Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Acer Aspire One, Netbook Mungil Kenangan Besar: “Spek Kentang”, tapi Mengajari Mahasiswa Arti Berjuang

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
23 September 2025
A A
Laptop, Acer Aspire One.MOJOK.CO

Ilustrasi - Laptop Spek Kentang.MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kalau tupperware bagi rumah tangga menjadi simbol ketahanan dan kenangan, maka Acer Aspire One adalah versinya kampusnya. Laptop ini punya spek kentang, tapi mengajari mahasiswa arti sebuah perjuangan.

***

Suara kipas kecil itu masih terngiang di telinga Putra (29). Suaranya yang berisik, kadang menjadi bahan tawa teman-teman ketika ia membuka Acer Aspire One di tengah ruang kelas. 

“Guyonan mereka, ‘kalau masuk kelas mesin cucinya nggak usah dibawa’,” katanya sambil tersenyum, tatkala mengenang masa lalunya kepada Mojok, Minggu (21/9/2025).

Bagi sebagian orang, Acer Aspire One mungkin hanya laptop mungil yang sudah ketinggalan zaman. Namun, bagi Putra, netbook keluaran akhir 2000-an ini adalah saksi perjalanan kuliahnya di Jogja, dari semester awal tahun 2015 hingga akhirnya meraih toga pada 2020.

Acer Aspire One, primadona pada masanya

Acer Aspire One memang menjadi fenomena tersendiri di zamannya. Rilis sekitar 2008–2010, laptop ini hadir dengan layar 10 inci, RAM 1 GB, dan hardisk 160 GB. Prosesornya Intel Atom, sederhana sekali jika dibandingkan laptop modern hari ini. 

Tapi kala itu, Aspire One jadi primadona. Sebab, ia ringan, mudah dibawa, harganya terjangkau, dan cukup tangguh untuk sekadar mengetik makalah atau menjelajah internet. 

Banyak orang tua rela mencicil bahkan berutang, termasuk ortu Putra, demi membelikan anaknya perangkat ini. Sebab, pada masanya, status “mahasiswa dengan laptop” seolah menjadi keharusan kalau nggak mau ketinggalan perkuliahan.

Namun, bagi Putra, yang baru masuk kuliah di UNY pada 2015, Acer Aspire One bukan barang baru. Ia mendapatkannya dalam kondisi second, dari seorang senior. Harganya? Seingat dia Rp1,2 juta.

Warnanya putih yang sudah agak pudar, engselnya kaku, dan keyboard-nya mulai aus. Meski begitu, saat pertama kali menentengnya ke kampus, ia merasa menjadi mahasiswa seutuhnya. 

“Tahun segitu, punya laptop sendiri tuh rasanya kayak naik level. Nggak perlu lagi mondar-mandir ke warnet,” ujarnya.

Susah payah bersama si laptop kentang

Namanya saja laptop kentang, second pula. Maka, sudah bisa ditebak, hari-hari bersama Acer Aspire One menjadi “momen penuh kompromi”. Ia kudu banyak sabar, karena booting-nya saja bisa memakan waktu lebih dari lima menit. 

Kata Putra, “cukup lama untuk bikin kopi dan sebat.”

Saking lemotnya, pernah ketika harus presentasi kelompok, file PowerPoint tak kunjung terbuka. Dosen menunggu dengan wajah datar, sementara teman-teman menahan tawa. 

Iklan

“Waktu itu aku bilang aja, ‘Sabar ya, Pak, ini netbook lagi meditasi’,” kenang Putra sambil tertawa.

Keyboard kecilnya juga kerap jadi sumber masalah. Jari-jarinya yang besar sering salah ketik. Ia mengaku pernah bikin satu tugas kuliah penuh dengan typo aneh yang membuat dosen kebingungan. 

Sampai-sampai ia dikira sedang ngetik sambil naik motor.

Meski kerap bikin repot, keterbatasan ini justru mengasah kesabaran. Putra belajar menyimpan file cadangan di flashdisk, menulis dulu di kertas sebelum diketik, hingga terbiasa bekerja lebih lambat tapi hati-hati. 

