Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Budaya “Jatah Ciu” kepada Pemuda Desa Dianggap Manifestasi Srawung, tapi Tak Cocok Untuk Semua Orang

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
6 Januari 2026
A A
Budaya “Jatah Ciu” kepada Pemuda Desa Dianggap Manifestasi Srawung, tapi Tak Cocok Untuk Semua Orang MOJOK.CO

Ilustrasi Budaya “Jatah Ciu” kepada Pemuda Desa Dianggap Manifestasi Srawung, tapi Tak Cocok Untuk Semua Orang (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Budaya “jatah ciu” kepada pemuda desa, biasanya diberikan ketika seorang warga menggelar hajatan, dianggap sebagai manifestasi dari srawung. Namun, ia tak selalu cocok bagi semua orang. Penuh pro dan kontra.

***

Di banyak desa, ada sebuah tradisi unik (atau nyeleneh): ketika seorang warga menggelar hajatan, baik khitan atau nikahan, mereka wajib memberi jatah miras kepada para pemuda. Tradisi ini tak diketahui kapan pertama kali muncul. 

Yang jelas, memberi miras dianggap sebagai ungkapan “terima kasih” kepada pemuda desa yang secara sukarela telah membantu acara hajatan dalam bentuk sinoman. Pendeknya, ia disebut sebagai manifestasi srawung seorang warga.

Saya sendiri menyaksikan tradisi ini ketika pernikahan adik perempuan saya akhir 2024 lalu. Saat itu, pihak keluarga telah “mengalokasikan” dana hingga Rp2 juta untuk membeli beberapa botol ciu, miras versi murah di desa.

Nantinya, ciu-ciu bakal dinikmati oleh para sinoman, yang umumnya terdiri dari para pemuda desa anggota karang taruna. Meski dalam hati terasa agak janggal, saya tak bisa menolak keputusan ini karena sudah dianggap sebagai tradisi.

“Kalau nggak dijalani, takutnya dipandang buruk sama pemuda desa, karena umumnya memang begini,” kira-kira begitu jawaban yang saya dapatkan ketika coba menanyakan mengapa kami harus keukeuh menjalankan tradisi ini.

Habis Rp3 juta buat jatah ciu, pemuda desa merasa dipalak

Hal serupa dialami Eka (28) pada 2023 lalu. Saat itu, ia akan menjalani pernikahan. Sebagaimana umumnya di desa, saat mengadakan hajatan pernikahan, warga lain bakal bondong-bondong membantu. Dalam istilah Jawa, tradisi ini disebut rewang.

Tugas mereka biasanya dibagi rata. Kalangan ibu-bu biasanya memasak, bapak-bapak mengurus distribusi minuman, snack, dan bahan makanan, sementara para kejatah bagian nyinom, menyajikan makanan bagi para tamu.

“Senangnya hidup di desa begini, semua membantu memberikan tenaganya,” kata perempuan yang pernah berkuliah di Jogja itu, Senin (5/1/2026).

Namun, beberapa hari sebelum hari H pernikahan, kakak laki-lakinya memperingatkannya untuk mengalokasikan sedikit anggaran untuk “jatah ciu”. Mendengar itu, ia pun kaget. Sebab, jatah ciu dianggap sebagai hal yang tak masuk akal.

“Ya aku kalau ada tetangga hajatan ikut rewang, nyinom. Tapi nggak tahu kalau ada tradisi begini-begini sebelumnya,” ungkapnya.

Lebih kaget lagi ketika ia tahu nominal yang harus dikeluarkan. Setelah berhitung bersama keluarganya, dengan mempertimbangkan harga “miras yang pantas” dan jumlah sinoman yang mencapai 30-an orang, angkanya bisa mencapai Rp3 juta.

Baginya, ini angka yang besar. Daripada untuk membeli minuman keras, kata Eka, akan lebih bermanfaat kalau biayanya dialokasikan untuk kebutuhan lain. 

Iklan

“Aku malah lebih ikhlas kalau uangnya buat membayar ibu-ibu yang bantu masak,” ujarnya. Namun, uang itu harus tetap ia keluarkan karena dianggap sudah menjadi tradisi. 

Apalagi, Eka berasal dari keluarga terpandang. Kakeknya dulu mantan lurah, sementara kedua orang tuanya PNS. Ada kekhawatiran, jika tradisi ini tidak dijalankan, takut mencoreng nama baik keluarga.

“Ya rasanya dipalak sih.”

Bikin mahasiswa KKN alami culture shock

Cerita lain juga dituturkan Reza (24), mahasiswa salah satu PTN di Jogja yang pernah menjalani KKN di sebuah desa di selatan Jawa Tengah. Kala itu, di desa tempatnya KKN terdapat warga yang menggelar acara pernikahan.

Sebagai mahasiswa dari Jakarta, yang terbiasa hidup dalam gaya individualis, ia terkejut dengan perilaku warganya yang penuh gotong royong. Sama seperti yang diungkapkan Eka, warga desa membagi peran masing-masing, membantu apa yang bisa dibantu, tanpa pamrih.

“Ngelihat itu, keren banget sih. Di kota, mana ada gotong royong begini,” ujar Reza.

