Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

User Kereta Ekonomi Naik Bus Sumber Selamat karena Tak Ada Pilihan: Kursi Lebih Nyaman, Tapi Dibuat Hampir Pingsan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
2 April 2026
A A
User kereta api (KA) ekonomi naik bus Sumber Selamat: sebenarnya kursi lebih nyaman, tapi ogah tersiksa lebih lama MOJOK.CO

Ilustrasi - User kereta api (KA) ekonomi naik bus Sumber Selamat: sebenarnya kursi lebih nyaman, tapi ogah tersiksa lebih lama. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi orang yang lebih terbiasa naik kereta api—walaupun KA ekonomi Sri Tanjung—tentu akan punya kesan berbeda ketika naik bus ekonomi seperti Sumber Selamat. Seperti seorang penumpang yang berbincang dengan saya sepanjang perjalanan Jombang-Jogja pada Minggu (29/3/2026). 

Saat bus ekonomi Sumber Selamat berhenti di depan stasiun Jombang, kondisi dalam bus sebenarnya sudah penuh sesak penumpang. Semua kursi sudah penuh. Banyak penumpang berdiri berdesakan dari depan hingga belakang. Tapi karena mengejar waktu, ya sudah saya tetap naik dengan risiko akan berdiri lama. 

Berdiri Mojokerto-Madiun hingga mata kunang-kunang

Setiap penumpang yang berdiri pasti berharap bisa lekas duduk. Masalahnya, sejak melaju dari Jombang, alih-alih banyak penumpang turun di pemberhentian berikutnya (Kertosono atau Nganjuk), ternyata kernet bus masih terus menjejal penumpang. 

Saat bus ekonomi Sumber Selamat melintasi Nganjuk, seorang penumpang laki-laki di belakang saya, sudah berkali-kali mengembuskan napas panjang. 

“Aku berdiri dari Mojokerto, Mas. Mau ke Klaten,” ujar laki-laki 28 tahun bernama Ekananta saat saya tanya sudah berdiri dari mana? “Mata sudah kunang-kunang.” 

Wajah Ekananta sudah tampak pucat. Ia berkali-kali tampak menyenderkan kepala ke lekukan lengan sembari berpegangan pada rak bagasi. 

Untungnya, ketika bus memasuki Madiun, arus keluar-masuk penumpang lebih imbang. Yang keluar banyak, yang masuk juga banyak. 

Sehingga, ketika penumpang turun, ada sejumlah kursi kosong. Di momen itu, saya lantas gercep mengambil duduk yang ternyata juga diikuti oleh Ekananta. Ia langsung menyandarkan punggungnya dengan napas lega. 

User kereta api (KA) ekonomi sebenarnya lebih nyaman dengan kursi bus Sumber Selamat

Sebenarnya hari itu bukan kali pertama Ekananta naik bus Sumber Selamat. Beberapa kali ia menggunakan moda transportasi tersebut untuk perjalanan Klaten-Mojokerto. Bedanya, dalam beberapa kali kesempatan itu, ia belum pernah merasakan momen sial harus berdiri sepanjang Mojokerto Madiun. 

Selain itu, selama ini memang ia lebih sering menggunakan kereta api (KA) ekonomi Sri Tanjung. Tarifnya toh sama: Rp88 ribuan. 

“Sebenarnya ya, Mas, yang enak dari bus Sumber Selamet ini walaupun ekonomi tapi AC-nya berfungsi baik. Kondisi dalam bus juga nggak buruk. Armadanya terawat lah,” kata Ekananta.

“Misalnya, aku paling suka sama kursinya. Kursinya kan enak buat nyandar, nggak tegak seperti Sri Tanjung. Terus jarak antarkursi juga agak renggang, sehingga kaki bisa sedikit selonjor,” sambungnya. 

Tentu berbeda jika naik kereta api (KA) ekonomi Sri Tanjung. Sudahlah kursi tegak lurus. Dengkul juga nekuk lurus dengan potensi tabrakan dengan dengkul penumpang lain di depan. 

Ada jeda untuk rokok sebatang

Bagi perokok seperti Ekananta, salah satu yang bisa ia nikmati dari naik bus ekonomi Sumber Selamat adalah: biasanya akan berhenti agak lama di terminal tertentu. Biasanya menyesuaikan jam makan kru bus. 

Iklan

Momen tersebut biasanya digunakan penumpang untuk ke toilet. Ekananta pun begitu. Selain itu, setelah dari toilet, sebelum kembali naik bus, ia punya jeda waktu untuk mengisap rokok barang sebatang. 

“Kan di dalam bus penumpang nggak boleh rokok. Jadi pas berhenti, kesempatan buat rokok. Sepanjang perjalanan nggak bisa rokok sepet aja, Mas, hahaha,” kata Ekananta. 

Sementara kalau di kereta api (KA) ekonomi Sri Tanjung, aturannya sudah jelas kalau penumpang tidak boleh merokok di dalam gerbong kereta. Selain itu, durasi berhenti yang terlalu singkat tidak memungkinkan bagi penumpang untuk sebats dulu. 

Tapi tetap pilih kereta api (KA) ekonomi karena tidak mau “tersiksa”

Apalagi setelah kejadian berdiri sepanjang Mojokerto-Jombang-Kertosono-Nganjuk-Caruban-Madiun, Ekananta merasa: memang rasa-rasanya ia lebih cocok naik kereta api (KA) ekonomi Sri Tanjung ketimbang bus Sumber Selamat. 

