Tangan seorang laki-laki pendatang itu lembut memetik butir-butir buah berwarna merah-keunguan. Tandanya, buah yang ia tanam di lereng Gunung Muria itu sudah matang dan bisa dikonsumsi.
Buah-buah itu dimasukkan dalam keranjang, lalu mulai dikenalkan kepada masyarakat setempat yang sebelumnya asing dengan tanaman tersebut. Nama buah itu adalah parijoto (Medinilla speciosa).
“InsyaAllah buah ini berkhasiat untuk meningkatkan kesuburan. Bagi yang berharap lekas punya keturunan, makanlah buah ini,” ujarnya memberi penjelasan kepada masyarakat lereng Gunung Muria saat itu.
Tentu saja banyak yang percaya. Apalagi, laki-laki pendatang itu, sejak awal kedatangannya ke desa dikenal sebagai sosok penuh kasih, grapyak (mudah berbaur dengan masyarakat sekaligus kearifan lokal setempat), arif, dan ulet (terutama soal tanam-menanam).
Jika dinarasikan, kira-kira begitulah gambaran awal mula Umar Said (Sunan Muria) mensyiarkan nilai-nilai Islam lewat jalur tanaman, seperti tergambar dalam buku Sejarah Sunan Muria (2018) dan sejumlah cerita tutur yang berkembang di Desa Colo.
Sunan Muria membawa Islam dari pusat kota ke pedalaman desa
Menjelang akhir abad ke-15 Masehi, Umar Said mengabdikan dirinya ke pedesaan di kawasan lereng Gunung Muria. Persisnya di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Karena itulah ia kemudian lebih dikenal dengan gelar “Sunan Muria” (pengasuh di lereng Muria).
Di Colo, Sunan Muria mencoba menjalankan laku hidup tapa ngeli (tapa hanyut): menghanyutkan diri bersama masyarakat setempat. Karena mayoritas masyarakat lereng Gunung Muria adalah petani, maka lewat jalur tanaman lah Sunan Muria masuk untuk mengenalkan ajaran-ajaran Islam yang ia bawa dari Kerajaan Islam Demak.
Sejarawan Amerika Serikat, M.C. Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia Since c. 1200 (2008) menyebut, Sunan Muria memilih dakwah Islam ke pedalaman desa sebagai upaya memperluas jangkauan Islamisasi.
Di masa itu, Islamisasi memang cenderung berkutat di area pesisir dan pusat kota. Sementara masyarakat pedalaman tidak begitu tersentuh karena akses yang sulit dijangkau.
Pilihan Sunan Muria untuk menepi ke pedalaman desa didasari pada kesadaran: Islam sebagai agama rahmatan li al-alamin (rahmat bagi seluruh alam) harusnya tidak bersifat elitis (hanya di jantung peradaban). Tapi juga harus merambah ke desa-desa pedalaman.
Dakwah dan menanam
Sebenarnya ada beragam jenis tanaman yang sudah ditanam masyarakat setempat, jauh sebelum Sunan Muria masuk ke Desa Colo. Meski begitu, Sunan Muria menggunakan beberapa tanaman sebagai salah satu medium dakwah.
Tanaman yang dipilih Sunan Muria dikenalkan dengan pendekatan khasiat, potensi ekonomi, dan nilai spiritual-analogis. Pakis, parijoto, dan kelor adalah tiga jenis tanaman yang cukup melekat dengan Sang Sunan, seperti tertulis dalam Benantara: Bentang Alam dalam Gelombang Sejarah Nusantara (2021).
Parijoto disebut berkhasiat untuk kesuburan. Selain itu, Sunan Muria juga mengenalkan pakis haji sebagai pengusir hama, selain jenis pakis lain untuk dikonsumsi manusia (pakis sayur (Diplazium esculentum)). Ia juga menanam kelor untuk dikonsumsi sehari-hari.
Ajaran spiritual Sunan Muria lewat parijoto, pakis, dan kelor
Merujuk cerita tutur yang berkembang di kawasan Muria, tiga tanaman tersebut menjadi analogi-filosofis dari ajaran-ajaran Islam Sunan Muria:
Buah Parijoto yang bergerombol merupakan pesan agar umat Islam menjadi ummatan wahidan (umat yang bersatu). Kebersatuan itu akan menciptakan keindahan dan kebermanfaatan sebagaimana buah parijoto yang menawan dan bermanfaat.
Selain itu, parijoto yang dikenal dengan rasa asam, manis, sepet, dan pahit merupakan gambaran dari perjalanan spiritual manusia. Setelah manusia mencecap pahit-manis kehidupan di dunia, kelak akan merasakan kenikmatan sejati dari Allah Swt. Sama seperti orang setelah mengonsumsi parijoto, maka akan merasakan nikmat ketika merasakan khasiatnya: diberkahi keturunan.
Adapun pakis menggambarkan keberlanjutan ekosistem, sedangkan kelor—melalui daunnya—menjadi simbol betapa lapangnya rezeki Allah Swt. Terutama dalam rupa alam. Ini selaras dengan Q.S. Abasa: 27-32: tentang bagaimana Allah Swt menghamparkan tanah berisi tetumbuhan untuk dimanfaatkan manusia.
Itulah kenapa Sunan Muria menekankan pentingnya hidup berdampingan dengan alam. Mengambil secukupnya, tapi menanam lebih banyak dan memberi porsi lebih besar dalam urusan merawat bumi, seperti dituturkan Hendro dkk dalam jurnal Kearifan Lokal dalam Menjaga Lingkungan Hidup [Studi Kasus Masyarakat di Desa Colo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus] (2012).
