Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Saat Pemuda Solo Sok Meniru Jaksel biar Kalcer, Terlalu Memaksakan dan Mengganggu Solo yang Khas

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
28 Januari 2026
A A
Pemuda Solo bergaya meniru Jaksel bikin resah MOJOK.CO

Ilustrasi - Pemuda Solo bergaya meniru Jaksel bikin resah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Budaya Solo itu ‘kowe ro aku’ (kamu dan aku), bukan ‘lo dan gue’.” Sepintas lalu saya menemukan narasi semacam itu di media sosial. Ternyata narasi itu berangkat dari keresahan sebagian pemuda-pemuda asli Solo atas fenomena nJaksel (ala-ala Jaksel) yang menjangkit sejumlah pemuda di sana. 

***

Iklan

Setelah sekian lama berjarak dengan Solo, seorang teman yang enggan disebut namanya akhirnya memilih menubuh kembali dengan kota kelahirannya itu. Namun, alih-alih mendapati Solo yang khas, dia justru melihat wajah baru yang tampil agak mengganggu. 

Sebagian banyak pemuda–usia 20-an awal, kata dia, punya kecenderungan membawa gaya tongkrongan ala Jaksel ke tengah-tengah tongkrongan mereka.

“Bermunculan sejumlah kafe/coffee shop vancy ala Jaksel,” ungkapnya membagi keresahan pada saya belum lama ini. Tapi ini bukan semata tentang keberadaan kafe/coffee shop-coffee shop vancy-Instagrambale. 

Bising yang mengganggu

“Kalau tengah malam, bagian rooftop-nya ada karaoke dengan lead karaoke super heboh dan ala-ala bar di Jakarta,” ungkap kenalan saya itu. 

Ternyata itu cukup mengganggu. Mengingat, Solo yang dia kenal adalah Solo yang jauh dari bising mengganggu. Kota ini memang padat. Tak terelakkan dari hiruk-pikuk. 

Namun, berdasarkan pengakuan warga Solo asli yang dia temui, malam di Solo seharusnya adalah malam tenang. Zona waktu yang memungkinkan seseorang mengistirahatkan, bukan sekadar tubuh, melainkan hati dan pikiran. 

“Kenapa bisa disimpulkan itu meniru Jaksel?” Tanya saya. 

“Karena bahkan, di kalangan anak-anak muda itu, muncul istilah Solo Selatan,” jawabnya. Identitas itu coba digaris bawahi secara tebal untuk menunjukkan bahwa Solo bagian Selatan adalah episentrum “orang-orang kalcer”, sebagaimana stereotip banyak orang atas Jaksel. 

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Lo dan gue, komunikasi wajib pemuda kalcer di Solo

Ia juga mendapati sejumlah “pemuda kalcer” (sebut saja begitu, untuk menyebut para pemuda yang bergaya sok meniru tongkrongan Jaksel) di Solo kini menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi intens. 

Tentu tidak keliru. Yang mengganggu, bagi dia, adalah gaya bahasa Indonesia yang dipakai adalah bahasa Indonesia slang yang agak wagu jika dipakai di Solo. Misalnya dengan penggunaan “lo dan gue” sebagai kata ganti orang kedua dan pertama. 

Seolah jika menggunakan “lo dan gue” saat bercakap, itu akan menambah damage seseorang, berhak jadi teman ngobrol dalam tongkrongan.

Terpental jika tak ikuti outfit Solo yang Jaksel sekali

Keresahan serupa datang dari pemuda Solo lain, Saga (22). Dalam pengamatannya (dan bahkan ia rencakan untuk jadi materi skripsi), gaya meniru Jaksel sebenarnya gampang ditemukan di kalangan mahasiswa, terutama dari mahasiswa luar Solo. 

Iklan

Namun, lambat laun, mahasiswa yang asli Solo pun ikut tertular. Malah cenderung malu menunjukkan identitas aslinya sebagai orang Jawa. 

“Jawa diidentikkan dengan kesan katrok dan kampungan,” kata Saga. 

Aspek paling kentara adalah penggunaan bahasa gaul-slang dan lo-gue. Sesama mahasiswa Solo saja terkesan agak membatasi berbincang dengan bahasa Jawa. 

Berikutnya adalah gaya busana (outfit). Kalau berangkat ke kampus atau tongkrongan (di kafe) tidak boleh sekadar busana. Tapi harus ada value yang membuat seseorang teridentifikasi up to date terhadap trend fashion. 