“Aneh ya, laptop lemot malah bikin aku lebih disiplin. Kalau laptop cepat, mungkin aku jadi suka nunda kerjaan. Hahaha.”

Tragedi colokan copot

Karena bekas, kondisi baterai juga sudah tak bisa diharapkan lagi. Hanya beberapa minggu setelah dibeli, baterainya soak. Kalau mau digunakan, Acer Aspire One miliknya kudu sambil di-charge.

Ada momen saat kerja kelompok, laptop mendadak mati. Padahal, tugas yang ia ketika belum di-save. Usut punya usut, kabel charger-nya tanpa sengaja tertendang temannya sehingga harus copot dari colokan listrik.

Dalam situasi tersebut, Putra jelas merasa sangat marah. Namun, sekali lagi, punya laptop kentang mengajarinya buat menahan emosi. 

“Dibilang marah, ya, marah karena harus ngulang ngetik panjang. Tapi ya pada akhirnya kompromi aja, ngatur emosi,” katanya.

Tragedi laptop mati ini tak cuma sekali dua kali. Beberapa kali laptopnya mati karena colokan longgar atau mati lampu. Saking seringnya mengulang mengetik tugas, Putra pun sampai berdamai dengan keadaan.

Acer Aspire One saksi doa dan cinta orang tua

Di balik semua kisah lucu itu, ada cerita lain yang membuat Aspire One begitu bernilai. Putra tahu betul, meski ia membeli laptop itu second, keputusannya tidak lepas dari dorongan orang tuanya. 

Sang bapak, yang sudah pensiun, rela berutang ke tetangga agar anaknya bisa kuliah dengan lebih percaya diri.

“Bapak bilang, ‘Kamu harus punya laptop biar bisa bersaing.’ Aku tahu Bapak nggak ada duit, tapi beliau cuma ingin anaknya nggak kalah sama teman-teman,” ucap Putra pelan.

Ibunya juga hadir di momen itu. Ketika Putra pulang membawa Aspire One, meski jelas bukan laptop baru, wajah ibunya sumringah. 

“Ibu jarang ketawa lebar. Tapi waktu lihat aku bawa laptop, dia bilang, ‘Alhamdulillah, sekarang kamu sudah punya alat buat kuliah.’ Itu bikin aku hampir nangis,” kenangnya.

Kini, Aspire One miliknya sudah mati total. Namun, Putra tidak pernah tega menjual apalagi membuangnya. 

“Kalau laptop biasa, rusak ya sudah, ganti. Tapi yang ini lain. Ada pengorbanan bapak, ada senyum ibu, ada perjalanan kuliah di dalamnya,” ujarnya.

Putra kini bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jogja, dengan laptop modern yang jauh lebih canggih. Tapi setiap kali membuka lemari dan melihat Acer Aspire One yang ia simpan rapi, kenangan itu kembali hidup. 

“Kadang saya senyum sendiri. Laptop ini dulu bikin stres, sekarang justru jadi benda paling berharga.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mahasiswa PTN Bohongi Orang Tua, Mengaku Baik-Baik Saja padahal 4 Tahun Kuliah Menderita karena HP Kentang dan Laptop Bobrok atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 23 September 2025 oleh

Tags: aceracer aspire oneaspire onelaptoplaptop kentangnetbookpilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Catatan

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO
Tajuk

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO
Urban

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja gen Z matikan centang biru WhatsApp dicap kepribadian buruk

Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional

5 April 2026
Ambisi beli mobil sebelum usia 30. Setelah terbeli Suzuki Ertiga tetap tidak bisa senangkan orang tua dan jadi pembelian sia-sia MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia

3 April 2026
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
Naik pesawat Super Air Jet untuk mudik Lebaran ke Jogja

Terpaksa Naik Super Air Jet karena Tiket Murah, tapi Malah Dibikin “Plonga-plongo” karena Kelakuan Sok Asik Awak Kabin

1 April 2026
Salah jurusan, kuliah PTN.MOJOK.CO

Putus Kuliah dari PTS Elite demi Masuk “Jurusan Buangan” di PTN: Menang di Gengsi, tapi Lulus Jadi “Gelandangan” Dunia Kerja

5 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.