Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Orang Solo Alami Culture Shock Saat Naik Trans Jogja: Armada Tak Layak Pakai, Rute Bikin Mumet, Sopirnya pun Red Flag. BST Masih Jauh Lebih Unggul

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
8 Februari 2024
A A
Orang Solo Alami Culture Shock dengan Trans Jogja: Armada Tak Layak Pakai, Rute Bikin Mumet, Sopirnya pun Red Flag. BST Masih Jauh Lebih Unggul.mojok.co

Ilustrasi Cerita Mahasiswa UNY yang Berdamai dengan Bapuk dan Ekstremnya Bus Trans Jogja (Mojok)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pelayanan Trans Jogja memang kerap mendapat kritikan. Armada yang payah, rute yang membingungkan, hingga perilaku sopir yang ugal-ugalan di jalan sering bikin masyarakat Jogja geram. Di mata orang Solo, hal itu nyatanya juga bikin shock karena mereka terbiasa dengan pelayanan bus Batik Solo Trans (BST) yang lebih baik. 

Di grup Facebook “Info Cegatan Jogja (ICJ)”, pelayanan Trans Jogja kembali mendapat keluhan warga. Muaranya adalah curhatan seorang ibu yang mengaku anaknya dibikin muter-muter oleh Trans Jogja. 

Kata ibu tersebut, petugas halte memberi tahu rute yang salah sehingga anak sang ibu jadi muter-muter. Dari yang harusnya 30 menit sampai rumah, lebih dari 2 jam waktu sang anak habis di jalanan.

Di kolom komentar, warganet pun juga tak sedikit yang mengeluhkan soal pelayanan Trans Jogja. Mulai dari tidak jelasnya sistem pembayaran, petugas yang kurang ramah, hingga sopir ugal-ugalan yang kerap bikin kecelakaan.

Saya pun menanyai Widyawati (21) dan Sekar (21), dua mahasiswa Jogja asal Kota Solo yang setiap harinya mengandalkan Trans Jogja untuk bepergian. Di mata mereka, Trans Jogja masih banyak minusnya jika dibanding moda transportasi asal Solo, BST.

Banyak armada yang sudah tidak layak pakai

Sejak menjadi mahasiswa baru pada 2019 lalu, Widyawati mengandalkan Trans Jogja untuk bepergian, khususnya ngampus. Setiap hari, Widya, sapaan akrabnya, memanfaatkan dua jalur dari kos ke kampus dan sebaliknya.

Ketika berangkat dari kosnya di daerah Miliran, Muja-Muju, mahasiswa UNY ini menaiki jalur 2A yang berangkat dari halte SGM Kusumanegara. Sementara saat pulang, ia selalu menggunakan jalur 2B yang naik melalui halte depan Rektorat UNY di Jalan Colombo.

Kata Widya, ada perbedaan seperti bumi dan langit antara armada 2A dan 2B. Saat berangkat ngampus, misalnya, armada yang ia tunggangi masih lumayan bagus. 

“AC masih dingin, mesinnya juga masih kelihatan oke. Buktinya kalau naik udah enggak ada rasa geter-geter,” katanya, Rabu (7/2/2024). “Bayarnya pun udah cashless, menurutku praktis banget.”

Sementara 2B, menurutnya masih sangat kuno. Kadang-kadang AC-nya sudah tak terlalu sejuk, sehingga waktu naik malah terasa gerah. Pembayaran juga masih konvensional. Bahkan untuk urusan mesin, rasanya sudah tidak prima lagi.

“Selama pakai 2B, pernah satu kali ngalamin bus mogok di tengah jalan. Untungnya perjalanan pulang, jadinya enggak dikejar waktu,” ujarnya.

Ia menyambung, “harusnya 2B dipensiunin saja, sih. Ganti yang baru. Udah enggak layak pakai banget.”

Rute Trans Jogja bikin mumet

Sudah jadi rahasia umum kalau rute Trans Jogja terkesan ruwet dan bikin penumpang bingung. Padahal, jika kita mebandingkannya dengan BST, rute moda transportasi asal Kota Solo itu jauh lebih simpel.

Widya bercerita, selama masih SMA dia setia menggunakan BST untuk berangkat sekolah. Rumahnya berada di daerah Mendungan, Kecamatan Kartasura, sedangkan sekolahnya adalah SMA Negeri 2 Surakarta yang terletak di Jalan Mongonsidi, Kota Surakarta.

Iklan

Jarak antara rumah dan sekolahnya kira-kira 7,5 kilometer. Ia memutuskan naik BST karena harganya lebih murah. “Kalau pakai ojol bisa Rp20 ribuan. Kalau BST tarif pelajar cuman Rp2.000.”

Jalur yang ia lewati juga simpel: hanya menyusuri Jalan Slamet Riyadi kurang lebih 5 kilometer, dan sisanya melintas di Jalan Urip Sumoharjo. 

Sementara pengalamannya naik Trans Jogja, kata Widya, malah hanya bikin capek di jalan. Ia mencontohkan, untuk rute SGM-UNY saja, Trans Jogja membawanya muter dulu ke Stadion Kridosono hingga RS Panti Rapih. Alhasil, waktu tempuh pun juga semakin lama.

“Celakanya dari kosku ke kampus cuman ada satu jalur, enggak ada alternatif lain. Jadi mau enggak mau harus ikut rute yang muter.”

Petugas halte Trans Jogja terkadang juga menyesatkan

Pengalaman muter-muter di jalan juga dirasakan Sekar. Mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) ini punya pengalaman tidak mengenakan menggunakan Trans Jogja saat baru pertama tinggal di sini. 

