Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Di Balik Hiruk-Pikuk Wisata Candi Borobudur Magelang: Wisatawan Bersenang-senang, Warga Setempat Hidup dalam “Kepiluan”

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
27 Agustus 2025
A A
Kehidupan penuh ketidakpastian di balik hiruk-pikik wisatawan di kawasan Candi Borobubdur, Magelang MOJOK.CO

Ilustrasi - Kehidupan penuh ketidakpastian di balik hiruk-pikik wisatawan di kawasan Candi Borobubdur, Magelang. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pada sebuah libur panjang pada awal 2025 lalu, hiruk-pikuk wisatawan menyeruak di sekitar kawasan wisata Candi Borobudur, Magelang. Gerombolan manusia itu ada yang datang dari jauh, untuk mengagumi candi yang dibangun pada abad ke-8 silam.

Namun, di balik hiruk-pikuk para wisatawan dan megahnya Candi Borobudur, Magelang, yang tengah menghibur diri, ada kehidupan yang sehari-hari senantiasa di ambang ketidakpastian.

Di balik megah Candi Borobudur, warga Magelang mancing di pagi buta

Saya terbangun pukul 05.30 WIB, karena tak tahan dengan gigil suhu udara di sebuah kampung tak jauh dari Candi Borobudur, Magelang. Saya baru sadar, ternyata saya ketiduran di pelataran belakang sebuah rumah tampat saya menginap.

Kesadaran saya belum benar-benar penuh. Tapi saya sudah harus membalas sapaan beberapa bapak-bapak yang melintas menuju petak-petak kolam di area belakang tempat menginap saya.

Bapak-bapak itu langsung mengambil duduk di galangan. Mengeluarkan umpan, lantas melempar pancing. Mereka tampak tekun menanti ikan-ikan mencaplok umpan. Hingga pukul 06.00 WIB, saya amati beberapa dari mereka sudah mendapat beberapa ekor ikan.

Pemandangan itu membuat saya terpancing untuk turun menyapa mereka. Meski dengan tubuh agak menggigil karena udara di kampung tersebut benar-benar dingin pagi itu.

Mencari lauk untuk sarapan dan makan di hari itu

Jarak pemancing paling dekat yang saya temui, panggil saja Suroso (50). Dia membalas sapaan saya dengan ramah, hanya wajahnya memang tampak serius. Matanya tak lepas dari kail pancing yang terbenam di bawah air.

Suroso asli dari kampung yang tidak jauh dari kawasan Candi Borobudur, Magelang, tersebut. Pekerjaannya aslinya tak menentu (dia agak enggan menyebut pekerjaan aslinya).

Namun, yang jelas, mancing menjadi rutinitas harian Suroso. Paling tidak di pagi dan sore hari.

“Cuma buat lauk makan, Mas. Kalau nggak ada yang, paling nggak sudah ada lauknya,” ungkap Suroso. Obrolan saya dan Suroso hanya berlangsung singkat saja. Karena dia memang sedang fokus dan terlihat tak bisa diganggu.

Awalnya hamparan sawah luas di balik Candi Borobudur, Magelang

Dari Suroso, saya mencoba menapaki pematang demi pematang. Sesekali terjerembab karena kontur tanahnya berupa lumpur encer.

“Hati, hati, Mas,” ujar bapak-bapak yang sedang memancing di bawah gubung kecil di area bagian tengah. Namanya, panggil saja Wasisto (50). Belum juga “permisi”, Wasisto mempersilakan saya duduk di sebelahnya: menemaninya memancing.

Wasisto bercerita, hamparan kolam-kolam di kampung yang tak jauh dari Candi Borobudur, Magelang, itu dulunya adalah hamparan sawah. Mayoritas warga awalnya bertani padi. Termasuk Wasisto sendiri.

Sayangnya, seiring tahun, pertanian padi lebih sering membuat mereka buntung ketimbang untung. Modalnya lebih besar dari hasil yang mereka dapat usai panen.

