Diam-diam menjalani kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis, dua orang di Malang dan Surabaya mengaku menemukan kebahagiaan. Meski banyak orang menganggap praktik tersebut menyimpang (secara hukum, agama, mental, dan orientasi seksual). Meski juga mereka harus menjalani hidup dengan amat hati-hati dan penuh kebimbangan.
***
Liputan ini tidak bermaksud merendahkan pihak tertentu, mentrigger, atau menginspirasi. Tapi menunjukkan sebuah realitas sosial yang satu sisi dianggap wajar dan satu sisi dianggap menyimpang.
Jika dirunut dari awal, ceritanya panjang sampai akhirnya Dion* (22) dan Calvin* (27), bukan nama asli, menyadari kalau mereka lebih tertarik dengan laki-laki ketimbang perempuan. Sampai akhirnya masing-masing menemukan pasangan sesama jenis, saling mencintai, dan tinggal bersama (menjalani kohabitasi).
Mereka punya beragam siasat agar tidak dicurigai dan hidup damai di tengah lingkungan yang jijik memandang orang-orang seperti mereka. Mereka bahkan punya rencana-rencana ke depan soal menikah dan membangun rumah tangga.
Main aman di luar, brutal di kosan
Meski merasa punya hak asasi, tapi Calvin tak menampik fakta bahwa masih sangat banyak orang yang menganggap penyuka sesama jenis tak normal. Oleh karena itu, ia dan pasangannya memutuskan untuk main aman.
“Aku sebenarnya risih kalau ada orang ngejek kami boti, sepertiku. Padahal kan itu hak kami untuk berekspresi,” ungkap pekerja di perkantoran Surabaya itu, Selasa (6/1/2025) malam. “Tapi kami harus main aman kalau mau hubungan nggak terusik.”
Calvin mencoba tampil sebagaimana umumnya laki-laki jika berada di luar kosan (di kantor atau di manapun). Bahkan, kendati sedang berjalan berdua dengan pasangannya, ia sebisa mungkin bersikap biasa. Dengan begitu, orang-orang melihat keduanya sebagai dua pasang teman.
Namun, situasi akan berubah jika Calvin dan pasangannya sudah berada di dalam kosnya di salah satu sudut Kota Surabaya. Calvin mengaku ia bisa bersikap sangat manja pada pasangan, men-treatmen pasangan selayaknya suami (bukan sekadar pacar). Bahkan, Calvin secara terbuka menyebut kalau mereka bisa melakukan “adegan dewasa” secara brutal.
“Pasanganku juga pekerja kantoran. Kami bertemu di sebuah event. Orang-orang tidak akan curiga walaupun kami kohabitasi. Karena umum saja satu kos ditempati dua laki-laki. Kalau laki-laki dan perempuan, itu baru masalah. Kami ngekos di kos cowok,” beber Calvin.
Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis dan pesta gay di Surabaya
Calvin dan pasangannya memang sangat berhati-hati. Sebenarnya, pasangan Calvin kerap mengajaknya mengikuti pesta penyuka sesama laki-laki di Surabaya. Tapi Calvin tak mau coba-coba.
“Kalau kata dia, sensasinya bakal beda. Tapi aku nggak mau. Kalau mau ya kuajak saja staycation, cari sensasi baru tapi tetap tanpa risiko,” ujar Calvin.
Calvin merasa pilihannya merahasiakan identitas tersebut tepat. Sebab, kalau sedang apes, pesta semacam itu bisa kena grebek Polisi. Seperti yang terjadi pada Oktober 2025 lalu.
Polrestabes Surabaya menggrebek pesta seks penyuka sesama laki-laki di sebuah hotel di kawasan Ngagel. 34 laki-laki kemudian ditetapkan sebagai tersangka. 29 di antaranya kemudian terindikasi positif HIV.
Saat ini, para laki-laki itu tinggal menunggu waktu untuk ditempatkan di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas 1 Surabaya di Medaeng.
“Aku menolak orang-orang seperti kami dianggap menyimpang. Tapi aku nggak mau ribet,” ujar Calvin. Alhasil, ia dan pasangannya memilih “main aman”. Toh tanpa ikut-ikutan pesta, mereka sudah merasa sangat bahagia menjalani hari-hari bersama (kumpul kebo).
Untung bapak kos tak peduli
Tidak ada data resmi. Namun, seolah menjadi rahasia umum bahwa banyak praktik kumpul kebo di Malang. Bukan hanya dengan lawan jenis, tapi juga sesama jenis. Terutama di kalangan mahasiswa. Dion adalah satu yang mengakuinya.
Berbeda dengan Calvin, Dion berani lebih terbuka dengan pasangannya sesama mahasiswa Malang. Mereka kerap healing bareng, nongkrong berdua, bahkan nonton bioskop dan nge-mall berdua. Dion juga tak ragu memamerkan foto berdua dengan pose mesra di akun media sosial.
“Aku terhitung protektif ke pacar. Cemburuan. Jadi daripada dia diajak pergi-pergi laki-laki lain, walaupun cowok lain belum tentu punya orientasi yang sama, tapi lebih baik kami habiskan waktu berdua lebih sering,” ucap Dion, Rabu (7/1/2025) pagi.
