Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Sudah Saatnya Sopir Bus Ugal-Ugalan Itu Ditertibkan, Nyawa Orang Lain Jelas Lebih Berharga ketimbang Harga Diri dan Setoran!

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
3 Desember 2023
A A
Sudah Saatnya Sopir Bus Ugal-Ugalan Itu Ditertibkan, Nyawa Orang Lain Jelas Lebih Berharga ketimbang Harga Diri dan Setoran!

Sudah Saatnya Sopir Bus Ugal-Ugalan Itu Ditertibkan, Nyawa Orang Lain Jelas Lebih Berharga ketimbang Harga Diri dan Setoran! (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sopir bus ugal-ugalan perlu ditertibkan. Sebab, tak ada setoran yang seharga nyawa. Itu pun nyawa orang lain.

“Wasyuuuuu, mataneee piceeek koe!”

Teman saya mengumpat sembari berusaha menjaga kestabilan motornya agar tidak jatuh. Semua gara-gara bus yang rakus mengambil jalur yang jelas bukan untuknya. Bus itu menyalip melawan arah, dan kami pengendara motor dipaksa untuk mengalah.

Saya yang berada di belakangnya maklum mendengar umpatannya. Meski harusnya umpatan itu bisa diganti dengan ungkapan rasa syukur, tapi siapa yang tidak panik dan marah ketika jalur yang seharusnya menjadi haknya, harus diambil dengan brutal?

Kisah lain yang tidak kalah seru pernah saya alami ketika harus menggunakan bus ekonomi dari Jakarta-Semarang. Sopir bus yang saya tumpangi saling menyalip dengan bus lainnya di jalur pantura daerah Brebes. Saat menyalip sisi samping kedua bus berjarak begitu tipis setipis tempe mendoang yang tergerus inflasi.

Saya di dalam bus seperti berada dalam situasi yang mirip dengan Film Death Race sembari bibir memohon ampun kepada Tuhan kalau-kalau di saat itu nyawa melayang. Penumpang lain ada yang berteriak, “Sudah mas, ojo ngebut, aku durung rabi!!!” dengan suara bergetar.

Potret yang saya alami di atas, masih masif ditemukan hingga saat ini. Bahkan, saya yakin, banyak penumpang bus lain yang punya pengalaman lebih mencekam dari saya.

Ugal-ugalan karena sistem

Dampak buruk dari kebut-kebutan dan ugal-ugalan para sopir bus ini pada akhirnya menstimulasi tingginya tingkat kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Berdasarkan laporan Kementerian Perhubungan (Kemenhub), korban kecelakaan angkutan jalan di Indonesia mencapai 204.447 orang sepanjang 2022. Hampir dari 50 persen di antaranya disebabkan oleh kelalaian para sopir bus yang acap kali sembarangan di jalan raya. Terbaru, ada insiden PO Bus Rahayu dan Eka yang menelan korban hingga puluhan orang. Fenomena ugal-ugalan bus di Indonesia sampai masuk pemberitaan di media China yang ramai dibicarakan di media sosial X.

Setiap fenomena punya penyebabnya, tidak tiba-tiba terjadi tanpa alasan. Sama halnya dengan ugal-ugalannya para sopir bus ini. Jika diamati, perilaku ugal-ugalan mereka disebabkan karena dua faktor yaitu faktor struktural dan kultural. Mari kita bahas satu per satu.

Baca Juga:

Jalan Magelang Jogja Penuh Bahaya, Nggak Cocok buat Pengendara Bermental Tempe

Desa Penundan, Surga Dunia bagi Sopir Truk dan Bus yang Melewati Jalan Alas Roban

Faktor struktural terjadi secara terstruktur dan sistemik yang landscape-nya bisa sangat luas. Ambil saja sesuatu yang paling dekat yaitu terkait regulasi dan kondisi ekonomi.

Regulasi terkait pengaturan perihal berkendara di jalan raya pada dasarnya telah diatur dalam UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Setidaknya ada 5 pasal yang mengatur dengan hukuman terberat mencapai 12 tahun penjara atau denda sebanyak 24 juta rupiah. Tapi, regulasi ini dalam implementasinya tak bisa dilaksanakan dengan optimal. Alasannya tentu banyak hal, tapi yang paling penting adalah minimnya pengetahuan para sopir dan pemilik armada bus dan kondisi ekonomi yang menuntut persaingan antar-armada. Ini membuat para pemilik armada dan sopir bus seperti mengabaikan peraturan ini.

