Perempuan asal Semarang, Jawa Tengah itu bernama Aprilea Sofiastuti Ariadi atau yang akrab dipanggil Lea. Ia menjadi salah salah seorang wisudawan terbaik di Institut Teknologi Bandung (ITB) Program Studi Magister (S2) Arsitektur pada Oktober 2025 lalu. Tesisnya tercipta karena ketertarikannya menyusuri kampung-kampung tua di pulau Jawa.
Kuliah S2 di ITB ketika 5 tahun terjun di dunia kerja
Sejak dulu, Lea memang menyukai arsitektur. Studi arsitektur pertamanya ia tempuh di Universitas Diponegoro. Setelah lulus kuliah, ia bekerja di salah satu biro arsitektur di Kota Bandung. Dari sanalah terlibat dalam berbagai publik, mulai dari perancangan alun-alun sampai perpustakaan.
Tugas itu ia lakoni selama 5 tahun hingga ia sadar tanggung jawab yang ia emban semakin besar. Lea merasa perlu memperdalam ilmunya, karena proyek-proyek yang ia kerjakan pun semakin tak mudah. Apalagi, proyek tersebut berdampak langsung pada masyarakat.
“Saya ingin belajar lebih banyak untuk memberi lebih banyak,” ujarnya dikutip dari laman resmi ITB, Senin (12/1/2025).
Selain tanggung jawab yang besar, Lea membutuhkan gelar kuliah S2 sebagai syarat memperoleh legalitas profesi arsitek. Maka dari itu, ia melanjutkan studi S2 di ITB Jurusan Arsitektur.
Setelah 5 tahun bekerja di dunia profesional dan kembali melanjutkan studi S2 di perguruan tinggi negeri ITB, Lea semakin merasakan perbedaan keduanya.

Di ruang akademik, ia merasa bebas dalam mengeksplorasi gagasannya bersama dengan bimbingan dosen. Sementara di dunia kerja, ada banyak faktor eksternal yang memengaruhi keputusannya seperti kebutuhan klien atau masalah anggaran.
Namun, berkat pembelajaran S2-nya di ITB, Lea merasa jauh lebih percaya diri. Bahkan ia mengaku pikirannya jadi lebih fresh, karena berjumpa dengan orang-orang baru, ide-ide segar, dan referensi anyar yang belum pernah ia tahu sebelumnya.
Salah satunya kesempatan mengikuti beberapa studio bersama mahasiswa pertukaran pelajar. Dengan mereka, Lea mendapatkan pengalaman kolaborasi lintas budaya dan perspektif.
Lomba merancang pulau di Singapura
Kuliah S2 di ITB tak hanya memotivasinya untuk belajar. Lea juga terdorong untuk mengikuti lomba di luar negeri. Salah satunya kompetisi desain di Singapura yang menantang pesertanya untuk merancang sebuah pulau besar.
Dalam lomba tersebut para peserta harus memikirkan bagaimana pulau tersebut dapat menghidupkan kembali nuansa “kehangatan” dan nilai-nilai kemanusiaan melalui arsitektur.
“Itu pertama kali saya merancang skala yang sebesar itu. Itu benar-benar besar banget dan ternyata skala itu harusnya multidisiplin, ada rancang kota, ada Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) segala macam. Tapi karena waktu itu kita hanya dari arsitektur saja, jadi yang didesain arsitekturnya,” tutur Lea.

Pengalaman tersebut mendorong Lea memperluas sudut pandangnya. Ia kemudian mengikuti workshop bersama dosen-dosen PWK ITB, hingga muncul ide untuk terjun langsung ke Kampung Lebak Siliwangi.
Bermula dari mengunjungi kampung bersejarah di Bandung
Melansir dari laman resmi Provinsi Jawa Barat, Kampung Lebak Siliwangi adalah lokasi administratif dari Babakan Siliwangi (Baksil) di Kota Bandung. Kawasan ini terkenal dengan pepohonan dan sungai-sungai yang masih dijaga kelestariannya oleh masyarakat sekitar sampai sekarang.
Salah satunya Sungai Cikapundung yang dianggap warisan alam oleh warga lokal sejak puluhan ribu tahun yang lalu. Di tahun 1920, muncul sebuah wacana untuk menjadikannya hutan kota dan perkebunan terbuka bagi masyarakat umum.
Setelah Indonesia mereka, wilayah ini hampir beralih fungsi menjadi pusat kegiatan komersial jika masyarakat tidak berbondong-bondong menolak. Hingga akhirnya, Baksil tercatat sebagai hutan kota dunia oleh PBB pada tahun 2011.

Lewat kisah tersebut, Baksil menjadi saksi bisu perjuangan warga Bandung mempertahankan ruang hijau di tengah perkembangan kota yang makin padat. Di sanalah, Lea melakukan wawancara kepada warga lokal serta melakukan pemetaan. Ia pun makin tertarik pada kampung tersebut.
“Permukiman manusia itu bermula dari kampung, bahkan di kota pun kampung itu masih ada. Dan sebenarnya, kampung (adalah) suatu entitas yang unik,” tutur wisudawan ITB tersebut.
Pilih Kampung Sewu di Solo sebagai bahan tesis di ITB
Tak berhenti sampai di Kampung Lebak Siliwangi, Bandung. Lea kemudian menelusuri asal-usul kampung-kampung di kota-kota Pulau Jawa yang umumnya berkembang dari kawasan sungai menuju permukiman.
Menurutnya, sungai merupakan aspek penting yang menghubungkan wilayah pesisir dengan daratan. Dari penelusuran tersebut, ia menemukan Kampung Sewu di Solo sebagai objek penelitian yang menarik perhatiannya.
“Ada kampung yang diapit oleh Bengawan Solo, dan sungai yang menghubungkannya bernama Kali Pepe. Dulunya terdapat kedua sungai yang menghubungkan kota Solo dengan major port di Pulau Jawa,”
“Dari situ akhirnya saya memulai tesis S2 saya,” kata Lea yang memutuskan Kampung Sewu sebagai prototipe penelitiannya di ITB berjudul Regenerating Spaces Perancangan Ruang Publik dan Fasilitas Wisata Ekobudaya Berbasis Komunitas di Kampung Sewu Melalui Ecopuncture.
Pada masa lalu, Kampung Sewu merupakan salah satu bandar penting yang menghubungkan wilayah dalam Kota Solo dengan kawasan di sekitar sungai, lengkap dengan jembatan sebagai penghubung. Namun, seiring berubahnya moda transportasi, fungsi bandar pun perlahan memudar.
Dari sejarah dan budaya yang begitu banyak dari kampung tersebut, ia menilai banyak kampung-kampung di Indonesia memiliki kekayaan nilai dan keunikannya sendiri. Melalui penelitiannya, Lea berupaya menemukan formula yang dapat diaplikasikan pada kampung-kampung lain agar nilai sejarah, budaya, dan identitas lokal tetap terjaga.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor:
BACA JUGA: Alumnus ITB Rela Tinggalkan Gaji Puluhan Juta di Jakarta demi Buka Lapangan Kerja dan Gaungkan Isu Lingkungan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














