Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Menapaki Jejak Orang Kalang di Jogja, Kaum Arsitek Kaya yang Bernasib Malang

Iradat Ungkai oleh Iradat Ungkai
19 September 2023
A A
Menapaki Jejak Orang Kalang yang Tertinggal di Kotagede Jogja, Kaya Raya namun Berakhir Malang MOJOK.CO

Omah Kalang (budaya.jogjaprov.go.id)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Orang Kalang pernah menjadi bagian dari kejayaan wilayah Kotagede, Jogja. Kendati sukses berbisnis, hidup mereka di masyarakat terkucilkan dan berakhir nahas.

Kotagede merupakan sebuah kawasan di tenggara Jogja yang eksotik dan bersejarah. Wilayah ini dahulu terkenal sebagai kota lama, cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram. Terdapat banyak bangunan kuno peninggalan zaman kerajaan yang masih terjaga di sana.

Iklan

Kotagede terbilang daerah yang maju. Wilayah ini sejak dulu hingga kini menjadi salah satu pusat perdagangan dan sentra kerajinan, dari batik hingga perak. Hal ini tak bisa dipisahkan dari kehadiran orang Kalang yang dulu pernah eksis di sana. Jejaknya masih tertinggal, berupa rumah atau omah Kalang megah nan mewah dengan ornamen emas berkilau.

Lantas siapakah orang Kalang? Mengapa ia eksis di Kotagede?

Sejarah masuknya orang Kalang ke wilayah Kotagede

Raja Mataram, Sultan Agung punya ketertarikan khusus terhadap dunia arsitektur. Untuk itu ia mendatangkan ahli-ahli bangunan dari daerah Bali untuk menerjemahkan gagasan arsitekturalnya dalam menggarap sejumlah bangunan kerajaan. Para ahli bangunan tersebut merupakan orang Kalang.

Orang Kalang punya talenta luar biasa dalam seni bangunan dan ukir. Talenta seni dan intuisi bisnis membuat masyarakat Kalang menjadi kelompok saudagar yang sukses dan kaya raya. Mereka bahkan memperoleh hak monopoli perdagangan dari Pemerintah Belanda untuk candu, emas, dan melakukan praktik pegadaian. Keuntungan yang membuat mereka bisa melakukan kegiatan ekspor ke sejumlah negara di Eropa dan Cina.

Dulu, mereka hidup secara berkelompok di wilayah Tegalgendu yang terletak di sebelah barat Kotagede, di seberang Sungai Gajahwong. Mereka berbaur dengan penduduk setempat dan bertahan hidup dengan berbisnis.

Asal-usul orang Kalang, mitos, dan tradisi

Sebuah jurnal bertajuk Dari Poro Hingga Paketik: Aktivitas Ekonomi Orang Kalang di Kotagede Pada Masa Depresi-1930 mengatakan bahwa suku Kalang sejatinya merupakan etnis Jawa. Akan tetapi, karena satu dan lain hal mereka terkucilkan dari masyarakat mayoritas kala itu. Pengucilan ini yang mengawali sebutan ‘Kalang’.

Dalam bahasa Jawa, ‘Kalang’ artinya batas. Orang Kalang ialah orang yang lingkup sosialnya sengaja dibatasi atau dikalangi oleh otoritas atau masyarakat mayoritas. Dulu, ada anggapan kalau mereka liar dan berbahaya.

Simpang siurnya asal-usul dan jumlahnya yang sedikit, membuat suku Kalang sering disalahpahami banyak orang. Itulah mengapa pada zaman dulu, mereka cenderung terkucilkan. Beredar pula mitos-mitos yang tak bisa bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Pertama, cerita yang bersumber dari Kerajaan Pajajaran. Dalam versi ini, orang Kalang terkisahkan sebagai anak keturunan Kalang Jaya, seorang keturunan raja di Kerajaan Prambanan yang memiliki ayah seekor anjing.

Kedua, sumber cerita berasal dari Kerajaan Mataram. Orang Kalang tersebut sebagai keturunan dari Jaka Saka dan Ambarlurung, putri Sultan Agung. Ambarlurung terkenal terampil membuat kain, selendang, sarung, dan barang tenun lainnya. Sedangkan Jaka Sana ahli membuat perabot rumah tangga dan bangunan.

Masyarakat Kotagede selama ini meyakini kedua versi tersebut. Hal ini tampaknya lebih untuk mendukung argumentasi bahwa sebenarnya orang Kalang merupakan pendatang di wilayah tersebut.

Masyarakat Kalang merupakan penganut agama Islam. Kendati demikian, mereka masih mempercayai tradisi leluhur. Salah satunya Tradisi Obong, upacara selamatan dengan pembakaran puspa atau boneka kayu yang berbentuk seperti manusia.

Iklan

Masyarakat Kalang melakukan upacara ini sesudah seratus hari kematian. Anehnya, pemimpin upacara ini adalah dukun atau biksu. Keluarga Kalang akan hadir dalam acara ini laiknya menghadiri pesta pernikahan.

Selain itu, orang Kalang punya kebiasaan melakukan perkawinan endogami dalam pengertian genetis. Setiap laki-laki dalam keluarga harus dicarikan jodoh dari lingkungan keluarga Kalang.

Perang kemerdekaan menjadi momentum orang Kalang beranjak dari Kotagede

Keunggulan dagang dan finansial memunculkan jurang pemisah antara masyarakat Kalang dan masyarakat Kotagede. Masyarakat setempat kala itu tak senang dengan kehadiran mereka. Selain, pemberian upah pekerja yang sedikit, orang Kalang juga memiliki gaya hidup eksklusif. Mereka dianggap hanya memikirkan urusan orang-orang dari kaumnya sendiri. Mereka pun akhirnya hidup terasing.

Puncak kejayaan masyarakat Kalang berlangsung pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Perang kemerdekaan menjadi titik balik bagi masyarakat Kalang. Banyak dari mereka yang mengungsi, meninggalkan rumah dan harta mereka. Kekayaan mereka menjadi sasaran penjarahan.

Saat ini, rumah atau omah Kalang di Kotagede masih tersisa beberapa. Kendati demikian orang Kalang tak lagi menghuni rumah tersebut. Rumah tersebut masih megah dengan tiang-tiang yang terdapat ornamen ukiran kayu serta kaca patri warna-warni di bawah kuda-kuda atap. Gaya arsitektur yang terpengaruh gaya rumah-rumah di Eropa dan Cina. Bangunan tersebut juga terkenal dengan sebutan bangunan indies.

Penulis: Iradat Ungkai
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Kotagede, Tanah Hadiah Saksi Lahirnya Mataram Islam
Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 24 September 2023 oleh

Tags: omah kalangorang kalangorang kalang kotagedesuku kalang
Iradat Ungkai

Iradat Ungkai

Kadang penulis, kadang sutradara, kadang aktor.

Artikel Terkait

No Content Available
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.