Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

5 Kultur Demo di Jogja yang Bikin Kaget Mahasiswa Surabaya, Jadi Pelajaran Penting dan Berharga

Alya Putri Agustina oleh Alya Putri Agustina
24 Agustus 2024
A A
Demo di Jogja kawal putusan MK sekaligus lawan dinasti politik Jokowi bikin mahasiswa UNAIR Surabaya kagum MOJOK.CO

Ilustrasi - Demo di Jogja kawal putusan MK sekaligus lawan dinasti politik Jokowi bikin mahasiswa UNAIR Surabaya kagum. (Eko Susanto/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Demo di Jogja dalam “Jogja Memanggil” mengawal putusan MK dan perlawanan atas dinasti politik Jokowi membuat saya, mahasiswa asal UNAIR Surabaya merasa agak terkejut.

Sebagai mahasiswa UNAIR Surabaya yang terlibat dalam organisasi pergerakan kampus, saya cukup sering mengikuti aksi unjuk rasa. Baik demonstrasi atau aksi simbolik.

Meski begitu, ketika untuk pertama kalinya turun ke jalan ikut demo “Jogja Memanggil” pada Kamis (22/8/2024) lalu, saya benar-benar merasa terkejut dan terkagum-kagum. Ternyata iklim gerakan di Kota Pelajar beda dengan yang pernah saya rasakan selama tiga tahun menjadi–ya sebut saja–aktivis kampus.

#1 Massa  aksi demo di Jogja melebur jadi satu

Hal paling pertama yang menyita perhatian saya siang itu, ketika menyusul massa aksi yang tengah bergerak dari Jalan Malioboro menuju Titik Nol Kilometer, adalah penampilan para peserta aksi.

Semua hitam. Tak ada almamater warna-warni (yang menunjukkan peserta aksi dari kampus mana). Dan sejauh pengamatan saya, sangat minim saya jumpai bendera simbol organisasi kampus. Khususnya organisasi ekstra (ormek).

Mayoritas kompak membentangkan spanduk atau poster bernarasi perlawanan. Kalau ada bendera, yang banyak terlihat adalah bendera merah putih.

Saya kagum karena demo di Jogja tersebut seolah memang bukan untuk unjuk eksistensi alias gagah-gagahan antar organisasi kampus atau antar kelompok mana. Tapi fokus pada tujuan yang sama: melawan dinasti politik yang coba dibangun oleh Jokowi.

Rakyat Kecil Kawal Putusan MK Melalui Demo di Jogja, Kecewa dengan Jokowi MOJOK.CO
Rakyat kecil ikut demo di Jogja kawal putusan MK, tanda kecewa dengan dinasti politik Jokowi. (Aly Reza/Mojok.co)

Menurut Sali (21), mahasiswa UNAIR Surabaya yang pernah aktif di Kementerian Kajian Isu dan Aksi Strategis (Kastrat) di fakultasnya menerangkan, sebenarnya misalnya ada aksi demo yang mahasiswanya menggunakan almamater kebanggan, itu bukan berarti dalam rangka unjuk eksistensi.

Meski tentu ada juga yang berpikir demikan (punya kepentingan eksistensi). Namun, terutama sekali adalah untuk misi pengamanan.

“Penggunaan almamater ini buat penjagaan aja sih, dan upaya mempermudah controlling,” jelasnya, Jumat (23/8/2024) sore WIB.

Penjagaan yang ia maksud adalah pencegahan masuknya “penyusup” atau provokator yang bukan bagian dari masa aksi. Meskipun tidak dimungkiri juga kerap ada penyusup atau provokator yang pinjam almamater suatu universitas.

Nah, inilah kekaguman lain saya (selaku mahasiswa Surabaya) pada demo kawal putusan MK di Jogja. Tidak ada ketaukan semacam itu. Karena semua berusaha saling jaga.

#2 Ruang yang inklusif

Ketika tengah kumpul di Lapangan Parkir Abu Bakar Ali (ABA), beberapa saat sebelum parade massa demo di Jogja menuju Titik Nol Kilometer, hati saya tersentuh pada orasi seorang orator dari sebuah mobil komando.

