Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Pengalaman Kelam di Jalan Magelang, Salah Satu Jalan Favorit Pelaku Kejahatan Jalanan

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
14 Agustus 2023
A A
Pengalaman Kelam di Jalan Magelang, Salah Satu Jalan Favorit Pelaku Kejahatan Jalanan. MOJOK.CO

Ilustrasi Pengalaman Kelam di Jalan Magelang, Salah Satu Jalan Favorit Pelaku Kejahatan Jalanan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jalan Magelang jadi pintu masuk utama menuju Jogja dari arah utara. Jalan yang panjang dengan ruas lebar yang didominasi lintasan lurus. Di balik kenyamanan itu, ada kisah kelam dan potensi bahaya yang mengadang.

***

Bagi saya Jalan Magelang adalah rute yang harus ditempuh saat hendak ke kampung halaman di Banjarnegara, Jawa Tengah. Setelah mengurai kepadatan jalanan di Kota Jogja yang padat dan melelahkan, ada perasaan lega ketika roda mulai menjejaki lintasan lurus dan panjang. 

Namun, motor setidaknya harus saya pacu lebih kencang lantaran di jalan yang lurus dan nyaman, semua pengendara seakan ingin melaju cepat. Belum lagi, rute ini penuh dengan kendaraan berat, baik bus maupun truk yang hendak keluar dan masuk dari arah utara Jogja.

Ketika sedang tidak ingin membawa motor dengan kecepatan tinggi, berjalan pelan di tepi adalah solusi tepat. Ketimbang harus mendengar deru klakson bersahut-sahutan dari kendaraan yang meminta jalan.

Saat siang rute ini terasa begitu padat, ketika malam suasana berubah jadi cukup senyap dan gelap. Pepohonan yang saat cerah membantu menahan terik, ketika gelap menjelang menjadi penambah suasana temaram.

Malam hingga dini hari, suasananya bisa menjadi rawan karena jalan ini menjadi salah satu lokasi andalan para remaja pelaku kejahatan jalanan atau klitih. Rute lurus dan sepi saat malam hari kerap disepakati sebagai tempat tawuran.

Pada Maret 2023 lalu misalnya, viral sebuah video seorang remaja berboncengan membawa senjata tajam di Jalan Magelang-Yogyakarta. Tepatnya di wilayah Mertoyudan, Magelang.  Perekam yang berada di dalam mobil itu lantas mengejar terduga pelaku klitih. Peristiwa itu disebut terjadi pukul 04.00 WIB Senin (6/3/2023) silam.

Pelaku klitih anggap rute Jalan Magelang ideal

Pada Mei 2023 lalu, saya berkesempatan berbincang dengan seorang pelaku tawuran saat melakukan reportase tentang geng sekolah di Jogja. Demas* (18), pelajar yang tidak ingin nama aslinya tersebar mengaku pernah beberapa kali terlibat adu senjata di utara Terminal Jombor, Sleman.

Demas baru saja resmi menjadi bagian dari salah satu SMK di Jogja saat ajakan untuk tawuran datang kepadanya. Ia baru saja menyelesaikan agenda Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS). Temannya tahu, dulu remaja ini pernah bergabung dengan sebuah geng SMP. 

“Semua bermula dari ajakan kumpul untuk nongkrong,” kenang Demas.

Setibanya di angkringan ternyata para seniornya di SMA sedang merencanakan tawuran dengan sekolah yang mereka anggap rival. Remaja ini langsung mendapat ajakan untuk mengambil peran dalam tawuran itu. Pertikaian itu sudah terencana, kedua pihak telah membuat janji untuk bertemu di Jalan Magelang lewat tengah malam.

Selain karena sekolah lawan berada di daerah Sleman, pemilihan Jalan Magelang karena rutenya yang lurus dengan ruas jalan luas. Lewat tengah malam daerah itu juga sepi dan jauh dari permukiman warga.

“Intinya cenderung aman dan banyak jalan keluar seandainya ada polisi yang mengejar,” cetusnya.

Iklan

Pada saat itu Demas mendapat kepercayaan untuk menjadi jongki. Ia memang masih enggan untuk memegang senjata tajam karena mengaku belum terbiasa.

Pengalaman Kelam di Jalan Magelang, Salah Satu Jalan Favorit Pelaku Kejahatan Jalanan. MOJOK.CO
Pengalaman Kelam di Jalan Magelang, Salah Satu Jalan Favorit Pelaku Kejahatan Jalanan. (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Tak berselang lama setelah kumpul di angkringan, mereka segera menyalakan sepuluh sepeda motor, siap menuju lokasi tawuran. Termasuk Demas dengan motor Honda Vario 110 miliknya. 

