Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Gen Z Tidak Becus di Dunia Kerja karena Kampus Juga Tidak Memberikan Modal untuk Mereka Menghadapi Dunia Kerja!

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
25 Mei 2024
A A
Gen Z Tidak Becus di Dunia Kerja karena Kampus Juga Tidak Memberikan Modal untuk Mereka Menghadapi Dunia Kerja!

Gen Z Tidak Becus di Dunia Kerja karena Kampus Juga Tidak Memberikan Modal untuk Mereka Menghadapi Dunia Kerja!

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dalam tayangan YouTube Universitas Sumatera Utara, Nadiem Makarim menyampaikan bahwa 80 persen mahasiswa bekerja di luar jurusan mereka berkuliah. Dan ini kita bisa lihat di kehidupan nyata, bahkan kalian pembaca mungkin salah satunya. Kuliahnya apa, kerjanya apa. Salah satu penyebabnya adalah, kampus tidak memberi modal di dunia kerja. Apalagi untuk para gen Z, yang kerap dianggap tidak becus dalam bekerja.

Modal yang dimaksud beragam, bisa koneksi, bisa skill, bisa makul yang memang sesuai dengan industri. Melihat bahwa 80 persen mahasiswa tidak bekerja sesuai jurusan mereka, bisa diambil asumsi bahwa kampus tak memberi modal untuk dunia kerja. Tapi untuk ini, tetap butuh pembuktian, dan pasti ada yang setuju, pasti ada yang tidak.

Yudi (22, bukan nama sebenarnya) adalah salah satu mahasiswa yang setuju bahwa kampus tidak memberi modal pada mahasiswanya di dunia kerja (25/05/2024). Banyak alasan yang mendasari statement Yudi.

“Kalau di jurusanku (Sosiologi), aku merasa lebih banyak diajari soal ilmu dan teorinya, Mas. Tapi, kalau soal gimana cara cari duit dari ilmu ini yang nggak dapet. Ini juga udah tak tanyakan ke beberapa temenku, termasuk yang beda jurusan, mereka juga sepakat kalau nggak dapet skill itu.”

Yudi mengaku, bahwa jurusannya, Sosiologi, sebenarnya salah satu jurusan yang sulit dapat kerja. Masalahnya adalah, jika mau berusaha cari pengalaman lewat jalur kampus, juga tidak mudah. Misal, jika mahasiswa mau ikut program di luar kampus, misal magang, pengabdian, pertukaran pelajar juga masih dipersulit. Alasannya bisa berpotensi menghambat kelulusan. Padahal, modal tersebut sebenarnya amat dibutuhkan oleh mahasiswa yang nantinya akan baku hantam dengan kenyataan di dunia nyata.

Networking yang terbatas di jurusannya pun seakan menjadi perasan air garam di luka yang menganga.

“Selain itu, di kampusku juga nggak punya kelompok alumni yang bisa diajak sharing gitu. Beda kayak di kampus lain kan biasanya kumpulan alumni yang aktif dan bisa diajak sharing soal kayak ginian.”

Yang setuju

Jika Yudi tak setuju, Achmad (23) berbeda pendapat. Mahasiswa IAIN Kediri ini berkata bahwa jika lulus, dia sudah punya modal di dunia kerja karena jurusannya memang mengajarkan skill yang dibutuhkan.

“Kan aku jurusan Ilmu Komunikasi ya, Mas. Nah di jurusanku itu ada beberapa mata kuliah yang membahas soal dunia riset, media massa, dan kepenulisan ala-ala jurnalistik gitu. Maka, buatku pemahaman soal riset, media massa, dan kepenulisan jurnalistik itu bisa jadi modal ketika misalnya, aku pengin kerja jadi wartawan, atau nulis-nulis.”

Bahkan beberapa kawan Achmad sudah bekerja di dunia yang berhubungan dengan Ilmu Komunikasi, karena mendapat ilmunya. Tapi tetap tidak memungkiri bahwa Achmad melihat ada kawan yang menganggap ilmu yang ada tak bisa jadi modal kerja. Jadi Achmad berpikiran bahwa ini semua tergantung pribadinya.

Saya lalu bertanya, apakah dosen-dosen di jurusan Achmad memberi jalan karier atau sekadar rekomendasi tempat yang bisa Achmad tuju untuk kerja. Achmad menjawab, tidak.

“Sejauh ini, dosenku sama sekali nggak ada yg ngasih rekomendasi/loker gitu. Tapi nggak tahu kalau aku tanya-tanya loker ke beliau. Temenku jurusan lain, entah yang satu fakultas atau nggak pun gitu, ga pernah cerita kalo dia kerja dapet rekomendasi dari dosen.

Dunia kerja butuh inovasi

Ipank (bukan nama sebenarnya, 30), alumni S2 UGM yang kini jadi salah satu event organizer ternama mengatakan bahwa kenapa kampus tidak bisa memberi modal mahasiswanya di dunia kerja karena memang banyak yang salah di dunia kampus. Terutama, inovasi.

