Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Hidup Menderita saat Jadi Guru Honorer di Sekolah Negeri, Usai Pindah ke Sekolah Muhammadiyah Berubah Drastis Jadi Sejahtera

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
5 September 2025
A A
Menderita saat menjadi guru honorer di sekolah negeri. Sejahtera saat menjadi guru di sekolah (SMP) Muhammadiyah karena gaji lebih manusiawi MOJOK.CO

Ilustrasi - Menderita saat menjadi guru honorer di sekolah negeri. Sejahtera saat menjadi guru di sekolah (SMP) Muhammadiyah karena gaji lebih manusiawi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menjadi guru honorer di sekolah (SMP) Muhammadiyah, sempat ragu tapi…

Tahun 2023 itu, Aisyah sempat juga mendaftar sebagai PNS. Dengan harapan, jika keterima, selesai lah penderitaannya.

Akan tetapi, bayangan itu pupus. Aisyah tak lolos PNS. Hal itu membuatnya makin tertekan.

“Kata orang, cewek itu nggak terlalu beban sebenarnya kalau nggak kerja. Karena kelak bakal ditanggung suami. Tapi aku nggak bisa mikir gitu. Aku kan juga pengin mandiri,” ujar Aisyah.

Hingga akhirnya, di tengah kesumpekan menjadi guru honorer, seorang teman kuliah menawari Aisyah untuk ikut mengajar di sekolah (sebuah SMP) Muhammadiyah.

Awalnya Aisyah ragu. Dia sudah kadung berprasangka, sepertinya nasib guru honorer di sekolah manapun sama saja. Gajinya amat kecil. Saat itu, Aisyah juga tengah mempertimbangkan berhenti mengajar: ingin mencari pekerjaan lain.

“Temanku bilang, katanya, jangan bayangkan jadi guru di sekolah (SMP) Muhammadiyah itu seperti di sekolah negeri tempatku ngajar. Katanya fasilitasnya oke, lingkungannya produktif, dan gajinya tentu jauh lebih manusiawi,” beber Aisyah.

Mendengar itu, Aisyah lantas menepis semua keraguan dalam dirinya. Dia lalu memantapkan hati menerima tawaran menjadi guru di sekolah (SMP) Muhammadiyah tersebut.

Hidup berubah drastis sejak jadi guru sekolah (SMP) Muhammadiyah

Aisyah menjadi guru di sebuah sekolah (SMP) Muhammadiyah itu sejak 2024 silam. Apa yang dikatakan oleh temannya tidak ada yang meleset.

Dia merasa lingkungannya jauh lebih produktif. Fasilitas belajar mengajar juga memadai. Itu membuatnya nyaman menjalani hari-hari sebagai seorang guru honorer.

“Lebih dari itu, ya soal gajinya. Karena jauh lebih manusiawi (Aisyah menyebut angka, tapi tak mau ditulis di sini),” ungkap Aisyah.

Aisyah ingat betul. Saat menerima gaji pertamanya, dia kaget dan bahkan sampai menangis. Sebab, satu tahun dia menjadi guru honorer di sekolah negeri, dia hanya menerima gaji sekecil Rp300 ribu perbulan. Tapi baru satu bulan mengajar di sekolah Muhammadiyah, gajinya sangat cukup bahkan lebih dialokasikan untuk banyak hal.

Kini Aisyah tidak hanya sekadar tidak kehabisan uang bensin. Dengan gaji dari menjadi guru di sekolah (SMP) Muhammadiyah, dia bisa menyisihkan untuk tabungan dan orangtua. Akhirnya dia bisa merasa berguna dan tak sia-sia.

“Sampai hari ini, tiap aku berangkat ke sekolah, aku sering berhenti di pintu gerbang. Menatap gedung sekolah Muhammadiyah-ku dengan haru dan takjub,” tutur Aisyah.

“Aku sering beranda-andai, coba saja guru honorer di manapu diperlakukan selayak yang dilakukan Muhammadiyah. Pasti berita-berita tentang guru honorer tak melulu tentang pesakitan,” pungkasnya.

Iklan

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Tak Mau Kuliah kalau Tak Dibelikan Motor Yamaha Aerox demi Gaya, Kini Hidup dalam Sesal dan Kekecewaan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 6 September 2025 oleh

Tags: gaji guru honorergaji guru sekolah muhammadiyahguru honorerguru muhammadiyahpilihan redaksisekolah muhammadiyahSMP Muhammadiyah
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO
Ragam

Sebagai “Alumni” KA Airlangga, Naik KA Taksaka Ibarat “Pengkhianatan Kelas” yang Sesekali Wajib Dicoba Untuk Kesehatan Mental dan Tulang Punggung 

30 Januari 2026
guru BK.MOJOK.CO
Ragam

Menjadi Guru BK Capek Mental dan “Tak Menghasilkan”, Memilih Resign dan Kerja Kantoran Meski Harus Mengubur Cita-Cita

29 Januari 2026
Kesedihan perantau yang merantau lama di Surabaya dan Jakarta. Perantauan terasa sia-sia karena gagal menghidupi orang tua MOJOK.CO
Ragam

Rasa Gagal dan Bersalah Para Perantau: Merantau Lama tapi Tak Ada Hasilnya, Tak Sanggup Bantu Ortu Malah Biarkan Mereka Bekerja di Usia Tua

29 Januari 2026
kentucky, rocket chicken mojok.co
Catatan

“Kentucky” Pinggir Jalan: Makanan Biasa-Biasa Saja yang Terasa Mewah, Menyadarkan Betapa Miskinnya Saya Dulu

29 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

fresh graduate dari UNPAD kerja di Jakarta. MOJOK.CO

Sering Ditolak Magang di Jakarta meski Bermodal Kampus Top, Ternyata “Life After Graduation” Memang Seberat Itu

28 Januari 2026
Menurut Ekonom FEB UGM, banyak pekerja Indonesia terpaksa overwork dan multiple jobs gara-gara persoalan jam kerja dan kelayakan upah MOJOK.CO

Overwork-Multiple Jobs: Keterpaksaan Pekerja demi Hidup dari Upah Tak Layak, Masih Tanggung Kesehatan Diri Sendiri Tanpa Jaminan

28 Januari 2026
ibu dua anak, SMA Internasional Budi Mulia Dua, sekolah islam yang tidak mewajibkan siswinya berjilbab.

Ibu Dua Anak Nekat Balik Masuk SMA Demi “Memutus Kemiskinan”, Cita-Cita Ingin Kuliah Kedokteran

29 Januari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Tawa yang Tidak Sepenuhnya Bercanda

Roasting Zainal Arifin Mochtar (Bagian 2): Strategi Biar Bisa Jadi Guru Besar

24 Januari 2026
Kalkulator untuk lansia merencanakan pensiun. MOJOK.CO

Lebih Baik Hidup Hemat Saat Muda agar Tak Jadi Beban Keluarga dan Bisa Berfoya-foya di Masa Tua

29 Januari 2026
Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

28 Januari 2026

Video Terbaru

Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

28 Januari 2026
Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

27 Januari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Tawa yang Tidak Sepenuhnya Bercanda

Roasting Zainal Arifin Mochtar (Bagian 2): Strategi Biar Bisa Jadi Guru Besar

24 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.