Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

User KA Bengawan Merasa Kesepian Saat Beralih ke Kereta Eksekutif KA Taksaka, “Kereta Gaib” Harga Rp74 Ribu Tetap Juara Meski Bikin Badan Pegal

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
9 Maret 2026
A A
KA bengawan, KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

Ilustrasi -Pengalaman Naik Kereta Api (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

KA Bengawan memang bedebah. Ia bikin badan pegal dan dengkul nyari. Namun, kereta murah ini justru bikin penumpangnya merasa tak kesepian.

***

Awal tahun 2026 lalu, saya mendapat “rezeki” perjalanan pulang dari Jakarta ke Jogja menggunakan kereta eksekutif KA Taksaka. Karena berstatus perjalanan dinas, tiket yang harganya lumayan mahal, sekitar Rp600 ribu itu, dibiayai penuh oleh kantor.

Sesuai harganya, fasilitas di dalam gerbong benar-benar mewah. Kursinya tebal, empuk, dan bisa direbahkan dengan leluasa. Ruang kakinya pun sangat luas. Saking nyamannya kereta ini, untuk pertama kalinya seumur hidup, saya bisa tertidur pulas di dalam kereta. 

Padahal saat itu hari masih sore. Biasanya, mata saya paling susah diajak kompromi dan tidak pernah bisa tidur kalau sedang berada di jalan.

Ketika terbangun, badan saya terasa sangat segar. Sama sekali tidak ada punggung yang kaku atau leher yang pegal. Namun, saat saya melihat ke sekeliling, suasananya begitu hening. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing dalam diam. Nyaman sekali rasanya, tapi entah kenapa di saat yang sama, terasa begitu sepi.

Kenyamanan yang sunyi di atas KA Taksaka sore itu justru melempar ingatan saya jauh ke masa lalu. Pikiran saya melayang kembali ke hari-hari di mana perjalanan backpacker-an tidak pernah terasa sepi. Masa-masa di mana saya dan ribuan penumpang lainnya masih setia mengandalkan kereta ekonomi bersubsidi. Kereta yang selalu sukses bikin badan pegal, tapi penuh dengan tawa dan cerita: KA Bengawan.

Tiket gaib, harus dipesan berbulan-bulan sebelumnya

Bagi saya, dan banyak orang lain, yang pernah berjuang dengan uang pas-pasan, perjalanan dengan KA Bengawan sebenarnya tidak dimulai saat kami duduk di dalam gerbong. Perjuangan itu bahkan sudah dimulai sejak 45 hari sebelumnya. 

Saya ingat betul, saya bersama dua teman harus bersiap di depan layar HP pada akhir September 2023 hanya demi sebuah tiket untuk berangkat di pertengahan November. Dari Solo menuju Jakarta.

Kenapa kami sampai rela begadang dan repot-repot berebut tiket jauh-jauh hari? Jawabannya tentu saja karena harganya. Bayangkan, dari Jakarta menuju Solo, atau sebaliknya, tiketnya cuma Rp 74.000! Sangat murah. 

Karena harganya yang miring ini, tiket KA Bengawan sering kami juluki sebagai “tiket gaib”. Begitu jam pemesanan dibuka, tiket bisa ludes hanya dalam hitungan menit.

Sensasi mendapat tiket murah ini adalah kebanggaan tersendiri. Rasa lega saat proses pembayaran berhasil adalah awal dari petualangan kami.

Ingatan saya kemudian berpindah ke suasana subuh di Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Berbeda dengan Stasiun Gambir yang tenang dan eksklusif, Pasar Senen selalu penuh hiruk-pikuk. 

Pukul setengah lima pagi, lobi stasiun sudah dipenuhi ribuan calon penumpang dengan tas-tas besar, kardus, dan oleh-oleh. Udaranya kadang terasa gerah, tapi sekarang fasilitasnya sudah makin bagus. Ada eskalator baru yang bikin kami tidak perlu repot angkat barang lewat tangga.

Iklan

Adu dengkul, bahu pegal, tapi dapat teman baru

Namun, realita sesungguhnya baru dimulai begitu kaki melangkah masuk ke dalam gerbong ekonomi. Kami disambut oleh 106 kursi yang posisinya tegak lurus 90 derajat dan saling berhadapan. Jarak antar kursinya sangat sempit. Di sinilah letak ujian sekaligus seni naik KA Bengawan: “adu dengkul”.

Seorang kenalan saya, Jeremi, bercerita bahwa formasi kursi ini tidak masalah kalau kita bepergian bersama keluarga. Lutut yang saling mentok dengan ayah, ibu, atau adik sendiri tentu tidak bikin canggung. 

Namun, beda ceritanya kalau kita bepergian sendiri atau dengan teman, dan harus berhadapan dengan orang asing.

“Awalnya pasti terasa risih. Lutut kita dan lutut penumpang di depan pasti bersentuhan. Mau tidak mau, kita harus tersenyum, nahan sungkan,” kata Jeremi, membagikan kisahnya, Minggu (8/3/2026).

