Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
8 Juli 2026
A A
kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur (dok. Pemkot Jogja)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di kawasan perkotaan yang padat, memiliki pekarangan luas untuk bercocok tanam sering kali hanya menjadi angan-angan. Lahan yang ada umumnya sudah habis tertutup oleh permukiman, aspal, atau beton cor. Namun, warga Kampung Wirobrajan, Kota Jogja, punya cara tersendiri untuk menyiasati keterbatasan tersebut.

Alih-alih menyerah pada keadaan, Kelompok Tani Swa Katon Asri di wilayah ini memilih untuk memanfaatkan setiap jengkal ruang yang tersisa. Tembok-tembok kampung, teras kecil, hingga barang bekas disulap menjadi area pertanian yang produktif. 

Iklan

Hasilnya, mereka mampu menciptakan sebuah langkah nyata untuk mewujudkan ketahanan pangan langsung dari gang pemukiman warga.

Tembok dan galon bekas jadi lahan pengganti

Di area Pendopo Sumarah, Jalan Setiyaki, warga tidak menanam sayur di atas hamparan tanah gembur layaknya petani di pedesaan. Mereka menggunakan media tanam alternatif seperti wall planter (kantung tanam dinding), polybag, hingga wadah dari galon air mineral bekas.

perkebunan di jogja.MOJOK.CO
Warga Wirobrajan, Jogja, menggunakan media tanam alternatif. Antara lain wall planter, polybag, hingga wadah dari galon air mineral bekas. (dok. Pemkot Jogja)

Sekretaris Kelompok Tani Swa Katon Asri, Yantini, menjelaskan bahwa metode ini adalah jalan keluar paling masuk akal bagi warga kota.

Belum lama ini, kelompoknya membuktikan hal tersebut dengan melakukan penanaman 1.200 bibit sawi dan selada air yang dipasang berjejer di sepanjang tembok kawasan tersebut.

“Wall planter menjadi solusi karena lahan di perkotaan terbatas. Kami memanfaatkan tembok-tembok yang ada untuk media tanam sehingga tetap produktif,” jelas Yantini.

Berdiri sejak 2017 dan mulai aktif di Pendopo Sumarah pada Februari 2022, kelompok ini tidak hanya menanam satu atau dua jenis sayuran.

Memanfaatkan ragam media tanam vertikal dan wadah daur ulang tersebut, mereka sukses membudidayakan cabai, terong, tomat, seledri, tanaman obat keluarga (TOGA), hingga tanaman buah seperti pepaya, pisang, mangga, sawo, dan kelengkeng.

perkebunan di Jogja.MOJOK.CO
Pertanian skala kampung yang dikelola warga Wirobrajan terbukti memberikan dampak ekonomi langsung. Sayuran dan buah yang ditanam bukan sekadar penghias tembok gang, melainkan ditujukan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan harian keluarga. (dok. Pemkot Jogja)

Menghemat pengeluaran dapur lewat panen mandiri

Pertanian skala kampung yang dikelola warga Wirobrajan terbukti memberikan dampak ekonomi langsung. Sayuran dan buah yang ditanam bukan sekadar penghias tembok gang, tetapi juga ditujukan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan harian keluarga.

Menurut Yantini, kemandirian dan kesehatan warga adalah salah satu target utama dari aktivitas kelompok taninya.

“Kami mengikuti program pemerintah untuk ketahanan pangan. Harapannya, masyarakat bisa lebih mandiri dengan mengonsumsi hasil tanaman sendiri yang organik dan tentunya lebih sehat,” kata Yantini.

perkebunan di jogja.MOJOK.CO
Kegiatan urban farming di Wirobrajan ini tidak didesain sebagai program musiman. Kegiatan ini juga dibantu oleh beberapa universitas.

Lebih dari itu, hasil panen yang didapat juga membawa perputaran ekonomi kecil di dalam kampung. Sayuran segar tersebut tidak hanya dikonsumsi sendiri, tetapi dijual kembali kepada warga sekitar dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan standar harga pasar.