Dulu Dion dan pasangannya hanya sebatas menjalin hubungan. Namun, lama-lama, dua mahasiswa Malang itu memilih kohabitasi. Tinggal bersama di salah satu kosan ekslusif di Malang.
“Sebenarnya aku sadar sudah banyak yang tahu soal orientasi kami. Tapi aku memilih cuek, hidup-hidupku sendiri. Di kos pun bapak kos nggak peduli, dia hanya peduli uang, jadi kami merasa aman. Dua laki-laki satu kamar kan wajar, yang mudah diendus itu pasangan lawan jenis,” sambungnya.
Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis tak melulu soal seks, tapi komitmen saling menghargai
Dion tak menampik, ada saatnya ia dan pasangan akan melakukan adegan dewasa. Itu ketika hasrat mereka sedang sama-sama memuncak.
Namun, Dion menegaskan, kohabitasi (kumpul kebo)—sesama jenis—yang ia jalani tidak melulu mencari keleluasaan untuk beraktivitas seksual. Lebih besar dari itu adalah soal komitmen bersama.
“Kami tahu kami dimarjinalkan di masyarakat. Bahkan keluarga kami sendiri kalau mereka tahu. Jadi saat kami pacaran, kami punya komitmen harus saling menjaga dan menghargai. Karena kami hanya punya satu sama lain, terasing dari dunia,” beber Dion.
Pertengkaran-pertengkaran kecil memang kerap terjadi. Akan tetapi, kata Dion, selalu bisa dituntaskan dengan pelukan saling mengakui kesalahan sekaligus memaafkan. Itu membuat kehidupan kohabitasi yang Dion jalani terasa membahagiakan. Kosnya menjelma sebagai satu-satunya ruang paling aman dan damai di dunia.
Harapan menikah-membina rumah tangga
Dion kerap “tersentil” dengan beberapa orang Indonesia yang bisa menjalani rumah tangga sesama jenis dengan bahagia. Tapi memang harus di luar negeri.
Mahasiswa Malang itu berharap, ke depan ia dan pasangannya bisa benar-benar membangun rumah tangga sendiri. Tidak hanya sebatas kohabitasi—yang sering disebut dengan konotasi negatif “kumpul kebo”.
“Tapi selama di Indonesia, itu nggak mungkin terjadi. Kayaknya harus keluar,” kata Dion.
“Terus bagaimana nanti ngomong ke keluarga?” Tanya saya.
“Jelas keluarga bakal ngamuk. Aku yang bersikap begini (seperti perempuan) saja sudah dianggap aib. Dulu aku bahkan sempat diruqyah biar normal katanya,” jawabnya.
Sampai saat inipun ibu Dion masih sering mengirim pesan-pesan pengingat, agar Dion tak turut larut dalam kelompok penyuka sesama jenis. Tapi Dion bergeming.
Ia merasa, ia lah yang paling memahami tubuh dan keinginannya sendiri. Oleh karenanya, sekalipun kelak tak dianggap keluarga jika menikah sesama jenis, Dion tetap akan melakukannya. Karena ia merasa bahagia dengan jalan yang ia pilih.
Tak sampai hati lukai hati orang tua, tapi tak bisa menyangkal perasaan
Sementara Calvin berbeda. Pekerja Surabaya itu mengaku entah sampai kapan akan tertutup. Bahkan kepada keluarganya sendiri ia kerap berpura-pura “normal”.
Calvin masih tak sampai hati melukai orang tuanya jika tahu apa yang selama ini Calvin jalani di Surabaya. Tapi ia juga tak bisa menyangkal perasaannya: Tak suka perempuan, tapi lebih suka laki-laki.
“Di umurku yang segini, ibuku sering tanya, kapan aku punya calon (istri, perempuan)? Ya sebenarnya kan aku punya calon (pasangan laki-laki), tapi kalau kukenalkan ke beliau pasti beliau pingsan,” ucap Calvin dengan tawa.
Hal serupa juga terjadi pada pasangannya. Meski sama-sama ingin menikah, tapi tak punya cukup nyali untuk membuka fakta sesungguhnya pada orang tua di rumah. Bahkan, pasangan Calvin sempat nyaris dijodohkan dengan perempuan, anak dari teman sang bapak. Tapi pasangan Calvin menolak. Bilang ia akan mencari yang lebih cocok.
“Itu tentu jadi masalah di kami. Kami berdebat di kos. Apakah kami akan saling meninggalkan? Apakah kami perlu pura-pura menikah sama perempuan, tapi tetap bisa menjalin hubungan diam-diam? Tapi itu sama jahatnya,” tutur Calvin.
Akhirnya, mereka memilih tak melanjutkan perbincangan soal pernikahan dan rumah tangga. Entah sampai kapan. Saat ini mereka hanya ingin menikmati masa-masa bersama, meski diam-diam dan penuh siasat, meski praktik semacam itu—di luar sana—disebut dengan nada amat merendahkan: kumpul kebo.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Hari-hari Mahasiswa Malang yang Jalani Kumpul Kebo: Latihan Berumah Tangga, Hidup Layaknya Suami Istri meski Tak Siap Menikah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














