Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Jejak Bokep dari Masa ke Masa

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
14 Januari 2021
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bokep yang termediasi sudah laku dari sejak zaman batu sampai zaman terbaru.

Satu dugaan yang cukup sulit dibantah tentang pornografi (selanjutnya ditulis bokep) adalah usianya yang hampir sama tuanya dengan sejarah kebudayaan umat manusia itu sendiri.

Nggak usah pura-pura terkejut gitu deh. Hambok, biasa aja.

Dalam jurnal Pornografi dalam Perspektif Sejarah (2006) karya Ajat Sudrajat—misalnya, disebutkan bahwa ekspresi sensual begituan bisa ditemukan dalam Kebudayaan Romawi di Pompei sekitar abad 79 M.

Ya betul, kebudayaan Romawi tidak hanya perkara seni adiluhung. Pada masanya, karya-karya klasik seorang penyair dari Roma seperti Ovid sukses melahirkan seni merayu sampai seni membangkitkan birahi.

Hendri Yulius, penulis buku C*bul (2019) bahkan meyakini bahwa ekspresi sensual semacam itu sudah muncul jauh sebelum era Papirus Mesir pada 1150 SM dengan ukiran yang cukup sukses bisa bikin orang terangsang.

Meski barangkali kamu tak akan sanggup membayangkan, bagaimana seorang manusia bisa merasakan dorongan seksual ketika membaca atau melihat gambar di ukiran batu. Hm, benar-benar masa sulit untuk orang-orang pada masa itu.

“Yang terjadi (di sini) adalah bagaimana manusia mengekspresikan hasrat seksualitasnya ini selalu dimediasi. Nah, ini kata kuncinya. Dimediasi oleh piranti budaya tertentu. Bagaimana masyarakat kuno mengekspresikan seksualitas lewat gambar, lukisan-lukisan goa, di batu, dan seterusnya,” terang Hendri Yulius.

Satu hal yang patut dicatat, masih menurut Hendri Yulius, apa yang dianggap porno pada suatu masa tak bisa dipakai untuk menghukumi status porno pada masa yang lain.

Jadi apa yang dilakukan Ovid dan seniman-seniman pada masanya, bukanlah sesuatu yang cabul, melainkan sebuah karya seni. Karya seni yang mempertontonkan perilaku paling alamiah dari makhluk seksual (baca: kawin).

Namun, karena melacak sejarah bokep sampai era Felix dan Obelix itu kelewat jauh, plus juga butuh epigraf andal, maka kita bisa mengerucutkannya saja pada satu titik yang dianggap sebagai permulaan bokep era modern, yakni ketika alat cetak sudah ditemukan manusia.

Dalam sejarah bokep, penemuan mesin cetak adalah satu titik di mana urusan lendir ini bisa dikomodifikasi dalam bentuk citra (baik tulis maupun gambar) dengan terstruktur, sistematis, dan masif.

Oleh sebab itu, produser dan peraih untung dari industri bokep masa kini rasanya perlu memberi rasa terima kasih tertinggi kepada Johannes Gutenber, seorang pandai besi dari Jerman yang dengan cukup selo menemukan mesin cetak pada 1450-an.

Karena jasanya, ledakan informasi terjadi di Eropa terjadi. Hal ini juga memicu kemunculan era Renaisans di Eropa. Pun dengan kelahiran ide-ide untuk menyebarluaskan kisah-kisah bokep dalam bentuk buku. Artinya, tanpa penemuan mesin cetak, ide komodifikasi bokep mustahil bisa terjadi.

Iklan

Meski mesin cetak sudah ditemukan sejak abad ke-15, komodifikasi bokep pertama (yang tercatat) muncul baru pada abad ke-18. Buku-buku yang mengisahkan hal-hal erotis seperti Fanny Hill dan Memoirs of a Woman of Pleasure sudah diproduksi dengan serius di Paris.

Akan tetapi, ledakan paling besar dari industri pornografi yang mendekati seperti masa sekarang baru muncul pada pertengahan abad ke-20, kira-kira tahun 1950-an.

Donald A. Downs, dalam jurnal Pornography (1993-1994) menandai era ini dengan kemunculan majalah Playboy di Amerika. Majalah ini lah yang kali pertama berani (di Amerika) menampilkan gambar sensual di atas kertas dengan kualitas yang bisa bikin orang terangsang.

Pada saat yang sama, di Indonesia, tepatnya pada tahun 1954, Pemerintah memberedel beberapa buku bokep dengan judul-judul Rahasia Sorga Dunia, Sundal Terhormat, Gadis Lobang Kubur, Wanita Sepanjang Zaman, Dacameron I dan II, dan Usia Dewasa (Sudrajat: 2006).

Inilah era komodifikasi bokep di Indonesia dalam bentuk teks pertama. Cukup ketinggalan sekitar dua abad kalau merujuk pada sejarah bokep dalam bentuk buku di Perancis.

Namun, sebagai bangsa yang nggak mau ketinggalan dalam urusan bokep, Indonesia “sukses” mengejar ketinggalan ini pada tahun 1984.

Ditandai dengan terbitnya kalender Happy New Year 1984 Sexindo. Sebuah kalender yang berani memuat foto-foto manusia telanjang. Mengingat era itu masih era Orde Baru, urat takut pihak yang bikin kalender itu memang kelihatannya sudah benar-benar putus.

Tepat pada 1980-an, majalah dan kalender model begini pun ini harus berbagi ceruk pasar karena muncul kompetitor yang mengusung teknologi baru dalam bentuk video cassete recorder (VCRs).