Memang, kursi bus Sumber Selamat lebih nyaman. Ada jeda waktu juga untuk merokok. Akan tetapi, berdiri—terlebih dengan berdesakan—rasa-rasanya tidak akan mampu Ekananta ulangi. Wong pengalaman pertama itu saja ia sudah hampir pingsan kok. 

“Sudah nggak apa-apalah dengkul linu dan punggung sakit karena kursi tegak-berhadapan Sri Tanjung. Tapi yang penting bisa duduk,” kata Ekananta. “Toh kalau capek duduk, biasanya aku jalan ke toilet. Sekadar jalan, berdiri sebentar, terus balik lagi.” 

Selain itu, rasa-rasanya ia lebih nyaman kereta api ekonomi karena perjalanan di atas rel terasa lebih aman. Berbeda dengan ketika naik bus Sumber Selamat: gaya nyopir yang ugal-ugalan (salip sana, salip sini, serobot kanan, serobot kiri) membuat penumpang di dalam kursi harus ikut oleng kanan-kiri. 

Dalam posisi duduk saja situasi tersebut terasa tidak nyaman. Apalagi saat berdiri. 

Naik bus Sumber Selamat terasa lebih panjang, nggak sampai-sampai

Meski melaju kencang, jalan raya jelas berbeda dengan rute rel kereta api. Bagi Ekananta, naik bus Sumber Selamat terasa menjadi perjalanan yang sangat panjang. Sehingga capeknya kerasa. 

Duduk terlalu lama membuat bokong terasa panas. Terus karena cara melaju bus Sumber Selamat yang ugal-ugalan, membuat Ekananta merasa tidak aman. 

“Ya kan sering ada berita, bus ini sering kecelakaan sampai ada istilah Sumber Bencono. Makanya, kadang aku merasa, kok nggak sampai-sampai. Maksudku, kalau sudah sampai tujuan, kan aku lega, ternyata aku selamat,” kelakar Ekananta. 

Ekananta sempat memberi argumen ini pada seorang teman yang merupakan user loyal bus Sumber Selamat. Si teman langsung menyarankan: kalau mau sensasi cepat sampai, naiklah bus Sumber Selamat di jam malam. 

Namun, saran itu tidak menarik bagi Ekananta. Kalau masih bisa naik Sri Tanjung, ya sudah naik Sri Tanjung saja lah. Sama-sama Rp88 ribuan, setidaknyamannya kursi Sri Tanjung, masih lebih nyaman naik kereta api ekonomi ketimbang bus Sumber Selamat. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Alasan Bus Sumber Selamat Tetap Jadi Andalan meski Ugal-ugalan, Orang yang Naik Punya Siasat biar “Aman” karena Celaka Mengancam Kapan Saja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 2 April 2026 oleh

Tags: bus ekonomibus ekonomi jogja surabayabus sumber selamatka ekonomika sri tanjungkereta api ekonomikereta ekonomisri tanjungsumber selamat
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Stasiun Tugu Jogja nggak cocok untuk orang kaya tak bermoral. MOJOK.CO
Catatan

Pintu Timur Stasiun Tugu Jogja Nggak Cocok untuk User Eksekutif Nirempati dan Ojol yang Kesabarannya Setipis Tisu

26 Maret 2026
Stasiun Tugu Jogja lebih buruk dari Stasiun Lempuyangan. MOJOK.CO
Catatan

Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata”

25 Maret 2026
Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO
Sehari-hari

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026
Ada kehangatan dan banyak pelajaran hidup di dalam kereta api (KA) ekonomi yang sulit didapatkan user KA eksekutif kalau terlalu eksklusif MOJOK.CO
Sehari-hari

Kehangatan dan Pelajaran Hidup di Kereta Api (KA) Ekonomi yang Sulit Ditemukan di KA Eksekutif

13 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pintu timur Stasiun Tugu Jogja, titik keberangkatan kereta api terbaik dibandingkan Stasiun Lempuyangan

Dibanding Stasiun Lempuyangan, Saya Lebih Pilih Stasiun Tugu Jogja yang Mahal dan Ramai asal Tak Harus Menahan Emosi Menunggu Jemputan

27 Maret 2026
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO

Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO

1 April 2026
Lolos Unair lewat jalur golden ticket tanpa SNBP. MOJOK.CO

Kisah Penerima Golden Ticket Unair dari Ketua Padus hingga Penghafal Al-Qur’an, Nggak Perlu “Plenger” Ikut SNBP-Mandiri untuk Diterima di Jurusan Bergengsi

30 Maret 2026
Jalan rusak di Taniwel, Maluku. MOJOK.CO

Ratusan Anak Sekolah di Kabupaten Seram Bagian Barat Dibiarkan Menderita dari Tahun ke Tahun oleh Maluku

30 Maret 2026
Kerja WFH - WFA dengan kantor di Jakarta Barat. Awalnya enak karena slow living, ternyata menjebak MOJOK.CO

Tergiur Kerja WFH WFA karena Tampak Enak dan Slow Living tapi Ternyata Menjebak: Gaji, Skill, dan Karier Mentok

27 Maret 2026
Pekerja Jakarta resign setelah terima THR dan libur Lebaran

Pekerja Jakarta Resign Pasca-THR Bukan karena Gaji, tapi Muak dan Mati Rasa akibat Karier Mandek dan Rekan Kerja “Toxic”

30 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.