Imbas selanjutnya kita lihat dari segi ekonomi. Bus membutuhkan bahan bakar. Sementara harga bahan bakar terus mengalami kenaikan. Belum ditambah dengan biaya perawatan bus yang juga ikut naik seiring dengan inflasi yang terus mencekik. Ini mendorong para pemilik bus memutar otak untuk melakukan efisiensi armada. Artinya armada busnya diminimalkan jumlahnya sehingga beban perawatannya dapat ditekan.

Eksekutif aman, ekonomi deg-degan

Selain itu, dalam banyak kasus, bus-bus tersebut terutama yang ekonomi juga dikejar setoran sehingga harus berebut penumpang di terminal. Para sopir bus dituntut untuk cepat tiba di terminal karena setiap dari armada bus telah memiliki jam ngetemnya. Jika lewat dari jam ngetemnya, armada bus yang bersangkutan belum tiba di terminal, posisinya akan diisi oleh armada bus lainnya.

Skema dengan pembagian jam ngetem ini memang menguntungkan armada bus-bus besar dengan kelas eksekutif. Mereka bisa tiba tepat waktu karena jalur yang dilalui biasanya menggunakan jalan tol. Misal pun telat, ada bus pengganti dari armada yang sama untuk mengisi pos ngetemnya. Tapi sebaliknya, skema ini tentu memberatkan betul bagi para bus-bus ekonomi. Wong mereka ini armadanya sedikit, jalur yang dilalui pun lebih banyak yang non-tol.

Sementara faktor secara kultural atau kebiasaan, para sopir bus ini ngebut untuk membunuh rasa bosan dan ngantuk. Pengakuan ini saya dapat dari teman yang punya saudara seorang sopir. Bayangkan, para sopir bus khususnya ekonomi itu biasanya single fighter. Mereka sendirian dalam sekali rute perjalanan, tanpa sopir pengganti.

Nggak jarang mereka mengemudikan lebih dari satu kali rute perjalanan. Mereka bolak-balik dengan rute dan pemandangan yang sama. Ditambah kalau keneknya nggak pengertian sehingga sopirnya nggak diajak ngobrol.

Kondisi seperti itu tentu menimbulkan rasa bosan dan mengantuk. Cara untuk mengantisipasinya adalah dengan memacu bus dengan cepat untuk meningkatkan adrenalin sehingga otak tetap waspada. Tentu dengan bantuan kopi dan rokok. Kebiasaan seperti ini kemudian menjamur dan membudaya di kalangan para sopir bus. Karakter para sopir bus juga acap kali emosional ketika disalip oleh bus lainnya sehingga nggak jarang memicu saling berbalapan di jalur sempit yang banyak dilalui oleh kendaraan pribadi.

Kalau perlu, presiden turun tangan ngurusin sopir bus

Untuk menertibkan para oknum sopir yang ugal-ugalan, dua faktor yang saya sebutkan sebelumnya harus dijadikan perhatian oleh Dinas Perhubungan. Bila perlu, presiden harus mengambil sikap. Ini serius loh. Faktor struktural harus bisa disikapi dengan berbagai intervensi kebijakan. Masifkan edukasi regulasi UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kepada para sopir secara berkala. Kasih mereka pelayanan khusus saat diedukasi sehingga mereka benar-benar menyimak. Jangan sosialisasi partai atau kebijakan populis aja yang diberikan uang saku.

Dalam sistem transportasi modern di negara-negara maju, sopir menjadi tenaga profesional yang harus berlisensi. Ini untuk menciptakan tenaga sopir yang paham dengan dasar-dasar pelayanan untuk menyamankan penumpang. Sangat disayangkan, di Indonesia, sopir-sopir bus ini hanya dilihat berdasarkan SIM dan tingkat kemahirannya dalam mengemudi. Padahal, yang paling penting adalah perilaku sopir yang paham soal kenyamanan dari penumpang. Pemerintah, harusnya sadar dengan hal ini dan mulai menyiapkan ekosistem persopiran yang tersistematik.

Di tingkat kebijakan, pemerintah dapat memberikan kepastian subsidi bahan bakar khusus untuk para penyedia transportasi publik sehingga mereka mendapatkan ketenangan perihal biaya operasional. Lebih penting, atur dengan baik sistem terminal di kota-kota besar sehingga mereka tidak terkesan disisihkan dan dianaktirikan. Mereka diberikan pos khusus sehingga tidak berebut penumpang dengan armada-armada bus besar. Semua itu butuh kebijaksanaan pemerintah untuk dieksekusi dengan baik.

Capres nggak ada yang mau bikin program buat sopir bus nih?

