Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Duduk di Kursi Indomaret Ternyata Juga bikin Orang Makin Nelangsa dan Iri Hati karena Standar Orang Lain

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
11 November 2025
A A
Dari Indomaret Point Jakal km 9, menguak fakta orang-orang yang merasa iri hati pada standar orang lain MOJOK.CO

Ilustrasi - Dari Indomaret Point Jakal km 9, menguak fakta orang-orang yang merasa iri hati pada standar orang lain. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ternyata tidak semua orang merasa refresh ketika duduk di kursi besi Indomaret. Tapi justru kerap merasa nelangsa dan iri hati ketika mendapati pemandangan manusia-manusia yang berlalu lalang. Persepsi tersebut saya dapat ketika suatu malam duduk di Indomaret Point Jalan Kaliurang (Jakal) km 9.

***

Indomaret Point Jakal km 9 memberi sudut nongkrong yang lebih oke ketimbang deretan Indomaret di sepanjang Jalan Kaliurang. Itu lah kenapa gerai di Jakal km 9 itu nyaris tak pernah sepi dari lalu lalang manusia dan kendaraan yang masuk-keluar. Apalagi ia buka 24 jam.

Pada suatu malam, dengan segelas kopi dan sebungkus rokok, ketika duduk-duduk sendiri di sana, awalnya saya sibuk membaca laporan-laporan dari beragam media. Lalu sebaris kalimat melintas di telinga kiri saya dari dua pasang pemuda yang duduk tidak jauh dari kursi saya di Indomaret Point Jakal km 9 itu.

“Wong-wong moro Indomaret wae nganggo Alphard, Bro. Dewe kudu kerja model piye maneh ya ben iso tuku (Orang-orang ke Indomaret saja pakai Alphard, Bro. Kita harus kerja model bagaimana lagi ya biar bisa beli),” ujar satu dari mereka. Lalu mereka tertawa-tawa, sebelum akhirnya pergi berlalu dari Indomaret Point Jakal km 9, meninggalkan asbak berisi berbatang-batang rokok dan dua botol kopi murah.

Dari situ lalu saya melakukan jajak pendapat ke lima orang. Tiga antaranya mengaku memiliki persepsi yang mirip dengan dua pemuda tadi. Alih-alih bisa meredakan kemelut di kepala, duduk di kursi besi Indomaret—terlebih di gerai besar seperti Indomaret Poin Jakal km 9—justru membuat mereka merasa semakin nelangsa terhadap nasib sendiri dan menumbuhkan rasa iri hati.

Lalu lalang mobil di Indomaret, hal biasa tapi bikin nelangsa dan iri hati

Dua dari tiga narasumber Mojok mengaku kerap kali muncul perasaan iri tiap melihat mobil-mobil yang masuk-keluar Indomaret. Perasaan itu muncul tiba-tiba. Padahal sebelumnya, ketika mereka menyusuri jalan raya—yang tentu bersinggungan dengan beragam jenis kendaraan—mereka biasa saja.

Ada beberapa kalimat yang melintas di kepala ketika melihat mobil-mobil pribadi masuk-keluar Indomaret:

  1. “Kapan ya bisa beli mobil sendiri?”
  2. “Dengan gaji di bawah UMR kayak sekarang, kayaknya nggak bakal kebeli deh mobil itu. Buat makan aja susah.”
  3. “Enak kali ya jadi orang kaya, ke mana-mana naik mobil.”

Bayangan mereka pun tidak berhenti pada konteks diri sendiri saja. Tapi juga membayangkan orang tua mereka masing-masing.

Seandainya jadi orang kaya, pasti bisa bahagiakan orang tua. Seandainya punya mobil sendiri, pasti enak bisa ajak jalan-jalan keluarga.

Kok bisa orang punya pacar, romantis lagi

Sementara satu dari narasumber Mojok mengaku kerap tiba-tiba merasa iri hati ketika melihat sepasang muda-mudi di Indomaret. Entah yang nongkrong berdua di kursi, atau sekadar beli sesuatu lalu pergi (dengen berboncengan motor).

Rasa iri itu didorong lantaran si narasumber Mojok merasa sering bertepuk sebelah tangan. Alhasil, yang muncul adalah insecuritas: Merasa tak pantas mencintai dan dicintai.

Insecuritas yang muncul bermacam-macam. Mulai dari penampilan diri hingga yang paling besar adalah kesadaran perihal kondisi ekonomi.

“Kalau mau dapat pacar cantik, mesti kudu punya kantong tebel. Sementara pekerjaan ya gitu-gitu aja,” begitu kata si narasumber Mojok.

Iklan

Alhasil, si narasumber Mojok hanya bisa iri ketika melihat dua pasang muda-mudi saling brbuat romantis satu sama lain. Misalnya, sesimpel si cowok memasangkan helm di kepala ceweknya. “Sederhana, tapi aku nggak bisa.”

