Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Tren “Ngopag” ala Lansia: Menikmati Jamu Parem Kendil yang Sudah Berdiri Sejak Tiga Generasi di Pasar Jangkang Yogyakarta

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
17 Februari 2026
A A
Jumanah pedagang jamu parem kendil di pasar jangkang Yogyakarta. MOJOK.CO

Jumanah, satu-satunya pedagang parem kendil di Pasar Jangkang Sleman. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagian anak muda tak banyak yang tahu khasiat dari jamu parem. Minuman tradisional ini terkenal sebagai obat dengan bentuk pipih kering, tapi saya menemukan parem kendil yang bisa langsung diminum di Pasar Jangkang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Jamu parem kendil yang masih eksis di Pasar Jangkang Yogyakarta

Tangan Jumanan (70) hampir tak pernah berhenti membungkus parem dari dalam kendil ke plastik karena saking ramainya pembeli. Sesekali dia menghentikan aktivitasnya untuk minum teh hangat, sebelum pelanggannya makin ramai.

Perempuan asal Wonosobo itu mengaku sudah menjual jamu parem dalam kendil selama 40 tahun lebih. Biasanya, adonan parem dijual dalam bentuk kemasan berbentuk bulat pipih dan padat. 

Namun, Jumanan menjual parem yang sudah dimasak agar bisa langsung diminum. Sementara, ada pula yang dibuat menjadi boreh atau bedak dingin untuk dioleskan ke kulit sebagai obat.

Ramuan jamu tradisional Jawa itu sendiri dibuat Jumanan sejak subuh menggunakan bahan seperti tepung beras, gula merah, dan rempah-rempah. Meski begitu, uapnya masih terlihat mengepul dari atas kendil.

Jumanah pedagang pasar jangkang. MOJOK.CO
Jumanah, satu-satunya pedagang parem kendil di Pasar Jangkang Sleman. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Bahan-bahannya saya masak sampai kental, terus didiamkan selama satu jam,” kata Jumanan saat saya temui di Pasar Jangkang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Kamis (5/2/2026). 

Lapaknya pun tak pernah sepi pembeli. Kebanyakan mereka adalah orang lanjut usia yang sekadar ingin menyegarkan tenggorokan di pagi hari, tapi ada pula ibu yang membawa bayi untuk menjajalkan parem ke anaknya.

Pelanggan setia yang datang tiap pagi

Salah satu pelanggan setia Jumanan adalah Lagiyem (75). Dia mengaku sudah mencicipi jamu parem sejak usianya 15 tahun karena sering diajak ibunya ke pasar tradisional. Dulu, Lagiyem hanya menyukai minuman tersebut karena suka dengan rasanya, tapi kini dia jadi tahu manfaatnya untuk kesehatan.

“Saya ke sini paling nggak satu kali dalam seminggu. Setelah minum parem, badan jadi hangat dan segar, pegal linu juga berkurang,” kata Lagiyem di depan lapak Jumanan.

Selain sebagai obat pegal linu dan nyeri otot, parem terkenal untuk mempercepat pemulihan ibu setelah melahirkan. Dalam tradisi jamu selapan–perawatan 40 hari setelah melahirkan, parem adalah komponen wajib.

Ia mampu membantu mengecilkan perut, mengatasi rasa kaku pada kaki dan tangan, serta merelaksasi otot dari dalam. Parem juga membantu mengatasi masuk angin atau perut kembung, menjaga kesehatan kulit, serta mengurangi pembengkakan. 

pengunjung pasar jangkang. MOJOK.CO
Lagiyem mencicipi parem kendil di Pasar Jangkang, Sleman, Yogyakarta. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Lebih dari itu, bagi Lagiyem minum jamu parem di pasar menjadi bagian dari gaya hidup mirip Gen Z sekarang yang doyan ngopi pagi (ngopag). Bahkan, dia rela menempuh jarak sekitar 11 kilometer menggunakan bus Trans Jogja dari rumahnya di Prambanan ke Pasar Jangkang Yogyakarta.

Sebabnya, kata Lagiyem, sudah tak banyak pedagang jamu di Jogja yang menjual parem langsung dari kendil seperti Jumanan. Alih-alih membuat minuman parem sendiri dari serbuk dalam kemasan, Lagiyem lebih suka menikmati jamu langsung dari dalam gelas.

Tak hanya Lagiyem, sepasang orang dewasa yang menikmati parem buatan Jumanan juga minum langsung dari gelas. Namun, ada juga pelanggan yang membawa pulang parem dalam plastik. 

