Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Balada Berburu Si Elang Jawa, Predator Udara Terganas dan Terlangka

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
19 Desember 2025
A A
Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

Ilustrasi - Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tiga puluh tahun lalu, ketenangan Kampung Panaruban, Desa Cicadas, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang, pecah oleh kepakan sayap besar yang melintas rendah di atas pekarangan warga. Seekor elang, yang berukuran nyaris dua kali ayam kampung, tiba-tiba menukik, mencengkeram seekor ayam, lalu lenyap ke arah hutan. 

Kejadian itu pun mengundang amarah. Bagi warga desa saat itu, ayam adalah harta, dan predator yang datang dari rimba tadi, dianggap sebagai ancamannya.

Tanpa pengetahuan bahwa satwa itu dilindungi, warga bereaksi spontan. Beberapa orang masuk hutan, membawa jaring dan alat seadanya, berniat memburu sang pencuri ternak. 

Namun, berhari-hari pencarian tak membuahkan hasil. Elang itu seolah menelan dirinya sendiri ke dalam lebatnya hutan.

“Dulu itu namanya warga nggak tahu. Ada yang ingin memburu. Ada yang bawa jaring,” kenang Udung (83), warga Kampung Panaruban, menceritakan kejadian tiga dekade lalu itu kepada Mojok, Sabtu (13/12/2025).

Waktu berjalan. Amarah juga mulai mereda. Suatu hari, tatkala berjalan-jalan menyusuri hutan, Udung justru menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti melangkah: sebuah sarang besar di atas pohon tinggi. Dari situ, Udung paham yang ia lihat adalah sarang elang.

“Kalau saya kasih tahu warga, pasti elangnya bakal diburu lagi,” ungkapnya.

Kabar belum sempat ramai di telinga warga, sekelompok peneliti dari IPB dan Unpad mendatangi Udung. Mereka menjelaskan bahwa elang yang dilihat warga adalah Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), satwa endemik yang dilindungi. Tidak boleh diburu.

Lebih dari itu, mereka meminta bantuan Udung untuk menunjukkan lokasi-lokasi sarang lain di dalam hutan.

elang jawa.MOJOK.CO
Mang Udung (paling kanan) bersama Abah Dili menerima penghargaan dari Djarum Foundation dan Kementerian Kehutanan atas dedikasi mereka membantuk konservasi Elang Jawa berbasis masyarakat. (Mojok.co/Eko Susanto)

Pertemuan itu menjadi titik balik. Udung belajar dua hal. Pertama, kehidupan Elang Jawa bukan untuk diusik, tapi dilestarikan. Kedua, dari pengalaman menyaksikan langsung bagaimana elang menerkam mangsa, ia mulai memahami bahwa serangan itu bukan tindakan serampangan, melainkan hasil perhitungan yang presisi.

Apa yang dilihat Udung puluhan tahun lalu: elang melayang tenang, lalu menukik dalam sekejap, adalah gambaran kecerdasan predator puncak itu dalam mencari mangsa.

Cara berburu itu bukan kebetulan, melainkan strategi yang diasah oleh evolusi dan ketergantungan penuh pada hutan. Kekaguman itulah yang kini relevan, ketika Elang Jawa kian terdesak oleh perubahan bentang alam Pulau Jawa.

Balada berburu Elang Jawa

Di balik kanopi hutan yang rimbun, Elang Jawa memegang peranan vital sebagai predator puncak. Kehadirannya bukan sekadar penghias langit, melainkan penjaga keseimbangan ekosistem.

Ia mengontrol populasi tikus, kelelawar, burung kecil, hingga predator tingkat menengah (mesopredator). Namun, “peran agung” itu paling nyata saat ia memulai ritual perburuan.

Iklan

“Cara berburu Elang Jawa itu sangat bergantung pada kecerdasan membaca lanskap,” kata Biodiversity and Conservation Officer Burung Indonesia Achmad Ridha Junaid, saat ditemui Mojok, Jumat (12/12/2025).