“Pelan-pelan, orang yang nyaman dengan cara berbusana apa adanya sepertiku, lama-lama akan berada dalam dua situasi. Kalau nggak ikut arus, ya akan terisolasi dari tongkrongan. Karena takut dianggap kampungan dan nggak fashionable,” ucap Saga. 

Bahkan, kata Saga, ada salah seorang temannya yang terang-terangan menerima komentar tidak enak hanya karena outfit yang biasa-biasa saja. 

Lanyard terkalung di leher jadi penanda kalcer

Setahu Saga, orang-orang di Jaksel lekat dengan lanyard bukan karena alasan gaya-gayaan biar terlihat kalcer semata. Tapi situasinya mengharuskan seperti itu: lanyard sebagai identitas wajib yang harus dikenakan para pekerja. 

Entah bagaimana mulanya itu kemudian dianggap sebagai penanda kalcer bagi sejumlah pemuda-pemuda kalcer di Solo yang mencoba bergaya meniru Jaksel. Saat ngampus atau nongkrong, lanyard harus terkalung di leher. 

“Akhirnya yang terlihat malah sesuatu yang terkesan dipaksakan. Mengalungkan lanyard, padahal yang digantung di lanyard vape. Bahkan kartu identitas organisasi aja dikalungin pakai lanyard,” beber Saga. 

Ketika Solo meniru Jaksel MOJOK.CO
Ringkasan – Banyak pemuda di Solo kini bergaya meniru Jaksel. (Generated AI NotebookLM by Aly Reza Mojok.co)

Dalam konteks vape, Saga pun mulai menjadi tidak relevan. Nge-vape atau nge-pods adalah pilihan. Sementara Saga memilih tidak. Ia lebih suka mengisap rokok. 

Namun, di sebuah tongkrongan, rokok adalah pilihan terbawah dan jauh dari kesan kekinian. Sekarang eranya vape atau pods. Benda uap itu bahkan mendapat ruang khusus untuk menjadi bahan obrolan: membincangkan merek, harga, hingga liquid masing-masing.

“Dan ini belum kalau bicara trend selera musik. Kamu mendengarkan lagu-lagu maestro Didi Kempot atau lagu-lagu bernuansa Jawa seperti NDX atau Denny Caknan, diketawain yang ada,” ucap Saga. 

Baik kenalan saya maupun Saga, pada akhirnya merindukan Solo sebagaimana mestinya. Solo yang autentik, bukan dibuat-buat agar mirip Jaksel atau daerah lain yang dianggap lebih kalcer. Solo ya Solo: The Spirit of Java. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Sempat Dihina karena Teruskan Usaha Warung Mie Nyemek Milik Almarhum Bapak, Kini Bisa Hasilkan Cuan 5 Kali Lipat UMK Solo atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

Terakhir diperbarui pada 28 Januari 2026 oleh

Tags: budaya solociri khas soloJogjasolowedangan solo
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO
Kabar

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

8 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Tips Meningkatkan Kenikmatan Ayam Goreng Olive Chicken Jogja (Mojok/Agung)
Pojokan

Tips Meningkatkan Kenikmatan Rasa Ayam Goreng Olive Chicken Jogja yang Sudah Menjadi Legenda Kuliner Itu

3 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga makin malas bayar pajak bukan berarti membangkang, tapi karena ulah pemerintah sendiri MOJOK.CO

Makin Malas Bayar Pajak Bukan Semata Membangkang tapi Akumulasi Kekecewaan, Pemerintah Bisanya Nagih Doang

10 Juli 2026
spmb 2025, zonasi.MOJOK.CO

Ketika SPMB Berubah Jadi Pasar Gelap Kursi Sekolah

6 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan hibah daerah ke ormas, tempat ibadah, dan para seniman MOJOK.CO

Hibah Pemkab Sleman untuk Ormas, Tempat Ibadah, dan Seniman: Serahkan Ratusan-Miliaran Juta untuk Dioptimalkan

10 Juli 2026
Polyworking (mencari pekerjaan tambahan atau sampingan) jadi pilihan rasional in this economy karena satu pemasukan gaji tak beri rasa aman MOJOK.CO

Polyworking: Pekerja Kurangi Waktu Luang demi Pekerjaan Tambahan dan Pesan untuk Lulusan Baru jika Sumber Gaji Tak Cukup 1

8 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.