Iklan

“Harganya juga murah, Rp2 ribu per gelas,” kata Lagiyem.

40 tahun menjual jamu parem kendil

Pembuatan parem ini Jumanan pelajari turun-temurun dari resep ibu dan neneknya. Sejak dirinya masih muda, Jumanan sudah ikut ibunya berjualan di pasar. Bahkan saat sudah menikah dan memiliki anak, Jumanan tak pernah berhenti membuat parem.

“Saya bikinnya sejak pagi buta Mbak, terus diantar anak-anak ke pasar bawa 4 tong kendil ini. Pokoknya sampai sini (Pasar Jangkang) jam 06.00 WIB setiap hari. Biasanya, paremnya sudah habis di atas jam 8,” tutur Jumanan.

Parem kendil. MOJOK.CO
Parem yang sudah dimasak dan didiamkan di dalam kendil. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Meski usianya sudah senja, Jumanan berujar tak mau berhenti dari rutinitasnya. Sebab kalau tak melakukan apa-apa dan sendirian di rumah, dia malah bosan. Terlebih, Jumanan juga tak mau merepotkan anak-anaknya yang sebagian dari mereka sudah merantau untuk bekerja.

“Anak saya lima dan sudah kerja semua, salah satunya dulu kuliah di Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang,” kata Jumanan.

Bagi Jumanan, berjualan di pasar tak hanya melepas rasa bosan. Di sana, dia dapat berjumpa sekaligus mengobrol dengan berbagai macam pengunjung pasar. Syukur-syukur kalau parem yang dia jual bermanfaat untuk orang yang membelinya.

Sebab, Jumanan mengaku penjual parem sekarang sudah mulai sedikit. Tidak seperti dulu. Ada pun, banyak yang masih menjual parem tapi tidak spesifik parem kendil seperti dirinya. Oleh karena itu, Jumanan berharap bisa melayani pecinta parem kendil selagi tubuhnya masih kuat.

“Monggo Mbak dicicipi, biar hangat di badan,” ucap Jumanan menawarkan barang dagangannya ke saya secara gratis.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak  atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 17 Februari 2026 oleh

Tags: Jamu paremjamu tradisionalJogjaminuman tradisionalparemparem kendilPasar Jangkangrekomendasi jajanan pasarYogyakarta
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)
Pojokan

Persahabatan Aneh dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

16 Februari 2026
Cerita perintis bukan bocil pewaris yang lulus SMK langsung bayar utang keluarga, pecel lele di jogja, omzet pecel lele. MOJOK.CO
Urban

Dihina Tetangga dan Teman karena Cuma Kerja Kasar dan Menempati “Kosan Bedeng” di Jogja, padahal Penghasilan Rp30 Juta Sebulan hingga Mampu Kuliahkan Adik

15 Februari 2026
Nyaris dicurigai kumpul kebo di penginapan Jogja saat Valentine. MOJOK.CO
Lipsus

Sisi Gelap Penginapan “Murah” di Jogja, Ramai dan Untung Saat Valentine Berkat Anak Mudanya yang Hobi Kumpul Kebo

14 Februari 2026
Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau ke Ibu Kota Mojok.co
Pojokan

Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau di Ibu Kota

14 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gojek, gocar instant.CO

GoCar Instant di RSUP Sardjito Anti Ribet: Jawaban Buat Kamu yang Ingin Cepat, Murah, dan Tetap Aman di Jalan

12 Februari 2026
Cara Gen Z memulihkan hati dengan lari dan menanam bibit pohon lewat program OAOT. MOJOK.CO

Obati Patah Hati dengan Lari 176 km: Cara Gen Z Menebus Dosa Lingkungan Sambil Jadi Pelari Kalcer

14 Februari 2026
kos jogja, pogung, babarsari, kos murah.MOJOK.CO

Menemukan Ketenangan di Kos Rp500 Ribu Kawasan Pogung, Lebih Nyaman Ketimbang Kos LV Babarsari yang Tak Cocok Buat Mahasiswa Alim

12 Februari 2026
Dating apps jadi pelarian menemukan pasangan untuk memulai hubungan baru

Mencari Kasih Sayang Semu di Dating Apps, Pelarian dari Kesepian dan Rasa Minder usai Sering Dikecewakan di Dunia Nyata

13 Februari 2026
Jadi LO sertifikasi kerja rawan bujukan wanita simpanan

Jadi LO Sertifikasi Kerja di Jogja, Kena Modus “Eksplor Jogja” Berujung Bujukan Jadi Wanita Simpanan

12 Februari 2026
Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)

Persahabatan Aneh dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

16 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.