Iri hati sama “pekerja-pekerja necis” yang mampir Indomaret

Tiga narasumber Mojok, yang kesemuanya adalah pekerja bergaji rendah, sama-sama mengaku iri tiap berpapasan dengan “orang-orang necis”. Maksudnya adalah para pekerja di kantor-kantor besar.

Mereka umumnya berpakaian rapi, sepatu bagus, dan kalau nongkrong di Indomaret pasti obrolannya tidak jauh-jauh dari investasi dan istilah-istilah perkantoran yang sulit narasumber Mojok mengerti.

Tiga narasumber Mojok itu: Dua pekerja swasta bergaji rendah, satunya lagi driver ojek online (ojol). Tak pelak jika mereka merasa iri dengan pekerja-pekerja kantoran dengan status sosial dan ekonomi di atas mereka. Dari situ lantas muncul beragam penyesalan dan rutukan atas nasib sendiri:

  1. Menyesal lahir bukan dari keluarga berada.
  2. Menyesal karena tidak punya kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi—dengan potensi pengembangan karier—karena keterbatasan ekonomi.
  3. Merutuki takdir yang tidak berpihak baik pada diri sendiri
  4. Mempertanyakan doa-doa yang kerap dilangitkan, yang rasanya tak banyak yang dikabulkan.
  5. Sedih membayangkan masa lalu: Punya mimpi besar tapi mimpi-mimpi tersebut ternyata tak terwujud.

Hasrat memiliki dan kekurangan diri

Dalam jurnal “Relative Deprivation: A Theoretical and Meta-Analytic Review”, Heather J. Smith, Thomas F. Pettigrew, Gina M. Pippin, dan Silvana Bialosiewicz, menyebut perasaan iri yang dibahasakan sebagai deprivasi relatif merupakan gejala psikologi sosial ketika seseorang melakukan perbandingan sosial secara subjektif atas diri sendiri dengan orang lain karena standar tertentu.

Ketika seseorang merasa tidak memenuhi standar relatif tertentu yang berlaku—misalnya, standar sukses adalah dengan punya mobil—maka sacara psikologis ia akan meresponsnya dengan perasaan-perasaan tak menyenangkan (marah, kecewa, menyesal, hingga putus asa).

Hyunji Min dkk dalam “Social Comparison, Personal Relative Deprivation, and Materialism” menilai deprivasi relatif sebenarnya merupakan kecenderungan bawaan manusia:

  1. Kecenderungan menilai kepemilikan mereka dengan membandingkan diri dengan orang lain.
  2. Materialisme: menjadikan materi sebagai tujuan hidup utama sekaligus meyakini bahwa kepemilikan materi akan membawa kebahagiaan, kesuksesan, atau citra diri yang lebih baik.

Sejumlah pakar menekankan betapa kecenderungan ini harus diantisipasi. Pasalnya, merujuk “Relative Deprivation and Individual Well-Being“ oleh Xi Chen, ada beragam dampak buruk dari kecenderungan deprivasi relatif alias iri hati, antara lain:

  1. Memengaruhi kesehatan mental
  2. Menurunkan kebahagiaan dan kepuasan hidup
  3. Menurunkan kualitas hidup
  4. Memicu aktivitas negatif

Dalam konteks agama Islam, iri hati menjerumuskan seseorang pada kondisi kufur nikmat, dan itu tidak sejalan dengan syariat Nabi Muhammad Saw.

Ada beragam kajian akademis perihal cara-cara efektif untuk mengantisipasi kecenderungan deprivasi relatif. Namun, saya menemukan cara pandang menarik dari KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha): “Kalau untuk bahagia kamu harus nunggu punya mobil mewah, uang banyak, kamu tidak akan pernah bahagia.”

Sementara dalam falsafah hidup Jawa ada “Urip iki mung sawang sinawang”, sebagai cara hidup untuk fokus mensyukuri nikmat dalam diri sendiri tanpa mengukurnya atau membandingkannya dengan orang lain.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Sisi Lain Rajin Tilik (Menjenguk Orang), Menanam Investasi di Balik Tradisi dan Rasa Peduli atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

 

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 12 November 2025 oleh

Tags: Indomaretindomaret jakalindomaret jakal km 9indomaret jogjaindomaret pointjakaljakal km 9jalan kaliurangkursi besi indomaretpilihan redaksi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

alfamart 24 jam.MOJOK.CO
Ragam

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO
Ragam

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO
Kuliner

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO
Esai

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas, Pemutar Ekonomi Bangsa MOJOK.CO

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa

13 Januari 2026
Mobilitas bus pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi Kawasan Sumbu Filosofi (KSF) dan tata kelola di Jogja MOJOK.CO

Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata

10 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
14 juta pekerja terima gaji di bawah UMP/UMK, sebagian besar dari kalangan lulusan perguruan tinggi (sarjana) MOJOK.CO

Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja

9 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.