ADVERTISEMENT

5 Kultur Demo di Jogja yang Bikin Kaget Mahasiswa Surabaya, Jadi Pelajaran Penting dan Berharga

Demo di Jogja kawal putusan MK sekaligus lawan dinasti politik Jokowi bikin mahasiswa UNAIR Surabaya kagum MOJOK.CO

#3 Demo di Jogja (diupayakan) berlangsung damai

Sejak awal demo “Jogja Memanggil” orator dari mobil komando memang sudah berulang kali menyerukan kalau aksi hari itu adalah “aksi damai”. Dan itu bukan sebatas slogan belaka.

Karena hingga menjelang petang, demo berlangsung dengan tanpa huru-hara atau aksi anarkis: aman, kondusif, massa aksi pulang dengan tenang.

“Wah, sepengalamanku di Surabaya, peserta demonya sering chaos dan rusuh sendiri. Padahal, antar sesama peserta aksi lho, ini, bukan dengan aparat,” keluh Rama (24), mantan mahasiswa Surabaya yang siang itu juga ikut demo di Jogja.

Paling baru, Sali, Kastrat di salah satu fakultas di UNAIR Surabaya yang terlibat aksi “Jatim Menggugat” Jumat (23/8/2024) bercerita, aksi di Kota Pahlawan tersebut juga sempat chaos. Bukan sebab bentrok dengan aparat, tetapi antar peserta aksi sendiri.

Tapi baik Rama maupun Sali tidak bisa memastikan, apakah itu memang bentrok antar peserta aksi sendiri, atau jangan-jangan ada “penyusup” yang menjadi provokator.

#4 Solidaritas yang terbangun

Dalam aksi demo “Jogja Memanggil” melawan dinasti politik Jokowi, saya jadi paham bahwa masyarakat di Jogja terutama mahasiswa telah terdidik untuk aksi lewat sejarah “pembiasaan” yang panjang. Hal ini saya dapat dari penuturan Ahmad (27), salah seorang massa aksi yang memang suka membaca buku-buku sejarah.

“Dari masa reformasi 1998 lalu, tentu, dan kembali menguat di momen “Gejayan Memanggil” 2019 kemarin. Momen ini berhasil menyatukan berbagai elemen sipil—mahasiswa, buruh, seniman, aktivis lingkungan, aktivis gender, dan kelompok-kelompok lain di Jogja dengan berbagai ideologinya—ke dalam satu barisan aliansi yang dinamakan Aliansi Rakyat Bergerak (ARB),” jelasnya.

Aliansi ini yang kemudian membangun gerakan terstruktur satu komando di Jogja pada momen-momen berikutnya. Namun penyatuan itu, tak lantas membikin organisasi-organisasi di dalamnya jadi “manut” titah aliansi begitu saja.

Rakyat Kecil Kawal Putusan MK Melalui Demo di Jogja, Kecewa dengan Jokowi MOJOK.CO
Massa demo di Jogja membentangkan spanduk berisi kritik dan kekecewaan pada DPR yang hendal “begal” putusan MK. (Aly Reza/Mojok.co)

“Dalam penentuan gerak, aliansi tetap mengakomodasi suara dari tiap organ dalam diskusi terbuka, untuk kemudian mencari jalan yang dikehendaki oleh semua,” terang Ahmad.

Banyak sorotan tertuju pada “Gejayan Memanggil” sebab kesuksesannya sebagai suatu gerakan sosial. Artikel, jurnal, bahkan skripsi beramai-ramai membahasnya sebagai kajian mendalam.

Aliansi Rakyat Bergerak ini memungkinkan gerakan di Jogja jadi berumur panjang. Sebab, setidaknya, ia menjembatani hal-hal ini:

  1. Jaringan solidaritas yang kuat antar organisasi di dalamnya
  2. Skema aksi yang lebih tersistematis dan tak terpecah
  3. Pemetaan keamanan lebih siap dan mapan dari sebelumnya—ketika masing-masing organisasi masih bergerak terpisah.

#5 Iklim akademik Jogja sangat mendukung

Selain solidaritas aliansi, iklim akademik juga jadi pengaruh: dosen ambil peran penting dalam hal ini. Ahmad menyebut, di beberapa kelas, dosen-dosen universitas di Jogja justru mewajibkan mahasiswa untuk turun (demo). Herlambang Wiratman dosen Fakultas Hukum UGM jadi salah satunya. Banyak media sudah memberitakannya.

Di aksi demo “Jogja Memanggil”, saya melihat sendiri Fathul Wahid, Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) berorasi dan membacakan puisi di mobil komando.

Tak hanya rektor, para dosen yang berjumlah lebih dari 100 orang turut turun dan melebur dengan massa aksi. Sesuatu yang sepertinya sudah jadi hal biasa di Jogja.

rektor UII.MOJOK.CO
Rektor UII ditemui wartawan (Hammam/Mojok.co)

“Ini aksi yang ingin menyuarakan suara jernih dari Jogja. Untuk mengingatkan penguasa, penyelenggara negara yang tampaknya beberapa bulan terakhir sudah agak kelewatan,” ujar Fathul kepada awak media yang mengerumuninya usai orasi.

Dalam demo di Jogja, saya menyaksikan sendiri ketika para petinggi kampus–macam Herlambang atau Fathul–tak mau diam saja meskipun sebenarnya mereka sudah dalam “situasi nyaman”. Mereka turun bersama kami, berpanas-panasan, menyulut api perlawanan pada ia–atau mereka–yang hendak mengambil alih negara ini menjadi dinasti politik kroninya sendiri

Penulis: Alya Putri Agustina
Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Ternyata Cak Nun Benar Perihal Jokowi Firaun

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

 

 

Terakhir diperbarui pada 25 Agustus 2024 oleh .

Alya Putri Agustina

Kontributor aktif media opini dan satir.