Menurut Ridha, berburu bukan sekadar soal kekuatan. Ia adalah kombinasi strategi, efisiensi energi, dan kemampuan mengambil keputusan dalam hitungan detik.

elang jawa.MOJOK.CO
Potret Biodiversity and Conservation Officer Burung Indonesia, Achmad Ridha Junaid. (Mojok.co/Eko Susanto)

Ketika matahari meninggi dan udara mulai memanas, panggung bagi Elang Jawa terbuka. Panas bumi menciptakan arus termal, kolom udara hangat naik perlahan ke atas. Elang Jawa memanfaatkannya seperti seorang pelaut membaca arah angin. Tanpa perlu mengepakkan sayap, ia melayang, berputar, dan naik setahap demi setahap.

Teknik terbang melayang ini disebut soaring. Namun, bagi Ridha, soaring ini bukan sekadar indah, melainkan strategi. Setiap kepakan sayap adalah energi yang mahal. Dengan menumpang arus termal, Elang Jawa menghemat tenaga untuk satu momen yang menentukan: serangan.

“Mencari mangsa adalah tugas berat, sehingga mereka menghemat tenaga dengan terbang tanpa mengepakkan sayap sembari memindai area di bawahnya,” jelas Ridha.

Dari ketinggian, ia memindai lanskap layaknya operator drone. Ketinggian terbang disesuaikan dengan kontur wilayah. Di dataran rendah, ia naik tinggi agar sudut pandangnya luas. Di pegunungan, ia terbang lebih rendah, mengikuti lekuk lereng dan punggungan hutan.

Senjata utamanya bukan otot, melainkan mata dan otak. Mata Elang Jawa menghadap ke depan, memungkinkan penglihatan binocular vision–sebuah sistem bidik yang membantu menghitung jarak, kecepatan, dan arah gerak mangsa. Tikus yang berhenti sepersekian detik di balik semak, atau burung kecil yang salah memilih dahan, cukup untuk memicu respons.

Begitu target terkunci, Elang Jawa tidak langsung menyerang. Ia menunggu. Tubuhnya tetap melayang, sayap terbuka, seolah tak tertarik pada apa pun di bawahnya. Kesabaran ini bagian dari kecerdasan berburu.

Saat momen tiba, semuanya berubah dalam hitungan detik. Dari posisi tenang, Elang Jawa menukik tajam. Udara terbelah oleh tubuhnya yang melesat turun. Cakar terbuka tepat sebelum menyentuh sasaran. Adegan ini persis seperti yang pernah disaksikan Udung secara langsung.

“Jika mangsanya besar, cakar menjadi andalan. Jika sedang terbang atau kecil, paruh pun bisa digunakan,” kata Ridha.

Bagi yang menyaksikan, misalnya oleh Udung, serangan itu nyaris tanpa suara. Ia seperti sebuah operasi senyap yang selesai bahkan sebelum mangsanya menyadari bahaya.

elang jawa.MOJOK.CO
Potret Raja Dirgantara, Elang Jawa yang dilepasliarkan di TNGGP, Sukabumi, Sabtu (13/12/2025). Elang Jawa bukan predator ceroboh. Ia tahu kapan harus menyerang dan kapan membatalkan. Jika mangsa terlalu besar atau lingkungan terlalu terbuka, serangan bisa dihentikan. (Mojok.co/Eko Susanto)

Uniknya, imbuh Ridha, Elang Jawa bukan predator ceroboh. Ia tahu kapan harus menyerang dan kapan membatalkan. Jika mangsa terlalu besar atau lingkungan terlalu terbuka, serangan bisa dihentikan. 

“Itu bentuk pengambilan keputusan. Mereka tidak nekat,” kata Ridha.