Perubahan media dalam mengakses bokep inilah yang kemudian mengubah kultur penikmat bokep. Setidaknya, menurut Dr. Budi Irawanto, peneliti dan pengajar di Media and Cultural Studies UGM, perubahan ini juga mempercepat persebaran konten bokep ke masyarakat.

“Kemampuan reproduksinya (konten-konten bokep) itu jauh lebih mudah. Kemampuan untuk diarsip juga lebih mudah. Kemudian mudah dimodifikasi, diedit, disunting, dan seterusnya,” kata Budi Irawanto.

Maka wajar kemudian Pemerintah cukup kewalahan membendung persebaran kontan bokep ini. Yang mana semakin berkembangnya teknologi, persebaran dan kualitasnya pun semakin ngidap-ngidapi.

Kita runut saja pada data semester awal tahun 1984/1985. Masa di mana film masih diproduksi secara analog. Badan Sensor Film Indonesia telah menyensor 60-an film yang diduga menampilkan adegan porno. Dan sekali lagi, itu baru yang tercatat pemerintah lho, belum yang diedarkan di bawah meja.

Meski Pemerintah sudah galak begitu, ledakan film bokep di Indonesia tetap menggila sejak 1990-an dan semakin masif sejak ditemukan teknologi internet jelang abad ke-21.

Hendri Yulius pun mengamini bahwa perubahan media bokep ini pada dasarnya hanya terjadi pada kulitnya saja, secara substansi sama saja sejak zaman dulu. Meski perubahan media ini juga memperluas cakupan konsumen konten-konten bokep.

“Dari mesin cetak kemudian—kita tahu kan—ada mesin teknologi lagi, digital. Bahkan sebelum digital kan ada yang namanya VHS, lasser disc, VCD, DVD, sampai sekarang akhirnya sosial media,” tuturnya.

Pada era sekarang, Hendri Yulius bahkan menyasar pada perubahan konsumsi yang terjadi. Jika dulu, orang cenderung pasif mengonsumsi konten bokep (entah dalam bentuk buku atau audio-visual), saat ini orang bisa aktif menjadi produsen konten bokep dalam satu waktu.

Hanya saja Hendri Yulius masih ragu apakah hal semacam itu masuk pada kategori bokep, selayaknya industri bokep profesional.

“Kayak aplikasi perkencanan misalnya, mereka mengirim foto semi-telanjang atau foto telanjang. Nah, apakah itu bisa dikategorikan sebagai bentuk pornografi? Nah, ini juga kan yang rancu,” kata Hendri.

Sedangkan, Budi Irawanto berpendapat bahwa jika masuk pada kategori “film bokep” maka sudah pasti ada unsur pra-produksi yang digarap serius.

“Kalau kita ngomongin film, itu akting dan ada proses editing. Ada proses dramatisasi,” kata Budi Irawanto.

“Nah, kadang kalau ngomongin konteks Indonesia, ini kadang campur baur. Kadangkala di Indonesia itu menyebut itu film porno. (Padahal) sebenarnya rekaman pribadi yang mungkin dikategorikan home-video gitu. Artinya itu amatir ya. Orang yang main apa direkam. Nggak kayak di Jepang atau Amerika ya, yang mereka profesional. Mereka apa, lighting diatur, segala macam,” lanjutnya.

Artinya, kebanyakan yang terjadi di Indonesia itu tidak bisa dikategorikan pada “film bokep” jika hanya berasal dari rekaman personal yang tidak sengaja tersebar.

“Meskipun bisa aja di rekaman video (yang di Indonesia) itu sama-sama artis, tapi kan saat (direkam) ia tidak sedang berakting. Tidak sedang menunjukkan seni peran,” lanjut Budi Irawanto.

Soal alasan utama kenapa konten semacam ini tetap laku tak lekang oleh zaman dan perubahan media, Budi Irawanto menerangkan sesuatu yang cukup mengejutkan.

“Dalam pornografi itu ada proses yang disebut dengan transgresi.”

Transgresi? Heh? Gimana itu?

“Transgretion itu kan artinya menerabas standar ukuran-ukuran kelaziman,” ucapnya.

Hm. Istilah yang sangat menarik.

“Misalnya di pornografi genre insest ada juga yang begitu. Anak ke ibu, bapak ke anak. Itu kan fantasi yang nggak mungkin. (Kalau dilakukan di dunia nyata) norma akan mengecam, secara hukum juga tidak memungkinkan,” tambahnya.

Artinya, selama fantasi seperti itu masih laku bisa ditawarkan, maka industri bokep pun bakal terus tumbuh subur karena lebih banyak manusia yang hasratnya jauh melampaui kemampuan finansial atau sosialnya.

Howalah, jadi inilah yang bikin bokep terus laku sejak era “The Flintstones” sampai era VPN.

 

[Sassy_Social_Share]

Terakhir diperbarui pada 14 Januari 2021 oleh

Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan dan Vita Rilis Video Klip "Rayuanmu" yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!.MOJOK.CO
Hiburan

Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!

9 Februari 2026
Tinggalkan ibunya demi kuliah di PTIQ Jakarta untuk merantau. MOJOK.CO
Catatan

Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata

9 Februari 2026
Media pers online harusnya tidak anxiety pada AI dan algoritma. Jurnalisme tidak akan mati MOJOK.CO
Tajuk

Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 

9 Februari 2026
Open To Work.MOJOK.co
Sehari-hari

Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba

9 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
Krian Sidoarjo dicap bobrok, padahal nyaman ditinggali karena banyak industri serap kerja dan biaya hidup yang masuk akal MOJOK.CO

Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

5 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Jogja City Mall, Sleman bikin orang nyasar. MOJOK.CO

Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya

3 Februari 2026
bpjs kesehatan.MOJOK.CO

Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif

5 Februari 2026
self reward.mojok.co

Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

6 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.