Saya percaya, industri transportasi bus akan tetap lestari. Banyak masyarakat Indonesia yang masih bergantung dengan keberadaan bus-bus AKAP yang hilir mudik tiap hari. Oleh karena itu, menertibkan sopir-sopir yang ugal-ugalan harus jadi hal yang serius untuk dipikirkan dan dilaksanakan. Melihat saat ini masuk masa kampanye, alih-alih mengusulkan program yang ndakik-ndakik dan ngawang-ngawang, paslon capres dan cawapres bisa usulkan program kerja yang memberikan solusi atas keresahan masyarakat soal bus yang ugal-ugalan.

Gimana Pak Anies, Pak Prabowo, dan Pak Ganjar? Biar konkret gitu loh.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Penjelasan Sopir tentang Anggapan Mending Hilang Satu Nyawa Ketimbang Satu Bus

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Desember 2023 oleh

Tags: Aturan lalu lintaskecelakaansetoransopir busugal-ugalan
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Jalan Layang MBZ: Jalan Tol yang Nggak Sekaya Namanya. Boro-boro Nyaman, Keamanannya Saja Diragukan

Jalan Layang MBZ: Jalan Tol yang Nggak Sekaya Namanya. Boro-boro Nyaman, Keamanannya Saja Diragukan

8 Juli 2024
Titik di UNS Solo, ISI, dan Sekitarnya yang Perlu Dihindari karena Bikin Muntab terminal mojok.co

Untuk Perempuan Berjilbab Besar yang Bonceng Sepeda Motor: Lampu Sein Belakang Itu Bukan Aurat, Jadi Tak Perlu Ditutupi

4 Oktober 2019
Video Tukang Parkir Geledah Dasbor Motor di Parkiran Matos Malang Adalah Contoh Terbaik Betapa Problematik Profesi Ini parkir kampus tukang parkir resmi mawar preman pensiun tukang parkir kafe di malang surabaya, tukang parkir liar lahan parkir pak ogah

Pengakuan Dilematis Tukang Parkir Resmi di Sekitar Minimarket Alun-Alun Kota di Jawa Tengah: Setoran Terlalu Besar, Pendapatan Terlalu Kecil

6 Juli 2024
aturan lalu lintas 4 orang menyebalkan saat kecelakaan lalu lintas lakalantas mojok

Orang Tua Adalah Penyebab Generasi Penerusnya Melanggar Aturan Lalu Lintas

25 Juli 2021
Jalan Magelang Jogja Penuh Bahaya, Nggak Cocok buat Pengendara Bermental Tempe

Jalan Magelang Jogja Penuh Bahaya, Nggak Cocok buat Pengendara Bermental Tempe

15 Januari 2025
Betapa Menyebalkannya Orang yang Merokok di dalam Mobil  merokok sambil berkendara

Memberantas Pengendara yang Merokok sambil Berkendara Itu Mudah, Tinggal Polisi Mau atau Tidak

3 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Gen Z Bernama Sri- Sering Dikira Bibi Kantin dan Pembantu (Unsplash)

Derita Gen Z Punya Nama Sri yang Sering Dikira Bibi Kantin dan Pembantu

21 April 2026
7 Mobil Bekas Harga Rp100 Juta-an yang Paling Masuk Akal Dimiliki sebagai Kendaraan Keluarga Mojok.co

7 Mobil Bekas Harga Rp100 Juta-an yang Paling Masuk Akal Dimiliki sebagai Kendaraan Keluarga

16 April 2026
Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

22 April 2026
7 Sisi Terang Jakarta yang Jarang Dibahas, tapi Nyata Adanya: Bikin Saya Betah dan Nggak Jadi Pulang Kampung kerja di jakarta

Jangan Mencari Peruntungan dengan Kerja di Jakarta, Saya Cari Magang di Sini Saja Susah, Sekalinya Dapat Tidak Digaji dan Dijadikan Tenaga Gratisan

20 April 2026
Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai Mojok.co

Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai

19 April 2026
4 Pertanyaan yang Paling Sering Ditanyakan ke Mahasiswa Universitas Terbuka mahasiswa UT kuliah di UT

Saya Sempat Meremehkan Universitas Terbuka, Sampai Akhirnya Saya Menjalaninya Sendiri sambil Kerja

20 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami
  • Campus League Musim 1: Kompetisi Olahraga Kampus untuk Fondasi Masa Depan Atlet Mahasiswa, Menempa Soft Skills Krusial
  • Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University
  • Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja
  • Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti
  • 3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.