“Hasil panen terong dijual sekitar Rp4.000 per kemasan kepada warga RW 4. Tanaman dalam polybag juga dipasarkan dengan harga mulai Rp25.000, sedangkan tanaman terong dalam media tanam dapat mencapai Rp50.000,” tambahnya.

Iklan

Misi jangka panjang menjadi pusat edukasi di Jogja

Kegiatan urban farming di Wirobrajan ini tidak didesain sebagai program musiman. Sejak mendapat pembinaan dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja, serta menjalin kolaborasi lintas sektor—termasuk dengan kelurahan, kemantren, hingga perguruan tinggi seperti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Polbangtan—kawasan ini mulai diproyeksikan sebagai sentra pembelajaran.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Sagiyo, yang mulai mendampingi kelompok ini sejak Januari 2026, melihat adanya potensi pengembangan yang besar. Setelah berhasil menghidupkan kembali aktivitas pertanian yang sempat vakum, fokus utamanya kini adalah inovasi edukasi bagi masyarakat luas.

Ke depan, Sagiyo menargetkan kawasan tersebut akan dilengkapi dengan variasi komoditas yang lebih beragam, seperti jagung, kacang tanah, padi, hingga bawang merah. Tujuannya agar area ini semakin lengkap dan representatif sebagai destinasi edukasi pertanian perkotaan.

“Tujuan kami bukan hanya menanam untuk konsumsi rumah tangga, tetapi menjadikan tempat ini sebagai pusat belajar. Warga bisa belajar cara menanam, pengendalian hama, hingga budidaya tanaman di sini,” pungkas Sagiyo.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

Sumber: warta.jogjakota.go.id

BACA JUGA: Mengupas Misi Masjid Deresan Sleman yang Suka Borong Sayur dari Petani, Punya Banyak Gebrakan yang Layak Ditiru Masjid Lain atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2026 oleh

Tags: hasil pertanianJogjakota jogjapertanian di jogjapertanian tengah kotaurban farming
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Festival Jamu Nusantara di Pasar Ngasem, Kota Jogja: ruang regenerasi dan edukasi konsumen muda MOJOK.CO
Kabar

Festival Jamu Nusantara di Kota Jogja: Sadarkan Anak Muda Jamu Bukan Minuman Kuno, Tapi Gaya Hidup Sehat Lintas Generasi

6 Juli 2026
Tips Meningkatkan Kenikmatan Ayam Goreng Olive Chicken Jogja (Mojok/Agung)
Pojokan

Tips Meningkatkan Kenikmatan Rasa Ayam Goreng Olive Chicken Jogja yang Sudah Menjadi Legenda Kuliner Itu

3 Juli 2026
Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, sebut inflasi di Kota Jogja pada Juni 2026 disebabkan kenaikan harga BBM non-subsidi MOJOK.CO
Kabar

Transportasi Jadi Penyumbang Inflasi di Kota Jogja: Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Jadi Penyebab Utama dan Wanti-wanti Naiknya Biaya Pendidikan

2 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

7 Juli 2026
Saya Pengurus KDMP: Koperasi Desa Lebih Butuh Literasi daripada Militerisasi MOJOK.CO

Saya Pengurus KDMP: Koperasi Desa Lebih Butuh Literasi daripada Militerisasi

3 Juli 2026
Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Essay Contes Beswan Djarum: menulis esai memberi soft skills yang menunjang karier profesional MOJOK.CO

Menulis Esai Jadi Bekal Karier Anak Muda, Beri Ragam Soft Skills Vital yang Dicari Dunia Kerja Profesional

3 Juli 2026
Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan MOJOK.CO

Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan

6 Juli 2026
Vario 160 adalah motor Honda paling buruk rupa tapi malah laris MOJOK.CO

Berdasarkan pengamatan saya, Vario 160 adalah motor Honda paling buruk rupa, tapi malah laris kebangetan dasar aneh

7 Juli 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.