Rumah Hemat Energi

15 Agustus 2026

Sarjana BK Kebingungan Tentukan Arah Masa Depan: Tak Otomatis Jadi Guru BK, Jadi Dosen pun Susah

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.