Iklan

“Nggak rugi gimana, Mas. Pupuknya mahal. Susah dapat subsidi Masih harus musuh burung-burung juga. Merawatnya juga menguras energi. Tapi kalau hasilnya nggak seberapa, kan buat apa juga diteruskan,” ujar Wasisto dengan tawa getir.

Atas situasi seperti itu, kata Wasisto, warga setempat lantas kompak mengalihfungsikan petak-petak sawah mereka sebagai kolam ikan. Diisi beberapa jenis ikan tawar yang sekiranya bisa dikonsumsi. Dan itulah yang dilakukan Wasisto sehari-hari.

Pagi sekali dia akan berangkat. Jika dapat lumayan, maka ikan itu akan dia olah untuk sarapan hingga makan malam. Kalau sedang ada uang, barulah beli lauk seperti tempe atau telur ayam.

Pagi mancing, siang mengais rezeki yang lain

Wasisto akan mengakhiri mancingnya di pukul 08.00 atau 09.00 WIB. Setelahnya, setelah sarapan di rumah bareng istri, dia akan beralih untuk mengais rezeki dari jalur lain: dia dan istri berdagang di kawasan luar Candi Borobudur, Magelang.

Dulu selain bertani, Wasisto juga berprofesi sebagai tukang parkir untuk bus-bus wisata di kawasan Candi Borobudur, Magelang. Akan tetapi, atas satu dan lain kondisi, pendapatannya dari parkir—di titik lokasi tempatnya bekerja—makin berkurang. Karena makin jarang bus yang parkir di lokasi tersebut.

“Jadi sekarang kadang ya nyambi parkir, kadang ya bantu istri jualan,” ujar Wasisto. Tersirat senyum sumir saat Wasisto mengucapkan itu.

Matahari makin naik. Tanda Wasisto sudah harus beranjak. Dia lantas menenteng ember berisi beberapa ekor ikan yang dia tangkap. Lalu meniti pematang untuk pulang. Saya mengikutinya dari belakang.

Sehari sebelumnya, saya hanya tahu hiru-pikuk para wisatawan di kawasan Candi Borobudur, Magelang. Orang-orang yang datang memang untuk bersenang-senang. Pagi itu saya dibuat tahu, ada orang-orang yang hidup dalam ambang keterbatasan.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Tiap Berhenti di Terminal Tidar Magelang Kenyang Dicaci Maki Pengamen Bus: Orang Sepuh Disumpahi Bisu, Orang Tidur Disumpahi Gara-gara Recehan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 27 Agustus 2025 oleh

Tags: borobudurcandi borobudurmagelangpilihan redaksiwisata magelang
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Hal-hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi tidak dimiliki di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih MOJOK.CO
Catatan

Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan

28 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Akademisi UGM kritik RUU Sisdiknas karena belum menjawab tantangan pendidikan nasional di masa mendatang MOJOK.CO

RUU Sisdiknas Dinilai Belum Jawab Tantangan Pendidikan hingga Menyoal Relevansi Perguruan Tinggi Kedinasan

28 Juli 2026
Anak penjual tahu kuliah di ITB. MOJOK.CO

Perjuangan Mutiara Belajar Mandiri dan Andalkan Buku Panduan dari Sang Ayah Penjual Tahu hingga Tembus ITB

27 Juli 2026
Titi terendah perempuan: bawa bocil saat naik kereta api MOJOK.CO

Titik Terendah Ibu saat Naik Kereta Api Bawa Bocil: Mental Terguncang Bukan karena Bocil Tantrum tapi Mulut Jahat Sesama Perempuan

27 Juli 2026
Pengelolaan sampah di TPA Troketon oleh Pemkab Klaten. MOJOK.CO

Geliat TPA Troketon: Berpacu dengan Waktu Menjinakkan Bau Sampah dan Air Lindi Jadi Tempat yang Ramah Lingkungan

29 Juli 2026
Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru MOJOK.CO

Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru

29 Juli 2026
Budi daya ikan nila cuan 18 juta tiap 4 bulan tapi jangan ngasal MOJOK.CO

Budi daya ikan nila bisa cuan 18 juta tiap 4 bulan tapi jangan sampai merusak sumber daya 40 tahun ke depan

30 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.