Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Dari Burger hingga Kepemimpinan Militer: 3 Akar Krisis MBG yang Kini Terungkap

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
29 September 2025
A A
makan bergizi gratis MBG.MOJOK.CO

Ilustrasi - Skandal Besar MBG (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sekitar pukul 11.30 di sebuah SD negeri di Jawa Barat, puluhan murid bergantian muntah-muntah. Tangis keras pecah di ruang kelas. Orang tua menyerbu ke rumah sakit, petugas kesehatan pun menjadi panik. Kejadian itu hanyalah satu dari ratusan kasus keracunan massal Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang kini menjadi bencana nasional.

Menurut catatan JPPI per 27 September 2025, korban keracunan MBG telah mencapai 8.649 anak. Melonjak 3.289 kasus dalam dua pekan terakhir.

Puncaknya terjadi pada 22–27 September, di mana 2.197 anak menjadi korban keracunan dalam satu pekan saja. Lonjakan ini menjungkirbalikkan citra “mahakarya presiden” yang menjadikan MBG sebagai pusat kebijakan pangan anak.

Di balik angka-angka mengejutkan itu, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyoroti tiga masalah fundamental yang menurut mereka menjadi lubang besar dalam desain dan pelaksanaan program.

“Tangis anak-anak pecah di ruang kelas, antrean panjang di rumah sakit, keresahan orang tua, dan trauma makan MBG adalah bukti nyata bahwa program ini gagap mencapai tujuan,” kata Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, dalam keterangannya kepada Mojok, Senin (29/9/2025).

#1 Pemahaman gizi dan pangan: menu seragam, burger-spaghetti, bahan mentah

MBG dirancang untuk memenuhi kecukupan gizi anak. Sayangnya, dalam praktiknya menu yang disajikan berulang kali dikritik sebagai “menu cepat saji”, sehingga jauh dari kata ideal. 

Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi IX DPR RI, ahli gizi Tan Shot Yen menyinggung menu MBG yang berisi burger hingga spageti. Baginya, ini menjadi semacam keganjilan yang mencederai tujuan gizi. 

Menurut Tan, justru seharusnya 80 persen menu MBG berasal dari pangan lokal agar lebih sesuai dengan konteks daerah.

“Anak Papua bisa makan ikan kuah asam, anak Sulawesi makan kapurung,” katanya mencontohkan. Kepala BGN sendiri membalas kritik tersebut dengan mengatakan bahwa “variasi menu terjadi atas permintaan anak-anak.”

Lebih jauh lagi, di beberapa daerah ditemukan MBG diubah menjadi bahan mentah atau camilan, alih-alih makanan siap santap.

Bagi JPPI, kondisi ini mencerminkan bahwa pemahaman teknis soal gizi (kecukupan kalori, proporsi protein/lemak/karbohidrat, keamanan pangan) sangat lemah dalam desain dan pengawasan operasional MBG.

#2 Struktur kepemimpinan dan dominasi non-ahli

Lebih jauh, JPPI menyebut bahwa BGN dikuasai oleh purnawirawan militer, bukan para profesional gizi atau ahli pangan. Dalam konteks ini, konflik kepentingan dan orientasi politik bisa muncul tanpa kontrol teknis memadai.

Secara normatif, BGN dibentuk lewat Perpres No. 83 Tahun 2024 sebagai lembaga teknis yang bertugas “melaksanakan pemenuhan gizi nasional” melalui kebijakan teknis. Seperti koordinasi, pengawasan, penyediaan dan penyaluran gizi. 

Namun dalam realitas, bukan hanya rencana yang dilanggar. Struktur pengambilan keputusan dilaporkan banyak diisi eks-militer yang kurang relevan dengan aspek nutrisi mikro, produksi pangan lokal, keamanan pangan, atau manajemen operasional dapur skala besar.

Iklan

Kritik dari berbagai pihak juga mencuat. Misalnya, Komisi IX DPR pernah menyoroti Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)–dapur MBG–yang dikelola “asal-asalan”.

Banyak pengamat menyebut, dengan struktur kepemimpinan yang cenderung militeristik, keputusan bisa lebih bersifat top-down, bukan berbasis data lapangan atau diskusi teknis lokal.

Alhasil, struktur semacam ini menghambat fleksibilitas, adaptasi lokal, dan penindakan tegas terhadap penyimpangan. Ketika masalah muncul, intervensi lebih mudah “tutup dapur yang bermasalah saja” daripada menarik seluruh sistem dan mengevaluasi akar penyebab.

