Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Driver Grab Surabaya Sengak dan Nggak Asyik Diajak Ngobrol, Cuma Ramah ke Cewek Good Looking

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
16 Februari 2024
A A
Driver Grab Surabaya Sengak dan Nggak Asyik Diajak Ngobrol, Cuma Ramah ke Cewek Good Looking MOJOK.CO

Ilustrasi driver Grab Surabaya yang dituding cuma ramah ke cewek good looking. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sikap driver Grab Jogja membuat saya sempat mengalami culture shock. Pasalnya, sikap yang mereka tunjukkan pada penumpang—termasuk pada saya—belum pernah saya dapatkan dari driver Grab Surabaya.

***

Sebagai orang baru di Jogja yang masih buta dengan seluk-beluknya, saya lebih sering menggunakan jasa Grab untuk bepergian ke titik-titik tertentu. Biar lebih mudah.

Termasuk yang paling baru adalah akhir pekan lalu, Jumat, (9/2/2024)-Minggu, (11/2/2024), saat saya harus pergi-pulang dari kos teman saya di Nologaten ke Terminal Giwangan.

Pengalaman menggunakan jasa Grab Jogja benar-benar menyenangkan. Sepanjang perjalanan, driver Grab Jogja, menurut penilaian saya pribadi, sangat-sangat ramah. Kami berbincang tak habis-habis. Dari hal remeh hingga isu-isu serius.

Dan yang menjadi catatan saya adalah, perbincangan itu terjadi karena driver Grab Jogja yang memulai. Kalau obrolan terhenti sejenak, justru ia lah yang terkesan berupaya untuk mencari-cari bahan obrolan baru.

Bahkan, ketika titik penjemputan yang saya kirimkan kurang presisi. Driver Grab Jogja tampak tak menunjukkan kekesalan.

“Loh nggak apa-apa, Mas. Santai mawon,” ujarnya saat saya berulang-ulang bilang “Ngapunten, Pak (Mohon maaf, Pak)”.

Sementara dengan Grab Surabaya, duh, beberapa kali saya memiliki pengalaman tak menyenangkan.

Jawaban sengak padahal sudah minta maaf dan tanya baik-baik

Selama enam tahun di Surabaya, saya memang hanya beberapa kali saja pakai jasa Grab Surabaya. Namun, hanya dari beberapa kali itu saja, saya sudah mendapat pengalaman yang luar biasa menjengkelkan.

Salah satu yang paling saya ingat adalah pada Juli 2019 silam.

Saya baru saja mengikuti kegiatan Kemah Budaya Kaum Muda di Prambanan, Jogja. Lalu kembali ke Surabaya naik kereta dari Stasiun Tugu, Jogja turun di Stasiun Gubeng, Surabaya.

Meski lama di Surabaya, saya sebenarnya cukup asing dengan Stasiun Gubeng. Karena saya lebih sering bepergian dari dan ke Stasiun Wonokromo.

Maka, saat memesan Grab Surabaya, titik penjemputan yang saya kirim agak kurang presisi. Alhasil, ketika si driver sudah menemukan titik saya, saya langsung mendapat jawaban-jawaban luar biasa sengak.

Iklan

“Pak Anu (saya lupa namanya)?,” tanya saya, tentu dengan nada sehalus mungkin.

“Ya kamu lihat, dong, sama nggak dengan di aplikasi? Masih nanya,” jawab driver Grab Surabaya itu sengak.

“Mohon maaf nggeh, Pak,” ucap saya memohon maaf atas kekeliruan yang saya buat.

“Iya,” jawabnya ketus.

Waktu itu, saya mencoba memahami bahwa saya memang salah. Lebih-lebih, momen itu terjadi jam satu dini hari. Pastilah si driver Grab Surabaya itu sedang capek dan ngantuk-ngantuknya. Tapi harus tetap narik demi keluarga.

Namun, pengalaman tak menyenangkan itu ternyata masih berlanjut dalam beberapa kali saya pakai Grab Surabaya berikutnya.

Grab Surabaya tak bisa diajak ngobrol

Sebelum menulis tulisan ini, saya sempat merenung, apakah cuma saya saja yang punya persepsi demikian pada Grab Surabaya; yang memang tak seramah driver Grab Joga.

Lalu, satu nama muncul di kepala saya, Emma (25), kenalan saya di sebuah komunitas di Surabaya.

Kami memang jarang berkirim pesan di WhatsApp. Namun, dari story-story-nya, entah di WA atau di Instagram, saya tahu kalau Emma cukup sering gabut-gabut tiba-tiba sudah ada di Jogja. Untuk healing.

Saya pun lantas menghubunginya untuk mencari tahu, apakah ia punya perbandingan seperti saya soal driver Grab Surabaya dengan Grab Jogja.

“Nah, iya, aku kok pernah punya pikiran kayak gitu,” ujar Emma saat mendengar perbandingan dari saya seperti yang telah saya tulis di sub bab sebelumnya.

Driver Grab Surabaya Sengak dan Nggak Asyik Diajak Ngobrol, Cuma Ramah ke Cewek Good Looking MOJOK.CO
Ilustrasi driver Grab Surabaya. (Afif Ramdhasuma/Mojok.co)

Setiap hendak ke Stasiun Wonokromo untuk bepergian ke luar kota, Emma memang lebih sering pakai jasa Grab. Begitu pun nanti jika ia akan balik dari stasiun ke kos.