Kemampuan ini membuat Elang Jawa cukup adaptif. Meski identik dengan hutan, wilayah jelajahnya bisa sampai ke hutan sekunder, perkebunan, bahkan pinggir pemukiman. Di tempat-tempat ini, mereka mengincar tikus atau ternak kecil.

elang jawa.MOJOK.CO
Infografis terkait teknik berburu Elang Jawa. Infografis ini diolah berdasarkan data wawancara bersama tim riset Tiga Dekade Konservasi Elang Jawa. Di-generated menggunakan tools NotebookLM. (Mojok.co)

Predator udara terganas semakin rentan

Namun adaptasi punya batas. Sebab, hutan primer tetap menjadi jantung kehidupan Elang Jawa. Bagi Elang Jawa, hutan alami dengan pohon besar di lereng curam bukan sekadar tempat singgah. Di sanalah mereka bersarang, berkembang biak, dan membesarkan anak. 

Pasangan Elang Jawa dikenal monogami, setia satu sama lain sepanjang hidup. Mereka sering kembali ke sarang yang sama, menandainya dengan ranting-ranting baru berdaun hijau.

“Kalau salah satu mati, yang tersisa tidak akan berkembang biak,” kata Usep Suparman, peneliti Elang Jawa dari Raptor Conservation Society (RCS) yang telah lebih dari 30 tahun meneliti raptor di Jawa.

elang jawa.MOJOK.CO
Potret peneliti RCS, Usep Suparman. (Mojok.co/Eko Susanto)

Kepada Mojok, Usep menjelaskan bahwa kesetiaan ini, di satu sisi, menunjukkan ikatan kuat. Sayangnya, di sisi lain, menjadikannya rentan.

Elang Jawa hanya bertelur satu butir dalam satu siklus reproduksi, dan itu pun tidak setiap tahun. Biasanya dua tahun sekali. Telur tunggal itu adalah masa depan satu keluarga, bahkan satu populasi.

“Ada beberapa kasus telur tidak menetas. Indikasinya macam-macam, salah satunya karena tercemar pestisida,” ujar Usep. Cangkang telur menjadi tipis dan tidak matang, membuat embrio gagal berkembang.

Menurut Usep, pestisida bekerja sebagai pembunuh senyap. Tikus di ladang memakan tanaman yang terpapar racun, lalu dimangsa elang. Racun kemudian terakumulasi dalam tubuh predator puncak, dan memengaruhi sistem reproduksi mereka.

Selain pestisida, perubahan iklim ikut berperan. Musim kawin yang biasanya bertepatan dengan kemarau kini kerap terganggu oleh hujan yang datang lebih cepat. Perubahan suhu dan kelembapan memengaruhi proses pengeraman dan perkembangan embrio.

Habitat yang menyempit

Meski ada faktor lain, bagi Usep, ancaman terbesar Elang Jawa tetaplah hilangnya habitat. Pulau Jawa terus menyempit bagi satwa liar. Hutan berubah menjadi perkebunan, perumahan, dan infrastruktur.

“Habitat Elang Jawa sekarang semakin rendah, pendek, dan sempit,” kata Usep. Tempat berburu, bertengger, melatih anak, hingga bersarang, perlahan hilang.

Perburuan ilegal juga belum sepenuhnya berhenti. Sebagian masih mengincar Elang Jawa untuk dipelihara atau diperjualbelikan, meski statusnya dilindungi.

Alhasil, upaya konservasi pun tak bisa setengah hati. Menurut Usep, pemulihan ekosistem hutan menjadi kunci. Bukan sekadar menanam pohon, tetapi menanam jenis yang disukai Elang Jawa untuk bersarang dan bertengger.

“Salah satu tantangan adalah alih fungsi lahan. Habitat yang dulu aman, sekarang berubah jadi ancaman,” ujarnya.

