Kalau waktu bisa diulang, satu hal yang ingin Rio (26) ubah: kuliah dengan serius, sehingga bisa lulus tepat waktu. Ya, terdengar tidak muluk-muluk. Namun, nyatanya, lulus molor menjadi hambatan terbesarnya untuk mendapatkan pekerjaan.
Rio lulus S1 di usia 25 tahun. Bagi sebagian orang, ini biasa-biasa saja. Namun, bagi dia, ini adalah seburuk-buruknya nasib.
“Soalnya, aku dianggap terlalu tua kalau dibandingin fresh graduate lain yang rata-rata usia 21-23 tahun,” ujarnya kepada Mojok, Selasa (27/1/2026) malam. “Tapi aku juga dipandang minim pengalaman, yang bikin ditolak kerja.”
Menyepelekan ngulang mata kuliah
Rio masuk kuliah di usia 18 tahun pada 2018 lalu. Ia masuk ke sebuah PTN di Jogja via jalur SBMPTN (sekarang bernama SNBT).
Ia mengaku selama SMA sebagai siswa biasa-biasa saja. Disebut pintar, nggak. Tapi kalau dianggap bodoh, juga nggak. Ia lolos seleksi PTN di pilihan ketiga, yang mana itu jurusan yang sama sekali tak masuk perhitungannya.
“Kayak mas-mas biasa pada umumnya, lah,” akunya. “Jadi kadang kepikiran, lolos SBMPTN itu hoki gede aja.”
Rio tak pernah menyesali keputusannya buat kuliah. Toh, orang tua mendukung penuh. Ia juga tak menyesal masuk kuliah di jurusan pilih ketiga.
Yang ia sesali, adalah “gaya hidupnya” yang seolah menyepelekan perkuliahan. Misalnya, ia kerap bolos kuliah tanpa alasan yang jelas–padahal lebih banyak begadang dan nongkrong. Juga sering tidak mengerjakan tugas dengan alasan sibuk di organisasi.
Hingga, pada akhirnya, banyak mata kuliah pun harus diulang. Padahal, kalau mendengar cerita teman-teman kelas, dosen di mata kuliah tersebut gampang memberi nilai cuma dengan syarat mahasiswa rajin masuk kelas–alias nggak kudu pintar-pintar banget.
“Tapi banyak mata kuliah ngulang, bahkan semester satu pun beberapa sudah ngulang,” ungkapnya.
Habis alasan ke orang tua karena kuliahnya begitu molor
Sampai-sampai, memasuki tahun keempat kuliah, orang tua sudah menanyakan perihal kelulusannya. Padahal, ia merasa perjalanannya masih jauh.
Boro-boro lulus kuliah, bebas teori saja belum, kata dia. Bagaimana mau bebas teori kalau tiap semester ada saja satu atau dua mata kuliah yang mengulang. Kira-kira begitu omelannya.
“Kadang kesel juga ditanya lulus, waktu itu,” kata dia.
Namun, Rio juga merasa kalau pertanyaan orang tuanya sebenarnya wajar. Sebab, saat itu, sudah banyak teman-teman seangkatannya yang lulus, atau sidang. Ya, mereka lulus tepat waktu, bahkan ada juga yang lulus 3,5 tahun.
“Ya kataku wajar sih orang tua nanyain terus. Kan mereka juga yang bayar kuliah. Pasti merasa ada beban kalau anaknya nggak lulus-lulus.”
Sekalinya lulus, bikin ortu bangga, tapi ditampar kenyataan dunia kerja
Dengan semua dinamika yang dijalani, Rio akhirnya bisa lulus pada pertengahan 2025 lalu. Ia lulus di masa-masa yang sudah mentok: 7 tahun alias 14 semester. Lebih dari itu ia bisa DO.
“Bayangin aja, di saat teman-teman seangkatanku mungkin lulus kuliah di usia 23, 22, bahkan ada yang masih 21 tahun dah lulus, aku lulus di usia 25 tahun,” ujarnya.
