Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Cerita Anak Kos Surabaya Jadi Buronan Ibu Kos karena Nunggak hingga Jutaan, Balik-balik Langsung Pamer Gaji UMR Jakarta

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
16 Februari 2024
A A
Cerita Anak Kos Surabaya Jadi Buronan Ibu Kos karena Nunggak hingga Jutaan, Balik-balik Langsung Pamer Gaji UMR Jakarta MOJOK.CO

Ilustrasi - Anak kos Surabaya pamer gaji UMR Jakarta ke ibu kos setelah jadi buronan (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seorang anak kos Surabaya akhirnya berani agak sombong setelah merasa agak sukses. Pasalnya, sebelumnya, ia pernah merasakan hidup sulit selama masa kuliah di Surabaya.

Bahkan, ia sempat menjadi buronan ibu kos lantaran nunggak, tak bayar hingga jutaan. Sebelum akhirnya ia balik untuk melunasi utang-utangnya tersebut secara kontan.

***

Masa kuliah Jabar* (25) di Surabaya bisa ia bilang merupakan rangkaian pelarian demi pelarian. Bagaimana tidak, ia adalah anak kos yang selalu menjadi buronan bagi induk semang kos yang ia tinggali. Alasannya jelas, ia selalu nunggak.

Sejak mantap berangkat ke Surabaya untuk kuliah, pemuda asal Probolinggo, Jawa Timur itu sebenarnya sudah membayangkan, kehidupannya sebagai anak kos Surabaya pastilah tidak mudah.

Mengingat, ia berangkat dari keluarga yang amat tidak mampu. Yatim pula. Ia sendiri nekat kuliah karena, di samping karena ia memang bermimpi bisa kuliah, ibunya yang sehari-hari jualan jajanan tradisional mendorongnya betul untuk menjadi sarjana. Gelar yang belum pernah disandang oleh anggota keluargnya.

“Urusan uangnya gimana, itu biar ibu dan kakakmu yang mikir. Ya sudah, aku berangkat,” ungkap Jabar.

Waktu itu, Jabar keterima di salah satu kampus negeri Surabaya lewat jalur mandiri. Artinya, UKT yang harus Jabar bayarkan tentu relatif lebih mahal.

“Tapi kalau UKT alhamdulillah nyaris nggak pernah ada kendala. Karena jangka pembayarannya kan per enam bulan sekali,” tutur Jabar.

Yang menjadi masalah adalah uang saku bulanannya. Sebagai anak kos, Jabar jelas butuh kiriman untuk bayar kos setiap bulan. Belum lagi untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Jadi anak kos Surabaya yang sering kehabisan uang hingga utang teman-teman

Jabar mengaku, ia mendapat kiriman dari ibunya Rp800 ribu per bulan. Paling banyak paling di angka Rp1 juta.

“Anggap saja paling sering Rp800 ribu. Terpotong kos, waktu itu kos pertamaku Rp250 ribu. Sisa  Rp550 ribu. Itulah yang buat hidup selama jadi anak kos di Surabaya,” akunya saat akhirnya kami berbincang lagi lewat telepon setelah sekian lama tak bertemu.

Apakah uang segitu cukup untuk bertahan hidup selama satu bulan di Surabaya? Awalnya mudah bagi Jabar untuk bertahan hidup dengan uang segitu.

Namun, lama-kelamaan, mobilitasnya di Surabaya semakin tinggi. Ia sendiri sering kali mengikuti gengsi untuk bergaya. Alhasil, uangnya sering ludes sebelum akhir bulan.

Iklan

Kalau sudah ludes, ia tak punya keberanian untuk menelepon ibunya. Sebab, ibunya memberi uang tersebut agar Jabar manfaatkan sebaik mungkin. Akan tetapi kenyataannya, malah kadang untuk memenuhi ha-hal non prioritas.

Kalau sudah begitu, Jabar akan mengiba pada teman-teman dekatnya. Pinjam uang.

“Sempet suka cewek. Gengsi kalau terlihat nggak punya uang. Jadi habis di situ. Karena mulai suka cewek itu juga, akhirnya mulai memoles diri, beli-beli pakaian bagus. Jadi mulai suka beli-beli sepatu, jual beli HP juga,” beber Jabar.

Samar-samar dalam ingatan saya, saat perkenalan kami di awal semester, Jabar memang tampak tak jauh berbeda dengan saya; sebagai anak kos yang cenderung sekadarnya saja kalau soal lifestyle.

Namun, seiring waktu. Kami mulai sedikit jomplang. Sampai lulus saya tetap sekadarnya; tinggal di kos kumuh, baju dan sepatu sering tukeran dengan teman-teman, soal makan pun mencoba sehemat-hematnya. Sementara Jabar sudah jauh lebih stylish dan berani hedon.

“Nah kalau yang utang ke temen-temen, aku ingat ke siapa saja orangnya, tapi memang belum sempat bayar. Kalau ke ibu kos kan memang niatku pengin sombong aja,” ungkapnya.

Jadi anak kos Surabaya yang tak kuliah sambil kerja

Sebenarnya, Jabar sempat mengupayakan bagaimana caranya agar kuliahnya tak bayar. Syukur-syukur dapat jatah uang bulanan. Oleh karena itu, tiap kali ada info beasiswa, ia pasti akan daftar.