Sebelum menuju lokasi yang akan jadi arena tempur, mereka terlebih dahulu mengambil persenjataan di daerah Kotabaru, Yogyakarta. Demas mengaku sempat kaget lantaran senjata yang hendak digunakan cukup beragam. Mulai dari pedang hingga gergaji semuanya tersimpan rapi di balik jaket para remaja ini.

Kengerian di Jalan Magelang

Setelah alat serang dan bertahan lengkap, rombongan itu lantas melaju pelan menuju utara sekitar pukul setengah satu. Mereka terlebih dahulu mampir ke sebuah pom bensin. Demas semakin terheran, sebagian rekannya itu menenteng senjata terang-terangan.

“Jadi, jongki yang masuk ke pom ngisi bensin. Fighter-nya turun di depan. Senjata ya mereka tenteng. Etel tenan,” kenangnya sambil tersenyum getir.

Mereka melanjutkan perjalanan ke utara, di Jalan Magelang, sebelah utara Terminal Jombor. Jalanan itu relatif sepi dengan lintasan lurus yang ideal untuk bertempur. 

Namun, Demas kaget. Di sekitar Restoran Pringsewu, ternyata, lebih dari dua puluh musuh telah menunggu di pinggiran jalan.

Tanpa aba-aba, batu sekepalan tangan melayang ke arah rombongannya.  Menghajar fighter yang membonceng motor tepat di depan dimas. Sepintas, Demas melihat rekannya itu memalingkan wajah, mengelap bibirnya yang sudah penuh darah.

Malam itu terasa begitu panjang di Jalan Magelang bagi Demas dan rekan-rekannya. Tidak ada korban jiwa, tapi banyak di antara mereka yang mengalami luka memar pukulan benda tumpul hingga sayatan benda tajam yang butuh jahitan.

Baca halaman selanjutnya…

Sengaja cari tempat sepi dan gampang melarikan diri

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 14 Agustus 2023 oleh

Tags: jalan magelangkejahatan jalananklitih
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia MOJOK.CO
Esai

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia

23 Februari 2026
Klitih dan Normalisasi Kekerasan: Alarm Bahaya dari Jalanan Jogja MOJOK.CO
Tajuk

Klitih dan Normalisasi Kekerasan: Alarm Bahaya dari Jalanan Jogja

16 Februari 2026
10 Tahun di Jogja, Mental Orang Jombang Ambruk karena Klitih MOJOK.CO
Esai

Setelah 10 Tahun Merantau di Jogja, Orang Jombang Malah Trauma dengan Berita Buruk Khususnya Pembacokan dan Klitih

1 April 2025
Lawan Keterbatasan Anggaran, Sultan HB X Pacu Digitalisasi dan Pembiayaan Kreatif di DIY.MOJOK.CO
Esai

Jogja Adalah Pusat Alam Semesta? Pantas Dunia Ini Ruwet dan Banyak Masalah

29 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rela bayar mahal kuliah jurusan Keperawatan PTS besar demi jadi perawat. Setelah lulus malah jadi kayak babu MOJOK.CO

Rela Bayar Mahal di Jurusan Keperawatan demi Prospek Karier Perawat, Cuma Berakhir Jadi “Babu” di RSUD

14 April 2026
Derita S2 karena Dipaksa Ibu, kini Bahagia Menanam Cabai Rawit MOJOK.CO

Menyesal Kuliah S2 karena Dipaksa Ibu, kini Lebih Bahagia Menanam Cabai Rawit dan Berkebun

15 April 2026
Punya hard skill yang laku buat kerja di kota tapi tidak berguna buat slow living di desa MOJOK.CO

Punya Skill yang Laku buat Kerja di Kota tapi Ternyata Tak Berguna di Desa, Gagal Slow Living Malah Kebingungan Nol Pemasukan

13 April 2026
Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal MOJOK.CO

Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil

15 April 2026
Bupati dan Walikota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan MOJOK.CO

Bupati dan Wali Kota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan

13 April 2026
Derita tak punya motor dan tidak bisa naik motor di tongkrongan laki-laki MOJOK.CO

Derita Tak Punya Motor Sendiri dan Tak Bisa Nyetir di Tongkrongan Laki-laki: Dianggap Beban hingga Ditinggal Diam-diam

16 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.