Menjawab tantangan ini, Kementerian Kehutanan tengah memproses penetapan tujuh kawasan konservasi baru yang bisa menjadi penopang keberlangsungan habitat Elang Jawa. Tambahan kawasan konservasi itu berupa Taman Nasional (TN) dan Taman Hutan Raya (Tahura).

elang jawa.MOJOK.CO
Potret Direktur BLDF Jemmy Chayadi. Ia mengatakan pihaknya berkomitmen penuh dalam upaya konservasi Elang Jawa, terutama di Gunung Muria (Mojok.co/Eko Susanto)

Tujuh kawasan konservasi baru yang diusulkan meliputi Tahura di Gunung Muria, Taman Nasional Gunung Slamet, Tahura Gunung Lawu, dan Taman Nasional Gunung Sanggabuana di Kabupaten Karawang. Adapun Tahura lain di Jawa Barat yakni Gunung Wayang di Kabupaten Bandung, Gunung Cikuray di Kabupaten Garut, dan Gunung Cibungur di Kabupaten Purwakarta.

Tak hanya dari sisi pemerintah, sektor swasta juga turut berperan. Salah satunya dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF). Program Director BLDF, Jemmy Chayadi, menyebut semula pihaknya fokus konservasi Macan Tutul Jawa di Gunung Muria. 

Dalam perjalanannya, ternyata Gunung Muria juga menjadi rumah bagi Elang Jawa. Temuan itulah yang mendorong Djarum Foundation bekerja bersama para pegiat konservasi burung pemangsa, seperti tim Burung Indonesia hingga para ahli lapangan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mempertaruhkan Nasib Sang Garuda di Sisa Hutan Purba atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 19 Desember 2025 oleh

Tags: burung indonesiacara berburu elang jawaelangelang jawaGunung Gede Pangrangopilihan redaksisukabumitaman nasional gunung gede pangrangoteknik berburu elang jawa
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Andai Ibu tidak menikah dengan ayah.co
Seni

“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 

11 Januari 2026
Ketulusan Guru BK di SMP Pelosok Ponorogo MOJOK.CO
Ragam

Curhatan Guru BK Hari Ini: Profesi Dipandang “Sepele”, Padahal Harus Hadapi Gen Z yang Masalahnya Makin Kompleks

8 Januari 2026
Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO
Catatan

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

8 Januari 2026
Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis di Malang dan Surabaya. Menemukan kebahagiaan, berharap menikah, tapi takut lukai hati orang tua MOJOK.CO
Ragam

Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua

7 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bapak-ibu dihina saudara sendiri karena ingin kuliahkan anak di PTN, tapi beri pembuktian. Meski anak jadi mahasiswa di PTN ecek-ecek tapi jadi sarjana pekerja kantoran MOJOK.CO

Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Ingin Kuliahkan Anak, Meski Kuliah di PTN Ecek-ecek Malah Punya Karier Terhormat ketimbang Anak Saudara

8 Januari 2026
Resign kerja di Jakarta pilih di Bali. MOJOK.CO

Baru Satu Tahun Kerja di BUMN, Pilih Resign karena Nggak Kuat “Ugal-ugalan” di Jakarta sampai Temukan Peluang Karier Lebih Baik di Bali

6 Januari 2026
Kota Semarang coba tak sekadar melawan air untuk atasi banjir MOJOK.CO

Kota Semarang Coba Tak Sekadar Melawan Air untuk Atasi Banjir, Tapi Pakai Cara Fisika dan Wanti-wanti Kelalaian Sosial

5 Januari 2026
14 juta pekerja terima gaji di bawah UMP/UMK, sebagian besar dari kalangan lulusan perguruan tinggi (sarjana) MOJOK.CO

Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja

9 Januari 2026
Busuknya Romantisasi ala Jogja Ancam Damainya Salatiga (Unsplash)

Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

5 Januari 2026
Budaya “Jatah Ciu” kepada Pemuda Desa Dianggap Manifestasi Srawung, tapi Tak Cocok Untuk Semua Orang MOJOK.CO

Budaya “Jatah Ciu” kepada Pemuda Desa Dianggap Manifestasi Srawung, tapi Tak Cocok Untuk Semua Orang

6 Januari 2026

Video Terbaru

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.