Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Diam-diam Daftar SNBP UNAIR karena Tak Direstui Kuliah, Langsung Dicap Anak Durhaka oleh Ibu Sendiri

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
23 Februari 2024
A A
lolos snbp, biaya kuliah ptn.MOJOK.CO

Ilustrasi - Lolos SNBP (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bisa kuliah di kampus impian tentu menjadi angan-angan bagi sebagian banyak orang. Sehingga, mereka benar-benar sungguh-sungguh untuk menebusnya, sangat antusias untuk daftar SNBP.

Sayangnya, kadang kala angan-angan tinggi tersebut tak selaras dengan kondisi perekonomian orang tua. Alhasil, dengan berat hati mereka tak bisa lanjut menjadi mahasiswa setelah lulus SMA.

Mojok malah mendengar cerita yang cukup greget. Yakni tentang seseorang yang diam-diam ikut SNBP UNAIR, tapi ketika ketahuan oleh orang tuanya, malah berujung mendapat cap “anak durhaka”.

***

Cerita ngenes tersebut datang dari Maula* (24), bukan nama sebenarnya, pemuda asal Bojonegoro, Jawa Timur.

Maula berasal dari keluarga desa yang sangat sederhana. Bapaknya petani, sementara ibunya jualan nasi uduk keliling tiap pagi.

Meski berasal dari keluarga pas-pasan, tapi Maula memang memiliki angan-angan bisa lanjut kuliah. Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya adalah yang ia incar.

“Aku pengin tembus Fakultas Hukum,” ungkapnya saat curhat kepada Mojok lewat WhatsApp (WA).

Orang tua melarang ikut SNBP

Jelang pendaftaran SNBP 2018 silam, Maula sempat mencoba memberi kode pada orang tuanya.

Btw, waktu itu namanya belum SNBP, tapi masih SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi). Agar sesuai konteks hari ini, selanjutnya biar lebih mudah kita pakai sebutan SNBP saja.

Suatu malam di ruang tengah, saat ibu dan bapaknya tengah menikmati singkong rebus sembari nonton di TV bututnya, Maula mulai sedikit-sedikit memancing obrolan seputar perkuliahan.

“Aku cerita kalau temen-temenku rata-rata mau kuliah, Yang ekonominya pas-pasan juga berniat kuliah,” ungkap Maula yang kemudian juga mencoba menjelaskan seputar SNBP sebagai salah satu jalur masuk perguruan tinggi.

“Bapakmu nggak sanggup kalau harus kuliah, Le. Duit dari mana? Begitu jawaban ibu,” sambung Maula menirukan jawaban ibunya waktu itu.

Meskipun Maula sudah mencoba menjelaskan perihal kemungkinan untuk mencari beasiswa Bidikmisi, tapi orang tua Maula entah kenapa masih berharap agar Maula mengubur mimpinya untuk ikut SNBP.

Iklan

Maula terdiam. Satu sisi ia sadar diri tak bisa memaksakan kehendak. Namun, sisi lain tekadnya terlampau kuat untuk bisa kuliah.

Diam-diam ikut SNBP hingga dicap durhaka

“Aku tetap coba-coba dulu ikut daftar SNBP. Ternyata lolos,” ungkap Maula.

Meskipun tak mendapat lampu hijau untuk ikut SNBP, Maula pada akhirnya tepat nekat. Ia tetap daftar dengan pilihan utama di UNAIR.

Awalnya, Maula masih diam-diam. Ia berniat mencoba bicara pelan-pelan lagi pada orang tuanya. Termasuk soal bahwa ia nanti akan mencari-cari beasiswa. Kalau perlu kuliah sambil kerja biar tak membebani orang tua.

Namun, belum juga bilang sendiri, ternyata orang tua Maula sudah tahu, entah dari siapa.

Diam-diam Daftar SNBP UNAIR MOJOK.
Ilustrasi sedih tak boleh daftar SNBP (Jesus Rodriguez/Unsp;ash)

“Batalkan saja. Jangan tega sama orang tua. Jangan durhaka. Kita ini bukan orang kaya. Adikmu juga masih butuh biaya sekolah,” begitu kira-kira yang ibu Maula lontarkan. Maula lagi-lagi hanya terdiam.

“Aku malah mencoba memantapkan hati, ya sudah nggak kuliah nggak apa-apa. Nggak semua cita-cita harus tercapai,” kata Maula.