“Sulit menebak driver Grab Surabaya. Kadang nemu yang asyik, enak diajak ngobrol. Tapi lebih sering yang tanya cuma pas mau naik, ‘Atas nama Mbak Emma? Ke Stasiun Wonokromo ya, Mbak?’. Udah gitu saja. Sepanjang jalan diem-dieman,” lanjutnya.

Kadang kala Emma mengambil inisiatif untuk mengajak ngobrol duluan. Akan tetapi, obrolan tetap tak mengalir karena si driver Grab Surabaya hanya menjawab sekadarnya, tak memberi respon balik. Sehingga, obrolan mati, hanya satu arah.

Sementara sepengalamannya beberapa kali naik Grab Jogja, baru saja naik, si driver langsung mengajaknya berbincang ngalor-ngidul. Dan itu, menurut Emma, sangat menyenangkan. Keramahan yang sangat mahal.

Dirver muda Grab Surabaya asyiknya cuma ke cewek good looking

Emma menyebut, tidak semua driver Grab Surabaya tak asyik untuk diajak ngobrol. Kalau yang bapak-bapak, Emma maklum. Karena mungkin di sepanjang jalan, pikiran bapak-bapak Grab tersebut tengah melayang ke mana-mana; memikirkan nasib diri dan keluarga.

Sementera kalau driver muda, biasanya dari kalangan mahasiswa, menurut Emma umumnya asyik-asyik dan interaktif.

“Cuma, ini menurutku dan temen-temenku aja loh, ya, asyiknya cuma ke yang good looking,” ungkap Emma.

Kesimpulan itu Emma dapat setelah saling curhat dengan teman-teman tongkrongannya.

Emma bercerita, ia pernah mendapat driver mas-mas mahasiswa. Di sepanjang jalan antusias banget untuk ngajak Emma ngobrol.

Bahkan, saat menurunkan Emma pun, si mas-mas driver itu masih sempat-sempatnya minta akun IG dan bilang “Semoga ketemu lagi”, “Hati-hati, Mbak” sambil tersenyum yang dimanis-mansikan.

“Kalau temenku, karena ngerasa nggak good looking, meskipun dapet driver mas-mas ya tetap saja dianggurin, nggak ada obrolan,” kata Emma.

Atas testimoni-testimoni tersebut, ah saya merasa perlu untuk mengonfirmasi langsung ke driver Grab atau ojek online dari aplikasi lain di Surabaya.

Reporter: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Ojol Jogja Iri dengan Ojol Surabaya, Meski Dimusuhi Ojek Pengkolan tapi Aturan Lebih Menguntungkan

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 16 Februari 2024 oleh

Tags: grab surabayaJogjapilihan redaksisuabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

pendatang di jogja.MOJOK.CO
Urban

Nasib Menjadi “Pendatang” di Jogja: Selalu Disalahkan Atas Masalah yang Terjadi, padahal Menjadi Sumber Penghasilan Para Akamsi

18 Februari 2026
Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua MOJOK.CO
Esai

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua

18 Februari 2026
Jumanah pedagang jamu parem kendil di pasar jangkang Yogyakarta. MOJOK.CO
Sehari-hari

“Ngopag” ala Lansia: Menikmati Jamu Parem Kendil yang Sudah Berdiri Sejak Tiga Generasi di Pasar Jangkang Yogyakarta

17 Februari 2026
Ngekos setelah menikah, ngekos di jogja, kesehatan mental.MOJOK.CO
Sehari-hari

Memilih Ngekos Setelah Menikah daripada Tinggal Bareng Ortu-Mertua, Finansial Memang Empot-empotan tapi Kesehatan Mental Aman

16 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dating apps jadi pelarian menemukan pasangan untuk memulai hubungan baru

Mencari Kasih Sayang Semu di Dating Apps, Pelarian dari Kesepian dan Rasa Minder usai Sering Dikecewakan di Dunia Nyata

13 Februari 2026
pendatang di jogja.MOJOK.CO

Nasib Menjadi “Pendatang” di Jogja: Selalu Disalahkan Atas Masalah yang Terjadi, padahal Menjadi Sumber Penghasilan Para Akamsi

18 Februari 2026
ulus Kuliah Bingung Cari Kerjaan, Temukan “Jalan Terang” saat Jadi Pelatih Sepak Bola Putri untuk Hydroplus Soccer League  

Lulus Kuliah Bingung Cari Kerjaan, Temukan “Jalan Terang” saat Jadi Pelatih Sepak Bola Putri untuk Hydroplus Soccer League  

12 Februari 2026
Ngekos setelah menikah, ngekos di jogja, kesehatan mental.MOJOK.CO

Memilih Ngekos Setelah Menikah daripada Tinggal Bareng Ortu-Mertua, Finansial Memang Empot-empotan tapi Kesehatan Mental Aman

16 Februari 2026
Cerita perintis bukan bocil pewaris yang lulus SMK langsung bayar utang keluarga, pecel lele di jogja, omzet pecel lele. MOJOK.CO

Dihina Tetangga dan Teman karena Cuma Kerja Kasar dan Menempati “Kosan Bedeng” di Jogja, padahal Penghasilan Rp30 Juta Sebulan hingga Mampu Kuliahkan Adik

15 Februari 2026
Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)

Persahabatan Aneh dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

16 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.