#3 Eksklusi sekolah dan masyarakat sipil dalam perencanaan dan pengawasan

JPPI juga menekankan bahwa sekolah dianggap sebagai konsumen pasif, bukan mitra aktif. Padahal MBG menyerap anggaran pendidikan dan menjangkau ruang sekolah. Tanpa partisipasi sekolah dan masyarakat, kontrol kualitas, transparansi, dan akuntabilitas sulit ditegakkan.

Misalnya, viral surat edaran MTsN 2 Brebes yang memaksa sekolah memilih menerima atau menolak MBG. Ini dianggap sebagai situasi “beli atau tinggalkan” yang meniadakan kontrol dinamis sekolah atas mutu layanan.

Sekolah sering tidak mendapat ruang dalam penyusunan menu lokal ataupun alokasi anggaran dapur. Dengan peran sekolah yang dilepas, penyimpangan seperti distribusi makanan buruk, ketidakcocokan selera, atau irisan politik lokal sulit dilacak oleh orang tua, guru, atau pengawas lokal.

Tanpa mekanisme pengaduan publik yang jelas, kasus keracunan atau penyajian menu buruk bisa berlalu tanpa sanksi memadai. 

“Ambisi yang hanya mengejar target kuantitas, terbukti telah mengabaikan standar akuntabilitas, keamanan, dan keselamatan anak. Program ini dijalankan terburu-buru untuk pencitraan politik, bukan perlindungan dan pemenuhan gizi anak. Anak-anak kita adalah pemimpin masa depan bangsa, ia bukan prajurit yang bisa dikorbankan,” tambah Ubaid.

Proyeksi risiko dan urgensi reformasi

Tragedi keracunan massal menandai bahwa kebijakan ambisius tanpa pondasi teknis kokoh bisa memunculkan bencana publik. Upaya pemerintah mengklaim bahwa kasus keracunan adalah “0,00017 persen dari porsi” pun disambut skeptisisme. Dalam pernyataannya, presiden Prabowo menyebut meskipun terjadi keracunan, itu “itu cuma berapa persen saja”.

Namun, fakta bahwa setidaknya 40 dapur sudah ditutup karena tidak memenuhi standar operasional, dan pengakuan pejabat BGN bahwa ada kegagalan kontrol, menjadi salah satu penyebab utama, menunjukkan sistem pengawasan internal telah lemah.

Jika dibiarkan, tiga lubang struktural di atas akan memperburuk situasi. Malnutrisi mikro tetap tersebar, insiden keamanan pangan bisa melebar, dan kepercayaan publik terhadap program akan memudar.

Oleh karena itu, tuntutan JPPI agar seluruh dapur dihentikan sementara untuk evaluasi sistemik—bukan penanganan ad hoc—menjadi wajar. Lebih jauh, reformasi BGN agar dipimpin oleh profesional, dan dialog publik-sekolah dijadikan mekanisme rutin, adalah langkah krusial agar MBG tidak berubah menjadi program pencitraan berisiko tinggi.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Nyaring Panci Ibu-ibu di Jogja Memprotes MBG: Menu Tak Enak, Racuni Anak, dan Bikin Repot Guru atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 29 September 2025 oleh

Tags: kasus keracunan mbgmakan bergizi gratisMBGpilihan redaksiprogram mbg
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kerja di Jakarta.MOJOK.CO
Urban

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO
Aktual

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Romantisasi bunuh diri di Jembatan Cangar Mojokerto harus dihentikan MOJOK.CO
Catatan

Ironi Jembatan Cangar Mojokerto: Berubah Jadi Titik Bunuh Diri Gara-gara Salah Kaprah Diromantisasi hingga Menginspirasi

24 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi tinggal di desa.MOJOK.CO

Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang

20 April 2026
Sulitnya menjadi orang dengan attachment style avoidant. MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi “Avoidant” Menjelang Usia 25, Takut Terlalu Dekat dengan Orang Lain hingga Pesimis Menikah

24 April 2026
Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing Mojok.co

Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing

24 April 2026
Campus Leagu: kompetisi olahraga kampus untuk masa depan atlet mahasiswa MOJOK.CO

Campus League Musim 1: Kompetisi Olahraga Kampus untuk Fondasi Masa Depan Atlet Mahasiswa, Menempa Soft Skills Krusial

22 April 2026
Mahasiswa S2 PAUD UNJ, WNA Malaysia

Cerita Mahasiswa Malaysia Nekat Kuliah S2 di UNJ karena Dosen “Unik”, Bahagia Meski Tiap Hari Diceng-cengin

21 April 2026
mabar game online.MOJOK.CO

Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar

23 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.