Untuk itu, ia mengenalkan konsep akidah muttahidah seperti dijelaskan Widi Mulyono dalam Napak Jejak Pemikiran Sunan Muria: Dari Ekoreligi hingga Akidah Muttahidah. Mengajak masyarakat punya kesadaran ecosentrisme, tidak terjebak dalam antroposentrisme.
Kelor, urapan, dan lalapan: kenikmatan dalam kesederhanaan
Tanaman-tanaman tersebut kemudian memang diolah menjadi sajian kuliner untuk disantap sehari-hari.
Tidak ada sumber tertulis dan spesifik mengenai jenis kuliner apa yang sempat eksis di masa Sunan Muria. Namun, yang jelas, sumber-sumber tertulis tentang “Sejarah Sunan Muria” menyebut, dalam urusan konsumsi sehari-hari, Sang Sunan cenderung suka memanfaatkan dari tanaman yang tersedia.
Misalnya, kelor. Berdasarkan cerita tutur yang diyakini masyarakat Desa Colo, dulu Sunan Muria menggunakan daun kelor, pakis, daun dadap, dan beberapa jenis sayur lain sebagai urapan atau lalapan. Untuk melengkapi lalapan tersebut, Sunan Muria disebut memanggang ikan dan ayam sebagai lauk.
Kuliner tersebut terkesan sederhana. Tapi bagi masyarakat sejak era Sunan Muria, sajian itu sudah sangat nikmat. Karena memang dalam ajarannya, Sunan Muria selalu menekankan agar manusia selalu bisa menikmati kesederhanaan sebagai bentuk latihan syukur kepada Allah Swt.
Urapan maupun lalapan itu bahkan kerap diolah dalam jumlah besar untuk hajat-hajat tertentu. Misalnya untuk megengan (tradisi berdoa dan makan bersama menyambut Ramadan). Sebagai bentuk syukur bertemu Ramadan dan doa agar menjalankan puasa selama satu bulan penuh dalam kekuatan dan keberkahan. Tradisi tersebut masih berlangsung hingga sekarang.
Parijoto: inspirasi untuk inovasi
Begitu juga dengan parijoto. Sumber tertulis hanya menyebut, Sunan Muria mengenalkan buah mirip berry tersebut berkhasiat meningkatkan kesuburan (cepat hamil). Tapi tidak dijelaskan bagaimana Sang Sunan mengolah buah tersebut.
Meski begitu, klaim Sunan Muria atas khasiat parijoto memantik penelitian ilmiah. Salah satunya Devi Safrina dan Kolega dalam Product Development of Parijoto Fruit (Medinilla speciosa Blume) and Its Potential as a Medicinal Plant: Review”.
Dalam jurnal tersebut, Devi menyebut parijoto (Medinilla speciosa) merupakan buah perdu dengan kadar kandungan flavonoid, tanin dan polifenol yang tinggi, sehingga berkhasiat untuk meningkatkan kesuburan. Selain itu juga berkhasiat sebagai anti-bakteri hingga mencegah sel kanker.
Masyarakat Muria pun menjadikannya sebagai komoditas ekonomi. Agar relevan dengan kebutuhan pasar, masyarakat Muria lantas mengolah parijoto menjadi berbagai inovasi produk, seperti sirup, pewarna makanan, permen jeli, dodol, hingga krim kecantikan.
Pecel pakis, kuliner andalan Desa Colo
Lantaran diakrabkan dengan pakis oleh Sunan Muria, tak pelak jika masyarakat Desa Colo juga menjadikan daun-daun pakis sayur sebagai salah satu bahan makanan. Salah satunya sebagai campuran pecel sebagai salah satu kuliner tua di Nusantara, hingga lahirlah pecel pakis khas Colo.
Pecel sendiri disinyalir sudah menjadi sajian di abad ke-9 Masehi. Ini berdasarkan catatan dalam Serat Centhini, Babad Tanah Jawi, dan Prasasti Siman di Kediri pada tahun 943 Masehi, merujuk teknik mengolah sayur atau daun-daunan yang direbus lalu disantap dengan kucuran bumbu kacang.
Jika bersandar pada tahun tersebut, bukan tidak mungkin jika pecel pun sebenarnya sudah merambah ke kawasan Kerajaan Islam Demak—di mana Muria merupakan salah satu bagian wilayahnya. Apalagi, dalam naskah-naskah kuna tersebut, memang disebut bahwa pecel merupakan hidangan khusus untuk tamu kerajaan.
Kangkung dan bayam menjadi sayur yang cukup mainstream digunakan sebagai bahan dasar pecel (dari dulu hingga sekarang). Tapi di Muria, daun pakis—sebagai tanaman yang erat kaitannya dengan dakwah Sunan Muria—menjadi pembeda.
Daun ini sebenarnya memiliki rasa pahit. Oleh karena itu, ada teknik tersendiri untuk mengolahnya. Yakni menggunakan teknik blasir atau blancing: daun pakis dicuci bersih dan direbus. Kemudian saat sudah panas, harus diguyur dengan air dingin. Dengan begitu, hasil pakisnya tetap hijau dan tidak layu. Daun pakis pun siap dicampur dengan sayur dan bumbu pecel lain: menjadi sajian kuliner andalan Desa Colo yang bisa memberi sensasi nagih bagi setiap lidah yang mencecapnya.
Begitulah silsilah kuliner di lereng Muria (dari pecel pakis, beragam inovasi parijoto, dan lalapan kelor). Semua itu berasal dari tanaman-tanaman yang menjadi bagian dari dakwah salah satu Wali Sanga yang kemudian mendapat julukan “Wali Lingkungan”.
Rasa Sanga merupakan konten khusus Liputan Mojok untuk Ramadan 2026/1447 H. Menarik benang merah khazanah kuliner Jawa dari riwayat Wali Sanga.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