Bapak diam-diam jual sawah

“Kamu bener-bener pengin kuliah?,” tanya bapak Maula sehari setelah Maula mendapat cap durhaka dari ibunya sendiri.

“Lah bayarnya berapa? Mulai kapan?,” tanya bapaknya lagi.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya Maula jawab dengan lesu. Sebab, dalam benak Maula, pertanyaan dan jawabannya pun tak akan mengubah apapun: ia tetap tak bisa kuliah meski sudah lolos SNBP UNAIR.

Yang membuat Maula terkejut adalah, ternyata sejak ia mancing-macing soal kuliah, bapaknya sudah langsung menjual sepetak sawahnya. Sepetak dari hanya dua petak yang ia miliki. Tentu dengan berdebat hebat dengan ibu Maula terlebih dulu.

Namun, dalam benak bapak Maula, sejak kecil sudah banyak hal yang Maula empet (tahan) lantaran keterbatasan ekonomi. Bapak Maula merasa bersalah tak bisa memberi kehidupan yang layak.

Oleh karena itu, bapak Maula mempertimbangkan untuk menuruti keinginan Maula untuk lanjut kuliah.

“Kalau bisa dapat beasiswa ya syukur, tapi kalau nggak ya nanti biayanya kita cari-cari. Itu kata bapak waktu itu,” terang Maula.

Tak minta kiriman malah mengirimi

Singkat cerita, uang hasil penjualan sawah itu Maula gunakan untuk membayar UKT pertama sekaligus untuk uang saku di semester pertama masa perkuliahannya.

Memasuki semester kedua,  pengajuan beasiswa Bidikmisi Maula tembus. Alhasil, ia pun sudah tak meminta kiriman dari rumah lagi.

“Jadi bapak tinggal nanggung adik yang baru kelas 1 SMA,” ucap Maula.

Seiring berjalannya waktu, Maula lalu mulai nyambi kerja sebagai driver ojek online. Biasanya ia akan narik sore hingga malam.

“Kalau weekend, mislanya nggak pulang ke Bojonegoro ya bisa seharian online (narik),” akunya.

“Kalau tugas kuliah, sebisa mungkin dikerjakan tengah malam,” lanjut Maula.

Dari uang Bidikmisi sekaligus penghasilan dari ngojol itulah Maula bertahan hidup di Surabaya.

Bahkan, kadang kala tiap ia pulang ke Bojonegoro, ia akan menyisihkan beberapa untuk tambahan uang saku sang adik.

Maula sendiri saat ini masih proses pengerjaan skripsi. Selangkah lagi untuk menjadi sarjana setelah serangkaian drama kehidupan sebelum dan selama masa-masa kuliah di UNAIR.

“Sekarang agak keteteran karena beasiswa sudah habis sampai semester 4. Jadi kalau lebih dari semester 4, bayar sendiri. Mangkanya ini sedang berjuang lulus biar nggak bayar lagi,” tandasnya.

Reporter: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Rela Libur Kerja Demi Antar Ponakan Wisuda di UGM, Jadi Obat Kecewa karena Anak Sendiri Tak Mau Kuliah

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 23 Februari 2024 oleh

Tags: kuliahpilihan redaksiSNBPSurabayaunair
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO
Urban

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Orang Jawa desa pertama kali coba menu aneh (gulai tunjang) di warung makan nasi padang (naspad). Lidah menjerit dan langsung merasa goblok MOJOK.CO
Catatan

Orang Jawa Desa Nyoba “Menu Aneh” Warung Nasi Padang, Lidah Menjerit dan Langsung Merasa Goblok Seketika

15 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ada kehangatan dan banyak pelajaran hidup di dalam kereta api (KA) ekonomi yang sulit didapatkan user KA eksekutif kalau terlalu eksklusif MOJOK.CO

Kehangatan dan Pelajaran Hidup di Kereta Api (KA) Ekonomi yang Sulit Ditemukan di KA Eksekutif

13 Maret 2026
Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026
Ilustrasi mudik lebaran, perumahan.MOJOK.co

Enaknya Lebaran di Perumahan Kota yang Tak Dirasakan Pemudik di Desa, Dianggap Kesepian padahal Lebih Tenang

11 Maret 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Tak Sudi Mudik dengan Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.