“Perceraian tidak selalu mencerminkan kegagalan cinta. Dalam banyak kasus, ia menjadi tanda bahwa ketahanan psikologis pasangan telah terkikis oleh tekanan hidup yang terlalu lama ditanggung tanpa bantuan,” ujar Psikolog sekaligus pengajar Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Marini.
***
Perceraian bukan perkara mudah. Ia menjadi jalan terakhir seseorang untuk mengakhiri hubungan setelah menjalin ikatan pernikahan. Maka, prosesnya pun terbilang ribet. Namun, hal itu tak menghalangi ribuan warga Surabaya menggugat cerai pasangan mereka.
Sepanjang tahun 2025, terdapat 4.469 perempuan dan 1.611 laki-laki mendatangi Pengadilan Agama (PA) Surabaya untuk menggugat cerai pasangan mereka. Dari total 6.080 kasus itu, hampir 95 persen permohonan dikabulkan oleh PA Surabaya.
Jika dibandingkan dengan tahun 2024, kasus perceraian di Surabaya meningkat sekitar 9,3 persen atau 4.087 permohonan dari pihak perempuan. Dan naik 3,5 persen atau 1.557 permohonan dari pihak laki-laki.
Humas PA Surabaya, Abdul Mustofa mengungkap pemicu utama dari perceraian tersebut adalah masalah ekonomi. Di mana, istri merasa suaminya tidak mampu memberikan penghasilan yang memadai atau enggan bekerja, sedangkan biaya kebutuhan hidup semakin besar.
Tekanan itulah yang memicu pertengkaran hingga berujung perceraian. Alasan lainnya disusul oleh masalah perselingkuhan, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
“Perekonomian memang akhir-akhir ini sedang tidak baik-baik saja. Perempuan merasa tidak mendapat nafkah cukup, pekerjaan susah, ujungnya melayangkan gugatan cerai,” ucap Abdul Mustofa dikutip dari Suara Surabaya, Jumat (30/1/2026).
Tekanan ekonomi memicu perceraian di Surabaya
Psikolog sekaligus pengajar Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Marini, menegaskan tekanan ekonomi dalam rumah tangga memicu dampak yang luas. Tak sekadar persoalan pendapatan, tapi sumber stres berkepanjangan yang secara perlahan menggerus ketahanan psikologis pasangan.
“Tekanan ekonomi yang berlangsung lama dapat memengaruhi kondisi emosi, cara berpikir, hingga pola interaksi dalam rumah tangga,” ujar Marini dikutip dari laman resmi UMSURA, Kamis (29/1/2026).
Marini menjelaskan stres karena persoalan ekonomi tidak bisa langsung hilang. Ia bakal menetap dan menguras energi psikologis individu. Dalam kondisi ini, seseorang menjadi lebih mudah tersinggung, sulit mengendalikan emosi, dan kehilangan kesabaran.
Sehingga memungkinkan empati pasangan ikut menurun saat berkomunikasi. Jika masalah ini tak segera diselesaikan, biasanya persoalan kecil pun bakal terus berlanjut.
Cinta tak lagi cukup menghidupi
Secara psikologis, tekanan ekonomi sering kali terbawa ke dalam relasi terdekat, yakni hubungan suami istri. Dua sejoli yang sebetulnya saling mencintai bisa terjebak dalam pola hubungan yang saling menyalahkan.
“Bukan karena hilangnya rasa sayang, melainkan karena kapasitas emosional yang telah terkuras,” ujar Marini.
Fenomena itu dikenal sebagai spillover effect, yaitu kondisi ketika tekanan dari luar hubungan memengaruhi kualitas interaksi di dalam hubungan. Masalah pun semakin palik jika dihubungkan dengan identitas diri, khususnya bagi laki-laki.
Anggapan bahwa laki-laki adalah pencari nafkah utama dalam keluarga sudah mengakar kuat dalam konstruksi sosial kita, termasuk di Surabaya. Ketika peran tersebut tidak terpenuhi, muncul perasaan gagal, rendah diri, dan tidak berdaya.
“Sayangnya, emosi tersebut sering tidak diungkapkan secara sehat, melainkan muncul dalam bentuk penarikan diri atau kemarahan yang sulit dijelaskan,” ucap Marini.
Sementara itu, perempuan cenderung menganggap masalah ekonomi sebagai ancaman dalam keluarga. Ia merasa takut tidak bisa menjalani kehidupan rumah tangga dengan stabil, serta cemas dengan masa depan anak mereka karena finansial yang tak pasti.
Perasaan cemas dan takut yang berlangsung lama menyebabkan kelelahan mental bagi perempuan. Oleh karena itu, ujar Marini, pernikahan tidak lagi dirasakan sebagai ruang perlindungan, melainkan justru menjadi sumber tekanan tambahan.
Tapi tak semua keluarga mapan hidup harmonis
Marini menekankan, dampak ekonomi sangat ditentukan oleh cara pandang pasangan memaknai masalah tersebut. Ketika individu merasa tidak memiliki sumber daya psikologis untuk menghadapinya, tekanan ekonomi berkembang menjadi krisis.
Mulai dari kemampuan coping yang menurun, merasa tak didukung oleh pasangan, dan pesimis menghadapi masa depan. Hal inilah yang menjelaskan mengapa tidak semua keluarga dengan kondisi ekonomi sulit berakhir dengan perceraian, dan tidak semua keluarga mapan di Surabaya hidup harmonis.
“Dalam praktiknya, alasan ‘masalah ekonomi’ sering menjadi permukaan dari persoalan yang lebih dalam, seperti komunikasi yang buntu, emosi yang tidak terkelola, dan kebutuhan psikologis yang tidak terpenuhi,” jelas Marni.
Ia menilai, meningkatnya angka perceraian seharusnya menjadi refleksi bersama bahwa persoalan keluarga tidak bisa dilihat semata dari sisi materi. Oleh karena itu, keluarga perlu memperkuat aspek psikologis, termasuk kemampuan pasangan dalam berkomunikasi, mengelola stres, serta saling mendukung.
Pemahaman itu, kata Marini, mestinya sudah terinternalisasi sejak pendidikan pranikah, layanan konseling keluarga, dan literasi kesehatan mental sebagai fondasi kuat menghadapi tekanan hidup modern. Hanya saja, masih kerap disepelekan.
“Tanpa fondasi tersebut, pernikahan menjadi rentan ketika dihadapkan pada krisis, termasuk krisis ekonomi,” kata Marini.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Dari Honorer Jadi Guru PPPK Langsung Pilih Cerai karena Gaji Suami Lebih Kecil, Lelah Fisik dan Mental atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