Dosen dan kampus yang tidak mau mau bikin inovasi menghasilkan mahasiswa yang gitu-gitu saja. Ipank juga menekankan, inovasi hampir tak ada di kampus-kampus, yang dilakukan hanyalah mencetak mahasiswa ber-IPK tinggi, tapi tak memberi sumbangsih berarti.

Iklan

“Coba ingat berapa kali kamu ngulang mata kuliah yang sama. Materinya sama persis nggak? Iya kan? Ya harusnya nggak. Tiap tahun harusnya ada penyesuaian. Tapi nyatanya nggak, dosennya udah pada males duluan. Alasannya silabus. Padahal silabus kan harusnya dilihat dari output, caranya mah bisa improve. Nggak harus sama kek kemarin.”

Ipank juga menekankan bahwa mindset yang gitu-gitu saja bikin mahasiswa tak punya pilihan saat mereka mentas dari kampus dan menghadapi dunia kerja. Ipank memberikan contoh sewaktu dia kuliah S1. Sebagai anak bahasa, dia benar-benar menyayangkan kenapa lulusan bahasa hanya diarahkan ke jenis-jenis pekerjaan yang itu-itu saja. Padahal bahasa benar-benar ilmu yang bisa masuk di tiap industri.

“Contoh bidang UX, tak jarang diiisi orang marketing. Lha, harusnya anak bahasa lah.”

Harapan

Mungkin Achmad tak bermasalah, karena memang jurusannya benar-benar ada untuk dunia nyata. Tapi untuk orang macam Yudi, dunia jadi kelewat keras. Yudi pun punya harapan-harapan untuk kampusnya agar peduli pada mahasiswa yang sebentar lagi menghadapi perih pahit dunia kerja.

“Jangan paksa semua mahasiswa harus lulus 3.5 tahun. Maksudku, batas normalnya kan 4 tahun ya, Mas, mbok biarin nyari pengalaman dulu mumpung masih mahasiswa. Jadi, kalau mahasiswa mau nyari pengalaman di luar kampus harusnya didukung, bukan malah dipersulit.”

Selain itu, Yudi juga berharap kampus atau universitasnya mengadakan job fair agar para mahasiswanya bisa tahu betul perusahaan mana yang membutuhkan mereka. setidaknya, memberikan gambaran kalau kampusnya peduli dengan mereka.

“Ya, meskipun acara kayak gini gak menjamin dapet kerja, tapi minimal kampus udah usaha ngasih peluang.”

Reporter: Rizky Prasetya
Editor: Hammam Izzudin

BACA JUGA Lulusan UNY Menderita di Dunia Kerja karena Memang Kuliah di UNY Nggak Ngasih Bekal Apa-apa di Dunia Kerja

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Terakhir diperbarui pada 25 Mei 2024 oleh

Tags: Dunia Kerjajob fairKampusmagangMahasiswamodal kerja
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa? MOJOK.CO
Esai

Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa?

6 Mei 2026
Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot
Sekolahan

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO
Esai

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elit dan Realitas yang Sulit MOJOK.CO
Esai

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

10 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tidak memberi utang saat teman pinjam uang selalu dicap jahat dan dijauhi dari pertemanan MOJOK.CO

Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat

8 Mei 2026
Sarjana Jogja Tanpa Nurani: Fenomena Buang Anabul Setelah Wisuda MOJOK.CO

Sarjana Jogja Tanpa Nurani: Fenomena Buang Anabul Setelah Wisuda

4 Mei 2026
5 Ciri Orang Toxic yang Wajib di-Cut Off: Teman Manipulatif dan Bodo Amat dengan Kondisi Kita MOJOK.CO

5 Ciri Orang Toxic yang Wajib di-Cut Off: Teman Manipulatif dan Bodo Amat dengan Kondisi Kita

6 Mei 2026
Orang tua lebih rela jual tanah dan keluarkan biaya puluhan juta untuk anak LPK kerja di Jepang daripada lanjut kuliah di perguruan tinggi MOJOK.CO

Ortu Lebih Rela Jual Tanah buat Modal Anak Kerja di Jepang, Rp40 Juta Mending buat LPK ketimbang Rugi Dipakai Kuliah

6 Mei 2026
Saat anak bangga jadi mahasiswa abadi (tak kunjung lulus kuliah karena sibuk organisasi hingga lupa skripsi) ternyata bikin orang tua terbebani MOJOK.CO

Anak Betah Jadi Mahasiswa Abadi karena Sibuk Organisasi dan Ogah Garap Skripsi, Ortu di Rumah Pura-pura Memahami padahal Terbebani

4 Mei 2026
Petani di Delanggu, Klaten maju berkat sistem permakultur. MOJOK.CO

Belajar Bertani dari Dasar, Akhirnya Hidupkan Ketahanan Pangan dari Lahan Kosong di Delanggu Klaten

6 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.