Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kuliner

5 Ciri Mie Ayam Wonogiri Asli yang Sulit Ditebak Pelanggan

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
7 Juli 2024
A A
mie ayam wonogiri.MOJOK.CO

Ilustrasi mie ayam wonogiri (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mie ayam dan Wonogiri, dua hal yang saling melekat. Namun, menurut sejumlah sumber, sebenarnya sangat sulit untuk mendefinisikan seperti apa karakter khas mie ayam wonogiri.

Hal itu saya jumpai saat melakukan kunjungan khusus untuk melakukan peliputan dokumenter seputar mie ayam di wilayah tersebut. Para pedagang hingga penikmat setia cukup bingung ketika mendefinisikan. Selain itu, setiap warung juga datang dengan konsep dan kekhasannya masing-masing.

Edi Listiyanto (44), pebisnis asal Wonogiri sekaligus lelaki yang mengaku kerap menikmati mie ayam sekitar 4-5 kali dalam sepekan mengaku cita rasa warung-warung di kotanya beragam. Ada yang kuat dengan rasa gurih namun ada juga yang dominan manisnya.

“Kalau secara bumbunya itu beda-beda setiap warung,” ungkapnya.

#1 Tidak ada karakter pakem, resep ditemukan di perantauan

Mie ayam wonogiri kini terkenal seantero Indonesia sebenarnya berangkat dari semangat merantau para warga di Kota Gaplek tersebut. Bahkan, para perantau ini punya julukan sebagai “kaum boro”.

Sejarawan kuliner, Heri Priyatmoko, pernah bercerita bahwa generasi para perantau dari Wonogiri telah banyak ke Jakarta pascakemerdekaan Indonesia. Alasan utamanya lantaran ingin memperbaiki nasib.

“Spirit merantau itu terutama bagi mereka yang tidak punya lahan. Sebab, mata pencaharian utama di desa kan bertani,” ungkapnya kepada Mojok.

Pada masa awal merantau, menurut Heri, banyak pedagang yang tidak langsung membuka usaha. Melainkan bekerja di pengusaha lokal setempat. Salah satunya juga pengusaha keturunan Tionghoa. Dari situlah, para perantau generasi awal belajar meracik mie ayam dan bakso, dua kuliner yang memang akarnya dari budaya Tionghoa.

#2 Karakter bumbu mie ayam menyesuaikan dengan daerah setempat

Saat melawat ke Wonogiri, saya juga sempat mampir ke Solo bertemu Eddy Santoso. Ketua Paguyuban Mie Ayam Tunggal Rasa Wonogiri ini cukup paham soal sejarah kuliner tersebut.

Ada banyak yang bilang bahwa karakter mie wonogiri itu lebih gurih. Namun, praktiknya banyak pedagang dari Wonogiri yang justru memperkuat cita rasa manis. Perihal itu, Eddy punya jawabannya.

“Sebenarnya mie ayam di mana-mana hampir sama. Di Jakarta cenderungnya nggak ada manisnya, tapi lidah orang Solo dan Jogja agak manis, jadi kalau di daerah ini ya dibuat agak manis. Marketing kan mana yang payu (laku) yang ditembus,” papar Eddy.

Cerita Eddy, sebenarnya sejalan dengan pengalaman saya berbincang dengan Karman, pemilik Mie Ayam Om Karman yang cukup terkenal di Bantul. Pemiliknya berasal dari Wonogiri. Namun, cita rasa mienya begitu khas Jogja. Kuahnya coklat kehitaman dengan dominasi rasa manis.

Saat saya tanyai, ia mengakui bahwa ingin buat mie ayam dengan cita rasa manis agar sesuai dengan lidah orang Jogja.

“Kalau saya ngikutin selera Wonogiri ya harusnya dominan gurihnya. Tapi kan saya di sini (Yogyakarta), jadi nyesuaikan tempat juga. Saya tambahkan lada dan jahe agar manisnya pas dan agak pedas sedikit rasanya,” jelas bapak tiga anak tersebut.

Iklan

#3 Warna gerobak tidak jadi penetu

Selanjutnya, warna gerobak juga tidak bisa jadi patokan soal ciri khas pedagang dari Wonogiri. Sebab, di kota ini saja para pedagang menggunakan beragam warna gerobak. Ada yang biru, coklat, hingga hijau.

gerobak mie ayam.MOJOK.CO
Salah satu warung mie ayam legendaris di Wonogiri dengan gerobak berwarna hijau (Mojok.co)

Sebenarnya, hal itu kembali ke selera masing-masing pedagang. Namun, pemilihan warna juga terkadang dilandasi alasan fungsional. Warna biru atau coklat misalnya, cenderung tidak mudah kotor sehingga biasa digunakan pedagang keliling.