Karena ingin merasakan budaya srawung ini, Reza bersama satu mahasiswa lain memutuskan untuk ikut nyinom. Ia membaurkan diri dengan pemuda desa lain. Dalam sinoman tersebut, Reza belajar cara menyajikan makanan dan minuman bagi para tamu yang datang.

Awalnya, tak ada yang aneh. Sebelum akhirnya, pada malam hari, ketika hendak kembali ke basecamp KKN, ia dicegat oleh ketua karang taruna. Pria yang mencegatnya itu mengajak “minum” Reza dan temannya. Kata dia, sebagai bentuk ungkapan terima kasih karena sudah seharian membantu nyinom.

Sebagai seorang peminum, Reza pun mengiyakan. Masalahnya, teman yang ikut dengannya itu seorang mahasiswa yang alim. Merokok saja tidak, apalagi minum. Situasi itu bikin dia awkward. Ingin menolak tak enak ke warga, kalau mengiyakan pun tak enak dengan temannya.

Reza pun punya jalan tengah. Berdalih masih ada banyak tugas kuliah yang harus dikerjakan, ia pun dengan halus menolak ajakan itu. Ia bilang, “kapan-kapan saja kalau lagi free”.

Meski akhirnya tidak jadi minum bersama, Reza mempelajari satu hal bahwa di desa-desa tradisi seperti ini telah mengakar. Ia tak mau bilang ini tradisi baik atau buruk, tak ingin terjebak hitam-putih. Yang jelas, bagi Reza, ini tradisi unik karena baru pertama kali ia jumpai.

“Ya jujur aja shock. Di balik warga desa yang selama ini kulihat alim-alim, ternyata demen party juga,” katanya, terkekeh.

Kalau bisa diubah, mengapa tidak?

Tradisi jatah ciu sudah mendarah daging bagi masyarakat desa. Boleh dibilang, ia telah bertransformasi menjadi sebuah budaya. Kalau membaca literatur sejarah lokal pun, tradisi ini sudah menjadi bagian dari masyarakat rural. Terutama dengan kearifan lokal mirasnya, seperti arak di Bali atau tuak di budaya masyarakat Batak.

Namun, bagi Eka yang pernah menjalankan tradisi ini, ia menilai budaya ini harus ada penyesuaian. Ia tak mau menyebut ini sebagai budaya yang baik atau buruk. Hanya saja, ia tak bisa selalu “cocok” dengan setiap orang.

“Terutama ya, kalau ngomongin uang. Bagi aku yang alhamdulillah mampu, mungkin bukan masalah. Tapi buat orang lain yang pas-pasan, pasti memberatkan banget,” kata Eka.

“Kalau bisa dialokasiin buat biaya lain, kenapa harus buat miras?” imbuhnya.

Penyesuaian yang ia maksud, adalah kembali ke masing-masing warga desa. Yang mampu, dan dengan sadar ingin memberi jatah ciu, ya silakan. Namun, buat yang tak berkenan, kata Eka, juga dipersilakan tanpa perlu ada kekhawatiran bakal dianggap beda.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Meninggal di Desa Itu Sebenarnya Mahal, Menjadi Murah karena Guyub Warganya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2026 oleh

Tags: budaya minum di desaDesajatah ciuminuman keraspemuda desapilihan redaksiwarga desa
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kos di Jogja
Catatan

Rasanya Tinggal di Kos “Medioker” Jogja: Bayar Mahal, tapi Nggak Dapat Sinar Matahari

19 Februari 2026
Motor Vespa Matic Primavera 150 warna hijau toska
Sehari-hari

Beli Vespa Mahal-mahal sampai Rp50 Juta, tapi Tak Paham Fungsinya, Dibeli karena Warnanya Lucu

19 Februari 2026
KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO
Catatan

Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

19 Februari 2026
PGPAUD, Guru PAUD.MOJOK.CO
Edumojok

Nekat Kuliah di Jurusan PGPAUD UNY demi Wujudkan Mimpi Ibu, Setelah Lulus Harus ‘Kubur Mimpi’ karena Prospek Kerja Suram

19 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ngekos setelah menikah, ngekos di jogja, kesehatan mental.MOJOK.CO

Memilih Ngekos Setelah Menikah daripada Tinggal Bareng Ortu-Mertua, Finansial Memang Empot-empotan tapi Kesehatan Mental Aman

16 Februari 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
papua.MOJOK.CO

Tolak Tawaran Kerja di Amerika Demi Mengajar di Pelosok Papua, Berambisi Memajukan Tanah Kelahiran

18 Februari 2026
Layung Senja: meditasi melepas kepenatan di kawasan wisata Candi Borobudur, Magelang MOJOK.CO

Layung Senja: Meditasi Lepas Penat di Kawasan Candi Borobudur, Mendengar Suara Alam yang Kerap Terabaikan

15 Februari 2026
Lapangan Padel di Jakarta Selatan bikin Stres Satu Keluarga. MOJOK.CO

Nestapa Tinggal di Perumahan Elite Jakarta Selatan Dekat Lapangan Padel, Satu Keluarga Stres Sepanjang Malam

19 Februari 2026
Mahashivaratri, festival tahunan yang dirayakan umat Hindu untuk menghormati Dewa Siwa di Candi Prambanan. MOJOK.CO

Hari Suci Terpenting Umat Hindu, Mahashivaratri Perdana Digelar di Candi Prambanan dengan 1008 Dipa Menyala

14 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.