Kala itu, Sekar berniat jalan-jalan ke Malioboro. Wajar, sebagai “pendatang”, tempat wisata pertama di Jogja yang ingin ia kunjungi sudah pasti Malioboro.

Dari kosnya yang berada di wilayah Banguntapan, Sekar naik dari halte depan Kantor Kelurahan Banguntapan. Saat itu, petugas menginstruksikannya agar naik 2B. Sekar manut saja karena memang masih newbie dan belum kenal medan. 

Di dalam bus, ternyata petugas menyuruhnya agar nanti turun di halte Ngabean, dan ganti bus lagi di sana. Alhasil, buat ke Malioboro saja yang idealnya hanya berjarak 10 menit harus ia tempuh selama sejam lebih.

“Padahal setelah aku udah hafal rutenya, kita tinggal lurus aja,” kata Sekar, Rabu (7/2/2024).

“Enggak tahu petugas miskom atau memang kurang memahami rute. Tapi percaya enggak percaya, sampai sekarang kasus kayak begini masih sering kejadian lho.”

Orang Solo Alami Culture Shock dengan Trans Jogja: Armada Tak Layak Pakai, Rute Bikin Mumet, Sopirnya pun Red Flag. BST Masih Jauh Lebih Unggul.mojok.co
Menurut Widya, ada beberapa armada Trans Jogja yang sudah tak layak pakai dan harusnya sudah dipensiunkan saja (dok. Ahmad Effendi/mojok)

Sopir amat ugal-ugalan

Hal lain yang sebenarnya sudah jadi rahasia umum bagi warga Jogja, tapi cukup bikin Sekar alami culture shock adalah sopir Trans Jogja yang ugal-ugalan. 

Sekar ingat betul saat pertama kali naik Trans Jogja, keringat dingin bercucuran di tubuhnya. Bahkan sempat juga mengalami mual dan hampir muntah di dalam bus, meski akhirnya bisa ia tahan. 

“Sopirnya asal trabas dan asal rem aja. Kalau enggak pegangan kursi, bisa aja jatuh sih,” katanya. “Pokonya mobat-mabit.”

Sopir ugal-ugalan tersebut, seperti yang Sekar akui, sangat jarang ia jumpai di BST. Kecepatan berkendara di sana cenderung stabil, malah sangat jarang kebut-kebutan. Sopir bus juga kerap menjelaskan secara sabar dan rinci terkait rute-rute BST bagi para newbie alias penumpang baru.

Aksi ugalan-ugalan sopir Trans Jogja, memang kerap bikin pengguna jalan geram. Kata laporan Ombudsman DIY, salah satu sebab Trans Jogja ugal-ugalan karena ada kebijakan head-time yang diterapkan pengelola.

Pendeknya, head-time itu semacam waktu tempuh untuk sekali putaran di tiap rute. Artinya, semakin cepat bus sampai di pemberhentian terakhir, maka semakin panjang juga waktu istirahat sopir. Hal ini yang bikin Trans Jogja terlihat sebagai kendaraan yang paling terburu-buru di jalanan Kota Jogja.

Trans Jogja banyak dibutuhkan warga, tapi juga harus tahu diri

Sekar sadar betul bahwa selama hampir empat tahun kuliah di Jogja, ia amat terbantu dengan kehadiran Trans Jogja–terlepas dari segala kekurangannya.

“Soalnya lumayan ngirit kalo aku bandingin sama ojol,” katanya.

Animo masyarakat buat naik bus, dalam kacamatanya, juga masih besar. Buktinya, di jam-jam pulang sekolah atau pulang kerja, dirinya harus rela sempit-sempitan di dalam bus karena memang penumpangnya penuh.

“Artinya ‘kan banyak masyarakat yang amat bergantung. Tapi mbok ya tahu diri, minimal perbaikin pelayanannya,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Agung Purwandono

Terakhir diperbarui pada 8 Februari 2024 oleh

Tags: bstculture shockkota jogjared flagsoloTrans Jogja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Pemuda Solo bergaya meniru Jaksel bikin resah MOJOK.CO
Ragam

Saat Pemuda Solo Sok Meniru Jaksel biar Kalcer, Terlalu Memaksakan dan Mengganggu Solo yang Khas

28 Januari 2026
flu.mojok.co
Aktual

Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19

9 Januari 2026
Ilustrasi Honda Beat Motor Sial: Simbol Kemiskinan dan Kaum Tertindas (Shutterstock)
Pojokan

Pengalaman Saya Menyiksa Honda Beat di Perjalanan dari Jogja Menuju Solo lalu Balik Lagi Berakhir kena Instant Karma

7 Januari 2026
Tinggal di kos murah Taman Siswa (Tamsis) Jogja: Malam-malam ada suara ceplak-ceplok, saling pukul di kamar, hingga terusir gara-gara sengketa warisan MOJOK.CO
Ragam

Sewa Kos Rp350 Ribu Berdinding Triplek di Tamsis Kota Jogja, Bonus Suara “Ceplak-ceplok” Tengah Malam hingga Terusir Gara-gara Sengketa Warisan

6 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jogja City Mall, Sleman bikin orang nyasar. MOJOK.CO

Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya

3 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah PTN Surabaya pertama kali makan di restoran All You Can Eat (AYCE): norak, mabuk daging, hingga sedih karena hanya beri kenikmatan sesaat MOJOK.CO

Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

6 Februari 2026
bencana.MOJOK.CO

Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana

4 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal

6 Februari 2026
Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.