Awalnya, Rio merasa bakal aman-aman saja buat memasuki dunia kerja. Toh, banyak kok teman-temannya yang baru masuk dunia kerja di usia 26 bahkan 27 tahun. Nggak ada kata terlambat, kata dia.
Masalahnya, ia tak memiliki bekal dan pengalaman apa-apa di dunia kerja. Paling mentok, ia pernah magang. Sama sekali belum pernah kerja, bahkan freelance sekalipun.
Hal inilah, yang kata Rio, mempersulitnya masuk dunia kerja. Beberapa email lamaran yang ia kirim, tak ada balasan. Sementara saat cari kerja modal relasi, jawaban yang dia dapatkan selalu sama: kantor mencari fresh graduate yang masih berusia 21-23 tahun. Atau, kalaupun bukan fresh graduate, mereka memprioritaskan yang sudah punya pengalaman kerja paling tidak dua tahun.
Sedangkan situasi Rio, secara “harafiah” ia adalah fresh graduate karena baru saja lulus. Namun, secara usia, sudah tak “fresh” lagi. Apalagi, kalau bicara pengalaman kerja; meski usianya sudah 25, pengalaman masih nol.
“Di satu sisi, aku muak banget sama iklim ketenagakerjaan kita yang diskriminatif banget sama usia. Tapi di sisi lain, aku merasa salahku juga karena lulusnya kelamaan.”
Dunia kerja sedang tidak baik-baik saja
Masalah pelik yang dialami Rio ini juga dirasakan orang lain di luar sana. Di media sosial, terutama X dan Threads, banyak yang mengeluhkan kondisi baru lulus kuliah (status fresh graduate) tapi usianya sudah tidak lagi “fresh” di mata HRD. Misalnya, 24 atau 25 tahun.
Salah satu narasumber di Threads yang Mojok hubungi adalah Nina (bukan mana sebenarnya). Situasinya sama seperti Rio, ia baru lulus kuliah di usia 25 tahun. Bedanya, kelulusan Nina molor lantaran dia sibuk kerja untuk membiayai kuliah dan keluarganya.
Alhasil, ia memutuskan beberapa kali cuti untuk kerja sampingan. Karena sibuk kerja itulah kuliahnya jadi tercecer.
“Masalahnya, pengalaman kerja freelance atau sampingan itu nggak pernah dilihat HRD sebagai pengalaman kerja formal. Ya mereka sudut pandangnya final, melihat kandidat dari usia. Kalau fresh graduate harus muda, kalau tua berarti harus berpengalaman, titik,” kata Nina.
Mojok sendiri pernah membuat liputan berjudul “Overqualified tapi Underutilized, Generasi yang Disiapkan untuk Pekerjaan yang Tidak Ada”. Pada salah satu bagian liputan tersebut, dijelaskan sebuah fenomena kiwari di mana serapan tenaga kerja kian menurun, salah satunya, akibat subsektor manufaktur mengalami penurunan kapasitas serap tenaga kerja.
Kata Tongam S. Nababan, dalam liputan tersebut, penurunan ini tidak hanya mengindikasikan perlambatan industri, tetapi juga perubahan karakter pekerjaan di dalamnya: banyak lini produksi mulai mengadopsi otomasi, peralatan berteknologi tinggi, dan sistem digital yang mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia.
Akibatnya, sektor yang dulu menyerap lulusan baru dalam jumlah besar–mulai dari teknik, manajemen, hingga administrasi–tidak lagi mampu menampung angkatan kerja baru dengan skala yang sama seperti satu dekade lalu.
Namun, itu adalah satu salah satu faktor struktural. Dalam lubuk hati terdalam, Rio masih menganggap bahwa masalahnya terletak pada dirinya tidak serius kuliah sehingga telat lulus.
“Ya, pokoknya kalau waktu bisa diulang, keinginanku cuma memperbaiki kuliahnya biar bisa lulus tepat waktu. Tapi itu nggak mungkin lah ya,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Lulus S1 “Jurusan Bisnis” di PTS Terbaik, Malah Dimaki Tetangga: Ilmunya Nggak Guna dan Cuma Jadi Aib Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