Dari corong suara, terdengar seruan seorang perempuan agar memberi ruang aman bagi kelompok rentan: anak-anak, orang tua, perempuan, hingga kawan-kawan disabilitas.

Iklan

Dengan mata kepala saya sendiri, siang itu saya melihat massa aksi yang berangkat dari berbagai latar belakang kelas, usia, dan gender.

Dalam kesempatan tersebut, mengikuti wartawan muda yang menjadi mentor magang saya di Mojok, saya berbincang dengan Faris (34). Ia menarik perhatian kami karena ia dengan tanpa rasa cemas menggandeng sang anak (usia TK) di tepian massa demo di Jogja yang mulai bergerak.

“Saya sudah beberapa kali ajak anak kalau ada demo di Jogja. Semuanya baik-baik saja, nggak pernah ada gimana-gimana,” ujar Faris.

“Ini juga sebagai cara saya mendidik anak saya sedari dini, kalau misalnya ada demo seperti ini, berarti ada masalah genting,” sambungnya.

Di luar urusan itu, Faris merasa harus turun ke jalan karena ia juga sudah tak tahan dengan Jokowi. Seseorang yang terlihat kalem dan lugu, tapi ternyata sangat mengerikan.

Baca halaman selanjutnya…

Cara demo yang semestinya ditiru mahasiswa Surabaya

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 25 Agustus 2024 oleh

Tags: demo di jogjadinasti politikJogjajogja memanggiljokowimahasiswa surabayapolitik dinastiputusan mkrektor uiiSurabayaunair
Alya Putri Agustina

Alya Putri Agustina

Artikel Terkait

mahasiswa autis Fakultas Peternakan UGM. MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Autis UGM Sulit Berinteraksi Sosial, tapi Buktikan Bisa Lulus usai 6 Tahun Lebih dan Buka Usaha Ternak Kambing di Kampung Halaman

20 Mei 2026
Babi, Anjing, dan Pink Floyd Versi Cadas yang Lahir dalam Wujud Perempuan Bernama Gabriëlle.MOJOK.CO
Sosok

Babi, Anjing, dan Pink Floyd Versi Cadas yang Lahir dalam Wujud Perempuan Bernama Gabriëlle

20 Mei 2026
Jogja berbenah saat Jakarta alami kemunduran. MOJOK.CO
Urban

25 Tahun Adu Nasib di Jakarta sebagai Orang Gila Kerja, Ternyata Hidup Lebih Waras Saat Pindah ke Jogja

20 Mei 2026
Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO
Urban

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Melalui Seminar Literasi di Pesta Buku Jogja, IKAPI DIY dorong Yogyakarta jadi Ibu Kota Buku UNESCO karena punya ratusan penerbit MOJOK.CO

Jogja dan Produksi Pengetahuan Lewat Ratusan Penerbit Buku, Modal Jadi Ibu Kota Buku UNESCO

16 Mei 2026
Mahasiswa dapat beasiswa KIP Kuliah bohongi orang tua demi uang saku dobel MOJOK.CO

Dapat Beasiswa KIP Kuliah Jalur FOMO, Bohongi Ortu biar Dobel Uang Saku karena Gaya Hidup Tak Cukup Rp750 Ribu

20 Mei 2026
mahasiswa autis Fakultas Peternakan UGM. MOJOK.CO

Mahasiswa Autis UGM Sulit Berinteraksi Sosial, tapi Buktikan Bisa Lulus usai 6 Tahun Lebih dan Buka Usaha Ternak Kambing di Kampung Halaman

20 Mei 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Janji Bodong Revolusi Industri: Aplikasi AI Mulai Membantai Pekerja Kreatif Lokal MOJOK.CO

Janji Bodong Revolusi Industri: Aplikasi AI Mulai Membantai Pekerja Kreatif Lokal

18 Mei 2026
Pekerja Jakarta, WFH, kerja sesuai hobi.MOJOK.CO

Kerja Sesuai Hobi Bikin Menderita: Kita Jadi Tak Lagi Punya Tempat Menenangkan Pikiran Saat Muak dengan Pekerjaan

18 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.