Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Pekan Budaya Difabel 2026: Saat Anak-anak Terbebas dari Stigma lewat Seni dan Terapi di Ruang Inklusif

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
29 Juli 2026
A A
Peserta Pekan Budaya Difabel di Jogja. MOJOK.CO

Peserta menggambar dalam PBD 2026. (sumber: Facebook/Humas Pemda DIY)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tama, bocah istimewa itu tampak semangat mengikuti sesi menggambar dalam Pekan Budaya Difabel (PBD) 2026. Selain dia, ada juga Nico yang sibuk mencoret-coret kertasnya dengan krayon guna menggambar pohon, rumah, jalan, dan pemandangan alam. Lewat kegiatan tersebut, keceriaan terpancar dari wajah keduanya.

Begitu pula pendamping maupun guru yang tersenyum bangga saat anak-anak menunjukkan hasil gambar mereka. Momen sederhana tersebut menjadi gambaran bahwa seni mampu menjadi media untuk menumbuhkan kepercayaan diri, kreativitas, dan interaksi sosial anak-anak difabel.

Iklan

Selain menggambar, para peserta PBD 2026 juga dapat melakukan aktivitas lain seperti layanan terapi melalui Mobil Keliling Terapi (Moekti), workshop bahasa isyarat, pelatihan pengemasan produk, pengenalan dunia difabel, pameran karya seni, pentas budaya, serta diskusi parenting. Seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk mengembangkan kreativitas, membangun kepercayaan diri peserta.

Pekan Budaya Difabel gandeng Mobil Keliling Terapi

PBD yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini dapat diikuti peserta, mulai Selasa (28/7/2026) hingga Kamis (30/7/2026) di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 2 Bantul.

Mengusung tema “MURAKABI” yang bermakna merayakan keberagaman dalam ruang yang inklusif, penyelenggaraan tahun ini menghadirkan inovasi melalui kolaborasi Pekan Budaya Difabel dengan Mobil Keliling Terapi (Moekti). Kolaborasi tersebut memadukan layanan terapi, seni, edukasi, dan pendampingan keluarga dalam satu ekosistem guna mendukung tumbuh kembang anak-anak difabel.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by SLB BHAKTI WIYATA (@slbbhaktiwiyata.giripeni)

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan, integrasi PBD dan Moekti menjadi langkah strategis untuk memperluas manfaat program sekaligus memperkuat peran kebudayaan sebagai media pemberdayaan. 

Jika sebelumnya Moekti hanya berfokus pada layanan terapi dan melibatkan dua SLB, tahun ini program tersebut diperluas dengan menggandeng 10 SLB melalui berbagai kegiatan seni, budaya, dan edukasi.

“Melalui tema MURAKABI, kami ingin menunjukkan bahwa teman-teman difabel memiliki potensi dan kesempatan yang sama untuk berprestasi, berkarya, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” ujar Dian dikutip dari laman resmi Pemerintah Daerah DIY, Selasa (28/7/2026).

“Keterbatasan fisik maupun mental bukanlah penghalang untuk maju, berkolaborasi, dan menghadirkan manfaat bagi sesama,” lanjutnya.

Hapus stigma difabel

Ketua Panitia PBD 2026, Arif Wijayanto alias Broto Wijayanto mengatakan, PBD bukan sekadar ruang untuk menampilkan karya, tetapi juga sarana membangun kesadaran masyarakat bahwa penyandang disabilitas memiliki talenta, kreativitas, dan kemampuan yang patut diapresiasi.

Iklan

“Kami berharap ke depan Pekan Budaya Difabel semakin inklusif. Teman-teman difabel tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga dapat menjadi pelaku utama dalam penyelenggaraan kegiatan. Dengan begitu, masyarakat dapat melihat secara langsung kemampuan, kreativitas, dan kepemimpinan mereka,” kata Broto.

Lurah Bangunharjo Nur Hidayat menyambut baik penyelenggaraan PBD 2026 di wilayahnya. Menurutnya, kebudayaan merupakan ruang bersama yang harus dapat diakses seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Karena itu, ruang-ruang kreatif bagi penyandang disabilitas perlu terus diperluas agar potensi yang dimiliki dapat berkembang secara optimal.

Melalui rangkaian kegiatan yang sudah disediakan, Dinas Kebudayaan DIY berharap semakin banyak anak difabel memperoleh ruang untuk mengembangkan potensi, memperluas kesempatan berkarya, serta memperkuat budaya inklusif di DIY sebagai bagian dari upaya memajukan kebudayaan yang terbuka bagi semua.

Sumber: Humas Pemda DIY

BACA JUGA: Ableisme: Saat Konten “Plenger” di Medsos Mengantarkan Tawa Penonton tapi Dibayar dengan Trauma dan Depresi Teman Difabel atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 29 Juli 2026 oleh

Tags: anak difabeldifabelinklusifPBDPBD 2026Pekan Budaya Difabelslbterapi untuk difabel
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO
Urban

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit MOJOK.CO
Esai

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit

13 Juli 2026
Ableisme parodikan difabel di medsos. MOJOK.CO
Sehari-hari

Ableisme: Saat Konten “Plenger” di Medsos Mengantarkan Tawa Penonton tapi Dibayar dengan Trauma dan Depresi Teman Difabel

18 Juni 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO
Catatan

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

SRAK 2026-2036 Resmi Disusun, Komitmen Lintas Sektor Selamatkan Elang Jawa dari Kepunahan

27 Juli 2026
Koperasi di Yogyakarta. MOJOK.CO

Hari Koperasi Nasional ke-79 di DIY: Sudah Saatnya Koperasi sebagai Sakaguru Perekonomian Nasional Nggak Lagi Gaptek

23 Juli 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
WiFi di Kos MOJOK.CO

Ngekos Murah Ber-WiFi Malah Tekor: Berisik, Teras Berubah Jadi Warnet Gratisan, Berujung Terusir dan Ngungsi demi Ketenangan

24 Juli 2026
Sri Sultan HB X tegaskan: penataan kawasan pedestrian Malioboro bukan berarti apa-apa tidak boleh MOJOK.CO

Sri Sultan HB X: Malioboro Full Pedestrian Bukan Tutup Total Akses Kendaraan, Tapi Penataan agar Tidak Crowded

24 Juli 2026
Jadi gini rasanya keracunan motor Yamaha Xabre bekas MOJOK.CO

Akulah yang dulu meremehkan motor Yamaha Xabre karena harganya yang nggak ngotak, tapi kini rasa ingin memilikinya semakin tinggi

23 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.