#4 Mie ayam sering jadi sekadar pelengkap bakso

Saya juga sempat berbincang dengan Kasno (42), warga Desa Bubakan, Wonogiri. Sebuah desa yang sempat viral karena rumah gedongan milik para perantau.

Ia bercerita bahwa para warga desa memang banyak yang sukses merantau. Namun, awalnya memang dari jualan bakso, bukan mie ayam. Menu mie ayam jadi pelengkap atau pendamping. Bakso lah yang jadi menu utama.

#5 Pedagang yang turun temurun

Selanjutnya, memang ada cara paling mudah untuk menandakan warung milik perantau Wonogiri. Biasanya memang warung tersebut ada embel-embel “Wonogiri” di namanya.

Namun, selain itu cara termudah adalah bertanya langsung ke pembelinya. Mengingat, mie ayam Wonogiri memang begitu kaya cita rasanya. Di setiap daerah, ada penyesuaian dengan selera warga setempat.

Satu hal yang jelas. Menurut Kasno, kesuksesanan seorang perantau biasanya memantik perantau lain untuk turut berdagang bakso dan mie ayam di luar kota. “Siklusnya dari dulu misal ada satu orang, yang merantau ke Jakarta dan berhasil di sana, setelah pulang dia ngajak keluarga atau saudara,” pungkasnya.

Penulis: Hammam Izzuddin

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Mie Ayam dan Bakso Titoti Asli Wonogiri Diburu Pelanggan di Jogja setelah Menaklukkan Jakarta Sejak 1990-an

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 7 Juli 2024 oleh

Tags: Baksokuliner murahmie ayammie ayam baksowonogiri
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Warung Bakso Horor di Selatan Jogja MOJOK.CO
Malam Jumat

Warung Bakso Horor di Selatan Jogja: Teror Gaib yang Tak Kunjung dan Belum akan Berhenti

22 Januari 2026
Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)
Pojokan

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO
Kuliner

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Wonogiri Bukanlah Anak Tiri Surakarta, Kami Sama dan Punya Harga Diri yang Patut Dijaga
Pojokan

Wonogiri Bukanlah Anak Tiri Surakarta, Kami Sama dan Punya Harga Diri yang Patut Dijaga

1 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Waspada "Silent Killer", Guru Besar UGM Sebut Emboli Paru Sering Terlambat Terdeteksi.MOJOK.CO

Waspada “Silent Killer”, Guru Besar UGM Sebut Emboli Paru Sering Terlambat Terdeteksi

30 Januari 2026
Kesedihan perantau yang merantau lama di Surabaya dan Jakarta. Perantauan terasa sia-sia karena gagal menghidupi orang tua MOJOK.CO

Rasa Gagal dan Bersalah Para Perantau: Merantau Lama tapi Tak Ada Hasilnya, Tak Sanggup Bantu Ortu Malah Biarkan Mereka Bekerja di Usia Tua

29 Januari 2026
Pemuda Solo bergaya meniru Jaksel bikin resah MOJOK.CO

Saat Pemuda Solo Sok Meniru Jaksel biar Kalcer, Terlalu Memaksakan dan Mengganggu Solo yang Khas

28 Januari 2026
Kalkulator untuk lansia merencanakan pensiun. MOJOK.CO

Lebih Baik Hidup Hemat Saat Muda agar Tak Jadi Beban Keluarga dan Bisa Berfoya-foya di Masa Tua

29 Januari 2026
Memfitnah Es Gabus Berbahaya adalah Bentuk Kenikmatan Kekuasaan yang Cabul MOJOK.CO

Memfitnah Es Gabus Berbahaya adalah Bentuk Kenikmatan Kekuasaan yang Cabul

30 Januari 2026
Sungai Progo, Tragedi Sungai Sempor Tak Perlu Terjadi Jika Manusia Tidak Meremehkan Alam dan Menantang Takdir MOJOK.CO

Izin Tambang Sungai Progo Masih Mandek dengan “Aturan Jadul”

28 Januari 2026

Video Terbaru

Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

Kebun Durian Warso Farm di Bogor, Agrowisata Edukatif dengan 16 Varietas Durian

28 Januari 2026
Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

Sigit Susanto: Membaca Dunia lewat Perjalanan Panjang dan Sastra

27 Januari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Tawa yang Tidak Sepenuhnya Bercanda

Roasting Zainal Arifin Mochtar (Bagian 2): Strategi Biar Bisa Jadi Guru Besar

24 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.