Namun, dari yang ia dengar-dengar dari teman-teman yang lain, ia sulit keterima beasiswa karena ia tercatat sebagai mahasiswa yang masuk kampus lewat jalur mandiri.

“Katanya kalau mandiri anggapannya otomatis dari orang berpunya. Jadi sulit dapat beasiswa. Alhasil, sampai lulus bayar terus,” ujarnya.

“Kenapa nggak nyoba kuliah sambil kerja? Buat nyari uang jajan sendiri,” tanya saya.

Jabar tertawa kecut mendengar pertanyaan saya tersebut. Waktu itu, Jabar merasa ia adalah anak kos tanpa keterampilan. Sehingga, ia tak tahu harus bekerja sebagai apa.

Kebanyakan teman kelasnya adalah anak kos yang kuliah sambil kerja. Ada yang kerja di warung kopi, warung makan, ada juga yang jadi driver ojek online.

Tapi, Jabar merasa dirinya kesulitan jika harus bekerja yang berhubungan dengan fisik. Ia hanya mampu dalam soal pemikiran. Misalnya, melakukan penelitian bersama dosen. Itulah yang ada di benaknya.

“Jadi ojol? Aku aja nggak punya motor di Surabaya. Ke mana-mana nebeng,” ujarnya.

“Penelitian bareng dosen cuma beberapa kali aja. Ada uangnya. Nah, aku mampu kalau yang begini-begini. Tapi dulu aku nggak seberapa banyak dapat ajakan (penelitian),” sambungnya.

Oleh karena itu, dan seperti yang ibunya sering katakan, Jabar tak perlu kuliah sambil kerja. Pokoknya fokus kuliah, selesaikan tepat waktu. Setelah itu, gunakan ijazah buat cari kerjaan yang sesuai dengan passion.

Kabur dari kos dan jadi buronan ibu kos Surabaya

Kenekatan kabur dari kos Jabar mulai memasuki libur semester 2, tahun 2018, di kos pertamanya di Surabaya.

Di tiga bulan pertama, Jabar memang membayar. Toh ia dapat kos murah, Rp250 ribu.

Namun, seiring dengan seringnya ia merasa uang kirimannya tak cukup. Ia pun lebih sering tak menyisihkan uang Rp250 dari uang kirimannya untuk bayar kos.

“Pokoknya setiap ibu kos nagih, aku bilang bulan depan aku lunasi semua, begitu terus. Orangnya ngedumel, tapi ya sudah,” ucapnya.

Sampai kemudian, menjelang libur semester 2, ia menghitung bahwa utangnya sudah menumpuk hingga jutaan. Jabar sadar kalau ia tak akan mampu membayarnya, sekalipun ditunda-tunda. Alhasil, kaburlah ia.

“Sempat kata anak-anak kos, ibu kos nyari-nyari sambil marah-marah. Ngancam mau buru aku sampai dapat. Ibu kos juga minta nomor WA-ku. Tapi aku ganti nomor WA,” katanya. Begitulah sampai akhirnya kejadian itu berlalu begitu saja.

Di masa transisi karena tak punya kos, Jabar sempat mencoba ikut temannya asal Probolinggo untuk menjadi marbot di sebuah masjid di perkampungan belakang kampus.

Menurut Jabar, sebenarnya lumayan, bisa tinggal gratis, sering dapat makan gratis pula. Tapi Jabar tak betah lama, karena memang akhirnya ruang geraknya untuk berkegiatan di luar terbatas. Maka, ia memilih kembali jadi anak kos Surabaya.

“Lalu dapat kos lagi Rp350 ribu. Alurnya sama. Setelah berbulan-bulan nggak bisa bayar, aku kabur. Ngerasa bersalah, iya. Makanya aku balik buat melunasi,” tuturnya.

Ia kabur dari kos keduanya tersebut bertepatan saat pandemi Covid-19. Jadi sedikit lebih smooth, meskipun dengar-dengar ia juga jadi buronan. Akan ibu kos buru sampai bayar.

Baca halaman selanjutnya…

Langsung totalan setelah punya gaji UMR Jakarta

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 16 Februari 2024 oleh

Tags: anak kos surabayaIbu Kospilihan redaksiSurabayaUMR Jakarta
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO
Edumojok

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beasiswa LPDP selamatkan hidup seorang difabel yang kuliah S2 di Amerika Serikat (AS). MOJOK.CO

Bangkit usai “Kehilangan” Kaki dan Nyaris Gagal Jadi Sarjana, Akhirnya Lolos LPDP ke AS agar Jadi Ahli IT Pustakawan di Indonesia

22 Februari 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa KIP Kuliah Ikut Dihujat Imbas “Oknum” yang Foya-Foya Pakai Duit Beasiswa, Padahal Beneran Hidup Susah hingga Rela Makan Sampah di Kos

25 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
Honda Scoopy membawa maut saat dipakai mudik Surabaya ke Lumajang. MOJOK.CO

Alasan Saya Bertahan Pakai Honda Scoopy untuk Mudik Surabaya-Lumajang, meski Tertipu dengan Tampang dan “Fitur” Biasa Saja yang Menyiksa

25 Februari 2026
Mekanisme beasiswa LPDP untuk kuliah di luar negeri masih silang sengkarut, awardee cemas jadi "WNI" MOJOK.CO

Mekanisme dalam Beasiswa LPDP (Masih) Silang Sengkarut: Awardee Cemas Jadi WNI, Negara Punya PR yang Harus Diberesi

23 Februari 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.