Dari ucapan maaf karena lutut yang mentok itulah, keajaiban biasanya terjadi. Obrolan mulai mengalir. “Turun stasiun mana, Mas?”, “Kerja di mana sekarang?”.

Dari basa-basi singkat, obrolan bisa berlanjut sampai cerita soal kampung halaman, pekerjaan di Jakarta, sampai urusan keluarga. Gerbong yang tadinya berisi orang asing, mendadak terasa seperti ruang tamu yang hangat. Semua merasa senasib sepenanggungan.

“Ritual” khas KA Bengawan di Stasiun Cirebon

Satu hal lagi yang paling dikangenin dari KA Bengawan adalah “ritual” di Stasiun Cirebon Prujakan. Biasanya, sekitar jam 9 pagi atau jam 12 siang, kereta akan berhenti agak lama di stasiun ini, sekitar 7 sampai 15 menit. Tujuannya untuk pergantian masinis dan mengisi air toilet.

Waktu jeda ini selalu dimanfaatkan penumpang untuk berhamburan turun ke peron. Tujuannya, kalau saya sendiri, ada dua:meluruskan punggung yang mulai pegal karena duduk tegak terlalu lama, dan berburu makanan murah.

Banyak yang berlari kecil ke warung-warung di sekitar stasiun, seperti Warung Sudarno–saya masih ingat betul namanya–untuk beli nasi bungkus isi tempe orek dan telur dadar yang harganya cuma Rp20 ribu

Makan bekal atau nasi bungkus beramai-ramai di dalam gerbong, sambil sesekali saling tawar makanan dengan penumpang sebelah, adalah kenikmatan yang susah dicari di tempat lain.

Setelah perut kenyang, hiburan berikutnya adalah menatap pemandangan dari balik kaca jendela. Selepas Cirebon dan masuk ke area Purwokerto, pemandangan alamnya sangat indah. Rel yang berkelok, bukit-bukit hijau, sampai melintasi sungai besar di Jembatan Serayu. 

KA Bengawan bikin pegal, tapi bikin tak pernah kesepian sepanjang perjalanan

Perjalanan panjang hampir 9 setengah jam itu biasanya akan mencapai titik akhir di sore hari. Kalau berangkat pagi dari Jakarta, kereta akan sampai di Stasiun Lempuyangan sekitar jam setengah tiga sore, lalu berakhir di Stasiun Purwosari, Solo, jam setengah empat sore.

Stasiun Lempuyangan biasanya jadi titik di mana gerbong mulai sepi karena separuh penumpang turun di sana. Kalau kursi di depan kita tiba-tiba kosong, rasanya seperti mendapat “hadiah besar”. Kaki yang dari tadi ditekuk akhirnya bisa selonjoran bebas.

Jika disuruh memberi nilai secara jujur dan objektif, kenyamanan fisik di KA Bengawan mungkin hanya pantas dapat nilai 4 dari 10. Kursinya keras, ruang geraknya terbatas, dan badannya pegal. Namun, dengan harga Rp 74 ribu, kita memang tidak sepantasnya menuntut fasilitas mewah ala raja.

Kini, lamunan saya terhenti saat pengumuman di kereta eksekutif yang saya naiki berbunyi. Kereta sudah hampir sampai di tujuan. Saya merapikan barang bawaan. Punggung saya tidak sakit sama sekali. Badan saya segar karena tidur nyenyak sepanjang jalan.

Saat melangkah keluar dari gerbong yang sepi dan dingin ini, saya tersenyum menyadari satu hal. Uang memang bisa membeli kenyamanan untuk badan kita. Namun, uang tidak bisa membeli rasa senasib dari obrolan tulus dengan orang tak dikenal.

KA Bengawan mungkin bikin punggung pegal, tapi dia tidak pernah membuat kita merasa sendirian di perjalanan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Sebagai “Alumnus” KA Airlangga, Naik KA Taksaka Ibarat “Pengkhianatan Kelas” yang Sesekali Wajib Dicoba Untuk Kesehatan Mental dan Tulang Punggung atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 9 Maret 2026 oleh

Tags: cara pesan tiket di kai accessKA Bengawanka taksakakaikai accesskereta ekonomikereta jakarta jogjakereta jogja jakartakereta murahkereta solo jakartapilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Sehari-hari

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO
Catatan

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
donasi ekonomi.MOJOK.CO
Urban

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026
Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala.MOJOK.CO

Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala

13 Juli 2026
Warga makin malas bayar pajak bukan berarti membangkang, tapi karena ulah pemerintah sendiri MOJOK.CO

Makin Malas Bayar Pajak Bukan Semata Membangkang tapi Akumulasi Kekecewaan, Pemerintah Bisanya Nagih Doang

10 Juli 2026
Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring.MOJOK.CO

Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring

12 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.